
"Selamat pagi, Boss."
"Pagi," balas Devan saat disapa oleh karyawan yang dilewatinya. Kharisma yang dimiliki Devan membuat siapapun terpesona sekalipun membawa Auristella dalam gendongan juga istri yang digenggamnya.
"Selamat pagi Nona,"
"Ya, pagi juga." Lovi lebih hangat menyapa mereka semua daripada Devan yang hanya mengangguk singkat, tanpa ada senyuman. Dia rasa itu sudah cukup.
"Wow, Nona kecil ingin melakukan sidak di kantor hari ini?"
Dashinta, sekretaris Devan terkejut begitu melihat Devan datang tidak hanya sendiri. Dia membawa dua orang yang penting dalam hidupnya.
"Apa itu sidak? dia bukan calon boss," Lovi menimpali dengan canda. Ia memang lebih menginginkan Auristella menjadi orang yang sukses tapi bukan sebagai pemimpin perusahaan. Biarkan saja kedua kakaknya yang menuruni Daddy mereka.
"Kalau dia mau jadi Boss bagaimana?"
"Ya sudah, terserah Auris. Aku tak bisa melarang,"
Devan terkekeh mendengar ucapan Lovi yang terdengar pasrah. Keinginan Lovi adalah anaknya bisa menjadi dokter karena itulah cita-citanya dulu. Tapi sayang Ia tak bisa mewujudkannya.
Namun kalau Auristella mau menjadi seperti Daddy-nya, Lovi juga tidak akan melarang. Ia tak ingin egois. Biarkan Auristella memilih sendiri apa yang terbaik untuk dirinya.
Devan membawa istri dan anaknya masuk. Begitu sampai di dalam ruangan yang didominasi dengan warna abu itu, Auristella nampak bingung. Ia sibuk menatap sekelilingnya, mulai dari atap, dinding, meja kerja Devan, sampai ke lemari-lemari kaca yang digunakan sebagai tempat menyimpan sertifikat-sertifikat penghargaan atas prestasi yang diraih perusahaan.
"Kalian bisa istirahat di kamarku nanti ya. Aku ada rapat sebentar lagi,"
"Iya,"
Devan duduk di kursi kebesarannya sambil memangku Auristella yang serius memperhatikan kesibukan Devan dalam mempersiapkan rapat nanti.
Sementara Lovi mengeluarkan Snack milik Auristella untuk mengalihkan perhatian anak itu agar tak selalu bersama Devan. Gawat kalau sampai Auristella tidak mau lepas dari Devan sementara suaminya itu akan rapat.
"Auris, Mommy punya ini. Manis dan enak, kamu tidak mau?" Lovi sengaja menunjukkan makanan manis berbentuk seperti kapas yang kadar gula dan pewarna makanannya sudah disesuaikan untuk anak seusia Auristella.
Auristella menatap sebentar. Warna merah muda yang terlihat sangat cantik dari makanan manis tersebut berhasil membuat Auristella mengulurkan tangannya pada Lovi. Lovi senang dan cepat-cepat meraih Auristella dari pangkuan suaminya.
Auristella di sandarkan di sofa. Posisinya terlampau santai dengan satu kaki yang ada di atas kaki lain Ia menikmati makanan yang juga disukai oleh kedua kakaknya itu sampai-sampai setiap Auristella makan, mereka pun tidak mau kalah, terutama Adrian yang begitu mengidolakan makanan dan minuman yang manis-manis seperti itu.
Ferro baru saja bicara melalui interkom mengatakan bahwa rapat akan berlangsung sebentar lagi. Ferro sudah mempersiapkan semuanya, dan Devan harus segera ke sana.
