My Cruel Husband

My Cruel Husband
Malam berdarah


__ADS_3

"Kamu kenapa sering menelpon di luar belakangan ini?"


"Lebih tenang, Lov. Kamu tahu sendiri bagaimana situasi di kamar kalau ada anak-anak,"


Padahal bukan itu alasan Devan sering menelpon di rooftop kamarnya. Devan sedang mencari tahu penyebab dibalik rentetan gangguan yang dialami oleh keluarganya akhir-akhir ini.


Detektif yag dibayarnya kali ini belum bisa mengungkap teka-teki sialan yang dibuat oleh sosok itu. Biasanya tida sesulit ini dalam mencari tahu. Entah mengapa masalah kali ini membuat Devan merasa kalau semua akses benar-benar ditutup rapat sehingga Devan dan tim hasil bentukannya guna mengurus perkara ini dibuat kebingungan.


Dugaan bahwa ini semua adalah perbuatan Arnold sudah memenuhi otak Devan sejak kemarin. Tetapi Ia belum bisa membuktikannya. Devan tak ingin menghakimi tanpa bukti yang otentik mengenai pelaku.


"Ayo, turun. Kita harus makan malam,"


Devan tak ingin membuat istrinya curiga. Padahal pembahasan bersama seseorang yang dipercayainya untuk mencari tahu semuanya, belum selesai.


Devan turun terlebih dahulu ke ruang makan sementara Lovi memasuki kamar kedua anaknya. Ia menemukan Adrian tengah sibuk bermain bersama hulk yang di letakkan depan kamarnya.


Saat mobil yang membawa hulk datang, tentu saja Lovi terkejut bukan main karena pilihan anaknya kali lebih aneh lagi dari sebelumnya. Hulk lebih menakutkan menurutnya dan Auristella langsung mengalihkan pandangan saat dua orang lelaki mengangkut mainan baru kakaknya.


"Sudahi dulu bermainnya, kamu harus makan,"


Adrian langsung menyimpan remote dan Ia segera menuruti titah Mommy-nya. Kalau Ia tidak menurut, maka Lovi akan memusnahkan robot besar berwarna hijau itu tanpa sepengetahuan Adrian sekalipun.


"Benarkah saat kau pergi bersama Adrian, ada mobil yang mengikuti kalian?"


Devan baru saja tiba di ruang makan dan ucapan Raihan membuat langkahnya menjadi pelan.


"Ya, uncle mengetahuinya?"


"Apapun tentang keluarga ini pasti aku tahu,"


"****!" Devan baru tahu kabar ini. Semalam Jane tampak baik-baik saja, tidak mengatakan apapun saat Ia bertanya mengenai perjalanan mereka ke toys store. Seharusnya Ia mendengar laporan langsung dari semua bodyguard yang bertugas semalam. Tapi mereka kemana? Devan tidak tahu apapun.


Ia memutar langkah ke tempat yang biasa digunakan untuk semua bodyguard-nya berkumpul. Di sana mereka tampak menonton televisi dan ada juga yang bermain game seraya menikmati minuman beralkohol yang kadarnya rendah karena Devan teramat mengatur minum dan makan mereka demi kebugaran tubuh mereka juga.


BRAKK


"Apa yang terjadi semalam?! kenapa kalian--" telunjuk Devan mengarah pada tiga orang yang menjadi penjaga Jane dan Adrian semalam.


"Tidak ada yang memberi tahu aku mengenai kejadian semalam?!"


"Maaf, Tuan. Nona Jane tidak mengizinkan kami untuk---"


"KALIAN BEKERJA DEGAN SIAPA?! AKU YANG BERHAK MENGATUR!"


Semua aktivitas terhenti. Mereka semua dibuat tersentak begitu Devan marah-marah saat baru datang.


"Aku sudah katakan pada kalian, jangan ada yang disembunyikan dari aku, dan jangan juga ada yang melakukan sesuatu tanpa sepengetahuanku. Otak kalian dimana huh?!"


Mereka juga bingung ingin menuruti perintah siapa karena Jane pun mengancam. Jane hanya tidak ingin Devan berlebihan dalam menanggapi kejadian semalam. Padahal menurut Jane itu hanya gangguan kecil.


