
Antara perhatian dan mencari kesempatan sepertinya tidak ada beda untuk seorang Devan Vidyatmaka. Beberapa kali Ia menghaluskan makanan Lovi dengan mulutnya tetapi pada akhirnya Ia paksa Lovi untuk membuka mulut agar Ia bisa dengan mudah memberikan makanan yang sudah halus itu.
Lovi marah sekalipun, Ia tidak peduli. Ia pikir apa salahnya melakukan ini. Selain karena bentuk perhatian, mereka hanya berdua di ruang perawatan Lovi, jadi Devan merasa bebas dalam memperlakukan istrinya.
"Aku tidak sabar bertemu dengan anak-anak kita. Semoga besok hasilnya bagus, jadi aku bisa pulang,"
"Aku juga merindukan saat-saat kita berkumpul, Lov. Tadi mereka terlihat kesal karena tidak tahu kalau kamu sakit,"
Lovi tersenyum tipis, tidak menyangka bahwa sebesar itulah rasa sayang kedua anaknya. Reaksinya tidak berbeda jauh ketika Lovi mengetahui kalau mereka terluka barang sedikit.
"Sudah, cukup. Perutku penuh,"
"Penuh karena makanan bukan? tidak apa kalau itu, kecuali kalau penuh karena bayi,"
Sontak saja Lovi menahan tawa. Ia tidak bisa tertawa terlalu lebar karena belum pulih benar.
"Kalau ada bayi lagi, memang kenapa?"
"Tidak apa-apa, aku senang."
"Ah, jangan bicara aneh-aneh. Usia Auris saja belum genap satu tahun,"
"Aku hanya menimpali ucapan kamu, Lov."
"Ya, ya, tapi itu hanya candaan,"
"Serius juga tidak masalah,"
Mata Lovi menatap tajam Devan yang kini tersenyum lebar. Lelaki itu mengecup bibir istrinya sekilas.
"Kamu tidak bekerja?"
"Bisa memangnya? aku saja tidak membawa apapun yang berhubungan dengan pekerjaan,"
"Kenapa tidak dibawa kalau memang ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan? biasanya tetap bisa meluangkan waktu untuk bekerja walaupun aku lagi sakit,"
Tahu kalau istrinya menyindir, Devan memeluk Lovi dengan erat. Ingin rasanya mendekap perempuan itu di atas bangsal tapi itu adalah hal yang memalukan. Apa lagi kalau sampai ada perawat atau dokter yang masuk mengingat pintu tidak dikunci. Dan ini bukan malam hari, mereka akan berpikir betapa liarnya otak Devan.
******
Jane sedang membuat design interior yang baru untuk kamarnya. Ia ingin mengganti suasana baru, bukan dipenuhi dengan biru pastel lagi.
Mansion sudah seperti rumahnya sendiri. Jane lebih banyak menghabsikan waktu di mansion tepatnya di kamar yang sudah lama menjadi miliknya daripada di rumah orangtuanya sendiri.
Di sini begitu banyak kehangatan. Jane sudah terlalu nyaman berada di tengah keluarga Vidyatmaka, uncle-nya sendiri.
Saat menyampaikan keinginannya pada orang yang ahli dalam bidang design interior, Andrean datang menghampiri lalu melihat-lihat ke dalam kamar Aunty-nya yang sedang dirubah itu.
"Jadinya akan seperti apa, Aunty?"
"Bagus, lihat saja nanti."
"Kenapa tidak warna biru lagi? aku suka biru, jadi suka juga saat melihat kamar Aunty,"
"Bosan, Sayangku."
"Ini terlalu girly. Bunga dimana-mana,"
Andrean tampak aneh memandang wallpaper kamar Jane yang sudah dipasang sebagian. Matanya beralih pada beberapa furniture yang juga diganti mengikuti tema.
"Biasanya Aunty hanya menggunakan satu warna yang polos. Sekarang mau mencoba bunga-bunga dengan berbagai warna,"
Andrean dan Jane sibuk menjadi penonton dua orang yang sedang bekerja mempercantik penampilan kamar Jane. Sementara di bawah, Auristella dan Adrian sedang disapa oleh Vanilla yang baru datang.
"Wow, kalian makan bersama,"
Vanilla duduk di dekat Adrian dan Auristella yang sedang menikmati sarapan mereka. Tiba-tiba Adrian menghentikan kegiatannya. Ia menatap dalam mata Vanilla yang terlihat memerah dengan kelopak yang membesar.