Devan izin keluar pada istrinya melalui tatapan, dan Lovi mengangguk. Devan melangkah menuju pintu dengan langkah yang hati-hati, tak ingin menimbulkan suara apapun agar perhatian Auristella tak teralihkan. Begitu pintu ditutup oleh sekretarisnya yang sudah menunggu di depan pintu, Devan baru bisa bernapas lega. Beruntung saat Ia akan rapat tidak ada drama yang dibuat oleh Auristella, anak bungsunya. Semoga sampai pekerjaan berakhir seperti ini terus. Devan berharap anaknya mengerti. Kebingungan sebenarnya sudah melanda Ia dan Lovi sejak tadi. Kali ini Auristella benar-benar berlebihan.
Seraya berjalan ke ruang pertemuan, Devan kembali memikirkan ucapan Papanya, "Auris akan punya adik lagi mungkin. Jadi dia manja dan ketakutan perhatian dari kamu dan Lovi terbagi. Banyak orang yang mengatakan seperti itu. Dan terbukti, karena kamu juga seperti itu dulu,"
Hanya perlu waktu lima menit untuk Auristella menyadari kalau Daddy-nya sudah tak ada lagi di ruangan yang sama dengannya. Ia pun menatap Lovi dengan sendu lalu menangis tiba-tiba seraya menunjuk kursi Devan yang kosong.
"Daddy hanya bekerja sebentar. Nanti kembali lagi," ujar Lovi dengan lembut seraya menimang anaknya. Sebelumnya Ia membersihkan tangan dan sudut-sudut bibir Auristella yang penuh dengan permen kapas kesukaannya.
Ia membawa Auristella berkeliling di ruangan Devan seraya bernyanyi pelan. Sepertinya Auristella juga belum cukup tidur, mungkin itu yang membuatnya rewel sejak tadi.
"Sebentar lagi Daddy datang. Jangan menangis lagi. Tidak ada yang mengambil Daddy Auris. Tenang saja," Isak tangisnya sampai membuat Lovi sesak. Ia menepuk pelan punggung sang anak agar tenang.
*********
"Aunty, ingat janji saat aku membantu Aunty saat liburan tidak?"
"Janji? janji apa itu?"
"Ck! Aunty mau belikan aku robot besar. Lupa?"
Jane mengusap pelipisnya seraya membatin, "Rupanya dia ingat. Aku kira janji itu sudah kadaluwarsa,"
"Ya, Ingat. Kapan kita akan pergi membelinya?"
"Terserah Aunty. 'Kan Aunty yang punya uang,"
"Nanti saja ya? Aunty sedang banyak tugas,"
"Nanti kapan?"
"Nanti sore. Lagipula kamu baru pulang sekolah, bukannya belajar untuk tes besok malah memikirkan robot,"
"Sudah belajar,"
"Kapan?"
"Tadi, saat tidur."
"HAH?!"
"Aku dalam tidurpun belajar, Aunty. Jangan khawatir. Berbeda dengan anak yang lain 'kan?"
Drrtt
Drrtt
"Tolong ambil ponsel Aunty,"
"Ada bayarannya tidak?"
"Astaga, kamu pamrih sekali sih? ya sudahlah, Aunty ambil sendiri," sungut Jane seraya bangun dari posisi berbaringnya. Kalau Ia sudah rebahan di depan laptop dan berkutat dengan tugas-tugas rasanya sangat malas untuk melakukan apapun.
Adrian terkekeh geli dan langsung meraih ponsel Jane sebelum gadis itu benar-benar marah dan tidak jadi menuruti keinginannya.
"Bercanda, Aunty. Sensitif sekali yang mau menikah,"
"Sok tahu anak kecil!"
"Aku tahu, Aunty. Memang Aunty kira aku tidak memperhatikan Aunty sejak tadi? disela mengerjakan tugas, Aunty mencari-cari inspirasi gaun pengantin," Adrian meledek Jane sampai Aunty-nya itu tersipu. Ia lupa kalau sedang ada Adrian di dekatnya maka tak menutup kemungkinan sang keponakan mencuri pandang apa yang sedang dilakukannya.