"Lain kali jangan dengarkan siapapun selain aku!"


Devan keluar setelah membanting pintu hingga dentumannya terasa memekakkan telinga.


"Jane, bisa kita bicara sebentar?"


Semuanya sudah menikmati makan malam. Mereka tidak tahu Devan habis darimana dan seingat Lovi tadi suaminya sudah berjalan menuju ruang makan. Begitu Ia dan Adrian memasuki ruang makan, Devan malah tidak ada.


"Jane sedang makan. Bicaranya nanti saja," ujar Lovi dengan lembut. Memang sepenting apa hal yang akan dibicarakan Devan? sampai-sampai harus mengganggu Jane yang sedang makan.


"Bisa, dimana kita bicara?" berbeda dengan Lovi, Jane tidak masalah sama sekali bila Devan memang menginginkan itu. Dilihat dari tatapan tajam Devan, Jane tahu ada hal penting yang membuat lelaki itu menginginkan pembicaraan empat mata dengannya.


******


"Kerja bagus, kau berhasil masuk ke dalam lingkup mereka,"


Seorang lelaki masih lengkap dengan seragam kerjanya yang bertuliskan 'Toys store happy' sedang mengenakan jaket hitamnya untuk menutupi seragamnya tersebut.


"Aku akan berangkat sekarang, Tuan Arnold."


"Selamat bertugas. Buat Devan semakin ketakutan!"


Arnold tertawa menggelegar menyaksikan orang suruhannya sudah pergi untuk kembali bermain-main dengan Devan.


Arnold puas sekali bila Devan dibuat kewalahan dengan serangan bertubi-tubi darinya. Pertahanan Devan semakin kuat tetapi ia tak akan menyerah.


"Aku belum ingin melukai salah satu dari harta berhargamu. Aku bisa bergerak pelan yang terpenting semua berjalan sesuai keinginanku,"


Arnold mengatur ulang rencana. Ia tak ingin terburu-buru melakukan sesuatu terhadap Devan dan keluarganya. Karena Ia tahu sudah sejauh mana persiapan Devan untuk menghadapinya sekalipun Devan belum tahu kalau Arnold lah yang akan Ia hadapi. Daripada Ia yang terkena jeratan Devan, lebih baik berjalan dengan santai tanpa terburu-buru yang dapat menyebabkan ia salah dalam mengambil langkah.


Lelaki bernama Alvaro yang wajahnya tertutup rapat dengan kain hitam dan hanya memperlihatkan matanya saja, masuk ke dalam mobilnya.


"Aku datang, anak kecil,"


******


Jane dan Devan bicara di dekat kolam renang. Jane duduk menatap kegelisahan di mata Devan.


"Apa yang mengganggu pikiranmu?"


"Kenapa kau melarang bodyguard untuk mengatakan kejadian semalam padaku?"


"Menurutku tidak penting. Paling hanya ulah segelintir orang-orang brengsek yang hanya berani mencari masalah tapi giliran dihampiri lari terbirit-birit,"


"Penting, Jane! bagaimana kamu bisa mengatakan kalau itu tidak penting?! mereka hampir mencelakai kau dan Adrian,"


"Nyatanya aku dan anakmu baik-baik saja," jawab Jane dengan santai. "Kau terlihat begitu panik hanya karena kejadian semalam. Tenang, Devan. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Biasanya kau tidak gentar dengan hal-hal semacam itu Kenapa sekarang malah panik?!"


Devan mengusap wajahnya dengan kasar. Ia sudah berusaha untuk tetap tenang tapi ancaman kali ini benar-benar terasa mengganggu pikiran Devan. Ia diselimuti oleh ketakutan akan keluarganya yang bisa saja celaka kapanpun.


"Jujur padaku, kau sedang memikirkan apa?"


Devan menghembuskan napasnya lalu menggeleng. Ia berusaha tersenyum walaupun otaknya tengah kusut mencari penyebab dari ini semua.


"Apapun yang terjadi, kau harus mengatakannya padaku!" ujarnya sebelum Ia meninggalkan Jane.


