My Cruel Husband

My Cruel Husband
Pak tua


__ADS_3

Rena menginginkan Ia sendiri yang mengurusi busana pernikahan anak sulungnya. Dan lagi, Deni sudah terlalu banyak pekerjaan. Menurut Rena, Devan terlalu memperbudak temannya.


"Sudah siap?"


Lovi terkesiap saat Devan memasuki kamarnya dengan dada terbuka. Tangan Lovi yang sedang memoles diri di depan kaca langsung berhenti beraksi.


Devan berdiri bak patung di depan pintu kamar Lovi. Ia sudah menggunakan celana panjang namun belum memakai baju. Datang ke sana hanya untuk melihat Lovi yang sudah siap untuk pergi ke butik atau belum.


Sialnya, Lovi sudah tampil cantik pagi ini berbeda dengan dirinya yang rambut saja masih basah. Devan bangun kesiangan hingga Rena yang sudah datang sejak tadi hampir menghancurkan kamar tamu yang ditempati Devan.


"Kamu sudah siap, Lov?"


"Devan, bisa pakai baju dulu?"


Lovi kembali menyibukkan dirinya. Ini bukan pertama kalinya melihat Devan seperti itu. Namun Lovi masih saja merona, seolah belum pernah menikmati penampilan seksi dari mantan suaminya itu.


"Kenapa, Lov? Tidak sabar?"


Lovi mengerang kesal. Ia berbalik seraya mengangkat tinggi-tinggi botol parfumnya. Ingin membuat mulut kurang ajar itu bengkak karena botol yang dipegangnya.


Devan terbahak dan langsung keluar dari kamar seraya membanting pintunya. Lovi mengusap dada melihat itu.


"Apanya yang tidak sabar? Justru aku jijik melihatnya,"

__ADS_1


"Jijik? Benarkah? Bukankah kamu sampai meneguk ludah ketika melihat dada bidangnya tadi?"


Lovi kesal ketika batinnya menyoraki. Ia memukul pelan kepalanya untuk menghilangkan bayangan tubuh bagian atas milik Devan tadi.


Lovi menyempurnakan penampilannya, lalu berdiri seraya menyemprot parfum yang sangat jarang Ia gunakan. Kehamilannya kali ini justru menuntut Lovi untuk tampil lebih feminin. Yang biasanya jarang memoles wajah, sekarang malah suka menghabiskan waktu di depan kaca untuk mematut dirinya.


Lovi keluar dari kamar. Kondisinya sudah sangat membaik. Kemarin Devan membawanya ke rumah sakit untuk memeriksa kandungan. Dokter mengatakan Lovi sudah boleh beraktifitas seperti biasa namun tetap tidak melupakan asupan gizi yang mencukupi dan istirahat yang teratur.


Begitu sampai di lantai bawah, Ia langsung disambut kedua anaknya yang juga sudah siap untuk pergi. Mereka diajak oleh Devan untuk ikut dengan mereka ke butik. Mereka langsung bersorak senang karena sudah lama sekali rasanya tidak keluar dari rumah setelah kepulangan mereka dari rumah sakit.


"Momny cantik siapa yang punya?"


Lovi terkekeh saat anak bungsunya bersenandung. Menggemaskan sekali anak itu. Sudah pintar membuat hati wanita terbang. Ibunya sendiri saja dibuat merona pagi ini.


"Daddy yang punya," Devan menyahuti dari undakan tangga. Adrian mendelik tak suka.


"Tidak boleh begitu," tegasnya yang langsung diangguki Adrian dengan patuh. Ia melempar tatapan tajam saat Devan tertawa setelah sampai di lantai bawah.


"Mommy bela Daddy. Artinya, Mommy punya Daddy,"


Lelaki itu masih belum puas mengibarkan bendera perang untuk anaknya. Usianya sudah tak lagi muda namun masih suka membuat anaknya sendiri kesal.


"Sudah, tidak perlu diladeni. Kalau kamu meladeni, artinya kamu sama saja dengan Pak Tua itu,"

__ADS_1


Lovi menggenggam tangan Adrian kemudian mereka berjalan ke meja makan. Devan mendengus kasar saat disebut "pak tua'. Anak bungsunya itu sudah menertawakannya dengan puas.


"Pak tua, sekarang Adrian panggil Daddy seperti itu saja,"


"ADRIAN, ANAK SIAPA KAMU?"


"ANAK PAK TUA,"


***


"Adrian duduk di depan!"


Andrean yang akan memasuki kursi samping kemudi langsung menghela napas pelan. Ia seorang kakak, mau tidak mau mengalah. Dengan berat hati Ia memutar tubuhnya lalu berjalan ke kursi penumpang.


"Kenapa mau dekat-dekat Pak tua?" Devan melirik Adrian dengan kesal. Masih ingat betul seliar apa mulut anaknya tadi.


"Adrian tidak panggil pak tua lagi!"


Anak kecil itu masuk ke dalam mobil dengan santai. Setelah duduk, Ia bersedekap dada menghadap ke depan.


"Devan, kalau kamu berdebat terus kapan kita akan sampai?"


Devan mendengus keras. Dia lagi yang salah. Ternyata bukan hanya pada perempuan saja Ia harus mengalah. Pada anaknya pun demikian walaupun Adrian juga laki-laki. Huh!

__ADS_1


------


Like, Vote, Rate, Komen dungsss. Ranknya terjun bebas bgt😭JGN LUPA DUKUNGANNYA YOWWW


__ADS_2