"HAHAYY!" Belakangan ini Adrian memiliki tawa yang khas dan selalu berhasil membuat bibir orang berkedut tak kuat menahan tawa.
"Jangan begitu. Kamu tidak boleh macam-macam kalau mau dituruti ya,"
*******
"Wow, cucu sulungmu sudah mulai penasaran dengan apa yang kau kerjakan,"
Sekretaris sekaligus orang kepercayaan Raihan melirik Andrean yang berdiri di samping kakeknya yang sedang membaca sebuah dokumen yang baru saja diantarnya.
"Dia memang memiliki rasa penasaran yang tinggi. Adiknya juga sama,"
"Percuma kamu melihatnya, Andrean. Tidak akan mengerti, ini bukan untuk anak seusiamu,"
Berbagai planning kerja sama untuk satu bulan ke depan dan juga laporan-laporan bulan lalu hanya akan membuat Andrean pusing.
"Banyak sekali perusahaan yang mengajukan kerja sama. Tapi kenapa yang diapprove hanya sedikit, Grandpa?" tanya Andrean yang ingin tahu karena kakeknya hanya menandatangi beberapa berkas pengajuan dari beberapa perusahaan saja.
"Kita cari yang peluangnya bagus. Jangan semua diambil. Kalau pemasarannya rendah, mereka kurang kerja keras dalam menawarkan apa yang dijual, maka untuk apa bekerja sama?"
"Iya, Andrean. Beberapa dari mereka hanya ingin menggunakan nama perusahaan kakekmu untuk keuntungan diri sendiri. Nanti giliran menghasilkan banyak pundi-pundi uang, mereka menjadi orang yang rakus seolah lupa dengan perjanjian awal,"
"Ada yang seperti itu?"
"Ada, sering terjadi. "
"Makanya Grandpa ambil yang bisa dipercaya saja,"
__ADS_1
"Ada yang Grandpa percaya memangnya? bukan kah ada kemungkinan kalau semua perusahaan akan seperti itu?"
"Grandpa cari yang sudah pernah bekerja sama dengan perusahaan kita sebelumnya dan mereka bermain fair,"
"Seru ternyata," komentar Andrean dengan polos. Rupanya benar, hidup ini selalu ada persaingan. Seperti di game saja. Tak ada yang mau kalah, dan ingin menjadi yang terdepan sekalipun harus mendorong dan menyakiti yang lain.
*******
Perlu beberapa hari untuk Senata meyakinkan dirinya sendiri. Ia harus bertemu dengan Lucas karena kepedulian. Lovi dan cucu-cucunya sudah pernah bertemu dengan Lucas pasca dia masuk rumah sakit. Sementara Ia belum sama sekali. Biar bagaimana pun mereka pernah menjadi satu bagian.
Setelah menyiapkan makanan kesukaan Lucas dan yang sekiranya tidak memperparah penyakitnya, Senata segera berangkat ke rumah Lucas sesuai alamat yang telah diberikan oleh Devan semalam. Devan bahagia sekali mendegar Ibu mertuanya ingin bertemu dengan Lucas guna memberi dukungan agar semangat melawan penyakitnya yang semakin menghancurkan badan lelaki itu.
Lucas terkejut begitu mendapati wanita yang masih menempati posisi terpenting di hatinya datang ke rumahnya. Ia menyambut Senata dan satu orang pengawalnya dengan senyum hangat.
"Bagaimana kabarmu sekarang?"
"Aku baik-baik saja. Kamu sendiri bagaimana?"
"Jauh lebih baik,"
"Tapi tubuhmu menunjukkan hal sebaliknya," Senata menatap sendu lelaki di depannya saat ini. Semakin kurus dan ringkih. Sorot matanya pun tak setajam dulu.
"Maaf baru bisa mengunjungimu sekarang,"
"Tidak apa, aku mengerti kau sibuk,"
Senata terkekeh pelan. Ia hanya menjadi saah satu bagian dari butik Lovi. Sebenarnya tidak sesibuk itu.
