My Cruel Husband

My Cruel Husband
Ingin dimanja


__ADS_3

SEBELUM BACA, JGN LUPA BERIKAN VOTE(KOIN&POIN) RATTING, KOMEN. TERIMA KASIH


--------


Tak lama, Devan sadar kalau Ia telah mengucapkan hal yang salah. Devan tetaplah Devan, lelaki yang hobi memerintah tanpa pandang bulu.


"Tidak jadi, Ma. Nanti aku minta pada Serry saja," pungkasnya. Rasanya kurang nyaman saja jika tiba-tiba Devan mengungkapkan keinginannya.


"Mama akan buatkan. Tunggu sebentar,"


Senyum antusias langsung terbit di wajah dingin itu. Ia bahagia ketika Mama keduanya bisa memenuhi keinginannya.


Tangan Devan yang sedang berada di atas meja makan terulur untuk meraih sebuah mangkuk yang tak jauh darinya.


Ia mengangkat mangkuk itu lalu menatap aneh isinya. Ia menghidu dan langsung merasa mual.


Ia meletakkan kasar mangkuk tersebut ke atas meja hingga mengundang Senata untuk menatapnya.


"Devan, apa yang kamu lakukan? Tidak menyentuh barang sialan itu bukan?"


Senata menghampiri menantunya dengan perasaan khawatir. Pisau, benda itu yang langsung memenuhi otaknya. Bunyi tidak santai yang ditimbulkan Devan membuat Ia berpikir kalau lelaki itu sedang sibuk mencari cara untuk menyakiti dirinya sendiri.


Orang-orang di rumah itu terkadang teledor dalam meletakkan pisau. Karena merasa kalau Andrean dan adiknya tidak pernah memasuki area dapur.


Sepertinya setelah ini Senata akan membuat peraturan baru. Mengingat tidak selamanya Andrean dan Adrian dalam radar pengawasan mereka. Barang-barang seperti itu bisa saja membahayakan keselamatan mereka. Ditambah lagi dengan Devan yang sepertinya setelah ini akan lebih rajin berkunjung. Karena permintaan anaknya yang bungsu.


"Setiap pulang bekerja Daddy harus ke sini ya!"

__ADS_1


Senata mendengar sendiri betapa tegas dan angkuhnya si bungsu itu memberi titah pada ayahnya.


Devan yang tahu akan kekhawatiran Ibu mertuanya pun tersenyum.


"Isi dalam mangkuk itu apa? Kenapa aromanya aneh?"


Senata menghembuskan napas lega begitu sampai di dekat Devan. Matanya tidak menangkap apapun yang berbahaya di sana.


"Itu bubur kacang hijau basi. Tentu saja aneh,"


Senata yakin kalau itu sudah basi. Karena Lovi meletakkannya semalam.


Senata tak bisa menahan tawanya ketika melihat raut Devan yang menurutnya lucu. Mata tajam itu menatap objek yang hampir membuatnya muntah.


"Kenapa tidak dibuang? benar-benar tidak becus pelayan-pelayan itu,"


"Hei, itu bukan salah pelayan. Mungkin Lovi yang meletakkannya di sana. Karena tadi malam dia yang memakan bubur kacang hijau itu,"


Kalau Lovi yang melakukan kesalahan tentu saja tidak akan memgundang protes atau bahkan bentakan dari Devan. Kesalahan sekecil apapun pasti akan selalu dimaafkan oleh Devan.


Seperti saat ini. Walaupun Lovi berhasil membuatnya mual pagi-pagi tapi Devan tetap tersenyum.


Kalau menyangkut cinta maka Devan akan menjadi manusia yang lembut hatinya.


"Aku kira pelayan," gumamnya.


Senata kembali ke dapur. Berdiri di hadapan kompor untuk membuat soup kesukaan Lovi. Agar perempuan itu napsu makan pagi ini. Namun sebelum itu Ia akan membuat lemon tea hangat sesuai permintaan Devan.

__ADS_1


"Semalam Lovi makan bubur kacang hijau ini? Setahuku dia kurang menyukainya,"


Devan sudah hidup dengan Lovi kurang lebih empat tahun. Tentu dia ingat makanan apa saja yang kurang mengundang selera makan Lovi.


"Mama juga tidak tahu sejak kapan,"


"Ini beli dimana, Ma? Aku tiba-tiba saja menginginkan bubur ini juga,"


Ya Tuhan.


"Untungnya bubur itu masih ada di lemari pendingin," gumamnya lega yang didengar oleh Devan.


Devan berdehem seraya mengusap pelipisnya. Ia menatap ragu ke arah punggung mertuanya.


"Aku mau Mama membuat bubur kacang hijau yang baru. Bisa, Ma?"


Apa-apaan sepasang mantan suami istri ini?!


Senata dibuat sangat bingung dengan sikap mereka yang kompak membuatnya geleng-geleng kepala. Semalam Lovi berhasil menyita waktunya untuk membuat bubur kacang hijau. Sekarang, Devan juga menginginkan hal yang sama.


"Apa bedanya, Devan? Sama-sama bubur kacang hijau bukan?" Ia berusaha menuntut penjelasan. Senata hanya tidak habis pikir saja. Soal rasa seharusnya Devan tidak perlu meragukan.


Bubur itu tentu saja masih nikmat karena Senata meletakkannya di dalam benda kotak berukuran besar yang dingin dengan kualitas tinggi.


------


Judul bab nya gk bgt yak😂😂 abisny aku bingung mau kasi judul apa :(

__ADS_1


__ADS_2