********


Alvaro nampak menghentikan mobilnya tak jauh dari letak mansion megah milik keuarga besar Vidyatmaka.


Usai memastikan penyamarannya telah sempurna, Ia segera berjalan waspada menuju kediaman bak istana di negeri dongeng itu.


Penjagaan di sana benar-benar ketat. Tak ada satupun dari bodyguard itu yang lalai. Sehingga Ia harus mengalihkan perhatian agar Ia bisa menyelinap ke dalam suatu ruangan yang menjadi tujuannya kali ini.


Ia sengaja berlari ke arah barat mansion lalu melepaskan peluru ke udara hingga beberapa dari penjaga di sana nampak waspada dan segera berlari untuk mencari tahu penyebab ledakan.


Secepat kilat lelaki bermata tajam itu bersembunyi di balik semak belukar yang berada di balik dinding pos tempat tamu melapor yang saat ini sudah tidak ada yang menjaga karena hari sudah malam, tidak ada yang berani bertamu ke mansion.


Dia juga mengarahkan beberapa peluru ke segala penjuru agar mereka semua berpencar. Sayangnya, semua bodyguard ini sudah lebih pintar karena Devan melatih mereka dengan sangat baik sehingga mereka cepat menyadari bahwa telah ada yang mencoba untuk mengalihkan fokus mereka.


"Jangan sampai kita memberi celah. Tetap harus ada yang menjaga di sini," ujar kepala bodyguard di pos penjagaan yang berada di depan gerbang mansion. Tidak ada yang tahu kalau di luar mansion telah terjadi baku tembakan karena dinding mansion begitu kedap suara.

__ADS_1


"Cepat hampiri aku di barat mansion!" ujar Alvaro pada beberapa orang di seberang sana yang sedang terhubung dengan handie talkie dalam genggamnya.


Saat beberapa penjaga mulai mencari pelaku yang membuat keributan, lelaki itu melepaskan peluru ke tubuh mereka semua.


Satu orang kena, yang lainnya terkejut dan berusaha mati-matian mencari pelaku, namun pada akhirnya mereka juga kena.


Hingga lima orang tumbang bersama aliran darah dari tubuh masing-masing. "Lama sekali kalian! aku harus bersembunyi dari lima orang itu,"


Setelah pasukan lengkap, saatnya mereka keluar. Dan semua bodyguard yang tersisa langsung melepaskan peluru begitu menyadari kehadiran orang-orang jahat itu. Mereka sama-sama sudah waspada. Tidak ada yang lupa mengenakan pakaian pelindung tapi sayang, kalau sudah menembak bagian wajah dan kepala para bodyguard Devan, maka tak bisa dipungkiri mereka akan tumbang juga. Seperti lima orang yang tadi. Karena kecerobohan semua bodyguard Devan kali ini adalah tidak mengenakan pelindung kepala. Mereka hanya mengantisipasi badan dan tidak menyangka kalau akan ada penyerangan seperti ini.


"Brengsek!"


"Sialan!"


Berbagai makian mewarnai aksi mereka kali ini. Satu persatu dari pengawal Devan berguguran. Banyak bodyguard Devan yang mati karena melemparkan peluru terlalu banyak kepada musuh hingga musuh membalas dendam, ada juga yang hanya terluka namun tetap tidak sadarkan diri. Kondisi musuh pun tak berbeda jauh. Sehingga posisi mereka kali ini satu sama.


Musuh tersisa tiga orang termasuk lelaki yang sudah tiba di mansion sejak awal yaitu Alvaro.


"Kalian berjaga di sini"


Alvaro mulai menyelinap masuk ke mansion. Ia tak perlu melewati penjaga yang masih ada di dalam karena Ia akan memanjat dinding tanpa perlu masuk ke dalam.


Dengan berbagai cara Ia memanjat pagar pembatas. Banyak sekali dinding-dinding tinggi di mansion ini. Sehingga perlu tenaga yang ekstra untuk bisa masuk ke sana.


