
Raihan memasuki ruangan Devan. Matanya menajam saat melihat keberadaan Elea dan Devan di sana. Hanya mereka berdua tidak ada orang lain.
Devan menoleh ketika pintu berdecit menandakan ada orang yang dengan sembarangan masuk ke dalam ruang kerjanya. Mulutnya yang akan mengeluarkan amarah langsung terdiam begitu Raihan duduk dengan tenang di kursi yang berhadapan dengannya dan Elea.
"Ternyata setelah menyakiti menantuku, keadaanmu tidak lagi cacat, Elea?"
Tentu saja Raihan menghajar habis gadis itu. Kini Elea tidak lagi menggunakan kursi rodanya. Pakaian dan penampilannya yang seperti wanita dewasa mengundang senyum meremehkan Raihan.
Elea terdiam namun matanya menatap sinis pada Raihan.
"Ada perlu apa Papa ke sini?"
Raihan berdecih dan bergidik saat mendengar gadis itu menjawabnya. Rupanya sudah tidak ada lagi rasa menghargai dan menghormati untuk Raihan setelah hubungan mereka memburuk. Gadis itu hadir kembali dengan sikap kurang ajar nya.
"Aku tidak sudi kamu memanggilku seperti itu!"
Suasana tidak lagi nyaman, Devan memutuskan untuk langsung mengetahui apa maksud kedatangan ayahnya.
"Ponselmu kemana brengsek?"
Devan terkejut bukan main ketika Raihan menggeram marah. Ia langsung berjalan ke arah meja kerjanya dan meraih ponselnya. Tidak ada pemberitahuan apapun di sana.
Ia menunjukkan ponselnya pada Raihan seraya berkata,
"Memangnya ada apa?"
"Benarkah Lovi tidak menghubungimu?"
Mendengar nama Lovi disebut, raut wajah Devan berubah khawatir. Sementara Raihan melirik lewat matanya dan Ia mendapati Elea yang langsung membuang wajahnya. Seolah tidak tertarik dengan topik pembicaraan Ia dan putranya.
"Apa yang terjadi dengan Lovi?"
"Tidak,"
__ADS_1
Raihan langsung menggeleng namun Devan tidak puas dengan jawaban itu. Ia perlu kalimat lebih detail yang menjelaskan keadaan Istrinya saat ini.
"Jangan main-main denganku, Pa!" desis Devan marah. Raihan tersenyum miring. Saat ini Ia bisa mengetahui perasaan Devan yang sesungguhnya.
"Dia sudah menghubungimu tadi agar kamu membawa bubur ketan hitam,"
Devan langsung mengerti. Sekali lagi Ia melihat ponselnya, memastikan tidak ada pesan ataupun panggilan dari Lovi.
"Kapan?" tanya Devan seraya memasukkan ponselnya di saku celana. Ia kembali menatap Raihan. Mengalihkan seluruh perhatiannya dari Elea hingga gadis itu cukup geram.
Raihan menatap putranya bertanya.
"Kapan aku harus membawa bubur itu?"
"Saat kau kembali ke rumah nanti,"
Mata Raihan kembali fokus pada Elea yang nyaman di atas sofa.
"Pa.." sela Devan ketika Raihan akan maju mengusir gadis itu.
"Memangnya keberadaanku menjadi masalah?" tanya Elea dengan santai mengundang emosi Raihan kian meningkat.
"Dasar bodoh! masih harus aku jelaskan?"
Dengan sentakan dalam langkahnya, Elea bangkit untuk meninggalkan ruangan itu. Namun sebelum benar-benar pergi Ia berdesis,
"Dasar Pak Tua!"
Elea keluar dengan terburu-buru. Terlihat sekali kalau Ia sebenarnya takut dengan Raihan. Tapi karena rasa kesalnya yang sudah menggunung, terpaksa Ia bersikap seperti itu pada Raihan.
Setelah Elea keluar dari ruangan putranya, Raihan langsung melakukan apapun yang diinginkannya. Termasuk menyingkirkan dengan kasar beberapa dokumen yang ada di atas meja kerja Devan. Hal itu tentu saja membuat Devan geram. Berani-beraninya Raihan membuat kehancuran di ruangan itu.
"Berhenti melakukan itu!!" Devan membentak Ayahnya. Namun Raihan tetaplah sosok lelaki yang keras kepala sama halnya dengan Devan. Selelah apapun orang lain berusaha untuk menghentikan, Kedua lelaki itu akan tetap teguh di atas pendiriannya.
__ADS_1
"Untuk apa kamu mengundang Dia ke sini, Devan?"
"Aku tidak mengundangnya,"
Devan tidak terima mendapat tuduhan itu. Rahangnya mengeras dengan gigi yang bergemelutuk.
"Lalu apa maksud kedatangannya? Kalian saling merindukan? benar begitu, Brengsek?"
"Perhatikan ucapanmu, Tuan!"
Suasana semakin tidak nyaman. Keduanya memiliki sifat yang sama. Tidak ada yang ingin mengalah. Sepertinya semua akan baik-baik saja bila Devan menjawab tidak disertai emosi.
"Istrimu meminta sesuatu saja kamu tidak tahu. Padahal bisa jadi itu permintaan anakmu,"
"Lovi tidak mengatakan apapun padaku. Papa sudah melihatnya tadi,"
Devan ingin menyerahan kembali ponselnya pada Raihan. Namun Lelaki setengah baya itu menolak dengan gerakan tangannya.
"Coba perhatikan lagi ponselmu dengan baik. Barang kali kamu pernah memblokirnya,"
"Oh shit !"
Mendengar geraman putranya, Raihan terseyum. Devan baru menyadarinya. Ia memang pernah melakukan hal itu sebelum semuanya baik-baik saja seperti sekarang. Walaupun dulu Devan yakin kalau Lovi tidak akan berani menghubunginya. Tapi rasa benci mendukungnya untuk memblokir semua akses yang bisa menghubungkan Ia dengan Lovi.
Devan membuka blokir itu dengan cepat. Sementara Raihan sudah keluar dari ruangannya tanpa di sadari. Ia merasa terlalu menyesal sekarang. Devan menggeleng pelan saat mengingat hal konyol yang dilakukannya itu pada Lovi. Kalau saja perempuan itu tahu, mungkin rasa jengkelnya pada Devan akan timbul lebih banyak lagi. Mengingat Lovi yang sangat sensitif akhir-akhir ini hingga membuat Devan harus lebih sabar dalam menghadapinya.
Devan menatap layar ponsel mewahnya. Kemudian tangannya terangkat untuk mengusap gambar wajah Lovi yang tertidur. Devan mengabadikannya secara diam-diam. Wajahnya yang cantik dan polos berhasil menghipnotis Devan dari dulu hingga sekarang. Tapi dulu, Devan terlalu bodoh hingga tidak mengakuinya. Berbeda dengan sekarang dimana Devan akan dengan senang hati mengucapkan kata Cantik pada Istri tersayangnya setiap hari.
"Aku jadi merindukan perempuan yang aku blokir ini,"
************
Hellawwww pa kabs gengs?? gmn nih lnjt/gk? kalo mo lnjt tap jempol dl atuh jgn lupa jg ksh vote. okeoke?
__ADS_1