"Aunty, habis menangis ya?"
__ADS_1
Vanilla terlihat gugup. Ia menyentuh matanya sendiri, kemudian menggeleng dengan santai.
"Tidak, semalam tidurnya terlalu malam jadi sedikit sakit,"
"Aku ingat, kalau Auris menangis lama, matanya akan seperti Aunty. Aunty pasti berbohong. Terkadang aku tidur malam kalau sedang tidak bisa tidur, tapi tidak sampai seperti itu saat bangun,"
*******
Devan membuka gordyn agar sinar matahari masuk ke dalam ruang perawatan Lovi yang masih terlelap dalam balutan selimut tebal.
Devan membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sembari menunggu sarapan Lovi datang. Setelah itu, baru Ia membangunkan Lovi agar segera makan dan melakukan pemeriksaan sekali lagi sebelum benar-benar dipastikan boleh pulang.
"Lov..."
"Engghh,"
"Bangun, Lov."
"Ya,"
Jawab 'ya' tapi matanya masih tertutup. Benar-benar istrinya ini. Devan menjepit hidung kecil Lovi hingga Lovi benar-benar bangun.
"Devan, aku sulit bernapas,"
"Kamu menggemaskan,"
"Jam berapa sekarang?"
Devan menunjuk jam yang melekat di dinding menggunakan dagunya. "Sudah menjelang siang. Sarapan dulu, nanti dokter akan datang untuk memeriksa kondisimu,"
Lovi bangkit dibantu oleh Devan. "Aku mau mandi dulu, boleh?"
"Mandi? jangan dulu,"
"Tapi aku tidak nyaman,"
"Aku lap saja bagaimana?"
Alis Devan langsung menukik. Ia tersenyum miring dan terlihat mengerikan di mata Lovi. Seperti predator saja suaminya.
"Malu? aku berhasil membuat kamu hamil tiga kali. Masih malu juga dengan pelaku yang membuat kamu memiliki tiga anak?"
"Devan!" wajah Lovi yang seketika merona membuat Devan terbahak puas. Lagipula apa yang harus ditutupi? mereka sudah menikah kurang lebih lima tahun. Semua tentang Lovi sudah diketahui oleh Devan.
"Aku yang akan membersihkan tubuhmu menggunakan kain bersih,"
Melihat mulut Lovi terbuka untuk kembali membantah, Devan segera mencuri ciuman. "Jangan membantah!"
********
Selain kelinci, Raihan juga memberikan hoverboard untuk kedua cucunya. Beberapa hari yang lalu mereka benar-benar kebosanan oleh sebab itu Raihan melakukan berbagai cara agar rasa bosan itu terusir.
Salah satunya menyediakan mainan yang sekiranya merupakan hal baru untuk mereka berdua. Seperti kelinci yang bisa menjadi teman mereka untuk bermain, juga hoverboard tersebut.
Saat Auristella baru pulang kemarin, kakak-kakaknya belum mengeluarkan itu. Setelah melihat Andrean dan Adrian mengelilingi mansion menggunakan hoverboard , Auristella langsung melonjak senang dan selalu menunjuk, seolah sedang mengatakan bahwa Ia juga ingin naik ke atas hoverboard.
"Ayo, naik dengan aku."
"Aku saja, kemari, Auris,"
"Aku saja, kamu tidak bisa!"
"Apa? aku lebih pintar dari kamu dalam mengendarai ini," ujar Andrean ikut mempertinggi dirinya agar adiknya itu berhenti memperlihatkan kesombongan.
"Jangan, nanti jatuh." Vanilla melarang mereka untuk membawa Auristella.
"Tidak, Aunty. Aku bisa jaga Auris,"
__ADS_1
Auristella bersiap naik. Ia memilih bersama Adrian. Kakak keduanya menjulurkan lidah pada Andrean. Ia yang dipilih, Andrean tidak. Rasanya senang sekali dipilih oleh teman bertengkar.
"Ck! baru sembuh, keinginanmu aneh-aneh saja, Auris."
Akhirnya Vanilla membantu Auristella untuk berdiri di sana.
"Belum terlalu bisa berdiri. Bagaimana caranya?"
"Belum bisa?"
