
Melihat Devan datang, bagian keamanan butik langsung membuka pintu kaca butik dan mempersilahkan Devan untuk masuk.
Irene dan pegawai yang lainnya sedang sibuk mengerjakan tugasnya masing-masing. Dan Lovi tidak terlihat diantara mereka semua.
"Irene, istriku di ruangannya?"
Irene tersentak dan langsung berbalik, begitu melihat Devan, Ia langsung menunduk segan, "Iya, Tuan."
Berbeda jika bersama istrinya. Kalau dengan Devan, semua tak bisa berkutik dan akrab layaknya teman. Biar bagaimanapun aura yang dimiliki Devan lebih tegas dan mampu membuat orang lain segan.
Saat memasuki ruangan Lovi, Ia melihat Lovi yang tengah mengarsir design. Lovi mengalihkan fokusnya dari apa yang Ia kerjakan lalu tersenyum begitu melihat suaminya sudah datang.
"Datangnya cepat sekali,"
"Ini termasuk lama menurut aku. Sudah mau pergi ke sini sejak tadi tapi pekerjaan baru selesai,"
Devan duduk di sofa memperhatikan ruangan istrinya yang sudah lama tidak Ia kunjungi. Suasananya masih sama yaitu nyaman dan bersih.
"Kita pergi sekarang ya, Lov? kamu masih sibuk?"
"Sebentar ya? tinggal sedikit lagi,"
"Okay, aku tunggu. Jangan terburu-buru,"
Daripada melakukan hal lain seraya menunggu istrinya, Devan lebih memilih untuk menatap Lovi yang kembali sibuk dengan kegiatannya. Melihat wanita itu berkarir lagi, jujur Devan senang. Karena kalau diperhatikan, Lovi juga bahagia bisa lebih produktif.
**********
"Adrian mau ikut Grandpa."
"Boleh, kalau begitu siap-siap."
Adrian berlari ke kamarnya untuk mengambil baju yang akan Ia kenakan sekarang. Adrian ingin menemani Raihan untuk bermain golf di siang menjelang sore hari ini.
"Andrean, tidak mau ikut Grandpa juga?" tanya Raihan pada Andrean yang sibuk dengan adiknya.
"Kemana, Grandpa?"
"Lapangan golf, biasanya kamu juga suka bermain itu,"
"Tidak dulu, Grandpa. Mommy dan Daddy belum pulang, Auris tidak ada temannya nanti," jawabnya yang sudah terlihat bisa menempatkan diri sebagai seorang kakak. Padahal Ia ingin sekali ikut dengan Raihan bermain golf bersama adiknya yang kini sudah siap dengan pakaian sporty. Tetapi kasihan Auristella yang sedang Ia temani bermain saat ini.
"Okay, lain kali kalau begitu."
"Iya, Grandpa. Hati-hati, ya."
"Adrian jangan membuat masalah!" Seru Andrean karena Adrian sudah berlari keluar.
"YAAAA," sahutnya berteriak. Raihan cepat-cepat menyusul cucu keduanya itu. Ia melihat Adrian sudah duduk di dalam mobil. Tetapi ketika Ia masuk, Adrian bersiap keluar lagi.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Aku belum bawa minum,"
"Minta tolong pada pelayan,"
"Tidak, Adrian saja. Grandpa sudah bawa minum?"
"Sudah,"
Ia kembali masuk ke dalam mansion untuk mengambil air minum yang akan dibawanya. Biarpun Ia tidak selama Raihan bila bermain, tetapi perlu minum juga.
"Tuan kecil, ada apa ke sini?"
Adrian tengah mencari-cari botol yang biasa Ia pakai untuk membawa air minum kemanapun Ia pergi.
"Ambil minum. Botolku dimana ya?"
"Netta saja yang siapkan. Tuan kecil tunggu sebentar,"
"Aku yang mau menyiapkan itu, Netta."
"Oh, baiklah. Netta ambil dulu botolnya,"
Jelas saja tidak ketemu benda yang dicarinya itu, karena disimpan di tempat khusus untuk putra-putri Devan dan Lovi.
Setelah menerima botol berwarna biru itu, Ia segera mengisinya dengan air putih. Adrian tempak terbiasa melakukannya. Air minum tidak ada yang tumpah. Karena Ia sudah cukup sering melakukan ini. Mencuci piring yang dipakai untuk makan sendiri saja Ia sudah biasa melakukannya walaupun Ia harus digendong ketika mencucinya di sink kitchen. Biarpun seperti itu, yang terpenting Lovi sudah mengajarkan kemandirian. Ketika mereka sudah dewasa nanti tidak bergantung pada orang lain sekalipun banyak yang siap membantu.
"Terima kasih, Netta. Aku pergi main golf dulu ya. Bye!"
Netta membalas lambaian tangan Adrian. Ia tersenyum seraya menggeleng. Begitulah Adrian kalau sedang tidak menyebalkan.
Sempat-sempatnya Ia membuat Auristella kehilangan fokus terhadap bonekanya. Anak perempuan yang tengah bermain dengan kakak pertamanya itu menatap pintu yang baru saja dilewati Adrian.
