My Cruel Husband

My Cruel Husband
Pilah pilih


__ADS_3

Begitu sampai di kota yang terkenal akan makanan khas yang bernama gudeg itu, Devan beserta keluarga kecilnya langsung pergi ke keraton Yogyakarta. Ini adalah momen yang dinantikan oleh mereka.


Mereka hanya berjalan sedikit setelah turun dari mobil sebelum sampai di keraton. Sepanjang kaki melangkah banyak sekali aneka buah tangan yang mereka lewati. Lovi tertarik untuk membeli batik-batik yang begitu menawan.


Di tempatnya tinggal tidak ada kain bercorak cantik seperti itu. Lovi tidak boleh membuang kesempatan.


"Bagus ya? Bagian perutnya juga besar," Ia menilik dress santai yang tengah dipajang. Suara pedagang terdengar sahut-sahutan menawarkan dagangan. Ini adalah hal yang menjadi kesukaan Adrian karena Ia bisa mencuci mata. Bukan masalah perempuan untuk kali ini. Melainkan aneka makanan ringan yang belum pernah dilihatnya.


Ia mencengkram baju Lovi semetara Andrean dan Fino tengah menghampiri pedagang bakpia.


"Beli saja, Lov kalau kamu suka,"


Devan menunduk saat ujung kausnya ditarik oleh Adrian. Ia mengangkat sebelah alisnya seolah bertanya 'ada apa?'


"Daddy, Adrian mau itu." Tunjuknya pada kembang gula berwarna merah muda yang begitu banyak. Terlihat menggoda tenggorokannya yang gila akan rasa manis itu.


Devan menyentuh lengan Lovi dengan singkat sehingga perempuan yang sedang bertanya harga pada pedagang itu pun menoleh.


"Anak kamu boleh beli itu?"


"Boleh, pasti boleh sama Mommy." Adrian memukul lengan ayahnya. Walaupun Ia jauh lebih rendah postur tubuhnya, tapi masih bisa kalau untuk melakukan itu.


Tanpa Tedeng aling-aling Adrian menarik baju ayahnya. Beruntung kualitas kaus yang dikenakan Devan sangat bagus, sehingga tidak menimbulkan koyak.


"Daddy tidak perlu bertanya. Ayo beli, Dad!"


***

__ADS_1


Vanilla dan Joana sedang belanja di sebuah pusat perbelanjaan. Belum ada rencana ke kelab untuk nanti malam. Saat ini Vanilla ingin menyegarkan otaknya dengan berbelanja. Tidak ada lagi yang bisa menekan kebiasaannya. Raihan pun semakin acuh belakangan ini. Terlihat sekali kalau Ia mulai lelah memberi peringatan untuk putrinya itu.


Vanilla melepas seat belt lalu mengisyaratkan Joana untuk turun. Usai mengamankan mobil Porsche-nya, Vanilla dan Joana mulai memasuki Manhattan mall.


"Kalau sudah datang ke mall, kadang aku lupa diri, Van. Lupa kalau aku sudah beda dari yang dulu,"


Joana mengingat masa lalunya. Dimana tak ada batas untuknya berbelanja setiap hari. Joana diberi fasilitas terbaik oleh orangtuanya namun Ia berbeda dengan Vanilla yang terkadang tidak tahu diri. Hanya sesekali saja Joana menghabiskan uang untuk belanja. Dalam seminggu paling hanya sekali. Tidak seperti Vanilla yang bosan sedikit pasti belanja, menghamburkan uang.


"Khusus hari ini kamu boleh beli apapun yang kamu mau. Ya hitung-hitung aku memberi orang tidak mampu,"


Vanilla tetaplah Vanilla. Yang hangat namun selalu merendahkan orang. Di setiap kebaikannya, pasti ada kalimat menyakitkan yang keluar dari mulutnya. Ia tidak menginginkan hal itu, tapi sulit karena sudah menjadi kebiasaannya untuk membuat orang lain sakit hati.


