My Cruel Husband

My Cruel Husband
Kegiatan saat tidak ada Mommy & Daddy


__ADS_3

"Aku mau buat susu sendiri,"


Adrian berbelok arah sebelum masuk ke dalam kamarnya. "Minta tolong pada maid saja," ucap Rena.


"Aku mau buat sendiri,"


Rena menggeleng. Kemudian Ia menggenggam tangan Adrian lalu mereka bergegas ke dapur.


"Sekarang perlengkapan mu dan Andrean sudah pindah tempat ya? dulu, di dalam kamar Daddy dan Mommy."


"Iya, karena kita sudah tidak tidur lagi di kamar Mommy dan Daddy. Hanya Auris yang di sana, jadi perlengkapan nya saja yang ada di kamar Mommy,"


"Grandma temani aku saja. Aku buat susu nya sendiri," ucap Adrian.


"Tidak boleh, Adrian. Kamu harus menggunakan air panas saat membuatnya,"


Mereka tiba di dapur dan Rena langsung membuat susu untuk cucu keduanya. "Andrean mau tidak ya?"


"Dia tidak minta. Mungkin sekarang sudah tidur. Dia 'kan cepat sekali tidurnya. Satu jentikan jari dia tidur,"


Rena terkekeh pelan. "Justru dia lama kalau tidur. Kamu yang cepat, bangun nya juga cepat. Kalau Andrean, tidur nya lama, bangun pun juga lama. Sulit sekali dia dibangunkan,"


Rena sudah tahu bagaimana kebiasaan cucunya selama ini. Adrian sama seperti Auristella. Mudah terlelap dan mudah juga terbangun. Sementara Andrean berkebalikan dengan mereka.


******


"Hei, kenapa belum tidur? hmm?"


Devan baru saja membersihkan tangannya usai makan di meja makan yang terletak di ruang perawatan Lovi.


Ketika Ia kembali mendekati Lovi, rupanya Lovi belum tidur. Ia melamun, menatap langit-langit ruangan dengan pandangan kosong.


Ketika suaminya menegur, Lovi menoleh dan tersenyum. "Aku menunggu kamu,"


"Okay, sekarang kita tidur. Ini sudah malam, kamu harus istirahat,"


"Aku rindu dengan anak-anak. Bagaimana kabar mereka malam ini ya?"


"Baik-baik saja. Tadi aku menelpon Mama."


"Aku ingin cepat pulang,"


"Ya, kalau kondisimu sudah membaik, kita pasti pulang..."


"Andrean dan Adrian ingin sekali ke sini untuk menjenguk mu. Tapi aku larang," lanjut Devan menceritakan keinginan anaknya selama Lovi di rumah sakit. Mereka ingin melihat kondisi Lovi, tapi tidak diizinkan oleh Devan karena itu akan membuat mereka sedih. Biarkan saja Lovi di sini bersamanya, menyembuhkan perasaan dan juga memulihkan tubuhnya terlebih dahulu, barulah Lovi siap bertemu anak-anaknya lagi.


Lovi menepuk sisi di sebelahnya. Ia meminta Devan untuk naik ke atas bangsalnya. Setiap Lovi dirawat di rumah sakit, pasti selalu menginginkan kehadiran Devan di sampingnya. Meskipun ukuran bed kurang nyaman untuk mereka berdua, tapi setidaknya Lovi merasa nyaman karena ada Devan yang selalu menemaninya sekalipun dalam tidur.


"Papa sudah tidur?"


"Sudah, di sofa bed ruang tamu."


"Kenapa kamu membiarkan Papa di sini? kasihan Papa---"

__ADS_1


"Papa tidak mau, Lov. Papa mau di sini, menemaniku menjaga kamu. Dan Mama menemani Mama Sena untuk menjaga anak-anak kita,"


"Tapi kasihan Papa. Pasti istirahat di sana kurang nyaman---"


"Papa yang menginginkannya. Tidak masalah, kata Papa."


******


Andrean keluar dari kamarnya. Ia baru saja bangun. Andrean menoleh ke kamar yang terletak di sampingnya. Sepertinya Adrian masih tidur.


"Tumben dia belum bangun," gumam nya.


Setelah itu Ia beranjak ke ruang makan. Di sana sudah ada Auristella, Senata, dan juga Rena.


Senata dan Rena masih mengenakan pakaian yoga mereka. Mereka baru selesai yoga, Serry laporan bahwa Auristella sudah bangun dan seperti biasa dia menangis karena tidak ada orang di sampingnya dan saat Serry menghampiri ingin menggendongnya dia tidak mau.


"Pagi, Andrean. Bagaimana tidurmu semalam?"


"Pagi, seperti biasa. Aku selalu nyaman kalau tidur,"


"Adikmu belum bangun?"