Perasaan Andrean tidak enak. Pasti Auristella akan---
"Haah, Ad." rengeknya seraya menunjuk ke arah hilangnya bayangan tubuh Adrian yang berlari.
Andrean menghela napas pelan. Benar dugaannya. Adrian sengaja membuat adiknya mencari. Padahal tadi Ia sudah tenang-tenang saja bermain bersama boneka.
"Biar saja Adrian pergi. Lebih menyenangkan bermain bersama aku 'kan?"
Sementara yang baru saja jahil dengan adiknya sudah kembali duduk di samping kakeknya.
"Kenapa lari-lari?"
"Takut ditinggal Grandpa,"
"Tidak mungkin. Grandpa sudah tahu kalau kamu mau ikut,"
Padahal bukan itu alasannya. Ia tahu kalau Auristella akan mengejar sampai ke luar. "Ayo jalan, Reno." ujar Raihan pada supirnya yang langsung dipatuhi.
Andrean akan kesulitan menjelaskan pada adiknya ketika Adrian sudah tidak terlihat lagi padahal tadi jelas-jelas Ia berlari keluar.
__ADS_1
Ketika mereka berdua keluar, mobil yang membawa Adrian sudah tidak ada lagi. Saat itulah Auristella mencari kebingungan.
"Dia pergi, tadi sudah aku katakan, kamu malah tidak percaya,"
Beruntungnya Auristella tidak menangis. Mereka berdua kembali masuk bersama perawat Auristella yang selalu mengikuti kemanapun anak itu pergi.
Andrean menurunkan adiknya ke lantai setelah sampai di dalam. Auristella sudah mulai mau berjalan sendiri padahal berdiri saja belum terlalu kuat. Ia memperhatikan adiknya dengan seksama. Perawat Auristella ingin memegang adiknya, tetapi Andrean melarang.
"Biarkan dia belajar. Nanti kalau lelah juga berhenti sendiri,"
Andrean memang kakak yang membebaskan adiknya untuk melakukan apapun yang ia mau. Asalkan masih tetap dalam pengawasan, Ia tidak khawatir.
Jatuh sekali, dua kali, tiga kali, Auristella akhirnya menyerah juga. Ia memutuskan untuk merangkak ke tempat Ia bermain tadi.
*******
"Semua yang bekerja di butikmu sudah makan, Lov?"
"Sudah, memang kenapa?"
"Tadi aku lihat mereka sibuk sekali. Jangan sampai lalai dalam hal makan dan istirahat biar semuanya tetap berjalan dengan lancar,"
"Sudah, tadi mereka sempat bertanya padaku 'sudah makan atau belum?' menawarkan aku makan juga. Tapi aku mau makan bersama kamu,"
"Siang tadi kamu tidak makan?"
"Tidak, belum sempat."
"Astaga, Lovi. Tadi siang, aku menghabiskan dua porsi spicy fried macaroni. Lalu sekarang makan lagi. Sementara kamu malah belum makan apa-apa,"
"Tapi aku tidak lapar juga,"
"Kalau sama aku laparnya langsung datang ya?"
"Iya, kamu teman aku dalam menjelajah kuliner," ujar Lovi mengingat kebiasaan mereka bila berjalan-jalan kemanapun dan kapanpun. Lovi lebih gemar mencicipi makanan di tempat yang ia kunjungi daripada belanja barang-barang mahal. Paling hanya buah tangan saja yang Ia pikirkan. Dan Devan selalu menjadi temannya untuk menjelajahi kuliner. Biarpun begitu, berat badan Lovi tetap terjaga. Padahal Ia jarang olahraga, tetapi kegiatannya sehari-hari memang lebih dari olahraga. Naik turun tangga dalam satu hari bisa puluhan kali, memasak, mengurus anak-anaknya, melayani suami juga, belum lagi melakukan kegiatan rumah tangga yang sekiranya bisa Ia kerjakan sendiri seperti mencuci pakaian sekolah anak-anaknya, membereskan closet, dan membersihkan kamarnya bersama Devan.
"Mau coba punya aku?" Devan mendekatkan sendok berisi chowder miliknya ke arah Lovi. Dengan senang hati Lovi membuka mulutnya.
"Hmm... lezatnya. Kalau makan punya orang lain memang selalu lezat menurutku,"
"Orang lain? aku suamimu, lupa?"
"Maksudku--"
Cup
Lovi menatap suaminya dengan tajam saat bibirnya dikecup sembarangan. "Aku sudah katakan, jangan terlalu mesra di depan umum. Seperti orang gila, tahu tidak? selama masih ada ruang pribadi seperti kamar, jangan lakukan hal itu di tempat umum. Ini restoran, Devan!"
"Okay, Sayang. Maafkan aku," Devan mengangkat tangannya seolah menyerah pada pihak berwajib yang baru saja mendapatinya tengah berbuat kesalahan.
"Kamu kalau lagi lapar jadi sensitif. Aku sudah hafal betul," Ujar Devan menambahkan.
__ADS_1
Lovi mencibir dengan bibir mencebik. Devan tak membuang kesempatan sia-sia. Ia segera mencuri kecupan lagi. Kali ini di sudut bibir Lovi yang terdapat sedikit chowder. Ia cari masalah pada istrinya.
"Errgh Devan!"