Senata menatap rumah kecil itu dengan hati sesak. Ia pernah juga berada dalam masa sulit seperti ini. Tapi sekarang ia beruntung karena Lovi dan Devan masih peduli padanya sekalipun Ia pernah menyakiti Lovi sedemikian kejam di masa lalu.
"Kamu sakit seperti ini lalu bagaimana caranya bertahan hidup?"
"Aku menjadi cleaning service di sebuah kantor tak jauh dari sini. Juga menjadi supir pengangkut kopi sebuah merk untuk disebar luaskan ke kafe-kafe,"
Senata mengangguk mendengar penjelasan itu. "Sebenarnya Devan memberikan aku kios untuk berjualan makanan di depan sana," imbuh Lucas.
"Lalu kenapa belum dijalankan? bukankah Devan sudah mempersiapkan semuanya?"
"Ya, tapi karena aku sempat sakit beberapa waktu lalu, jadi Devan melarangnya. Entah akan diapakan kios itu, aku tidak tahu. Setiap bulan Devan selalu mengirimkan aku uang. Tapi tidak pernah aku pakai karena aku masih ingin berusaha untuk menghidupi diri sendiri,"
"Lalu kalau kau membutuhkan uang saat sakit bagaimana?"
"Akan aku pakai dulu, setelahnya aku berusaha untuk menggantinya,"
"Aku rasa bila Devan tahu, dia akan marah." gumam Senata mengingat betapa sayangnya Devan pada Lucas bahkan dianggap seperti ayahnya sendiri. Saat ini malah terlihat seperti Devan lah anak Lucas, bukan Lovi.
"Bagaimana kabar Lovi?"
"Dia baik. Tadi sempat menitipkan ini juga untukmu,"
Senata mengeluarkan sebuah paper bag yang sedari tadi masih dipegangnya. Itu berisi baju buatan Lovi sendiri untuk ayahnya. Tidak mewah, hanya model sederhana tetapi Lovi berharap Lucas menyukainya.
"Dia tahu kau tidak suka design berlebihan. Jadi dia membuatnya dengan sederhana,"
"Terima kasih, katakan padanya."
"Oh ya..." Senata membuka tas kecil yang dibawanya lalu mengeluarkan sebuah kertas kecil yang dilipat-lipat berantakan.
"Ini dari Adrian dan Andrean. Surat untuk kakeknya yang sudah mereka rindukan tapi tak kunjung datang ke mansion,"
Lucas menerimanya dengan senang hati. Ia tersenyum melihat penampilan kertas tersebut. Berantakan tapi tak pelak membuat hatinya menghangat.
"Aku malu datang ke sana,"
"Kenapa malu? mereka sangat berharap kau datang,"
"Malu pada Lovi dan keluarga suaminya."
Supir pribadi yang mengantar Senata ke rumah Lucas nampak masuk membawa sebuah alat pendingin udara. Hal itu membuat Lucas bingung.
"Ini untuk diletakkan di kamar tamu karena kedua cucuku mengatakan bahwa kamar tamu di rumahmu tidak ada pendinginnya jadi mereka kurang nyaman padahal sangat ingin sekali menginap di sini,"
"Astaga..." Lucas tertawa mendengarnya. "Padahal mereka bisa tidur di kamarku yang sudah terpasang pendingin dari Daddy mereka. Aku sengaja melarang Devan memasang pendingin di kamar tamu karena tidak ada yang menempati. Jadi untuk apa? buang-buang uangnya saja,"
"Maaf aku hanya bisa memberikan itu. Kalau pendingin di kamarmu rusak, kau bisa pindah ke kamar tamu. Dan kedua cucuku juga dapat dipastikan akan sering menginap di sini. Sabar-sabar dalam menghadapi mereka ya,"
"Aku tunggu, katakan pada mereka."