Keringat bercucuran di kening lelaki itu. Ia sampai di sebuah balkon. Ketika Ia mencuri pandang melalui jendela, ia tersenyum saat menyadari ruangan yang ada di hadapannya saat ini adalah kamar milik anak-anak Devan. Ia bisa mengetahuinya dari keberadaan robot besar berwarna merah yang tak jauh dari pintu kamar.


Ia memanjat dinding yang tepat. Tanpa mencari, Ia langsung menemukan sasaran. Keberuntungan tengah berpihak padanya.


Ia menggunakan senjata tajam yang kecil untuk membuka jendela setelah memastikan bahwa suasana di dalam sepi. Entah kemana dua bocah itu.


Ia masuk dengan langkah pelan. Senyum miring tersungging di bibirnya. Ia melihat-lihat isi kamar ini untuk kedua kalinya. Mata Alvaro mengarah ke lemari tempat menyimpan robot-robot kecil yang terletak di dekat meja belajar.


********


"Devan..."


"Iya, Ma?"


"Kamu tidak mau makan?"


Mau tidak mau Devan mulai melahap makan malam yang disiapkan Lovi. Sial! ini semua pasti keinginan mereka. Membuat Devan tak henti kepikiran. Devan benar-benar takut tidak bisa menjaga keluarganya.


"Aku suapi, Dad? Pasti Daddy sedang manja ya?"


Adrian meraih piring milik Daddy-nya, Devan menggeleng menolak tawaran tersebut namun Adrian tetap melakukannya. Sejujurnya Ia bisa melihat kalau Devan sedang tidak tenang.


Auristella membuka mulutnya seraya menjulurkan tangannya ke arah Adrian saat Ia melihat Devan disuapi.


"Kamu juga mau disuapi? oh, manjanya."


Adrian terkekeh geli lalu melakukan apa yang dikehendaki adiknya. "Grandma juga mau," kata Rena seraya terlekeh kecil.


"Aduh, maaf Grandma. Tanganku hanya dua," jawabnya seraya mengangkat kedua tangan.


"Aku sudah selesai. Sekarang aku mau belajar dulu ya,"


"Istirahat dulu sebentar barulah belajar. Perutmu baru diisi, biarkan makanannya turun,"


"Iya, Mom." jawab Andrean setelah Ia meneguk air minumnya. "Andrean kalau mau belajar jangan di kamar ya,"


"Memang kenapa? tempat belajarku 'kan memang di sana,"


"Kenapa? aku harus belajar dimana kalau bukan di kamar?"


"Karena aku mau bermain robot di kamar,"


"Hey tidak ada cerita mengusir Andrean yang mau belajar di kamar demi bermain robot ya. Bukannya belajar juga malah bermain,"


"Huh! ya sudah, tidak jadi,"


Andrean naik ke lantai atas mansion untuk masuk ke dalam kamarnya, mempersiapkan buku untuk sekolah besok dan juga mengulang materi yang akan dijadikan sebagai soal-soal tes esok hari yang merupakan tes terakhir. Bila Ia mendapatkan hasil yang bagus, maka Ia berhasil naik ke kelas akhir. Lalu beberapa bulan lagi, Ia akan memasuki sekolah dasar yang levelnya lebih tinggi.


Begitu membuka pintu, Andrean terkejut bukan main melihat ada laki-laki yang memakai pakaian serba hitam berada di tengah-tengah kamarnya.


"ANDREAN TUNGGU AKU,"


Alvaro yang tadinya belum menyadari kehadiran Andrean langsung panik mendengar suara Adrian yang mendekati Andrean. Ia menatap pintu kamar bertepatan dengan tibanya Adrian di samping sang kakak.


Alvaro langsung berlari keluar usai membanting robot yang lehernya telah dipatahi dan terdapat banyak darah. Andrean dan Adrian menyaksikan semuanya. Sebelum Alvaro berbalik keluar, Adrian sempat melihat baju yang dikenakan Alvaro karena jaketnya setengah terbuka.


"DADDY MOMMY ADA ORANG JAHAT!"


"DADDY!"


"DADDY!"


