My Cruel Husband

My Cruel Husband
Adrian beri makan kuda, Auris tak ingin kalah


__ADS_3

"Sudah selesai diberi makan kudanya?"


Devan dan Lovi menghampiri kedua anaknya yang tengah berada di depan kandang kuda masing-masing.


"Sudah, aku juga memberikan makan untuk kuda milik Adrina. Sekarang kita naik delman, Dad."


Devan mengangguk, Ia segera mengusap kepala kuda kedua anaknya sebelum mereka pergi.


"Dad, ada kuda yang sedang dimandikan, kalau kuda milikku bisa juga dimandikan?"


"Semua harus dimandikan, Sayang. Sama seperti kita yang harus mandi biar selalu harum,"


Andrean dan Lovi saling menggenggam tangan seraya berjalan di depan Devan dan anak keduanya. Andrean dan Lovi sepertinya terlibat percakapan yang lucu hingga terdengar suara tawa dari Mommy nya.


"Jadi naik delman?" tanya Lovi seraya menoleh.


"Jadi, Mom."


Lovi mengangguk dan melambai sebentar pada kudanya yang terdiam memandang dirinya.


"Sepertinya kuda Mommy sedih ingin pisah dengan Mommy,"


"Mommy jarang ke sini. Jadi dia--"


"Sekarang aku akan sering datang."


"Benar ya? tidak sok sibuk lagi?"


"Aku memang benar-benar sibuk," Lovi mencibir seraya menepuk lengan suaminya yang kini terkekeh. Mereka sibuk bermesraan sementara kedua anaknya sedang menatap satu persatu kuda di dalam kandang nya seraya berjalan.


Ada pengunjung yang sedang memberikan makan untuk kuda nya, ada juga yang berfoto sebelum kuda dimasukkan ke dalam kandang. Selain itu, beberapa pengunjung juga mengobrol dengan pelatih kuda mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kuda milik mereka.


"Dad, ada hotel dog juga di sana," ujar Adrian dengan antusias saat melihat di kejauhan ada sebuah bangunan unik bertuliskan 'Hotel dog'. Dalam pikiran Adrian pasti banyak hewan berkaki empat itu di sana.


"Lain kali kita ke sana ya,"


"Iya, sekarang kita naik delman saja."


Selain untuk berlatih, di tempat ini juga menyediakan delman yang lebih sering dinaiki oleh anak-anak kecil.


"Seharusnya Auris diajak biar dia bisa merasakan naik delman,"


Adrian tiba-tiba ingat adiknya. Ia tahu betul, pasti Auristella bahagia kalau diajak ke sini. Karena banyak kuda dan anak itu antusias setiap melihat hewan.


"Iya, ya. Mommy lupa kalau di sini ada delman juga,"


*****


Auristella sedang bermain bersama perawatnya di pekarangan mansion. Ia sempat mencari Lovi, Devan, dan kedua kakaknya tapi hanya sebentar. Setelah itu sibuk bermain dengan Serry. Kemanapun Ia menunjuk, maka Serry akan membawanya ke sana. Seperti saat ini, Ia ingin melihat keindahan pekarangan, maka Serry dengan senang hati memenuhi keinginannya.


Sampai di sana, Ia hanya dibawa berjalan-jalan oleh Serry. Saat akan turun dari gendongan, Serry melarang.


"Nona kecil tidak usah turun. Belum bisa jalan,"


Auristella mengangguk patuh, hal itu membuat Serry terkekeh. "Kita lihat kelinci saja, mau tidak?"


Sekali lagi, Auristella mengangguk. Entah dia memang paham dengan ucapan Serry atau hanya sekedar mengangguk.


Sampai di depan kandang kelinci, Serry duduk di atas rumput dengan memangku Auristella. Mereka melihat keadaan di dalam kandang.


Tangan Auristella terulur ingin membuka kunci kandang kelinci, tapi cepat-cepat Serry menahan gerak tangannya.


"Jangan dikeluarkan. Nanti dia berkeliaran, sulit menangkapnya. Tidak ada pemiliknya,"


Yang biasanya membebaskan tiga kelinci itu adalah Andrean dan Adrian. Auristella merengek ingin membuka kandang, karena Ia merasa kelinci di dalam kandang itu adalah miliknya.


"Ini memang punya Nona kecil, tapi kalau dikeluarkan, kita tidak bisa menangkapnya."


Masing-masing kelinci sudah ada kandangnya. Serry mundur, menjauhi kandang sehingga mau tidak mau Auristella yang berada di pangkuannya juga mundur. Auristella tidak mau, dan Ia turun dari pangkuan Serry.


"Aduh, Nona kecil jangan seperti itu. Kotor tangannya nanti,"


Serry meraih Auristella dan segera membersihkan telapak tangan anak kecil itu yang Ia gunakan untuk merangkak tadi.