********
Rapat sudah akan berakhir, Devan baru saja memberikan kalimat penutup dan pintu ruang rapat dibuka.
Terlihat Auristella masuk bersama sekretarisnya yang baru saja keluar untuk mengamankan semua dokumen-dokumen milik Devan. Karena setelah ini mereka akan langsung pergi ke sebuah restoran untuk bertemu dengan investor.
Devan mengerjapkan matanya dengan wajah terperangah. Auristella masuk dengan wajah berderai air mata dan tangan yang menjulur ke arahnya begitu Ia menemukan sosok sang ayah.
"Putri kecil anda, Tuan?"
"Ya--Iya, dia Auris. Anak bungsuku,"
Dashinta segera menyerahkan anak itu pada boss-nya. Beruntung rapat sudah selesai, jadi tidak mengganggu sama sekali.
"Dimana Lovi? kenapa kamu yang membawanya ke sini?"
"Nona tidak berani datang ke sini. Dia menyerahkan Auris padaku, Boss."
Lovi pikir suaminya akan marah dengan dirinya yang gagal menenangkan Auristella. Lovi sudah berusaha membuat anak itu tenang di dalam ruangan Devan, tapi tetap saja Auristella rewel sekali sampai Lovi gemas ingin memarahinya namun Ia tak sanggup untuk melakukan itu.
"Auris, nama panggilan yang manis. Sama seperti wajahnya," ujar salah satu rekan Devan yang berada di sebelah Devan seraya mengecup punggung tangan Auristella.
Dengan napas tak beraturan Ia menatap orang itu. Ia tak menolak ketika diajak bicara oleh mereka semua. Walaupun tidak mengerti tapi Ia selalu menatap orang yang sedang mengajaknya bicara.
"Kenapa menangis, Sayang? merindukan Daddy? padahal tidak lama Daddy-mu berada di sini," Shanty mengusap gemas wajah berisi milik putri dari rekannya itu.
Devan tertawa membenarkan. Ia kira akan aman-aman saja meninggalkan Auristella. Ternyata Ia mencari Devan juga pada akhirnya.
"Tadi kau meninggalkannya sedang apa?"
"Makan permen kapas, aku keluar dengan langkah hati-hati agar dia tidak menyadarinya. Ternyata tetap ketahuan,"
Semuanya terkekeh mendengar cerita Devan. Lelaki yang selama ini terkenal dengan sikap dinginnya itu, ternyata bisa juga berperilaku konyol dengan melangkah hati-hati menuju pintu hanya demi anaknya agar tak menangis saat ia tinggal.
"Mommy-nya tidak ikut?"
"Dia ada di kantor ini. Tapi entah kenapa tidak mau mengantar Auris ke sini,"
"Takut kena omelanmu,"
"Hah? aku tidak akan marah. Auris menangis bukan karena dia," sahut Devan menanggapi Ferdy rekannya yang lain.
Mereka semua bangkit usai berbincang santai sedikit, tak lupa berpamitan juga dengan Auristella yang setia menjadi pendengar dan penonton bagaimana akrabnya hubungan antara Devan dan semua rekan-rekannya.
Setelah itu Devan memasuki lift untuk kembali ke ruangannya. Ferro dan Dashinta setia mengikuti dari belakang.
Saat di dalam lift khusus petinggi perusahaan, Auristella menunjuk tombol lift, Ia yang ingin menekannya. Maka Devan mengarahkan tangan anak itu untuk menekan tombolnya.
Setelah sampai di lantai dimana ruangannya berada, Auristella nampak memperhatikan sekitarnya. Ia menyukai suasana di kantor Daddy-nya. Semua orang menyapa, sehingga Ia merasa senang.
__ADS_1
Mereka melewati beberapa bilik sebelum akhirnya tiba di ruangan Devan, semua yang nampak fokus bekerja mencuri perhatian Auristella.
