My Cruel Husband

My Cruel Husband
Tanggapan atas nyali Jhico


__ADS_3

"Sekali lagi Happy birthday. Maaf aku terlambat datang,"


Jhico terkejut saat Denaya memeluknya. Secepat kilat Ia melepaskan. Lelaki itu mengangguk singkat.


"Kamu sudah meminta maaf berulang kali. Aku bosan mendengarnya,"


Interaksi mereka dilihat oleh Devan. Sejak tadi Devan memperhatikan Jhico yang selalu mencuri pandang pada adiknya. Ia merasa aneh, di tambah lagi dengan permintaan lelaki itu bahwa mereka diharapkan jangan pulang terlebih dahulu sampai acara selesai.


"Kamu memperhatikan Jhico atau wanita itu?"


"Cemburu heh?"


Lovi memilih untuk memalingkan wajahnya sementara Devan kembali memperhatikan Jhico dengan mantan kekasihnya.


Semua sudah pulang dan hanya gadis itu yang belum pulang. Mereka berbicara cukup lama dan yang lebih mendominasi adalah Denaya.


"Aku pulang kalau begitu. Bye,"


Devan mengangkat alisnya saat melihat Denaya mengecup bibir Jhico. Jhico tampak kaget dan setelah gadis itu pergi, Jhico tampak mengusap-usap bekas kecupan mantan kekasihnya. Sial! Ia terlalu kaget sampai tidak bisa menghindar.


Jhico tampak mendekati keluarga Raihan. Ia duduk dengan kaku, menyadari kalau tatapan Devan tengah mengulitinya. Jhico menelan ludahnya susah payah.


"Aku ingin Vanilla menjadi Istriku,"


Sontak saja kalimat tegasnya itu membuat Raihan, Thanatan, Rena, dan Karina yang sedang terlibat perbincangan kecil mengalihkan mata mereka pada Jhico.


Devan mengetatkan rahangnya. Setelah bibir itu bertemu dengan bibir milik gadis lain, Ia mengatakan ingin menikahi adiknya?

__ADS_1


"Itu yang ingin ku katakan,"


Thanatan menatap tajam pada anaknya yang tidak mengatakan apapun padanya sebelum melakukan ini. Ia tidak menyangka kalau Jhico senekat ini mengutarakan perasaannya tanpa persetujuan kedua orangtuanya. Mengharapkan seorang anak perempuan untuk dijadikan istri memangnya perkara kecil? seharusnya Jhico membahas ini terlebih dahulu dengan Thanatan dan Karina.


Raihan dan Rena pun tidak kalah terkejut. Mereka tidak menyangka kalau dokter muda yang pernah bertemu dengan mereka malah menginginkan Vanilla sebagai istrinya.


Vanilla menggeleng pelan. Lelucon Jhico sangatlah menggelitik perutnya. Ia yang memang sudah sangat jengah selama pesta berlangsung, tanpa basa-basi menjawab Jhico.


"Aku tidak mau. Aku mencintai pria lain,"


Devan tersenyum miring mendengar jawaban adiknya. Memang itu yang Ia inginkan. Jhico terlalu percaya diri akan menang dalam mempermainkan Vanilla.


"Aku akan menunggu sampai kamu tidak lagi mencintai dia,"


"Kau menunggu Vanilla sampai perasaannya beralih padamu? lalu apa kabar dengan hatimu? baru saja aku melihat adegan tidak pantas di pesta ini. Ciuman kalian tadi, apa maksudnya?"


"Mereka bertengkar, Andrean?"


"Tidak tahu, tapi sepertinya iya,"


"Mereka sudah besar tapi kenapa masih bertengkar ya? seperti kita saja," Adrian terkekeh dengan pelan. Kemudian Ia kembali mendengarkan dengan fokus.


"Dia mantan kekasihku. Kalian tidak yakin dengan perasaanku, tidak apa-apa. Tapi aku akan membuktikan keseriusanku. Sebentar lagi aku akan datang ke rumahmu, Vanilla."


****


Devan memutuskan untuk pulang ke mansion menggunakan mobil yang sama dengan Raihan. Mereka sengaja melakukannya untuk kembali membahas pembicaraan tadi yang benar-benar mengejutkan. Devan akan pulang ke rumahnya mungkin besok pagi.

__ADS_1


Andrean dan Adrian duduk di kursi belakang dan sibuk bermain iPad masing-masing. Sementara Lovi, Vanilla, dan Rena duduk di tengah dan para suami mereka berada di depan. Mobil Devan akan di urus oleh supirnya.


"Papa salut dengan keberaniannya,"


"Aku tidak, karena jelas-jelas dia diam saja saat perempuan lain mengecupnya. Kalau memang dia mencintai Vanilla seperti apa yang dikatakannya tadi, seharusnya dia berusaha untuk mencuri hati keluarga kita. Dia tidak sadar kalau sejak tadi aku menilai kelakuannya,"


Raihan terkekeh dan menoleh pada putranya yang sedang mengemudi dengan kecepatan normal.


"Kenapa kamu memperhatikan gerak-geriknya?"


Penasaran dengan alasan Devan. Karena lelaki itu tidak mungkin peduli kalau tidak ada yang mengganggu pikirannya.


"Dia memperhatikan Vanilla sepanjang acara. Tidak Berani mendekat, memilih sibuk dengan teman-temannya. Sampai pada akhirnya aku melihat kejadian itu sebelum gadisnya pulang,"


"Bukan gadisnya lagi, Devan. Tapi mantan kekasihnya,"


Devan melirik kaca di atas kepalanya dengan singkat seraya berdecak, " Aku tidak percaya sampai dia benar-benar berani datang ke mansion menemui Papa dan Mama untuk meminta Vanilla secara langsung pada kalian,"


"Katamu dia selalu memperhatikan Vanilla. Artinya dia memang benar-benar menyukai Vanilla. Untuk apa dia memperhatikan sesuatu yang tidak menarik dimatanya? dan masalah gadis itu, mungkin dia yang terlalu percaya diri hingga memperlakukan Jhico sama seperti saat mereka masih menjalin hubungan,"


Vanilla hanya diam menjadi pendengar. Mereka saling mengeluarkan pendapat. Lovi dan kedua orangtuanya mulai menaruh apresiasi pada sikap berani Jhico dan Devan yang masih keras kepala mempertahankan apa yang menjadi pemikirannya.


"Dia terlalu berani tapi jatuhnya malah brengs*k. Apakah dengan pertemuan kedua perasaan cinta itu benar-benar ada? aku rasa itu hanya omong kosong," tukas Kakaknya.


------


HELAWW GESSS. JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE YAK. MAMPIR KUY DI LAPAKNYA VANILLA.

__ADS_1



__ADS_2