
Malam ini Devan menyendiri di rooftop. Seraya menghisap nikotin yang belakangan ini sudah jarang menghampiri bibirnya. Matanya sesekali tertutup, menikmati angin malam yang membelai lembut wajahnya. Bayang-bayang seseorang berhasil membuat Devan mengerjap.
"Kapan kamu bangun? aku benar-benar rindu, Lov," bisiknya dengan dada yang mulai terasa sempit. Pasokan udara akan otomatis berkurang ketika mengingat pujaan hatinya.
Adrian dan Andrean sudah tidur beberapa menit yang lalu. Tengah malam nanti, Devan akan kembali menyambangi Lovi yang masih terbaring. Esok adalah akhir pekan, oleh sebab itu Ia bahagia. Devan akan menghabiskan banyak waktu di samping Lovi. Menemani perempuan yang sedang terjebak di alam bawah sadarnya itu.
"Maafkan aku belum bisa memberi balasan yang setimpal untuk orang yang mencelakaimu,"
************
Devan memakai jaket kulitnya. Meraih jam tangan dan menatapnya sebentar.
00.30
Sudah seharusnya Ia berangkat. Ia harus menghabisi malam akhir pekannya bersama Lovi. Devan mengecup dahi kedua putranya. Seraya berbisik pada mereka,
"Daddy mencintai kalian,"
Devan keluar dan menutup pintu kamarnya setelah memastikan Adrian dan Andrean aman di dalam box mereka.
Kebetulan Rena juga keluar dari kamarnya. Seperti biasa, rasa haus selalu menderanya di tengah malam. Ia mengerinyit saat melihat penampilan putranya. Sudah pasti ingin bertemu dengan Lovi.
"Besok saja, Devan!"
__ADS_1
Devan berjengkit kaget. Ia berdecak pelan dan mendekati Mamanya seraya memggunakan pelindung tangannya. Malam ini Devan akan pergi ke rumah sakit menggunakan motor besarnya.
"Tidak bisa, Lovi sudah merindukanku," jawabnya dengan senyum. Hati Rena teriris mendengarnya. Devan memang tersenyum untuk menutupi kekosongan hatinya, Namun batin seorang Ibu tidaklah bisa di bohongi. Putranya benar-benar rapuh.
"Ya sudah, hati-hati kalau begitu," pesannya yang langsung di angguki oleh Devan.
"Mereka sudah tidur?" tanya Rena seraya melirik pintu di belakang Devan saat ini.
"Sudah, Ma,"
"Baiklah, sepertinya Mama akan tidur di kamarmu dan Lovi. Mama ingin menjaga mereka,"
Tentu saja Devan bahagia mendengarnya. Dengan begitu Ia merasa lebih tenang ketika harus meninggalkan putranya di tengah malam seperti ini.
"Begitu sampai di sana, kamu harus istirahat juga, Devan. Tubuhmu terlihat lelah,"
Nalurinya sebagai Ibu ditambah keadaan Devan yang memang benar-benar rapuh, menjadikan Rena lebih protektif.
"Ya, aku akan tidur nyaman malam ini,"
************
Devan lupa membawa kunci cadangan untuk membuka pintu ruangan Lovi hingga Ia harus meminta pada salah satu perawat yang bertugas.
__ADS_1
Ketika Devan menghampiri, para perawat itu menunduk segan pada Devan. Melihat pemilik rumah sakit secara langsung bahkan bertatap muka, menjadikan gestur tubuh mereka terlihat canggung. Devan tidak peduli. Yang terpenting saat ini, Ia harus segera melepas rasa rindunya. Walaupun tadi pagi Devan sudah menemani Lovi hingga menjelang sore. Devan kembali ke mansion hanya untuk bertemu dengan kedua putranya.
Rasa cinta yang dimilikinya untuk Lovi berhasil membuat Devan merasa selalu merindukan istrinya. Terbukti malam ini Ia kembali ke rumah sakit untuk mendampingi Lovi. Padahal baru beberapa jam mereka berpisah.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Devan berlalu dengan kunci di genggamannya. Ia membuka pintu ruang rawat Lovi dengan hati-hati.
Jiwanya langsung mengarahkan Devan untuk mendekati Lovi. Deru napasnya begitu tenang, hal itulah yang terkadang menjadi ketakutan tersendiri untuk Devan.
"Cepat bangun, Lov," bisiknya setelah mengecup dahi Lovi. Devan menatap alat yang berbunyi di samping kepala Lovi. Devan berharap kardiograf itu selalu mengeluarkan suaranya. Karena itu artinya, Lovi masih di sisinya. Walaupun hanya dengan bayangan tipis.
Devan meletakkan makanan yang dibelinya di Restoran tadi ketika Ia masih dalam perjalanan menuju rumah sakit. Dari pagi Ia belum mengisi perutnya. Selama ini Ia selalu menganggap kesehatannya tidak penting. Sampai lupa kalau Ia masih mempunyai Adrian dan Andrean yang sangat membutuhkannya. Mereka bertiga adalah sumber kekuatan bagi Devan.
"Aku rindu masakanmu. Oh tidak, lebih merindukan seseorang yang memasaknya,"
Devan berbicara pada sunyinya malam. Ia berusaha menghibur dirinya sendiri. Ia terkekeh dengan air mata yang mulai jatuh. Semua orang akan menganggapnya gila. Tapi memang itu yang dirasakannya. Hidupnya benar-benar hancur. Hingga Ia tidak bisa lagi berpikir jernih. Ia menginginkan Lovinya kembali.
Devan menghapus jejak air matanya, sekali lagi Ia tersenyum pada Lovi seolah mengatakan,
"Ya, sayang. Aku kuat karena kamu."
***********
Haaee aku timbul lg dr permukaan😂😂 jgn lupa tinggalkan jejaknya yaaa. Maaciw readersquww
__ADS_1