"Senang ya melihat orang bekerja? Auris mau juga bekerja di sini?" tanya Devan yang membuat Auristella menatap Devan.
Devan membuka pintu ruangannya dan Ia melihat Lovi tengah membereskan mainan yang berantakan di ruangannya.
"Astaga, ini benar ruanganku, Lov? apa aku salah masuk?"
Devan melangkahkan kakinya ke dalam. Ferro dan Dashinta baru tiba dan Ferro juga sama terkejutnya. Sementara Dashinta sudah melihat kondisi ruangan atasannya tadi saat menyimpan dokumen sampai akhirnya Ia menggendong Auristella yang menangis untuk dibawa bertemu dengan Devan.
"Ini sudah lebih baik dari yang tadi. Iya 'kan, Dashinta?"
"Benar, Tuan. Tadi berantakan sekali sampai Nona meminta penjaga di depan agar tidak mengizinkan siapapun untuk masuk sementara waktu karena Nona malu bila ruangan Tuan yang seperti ini bentuknya dikunjungi oleh orang lain,"
Tawa Devan meledak. "Auris sekalap itu, Lov?"
"Iya, dia merajuknya benar-benar buat aku kewalahan. Aku ajak bermain malah mainannya dibanting-banting,"
"Kalau dia sudah bisa bicara mungkin dia akan mengatakan 'Yang aku inginkan Daddy! bukan mainan. Mommy ini kenapa tidak mengerti sih?!' "Devan menyampaikan isi hati Auristella.
"Aku sudah boleh kembali, Boss? tidak ada keperluan lagi?"
"Tidak, kamu bisa kembali. Lima belas menit lagi kita ke restoran itu,"
Devan menatap istrinya seraya berkata, "Kamu dan Auris ikut aku menemui investor nanti,"
"Okay,"
"Letakkan di sini, Ferro." titah Devan pada Ferro yang memegang map berisi berkas-berkas.
"Belum aku periksa, Tuan."
"Oh ya, aku lupa."
"Aku memakluminya. Tidak fokus karena Auris ya?"
"Ya, kalau sudah melihat anak menangis pasti pikiran kacau,"
**********
"YEAAYY DADDY DATANG,"
"SUWWWWINGG," Adrian melajukan hoverboard miliknya untuk mendekati mobil Devan yang baru saja memasuki halaman mansion.
"Adrian, awas kamu terjatuh nanti," teriakan Rena tak diacuhkannya. Hoverboard miliknya melaju sangat kencang tapi berhenti tepat pada posisinya, tak menyentuh mobil sama sekali.
Devan keluar bersama Lovi dan Auristella yang terlelap di bahunya. Adrian turun dari mainannya itu lalu melompat-lompat senang. Ia meminta digendong Lovi, namun Lovi menggeleng.
"Kamu sudah berat,"
"Aaaa Mommy, aku mau digendong. Aku rindu Mommy,"
"Mommy lelah, hey. Jangan seperti itu, Adrian."
Adrian berdecak kesal lalu berbalik ingin naik ke atas hoverboard lagi lalu masuk ke dalam mansion. Tapi Lovi segera menarik tangannya dan menggendong anak itu. Adrian berteriak senang tanpa memikirkan sang adik yang begitu nyaman tertidur dalam pelukan Daddy-nya.
"Hallo, Sayang." Sapa Devan pada Andrean. Ia membungkuk pelan agar Auristella tidak terganggu untuk mengecup kepala Andrean.
"Aku belum dicium,"
"Ya, dimana kepalamu? Daddy tidak melihatnya," Lovi terkekeh mendengar itu sementara Adrian mendengkus kesal. Ia menunjuk kepalanya yang jelas-jelas terlihat hanya saja Devan memang berniat untuk mengerjainya.
"Bagaimana kegiatan kalian hari ini?"
