
Senata memberi pilihan lain. Devan pasti akan senang hati ketika anaknya mengunjungi mansionnya lalu menjadi teman untuk mereka tidur.
"Aku ingin tidur bersama Daddy dan Mommy! Tidak ingin hanya salah satu," Adrian menekan ucapannya. Isak tangis masih menghiasi ruang makan. Andrean tidak bisa melakukan apapun. Ia hanya memperhatikan adiknya dan berusaha untuk tidak melakukan hal yang sama dengan Adrian.
Lovi membanting sendoknya hingga mnimbulkan suara yang nyaring.
"Lovi..."
"Untuk saat ini Mommy hanya meminta kalian untuk mengerti tanpa menuntut apapun,"
Mata indah yang biasanya menatap lembut anak-anaknya kini terlihat tajam. Menghardik Adrian yang masih bersedih melalui sorot dinginnya.
Adrian bangkit dari kursi dengan kasar hingga kursi tersebut terdorong ke belakang.
Semua mata yang ada di sana menatap punggung kecil nan kekar anak bungsu Devan itu. Adrian benar-benar pergi ke kamarnya.
Lovi mengusap wajahnya. Ia berusaha menahan tangis. Sungguh, ia tidak bermaksud untuk menyakiti perasaan anaknya. Tapi tingkah Adrian yang seperti itu membuat Lovi tidak kuat. Ia harus melakukan apa ketika Adrian meminta ini dan itu?
Selagi bisa Ia penuhi, maka akan Ia lakukan. Tapi ini? Adrian menginginkan tidur bersama dengan Lovi dan Devan. Yang benar saja!
__ADS_1
****
Devan kembali bergelut dengan pekerjaannya setelah menelpon Andrean dan Adrian.
Cukup lama mereka berbicara. Terutama Adrian yang begitu mendengar suaranya langsung menangis kencang, seraya mengatakan kalau Lovi jahat padanya.
Devan membutuhkan waktu untuk menenangkan si bungsu itu. Dengan berbagai janji manis salah satunya akan dibelikan mainan serta lolipop barulah tangis Adrian terhenti.
Karena Devan sudah berjanji, maka Devan harus menepatinya. Rencananya akhir pekan nanti Ia dan kedua anaknya akan pergi menghabiskan waktu seharian.
Lelaki itu menatap serius berkas yang dibacanya. Ia akan berdecak ketika mendapati hasil pekerjaan karyawannya yang kurang sempurna.
"Ke ruanganku sekarang!" Titahnya yang langsung dipatuhi oleh kepala divisi bersangkutan yang Devan anggap kurang teliti dalam memeriksa pekerjaan para bawahannya sebelum diserahkan pada Devan.
Devan berdecak karena merasa sekretaris yang berada di depan ruangannya begitu melalaikan tugas hingga membiarkan orang lain masuk tanpa mengetuk pintu.
Ia mengangkat kepalanya dan langsung menatap tajam seseorang yang telah mengganggunya. Rahang Devan mengeras, tangannya langsung meletakkan berkas di atas meja dengan kasar.
Ia membenci senyum miring sosok yang kini berjalan memasuki ruangannya lebih dalam. Apalagi ketika Ia menyapanya, Devan sangat ingin membunuh pada saat itu juga. Seperti apa yang pernah direncanakan orang itu.
__ADS_1
"Hai, Devan!"
******
Rena berjalan tak tentu arah ditengah rasa cemasnya. Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam, namun suami dan putranya belum juga sampai di rumah.
Tidak biasanya mereka pulang seterlambat ini. Apakah sesuatu yang bahaya tengah terjadi? Atau mungkin perusahaan sedang dalam kondisi kritis sampai-sampai Raihan dan Devan memutuskan untuk bermalam di kantor menyelesaikan masalah perusahaan yang terjadi.
Rena bukanlah seseorang yang terlalu mengerti tentang bisnis. Oleh sebab itu Ia tidak pernah bertanya mengenai pekerjaan kepada Raihan. Karena walaupun dijelaskan oleh Raihan pun Ia tidak akan mengerti.
Ia hanya bisa mendengarkan tanpa bisa membantu. Tetapi sejak kemarin hingga tadi pagi Raihan tidak memberi tahunya sesuatu yang penting mengenai perusahaan keluarga mereka. Ia kira semuanya baik-baik saja. Karena Raihan tidak mengeluhkan apapun padanya.
*******
"SHIT! SHIT!"
Devan mengendarai mobilnya dengaan kecepatan yang gila. Suasana malam yang sedikit lebih sunyi menjadikan Ia dengan bebas berkelit diantara beberapa kendaraan yang berjalan dengan santai.
Di sampingnya, Raihan pun melakukan hal yang sama. Karena musuh mereka kali ini benar-benar licik.
__ADS_1
---------
VOTE&COMMENT JGN LUPA YAAA. JAN MENTANG-MENTANG AKU UP BYK, KLEAN PD PELIT VOTE, RATTING& COMMENT :(