"Ya, belum! apa dibawa duduk?"
Jane yang sedang menikmati ayam goreng pedasnya tertawa sampai tersedak. Ia meringis sakit lalu mengusap lehernya.
"Istri Jhico benar-benar sinting, tidak ada otak. Memang bisa naik hoverboard dengan cara duduk? Apa lagi yang membawanya juga anak kecil,"
"Sialan kau! diam!"
Jane terbahak dan menular pada kedua keponakan mereka, Adrian dan Andrean yang tadi sempat kesal. Melihat kedua Aunty mereka berdebat rasanya menyenangkan sekali.
"Jadi bagaimana?" tanya Adrian.
"Tidak perlu, Auris turun sekarang!" titahnya pada anak itu. Auristella menggeleng tidak mau mematuhi perintah Aunty-nya.
"Sepertinya Auris bisa dibuat berdiri,"
"Tidak bisa, Adrian! jangan macam-macam kamu ya," Vanilla menatap keponakannya dengan tajam. Akan seperti apa Auristella kalau dibuat berdiri padahal dia belum bisa sepenuhnya.
Adrian mengangkat tubuh adiknya. Auristella dimintanya untuk membalas genggaman tangannya. Rupanya anak itu sudah lumayan bisa berdiri, terkadang ingin jatuh. Hal itu membuat Vanilla meringis.
"Kakinya sakit nanti, Adrian."
"Sakit, Auris?"
Ia malah terkekeh ketika ditanyakan seperti itu. Membuat mereka bingung.
"Ya sudah tidak boleh naik," Ketika digendong oleh Vanilla, Ia malah menangis kencang. Auristella ingin kembali berdiri di atas hoverboard.
"Ty..Ty.." Disela isak tangisnya Auristella memanggil Aunty-nya seraya menunjuk Adrian dan Andrean yang sudah mulai berkeliling lagi.
"Jangan, kakimu belum kuat, Auris. Nanti sakit, Aunty yang mendapat semburan lahar panas," Mulai sekarang bahasa halus dari amarah Devan, Senata, Raihan, dan Rena adalah semburan lahar panas.
Sebenarnya Auristella sudah bisa berdiri tapi Vanilla tidak tega bila Ia harus selalu bergantung pada tangan kakaknya sementara kaki kecil anak itu belum bisa berdiri dengan kuat.
Jane kembali menikmati makanannya. Dan Auristella masih menangis dalam gendongan Vanilla.
Jane meneguk air minumnya sejenak, sebelum memanggil Vanilla, "Auris bawa duduk,"
Ketika Vanilla melangkahkan kakinya, Auristella semakin histeris menangis. Vanilla dan Jane bingung sendiri.
Adrian akan memutari ruang makan dan Jane memanggil keponakannya itu.
"Ke sini sebentar!" titahnya yang langsung dipatuhi Adrian. Adrian mendekat dan tanpa disadarinya masih menggunakan hoverboard sehingga Auristella fokus lagi pada keinginannya.
Jane mengarahkan Adrian untuk merendahkan tubuh tetapi tidak sampai duduk di atas hoverboard. Lalu Jane meraih Auristella dari gendongan Vanilla. Ia letakkan Auristella di depan Adrian. Sehingga ada dua orang di hoverboard milik Adrian itu.
"Pegang adikmu dengan benar!"
"Okay,"
Akhirnya Adrian dan Auristella bermain itu berdua. Dengan posisi Auristella berdiri di depan Adrian dan kakaknya itu memegang perutnya dari belakang.
Langsung hilang tangis anak perempuan Devan dan Lovi. Hanya karena mainan Ia bisa histeris. Astaga, Mommy dan Daddy-nya tidak tahu kalau anak mereka banyak mau setelah sakit.
"Pintar juga otakmu, tidak biasanya."
Jane tersenyum pongah seraya menepuk dadanya yang membusung. "Jane tidak pernah bodoh,"
Andrean mengejar kedua adiknya. Auristella tertawa geli. Andrean sengaja membuat Auristella seolah sedang dikejar oleh polisi. Mulutnya menimbulkan bunyi seperti sirine.
__ADS_1
Kalau sedang rukun seperti ini, siapapun akan tersenyum melihatnya. Ketiga anak Devan dan Lovi yang terlihat sering bertengkar, rupanya juga bisa saling menjaga dan menghibur.
---------