"Semuanya berjalan lancar,"
"Bisa mengerjakan soal?"
"Tentu saja bisa,"
Mereka semua masuk ke dalam mansion kecuali Andrean yang kembali sibuk bermain hoverboard.
"Hoverboard milik Tuan kecil, Serry simpan ya?"
"Jangan, aku masih mau bermain. Turunkan aku, Mom."
Baru masuk, Ia sudah keluar lagi. Pada akhirnya Serry kembali memperhatikan anak itu bermain, menemani Netta yang sedang menjaga Andrean.
"Biar aku saja, Netta."
Andrean menciptakan jalur zigzag untuk dilaluinya bersama hoverboard. "Andrean, aku juga mau mencoba zigzag ya,"
"Iya, kita berdua."
Andrean berada di depan sementara Adrian di belakangnya. Mereka dengan hoverboard masing-masing mulai melaju secara zigzag melewati cone yang telah ditata oleh Andrean tadi.
Karena terlalu bersemangat, Adrian dengan kencangnya mengendarai hoverboard hingga pada akhirnya menabrak semua cone dan Ia tersungkur di dekat tanaman hias.
Tapi Ia tidak menangis, malah terbahak sendiri. Sementara Serry dan Netta sudah panik bukan main.
"Tuan kecil tidak apa-apa?"
"Santai-santai, aku baik dan sehat. Ini tidak sakit," ujarnya seraya bangkit. Serry menepuk pelan celana cargo yang dikenakan anak itu. Ia memeriksa kaki Adrian. Bersyukur tidak ada yang terluka.
"Kamu membuat semuanya berantakan," kata Andrean seraya menunjuk cone-cone yang semuanya sudah tiarap, tidak berdiri tegap.
Adrian tertawa dan segera menatanya lagi hingga seperti tadi. "Beruntung aku tidak menabrak kamu ya, Andrean. Tuhan masih melindungimu, padahal kamu 'kan ada di depanku,"
"Iya, terima kasih Tuhan. Aku tidak menjadi korban kejahilan adikku untuk kali ini,"
"Astaga, aku tidak sedang menjahilimu. Itu murni kecelakaan kecil,"
******
"Dad, minta uang,"
"Untuk apa?"
Devan mendekatkan tubuh Andrean padanya karena ada orang yang juga ingin masuk ke kafe yang sedang mereka kunjungi.
"Ada orangtua yang sedang bernyanyi tapi kondisi tubuhnya tidak baik-baik saja,"
"Dimana?"
"Di sana. Ayo cepat, Dad berikan aku uang," tunjuk Andrean ke arah perempuan sedikit tua yang sedang bernyanyi dengan gitarnya dan menggelar lapak di dekat kafe. Salah satu kakinya ada yang kurang sempurna.
Di tempat mereka, penampilan para penyanyi jalanan memang hampir tidak ada yang kotor bahkan lebih sering bersih dan rapi untuk menarik perhatian, tetapi untuk kali ini terlihat berbeda. Wanita itu tampak bernyanyi dengan pakaian yang sedikit kotor bersama anaknya juga.
Devan segera meminta dompetnya pada pengawal lalu mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompet. Ia menyerahkan itu pada Andrean.
"Adrian juga mau,"
"Mau apa?"
"Mau memberi, Dad. Tapi tidak ada uang,"
"Baiklah, silahkan kamu berikan juga. Coba berikan ke anaknya, dia pasti senang. Katakan padanya untuk beli es krim," ujar Devan seraya memberikan beberapa lembar uang kepada anak keduanya.
__ADS_1
"Tapi kalau Adrian melihat Mommy beli es krim, uangnya tidak sebanyak ini,"
"Sudah, jangan banyak bicara. Cepat berikan, kakakmu sudah ke sana." Devan menunjuk Andrean dan pengawalnya menggunakan dagu. Adrian segera berlari kecil mendekati kakaknya dan penyanyi jalanan itu.