"Pintunya masih tertutup. Sepertinya Adrian belum bangun,"


*****


"Kalian sampai di sini kemarin 'kan? seharusnya hari ini istirahat,"


"Istirahat terus. Kemarin sampai, langsung istirahat, Devan. Tadi kami ke rumah orangtuaku, rencananya setelah dari sana ingin ke mansion dan ke rumahmu,"


"Dari orangtuaku," jawab Jhico.


"Devan...."


Devan langsung bangkit dari sofa. Ia segera mendekati Lovi yang memanggilnya. Lovi membuka mata dan tidak menemukan kehadiran Devan di sampingnya.


"Ada Vanilla dan Jhico,"


"Dimana mereka?"


Vanilla dan Jhico menyusul Devan. Senyum Lovi langsung hadir melihat Vanilla. Tapi tatapannya kosong saat melihat perut Vanilla yang semakin membuncit.


"Lovi, cepat pulih ya. Tidak boleh lama-lama di sini," ujar Vanilla yang tanpa sengaja mengalihkan perhatian Lovi terhadap perutnya.


"Besok kalau kondisinya semakin stabil, Lovi sudah diizinkan untuk pulang," ucap Devan memberi tahu.


"Syukurlah, aku senang mendengarnya."


Lovi juga senang sekali karena Ia akan kembali berkumpul dengan ketiga malaikat kecilnya yang luar biasa itu.


"Setelah ini aku akan ke rumahmu, Devan. Aku sudah rindu dengan mereka bertiga," ucap Vanilla dengan antusias.


"Iya, mereka juga begitu. Selama kamu liburan, selalu saja bertanya padaku apakah kamu menelponku lagi? apalagi Adrian yang sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu,"

__ADS_1


"Tidak sabar menerima buah tangan, lebih tepatnya." sahut Lovi yang mengundang tawa ketiga orang di sana.


*****


Adrian dan Andrean baru saja selesai bersepeda dengan Raihan. Auristella di rumah bersama kedua neneknya.


Setelah cukup berkeringat, mereka bertiga kembali ke rumah. Dan Raihan langsung pamit untuk pergi ke mansion, ganti baju lalu bergegas ke kantor bekerja sebentar sebelum kembali lagi ke rumah sakit.


"Grandpa ke mansion dulu ya."


"Setelah itu ke kantor?"


"Ya, kalian baik-baik di sini."


"Hati-hati, Grandpa."


"Okay, kalian masuk dulu,"


Adrian dan Andrean memang mengikuti mobil Raihan sampai keluar. Seolah berat sekali melepas kepergian kakek mereka ke kantor. Mereka sudah merindukan Raihan karena semenjak tinggal di rumah, mereka tidak bisa bertemu setiap saat seperti waktu di mansion.


Andrean masuk ke dalam rumah. Sementara Adrian menghampiri lelaki pengurus hewan peliharaannya yang sedang membersihkan tempat tinggal kelinci miliknya, Andrean, dan juga Auristella.


"Aku mau juga membersihkannya,"


"Jangan, Tuan kecil. Ini kotor,"


"Tidak apa, aku juga kotor, belum mandi."


Lelaki itu terkekeh kecil. Akhirnya Ia membiarkan Adrian membantunya. Ia menyikat kandang sementara Adrian menyiramnya. Tiga kelinci sedang dilepas. Mereka berlarian di sekitar area luar rumah. Pagar tinggi dan megah rumah itu sudah diamankan.


Kelinci itu masuk ke dalam rumah yang pintu nya tidak ditutup. Rena yang menyadari itu langsung berseru riuh.


"ASTAGA KELINCI MASUK HEI. TOLONG KELUARKAN!"


Auristella yang sedang menonton bersama Andrean langsung menoleh. Ia terkekeh geli melihat neneknya yang panik.


Salah satu maid yang kebetulan berada di dekat Rena langsung mengangkat kelinci itu dan membawanya ke luar.


"Hey Jefrey! kenapa kelinci bisa masuk?!" maid itu memarahi Jefrey yang sedang membersihkan kandang bersama Adrian.


"Maaf-maaf, aku tidak sadar kelinci nya masuk,"


"Tuan kecil, untuk apa di sana? memang tidak jijik dengan kotorannya?"


"Tidak, daripada aku tidak ada kegiatan. Lebih baik membersihkan kandang kelinci,"


Maid yang bernama Sendy itu menggeleng. Adrian, anak yang tidak pernah bisa diam. Selalu ada cara untuk menyibukkan diri sendiri. Mulai dari menjahili orang sampai membersihkan kandang pun dia lakukan agar dia tidak diam saja.


----------


Haloha gimana kabarnya? semangat beraktifitas yaaa. Tetap jaga kesehatan. Makasih udh mampir dan kasih dukungan. Wufyuu💙


Nillaku sama Addicted udh up lhoo. Kuuyy mampir🤪

__ADS_1




__ADS_2