Adrian berteriak dari lantai atas sekencang mungkin sementara Andrean masih terpaku di tempatnya. Dan Alvaro sudah berhasil melarikan diri. Kejadiannya begitu cepat hingga perlu waktu untuk Andrean dan Adrian mencerna semuanya.


Devan langsung bangkit begitu mendengar teriakan anaknya. Ia berlari seperti orang kesetanan menuju sumber suara panik sang anak. Yang lain pun mengikuti Devan.


Jantung Devan berdetak tidak beraturan. Jarak antara kamar dengan ruang makan kenapa terasa sangat jauh sekali? sial!


Andrean mencoba untuk mendekati benda yang sedari tadi menyita perhatiannya. Adrian menahan lengannya seraya menggeleng, "Jangan mendekat. Bisa jadi ada sesuatu yang bahaya di sana, Andrean," suara Adrian sangat pelan, Ia kehabisan tenaga padahal tidak habis bertarung Tapi Ia terlalu syok mendapati ini semua.


Devan masuk dan langsung memeluk kedua anaknya. "Dad, lihat itu. Lihat itu, Daddy! leher robotku dipatahi," Devan terlalu fokus pada anaknya sampai tidak menyadari suasana kamar. Ia menatap arah yang ditunjuk oleh sang putra lalu rahangnya mengeras seketika.


"Keparat!" geramnya seraya menendang robot berdarah-darah itu dan berlari ke balkon kamar kedua anaknya. Tak ada lagi jejak manusia sialan yang sudah membuat kekacauan ini.


Namun saat melihat ke bawah, mata Devan membulat sempurna. Sudah terjadi pertumpahan darah.


Lovi dan yang lainnya sampai di dalam kamar. Mereka pun nampak terkejut. Lovi segera memeluk kedua anaknya.


"Daddy, tadi aku melihat laki-laki itu menggunakan seragam yang sama dengan seragam pekerja di toko mainan yang semalam aku kunjungi dengan Aunty Jane. Sepertinya dia yang mengantar hulk milikku. Aku bisa melihat dari matanya, aku hafal, Dad. Aku memang sempat curiga dengan dia karena dia selalu menatap aku dengan tajam. Walaupun seluruh tubuhnya tertutup tapi---"


Devan tidak mendengar penjelasan anaknya sampai selesai. Ia terlalu emosi dan liar saat ini. Tapi Devan tahu kalau ternyata pelakunya sudah membaca suasana saat mengantar hulk milik Adrian tadi pagi.


Devan langsung turun ke lantai bawah untuk melihat situasi yang sebenarnya terjadi.


"Ada yang tidak beres," geram Raihan dengan mata menyala. Rahangnya mengeras begitu mengetahui kalau cucunya sedang dalam bahaya.


*******


"Aku berhasil melakukannya."


"HAHAHA KABAR BAGUS, ALVARO. CEPAT KEMBALI KE SINI. AKU INGIN MENDENGAR SEMUA DONGENG YANG KAU DAPAT MALAM INI,"


Sementara mereka berpesta gembira untuk merayakan keberhasilan dalam menyerang pertahanan Devan, justru Devan merasakan sebaliknya. Hatinya yang keras seperti batu menangis juga pada akhirnya saat melihat bodyguard-nya banyak yang mati demi menjaga dirinya dan seluruh keluarga.


Padahal Bodyguard yang turun tangan malam ini sudah lebih banyak dari biasanya. Namun tetap saja mengalami kekalahan.


"ARGGHHH! AKAN AKU BUNUH SIAPAPUN KAU YANG SUDAH MELAKUKAN INI!"

__ADS_1


*********


Pagi ini saatnya memulai hari. Kondisi Devan sudah jauh lebih baik. Ia tidak akan lemah dalam melawan kejahatan. Ini sudah keterlaluan sehingga Devan harus lebih bekerja keras dalam menemukan pelaku dibalik semua kekacauan yang terjadi semalam.


Semalam, mansion Devan dipenuhi oleh pihak penyelidik. Devan melaporkan kejadian malam tadi kepada mereka agar segera ditindak lanjuti karena ini bukan lagi ancaman biasa. Banyak sekali korban yang mati karena kejahatan pelaku.