*****


"Deniele Leonard!"


"Bantu aku pilih lingerie! Ini untuk malam pertama kita. Kenapa kamu tidak semangat begini?"


Bagaimana ingin semangat, kalau Deni melihat Vanilla, adiknya yang baru saja memasuki distro yang sama dengannya. Gadis itu ditemani Joana dan seorang lelaki. Ia ingin menghampiri namun rasanya berat sekali. Takut gadis itu terganggu.


"Deniele! kamu dengar aku tidak?!"


Deni menghempas jemari Keynie dari dagunya. Ia juga menghindar dikala Keynie ingin mengecup bibirnya. Gadis itu terlalu berani. Dan Seperti lelaki kotor kebanyakan, Deni tidak menyukai perempuan yang agresif.


Keynie adalah mantan kekasihnya sebelum Deni mengenal Devan terlalu dekat. Mereka sempat menjalin hubungan selama kurang lebih enam bulan. Namun karena Keylie terlalu Banyak menuntut dan posesif, Deni memutuskan hubungan mereka.


Dua Minggu yang lalu gadis itu datang lagi ke dalam hidupnya. Dan berusaha untuk meraih Deni kembali. Deni yang merasa sudah mapan, dan siap menikah, memutuskan untuk mengambil langkah yang serius. Cintanya yang sudah lama hilang mungkin akan hadir kembali seiring kebersamaan mereka setelah menikah nanti. Deni akan mencoba untuk bahagia dalam pernikahannya.

__ADS_1


Keynie Tidak menyangka saat gayungnya bersambut. Malah Deni dengan gentle memintanya pada orangtua Keynie. Tidak perlu lagi ada rasa ragu dalam diri Keynie. Deni adalah lelaki yang baik. Langkahnya di rasa sangat tepat dan Ia akan menjadi satu-satunya wanita yang Deni cintai.


"Terima kasih kamu sudah meluangkan waktu, Renald."


Joana hanya menjadi sosok asing diantara Vanilla juga Renald yang Ia kenal betul sebagai cleaning service di kampus mereka, lelaki yang pernah bermasalah dengan Vanilla sampai membuat kampus gempar pada hari itu. Hanya karena baju mahalnya yang tidak sengaja dirusak oleh Renald.


"Tidak masalah. Shift kerjaku juga sudah selesai,"


"Joana, kemarilah. Tidak nyaman dengan kehadiranku ya? seharusnya ini waktu untuk kalian berdua,"


"Oh tidak-tidak. Aku senang kau bisa bergabung, Renald."


Renald yang bukan temannya saja lebih peduli dengan Joana. Lelaki itu memang baik sangat bertolak belakang dengan Vanilla. Renald ramah dengan semua orang.


Vanilla menggamit lengan Renald. Ia tidak peduli dengan Joana lagi. Tadinya Joana akan menjadi teman selama di pusat perbelanjaan itu. Kalau tahu Renald akan menyusulnya, mungkin Vanilla tidak akan mengajak gadis itu.


Renald memang tidak mengatakan apapun pada Vanilla. Ia hanya bertanya mengenai keberadaan Vanilla setelah kelasnya usai hari ini dan Vanilla langsung menjawabnya. Tak butuh waktu satu jam Renald sudah sampai di tempat yang sama dengannya.


"Key, pilihkan aku kemeja,"


"Hah? kemeja? untuk apa? kamu mau memakai kemeja untuk malam pertama kita?"


------


VOTE HEYY VOTE JGN IRIT ZHEYENG ;) AWOKWOK. TINGGALKAN JEJAK YAAA. PLIZZ PLIZZ AKU MEMBUTUHKAN DUKUNGAN KELEAN :') TNPA KELEAN AKU GK SEMANGAADD. CEK WHY JG YAA. UDH AKU UP


__ADS_1


__ADS_2