
"Adrian, kata Grandma Sena dan Grandma Rena tadi, kita tidur bersama mereka,"
Andrean masuk ke kamar orangtuanya setelah Ia tak menemukan sang adik di kamar mereka.
"Ayo, masuk ke kamar kita,"
"Aish! Aku mau tidur bersama Mommy dan Daddy. Andrean saja yang tidur dengan Grandma," jawabnya acuh lalu ikut-ikutan berbaring di sebelah Devan.
Lovi berdecak seraya bertolak pinggang melihat anak dan suaminya yang berbaring tanpa membersihkan tubuh.
"Mandi dulu,"
"Mandikan, Lov,"
"Hih Daddy manja! Adrian saja sudah bisa mandi sendiri,"
Adrian duduk dan meraih bantal untuk menyerang wajah Devan yang saat ini menatap Lovi dengan mata mengerling.
Andrean masih bertahan di kamar Lovi. Ia menatap malas Ayah dan adiknya yang tengah perang bantal.
"Devan, bersihkan tubuhmu sekarang! Kenapa malah--"
"Ya ya ya, aku mandi sekarang,"
Devan bangkit dengan wajah merengut, sekali lagi Ia melempari Adrian dengan bantal. Anak bungsunya itu berteriak kesal. Saat akan membalas, Devan sudah masuk ke dalam kamar mandi hingga bantal yang dilemparnya terpantul dari pintu kamar mandi yang sengaja ditutup Devan dengan cepat.
***
"Aku pulang ya, Vanilla sayang?"
__ADS_1
"Mulutmu ingin dibakar ya?"
Tawa Deni meledak keras saat lagi-lagi mendapat respon ketus dari adik sahabatnya.
"Devan akan marah bila melihatmu belum pulang,"
"Memang kenapa? Dia tidak mungkin berani macam-macam denganku karena pernikahannya tidak akan berjalan selancar ini kalau bukan karena aku,"
Lelaki yang pernah disiram dengan hot americano oleh Devan itu menepuk dadanya dengan pongah.
Vanilla mendengus seraya bersedekap dada. Ia menghela napas pelan guna mengumpulkan kekuatan untuk berteriak.
"DENI PERGI! CEPAT!"
"Apa, Sayang?"
Dagu Vanilla di sentuhnya dengan genit. Vanilla benci dengan lelaki macam itu. Cocok sekali Devan berteman dengan Deni. Mereka sama-sama penjerat wanita.
Menjijikan, Vanilla sampai bergidik dibuatnya. Senata datang dengan tawa kecilnya.
"Dia menyukaimu?"
Vanilla tersentak kaget saat bahunya diusap lembut dari belakang. Ia menggeleng masih dengan napas tersengal.
"Kamu tidak ikut dengan mobil kami tadi. Diantar oleh Deni?"
"Ya, dan dia semakin melunjak. Aku kira setelah mengantar, dia akan langsung pulang. Ternyata sampai aku selesai mandi dia masih di sini,"
"Ingin berpamitan denganmu mungkin,"
__ADS_1
Rena mengangsurkan segelas susu hangat pada Vanilla. Ketika Ia membuat susu hangat di dapur, Ia mendengar gadis itu berdebat. Mungkin dengan minuman hangat, Vanilla akan merasa tenang.
Devan menuruni undakan dengan melangkahi dua sampai tiga anak tangga. Kebiasaan Devan yang sudah diikuti anak bungsunya.
"Aku dengar ada suara Deni tadi,"
Devan mencari temannya dengan mata berputar. Kemudian Devan melirik adiknya yang masih mendiamkannya. Hanya menangis saat Devan selesai mengucap janji pernikahan tadi.
"Kenapa kamu turun?"
Rena mengejutkan putranya. Rena baru saja selesai menidurkan si bungsu di kamarnya. Sementara Andrean sudah tidur terlebih dahulu bersama Senata tadi.
"Tidak apa. Tadi aku hanya mendengar suara keributan. Tapi sepertinya telingaku salah,"
"Memang ada Deni tadi. Dia baru saja pulang setelah mengantar Vanilla,"
Devan langsung duduk di hadapan adiknya. Rena sudah tahu kalau Vanilla memang tidak pulang bersama Raihan, Senata, dan dirinya karena Deni yang mengantarnya pulang. Lelaki itu bahkan sudah meminta izin pada Raihan. Bodohnya, Vanilla mau saja.
"Pantas aku tidak melihatmu sejak tadi. Kalian kemana saja? Kenapa tidak langsung pulang?"
Mata Vanilla menatap kakaknya dengan tajam. Ia menggeleng pelan.
"Aku langsung pulang. Kamu tidak melihatku? Jelas, karena kamu sibuk dengan Lovi di kamar sejak tadi,"
Apa-apaan Vanilla ini? Setelah mandi saja Lovi langsung terlelap. Sementara Devan masih terjaga hingga akhirnya Ia memutuskan untuk turun.
"Sibuk apa? Otakmu jangan berpikir yang tidak-tidak," Devan bangkit ingin kembali ke kamar namun sebelum itu Ia mengetuk kening adiknya.
-------
__ADS_1
TINGGALKAN JEJAK YAAA. LIKE, VOTE, KOMEN
TERIMA KASIH ππ MALEEMM GENGSSππ