Devan meminta agar pihak berwajib menutup semua pemberitaan yang bisa saja tersebar di luar sana mengenai yang terjadi di dalam istana keluarganya. Ia tidak ingin menjadi ramai sehingga menyulitkan dirinya dalam mencari tahu si pembuat onar.


"Kamu sudah jauh lebih baik?" Lovi sangat khawatir dengan kondisi suaminya. Ia tahu betul seberat apa beban pikiran Devan saat ini.


"Aku akan selalu baik kalau kamu di sampingku,"


"Tetap ingin bekerja?"


"Ya, semuanya akan berjalan seperti biasa. Aku sudah mengutus beberapa orang untuk membereskan perkara semalam selain pihak berwajib,"


Lovi tidak ingin membahas kejadian itu lagi karena bisa saja emosi Devan kembali memuncak. Padahal banyak sekali pertanyaan dalam benaknya yang harus Ia ketahui jawabannya dari mulut Devan.


Devan juga terlihat menutupi semuanya. Ia mengerti, mungkin Devan melakukannya agar Ia tidak kepikiran dan hanya fokus pada anak-anak mereka.


"Ya sudah, aku bangunkan anak-anak dulu,"


"Mungkin sebaiknya hari ini mereka tidak sekolah dulu, Lov. Kasihan mereka. Yang terjadi semalam benar-benar membuat mereka terkejut,


"Ya, bukan hanya mereka, kita semua pun sama. Tapi hari ini adalah hari terakhir mereka tes. Sayang sekali kalau tidak ikut dan malah menyusul,"


Devan menghembuskan napas dan harus menimbang lagi keputusannya. Sementara Lovi yang akan keluar dari kamar memilih untuk menunggu jawaban Devan. Karena Ia percaya, Devan tahu mana yang terbaik untuk anak-anak mereka.


"Baiklah, mereka boleh sekolah hari ini. Aku akan tambah pengawal untuk mereka,"


"Memang Andrean dan Adrian yang menjadi sasaran mereka ya? kenapa mereka begitu jahat?"


"Tidak ada yang boleh menjadi sasaran, Lov. Semuanya baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir,"


*********


"Namanya Arnold, dia pernah menjadi salah satu tawanan pihak kepolisian atas pelaporan tindakan pencemaran nama baik. Pernah juga menjadi salah satu bagian dari perusahaan peredaran gelap senjata tajam dan obat-obatan terlarang,"


"Rupanya benar bedebah itu yang melakukan semuanya,"


"Jadi, apa yang harus kita lakukan, Tuan?"


"Apapun yang dia perbuat terhadap keluargaku, maka balas dengan hal yng setimpal!"


"Arnold memiliki perusahaan yang baru dirintis lagi dari awal setelah keluarnya Ia dari penjara,"


"Gunakan perusahaanku yang lain untuk menghancurkan perusahaan kecilnya itu,"


"Bisa dibilang, perusahaan miliknya tidak kecil, Tuan. Karena ada yang menjadi penopang di balik berdirinya perusahaan tersebut. Begitu beroperasi, perusahaan milik Arnold sudah berhasil mendapatkan saham dimana-mana,"


"Yang mendukung pembangunan perusahaan itu apa ada hubungannya dengan semua teror yang dialami keluargaku? dan siapa dia?"


"Kami masih mencari tahu itu,Tuan."


klik


"Cih! perusahaan berdiri karena bantuan dari orang lain tapi sudah berani bertingkah. Kau tidak akan menyangka kalau aku bisa menghancurkan semuanya dalam waktu sekejap,"


Devan memanggil Ferro agar datang ke ruangannya. "Berikan suntikan dana untuk perusahaan ini!" Devan menunjukkan nama perusahaan yang tadi disebutkan oleh detektifnya yang tak lain adalah perusahaan milik Arnold.


"Tapi menggunakan perusahaan ku yang lain,"


"Maksudmu, Tuan?"


"Yang tanpa nama,"


"Oh baik, aku mengerti."


Dari sekian banyak perusahaan yang dimiliki Devan, Ia sudah mengantisipasi kalau hal-hal seperti ini bisa saja terjadi di masa depan. Oleh sebab itu Devan membentuk beberapa perusahaan tanpa jejak dirinya sama sekali seolah perusahaan itu milik orang lain sehingga bila ia membutuhkan penghancur, la bisa menggunakan perusahaan-perusahaan tersebut.


*******


"Kedua anakku baik-baik saja, Ren?"


"Baik, Nona. Mereka baru saja selesai istirahat. Sekarang pelajaran terakhir yang akan diujikan,"


"Baik, terima kasih. Terus pantau mereka bersama teman-temanmu ya,"


"Iya, Nona."


Bukan hanya Devan, Lovi pun semakin waspada dan benar-benar fokus menjaga kedua anaknya yang sering keluar dari mansion untuk menuntut ilmu sehingga keselamatan mereka sangat mengkhawatirkan.


Sementara waktu, pihak Arnold tidak ingin melangkah dulu. karena Arnold yakin Devan sedang gigih-gigihnya melakukan usaha untuk memberantas dirinya dan pasukan. Baru kemarin Ia memancing emosi Devan habis-habisan, biarkan untuk beberapa waktu kedepan Devan dan keluarganya hidup tenang.


******


"MASUK!"


"Apa informasi yang kau bawa?"


Tanpa sepengetahuan Devan, Raihan mencari tahu hal yang telah terjadi namun disembunyikan oleh sang putra.


"Seperti biasa, ada yang tengah mencari perkara dengan anakmu,"


"Aku tahu! yang aku tanyakan bukan itu. Apa yang membuat mereka begitu berani menantang Devan?"


"Perkara masa lalu, Tuan."


"Maksudmu?"


"Kau ingat siapa yang menjebak Devan pada waktu dia kuliah?"


Memori Raihan terlempar pada masalalu. Dimana saat Ia tengah serius bekerja, Ia mendapat panggilan dari pihak kampus yang mengatakan bahwa Devan terpaksa diringkus oleh pihak kepolisian karena saat ada razia yang berlangsung di kampus, putranya itu ditemukan menyimpan obat-obatan terlarang.


Devan menunduk dengan perasaan kacau didalam ruangan kecil berpagar besi itu. Ia mengangkat kepalanya saat Raihan datang untuk melihat kondisinya.


"Pa, kau percaya padaku 'kan? aku tidak melakukannya. Aku tidak tahu kenapa barang itu ada di tasku,"


Raihan menahan tangisnya. Mereka baru saja berkumpul usai masalah keluarga menimpa. "Apa kau merusak diri sendiri karena kebodohan Papa yang telah menyakitimu, Vanilla, dan mama?"


Devan menggeleng dengan mata menatap sendu ke arah Raihan. "Aku memang hampir putus asa saat Papa meninggalkan aku dan Vanilla demi wanita ****** itu. Tapi aku bersumpah tidak merusak diriku sendiri, Pa."


Raihan merasa gagal menjadi seorang ayah. Ia sudah meninggalkan Devan dan Vanilla demi wanita idaman lain dan mungkin karena perilakunya yang dulu itulah yang membuat Devan seperti ini. Ia benar-benar menyesal.


Masuk ke masa perkuliahan, hubungan Devan dengan Raihan sudah membaik. Pada akhirnya Raihan kembali pada anak dan istrinya sementara wanita ****** itu dihempasnya jauh-jauh setelah ia sadar kalau Ia begitu bodoh meninggalkan harta berharga dalam hidupnya demi wanita yang baru dikenalnya hanya dalam waktu singkat.


"Kau sudah lama menggunakannya? saat keluarga kita hancur?"


"Demi Tuhan, aku tidak menggunakan itu semua. Papa meninggalkan aku dan aku sibuk bekerja keras mencari uang untuk kehidupanku dan Vanilla bukannya merusak diri sendiri. Aku dijebak, Pa."


Devan pernah merasa hancur pada masanya. Semua orang tidak percaya dengannya. Bahkan orangtuanya sekalipun. Ia berhasil dijebak hingga semua orang yakin kalau dialah yang bersalah, dialah yang bodoh, dan dialah yang liar.

__ADS_1


__ADS_2