"Ndak,"


"Kotor,"


"Ndak,"


"Kotor, Nona kecil. Meskipun ini rumput, tapi tidak boleh bersentuhan langsung. Hihh banyak kumannya,"


"Ndak,"


Serry menggeram gemas. Kalau tidak ingat ini adalah anak majikannya, sudah Ia gigit pipinya sejak dulu. Terkadang Ia kesulitan menahan rasa gemasnya terhadap Auristella. Apalagi semenjak Ia sudah bisa bicara. Meskipun bicaranya masih tidak jelas, tapi tetap saja bisa membuat orang gemas.


"Kita beri makanan saja. Sebentar, aku ambil wortel nya dulu,"


Ia mengambil wortel pun masih membawa Auristella. Lebih baik begitu daripada princess keluarga Vidyatmaka kenapa-kenapa.


Serry kembali duduk di depan kandang, lalu dia menyerahkan satu wortel pada Auristella. Tangannya membalut tangan Auristella yang memegang wortel. Ia khawatir tangan Auristella terkena gigi kelinci.


Auristella tidak ingin dibantu. Ia mengusir tangan Serry dari atas tangannya. "Harus dengan aku memberi wortel nya. Biar kalau dia mau gigit, gigit tanganku saja."


Akhirnya Auristella tak lagi membantah. Ia mengikuti arahan Serry. Tidak sengaja tangan kecilnya menyentuh bulu di sekitar mulut kelinci. Auristella langsung berteriak.


Serry langsung khawatir. "Kenapa? digigit? kan sudah ada tangan Serry tadi. Tangan Serry tidak kenapa-kenapa,"


Lalu Auristella terkekeh geli seraya memperhatikan tangannya. Ia menunjuk mulut kelinci. "Nona kecil digigit? benar?"


"Ndak,"


"Kenapa teriak?"


Ia tertawa lagi. Serry jadi bingung. Tadi teriak sekarang tertawa geli. Apa yang terjadi pada anak itu?


Auristella menyentuh wilayah di atas bibirnya sendiri lalu menunjuk kelinci miliknya. Barulah Serry paham. "Oh kena bulu nya ya?"


"Ya,"


"Geli?"


"Ndak," jawab Auristella seraya menggeleng.


"Tapi tadi tertawa,"


"Ya,"

__ADS_1


Auristella baru bisa merespon dengan dua jawaban itu. Mengerti atau tidak pertanyaan orang, pokoknya jawabannya hanya dua. 'ya' atau 'ndak'


****


Setelah naik delman, Adrian ingin membeli pernah pernik yang berhubungan dengan kuda. Katanya ingin membelikan adiknya boneka kuda.


"Katanya mau beli boneka untuk Auris. Tapi kenapa lebih banyak mainan untuk kamu ya?"


"Aku juga ingin mainan-mainan yang bentuknya kuda,"


Devan menggeleng pelan. Sudah Ia duga. Anaknya itu memang paling bisa mencari cara agar bisa masuk ke dalam lalu membeli mainan semaunya dia.


Mungkin kalau Auristella sudah bisa bicara, Ia akan protes. "Jangan gunakan namaku untuk dijadikan alasan mau beli mainan,"


"Sementara anak-anaknya berburu mainan, Lovi malah sibuk mencari makanan-makanan yang bentuknya kuda. Pasti Auristella suka karena lucu.


"Beli apa, Lov?"


"Roti, puding, dan--"


Tangan Lovi membongkar banyak makanan di dalam troli nya. "Banyak pokoknya. Ini untuk anak-anak,"


"Untuk aku mana?"


"Iya, ini juga untuk kamu. Nanti kita makan bersama,"


"Kalau bentuknya seperti ini, aku rasa tidak dimakan oleh Auris, Lov. Malah dia jadikan mainan nanti,"


Lovi tak bisa menahan tawanya. Devan bisa berpikir seperti itu karena suatu ketika Auristella pernah menangis saat Lovi memotong sandwich yang bentuknya beruang. Padahal sandwich itu milik kedua kakaknya. Tapi dia yang menangis.


Dia juga pernah dibuatkan puding oleh Lovi berbentuk panda, bukannya dimakan, malah dibolak baliknya, dianggap sebagai mainan.


"Tapi aku suka melihatnya."


Devan menggeram gemas seraya menekan kedua pipi Lovi hingga bibirnya mengerucut. Saat sedang gemas-gemasnya dengan sang istri, Adrian datang untuk bertanya, "Dad, boleh beli ini?"


"Apa itu?"


"Cokelat,"


"Sudah Mommy ambil yang itu. Cari makanan yang lain,"


"Mommy sudah beli? coba lihat,"


Adrian melihat ke dalam troli sembari membongkarnya hingga semua makanan berantakan di dalam troli tersebut.


"Sedikit, Mom. Aku mau yang banyak cokelatnya,"


"Ini sudah cukup. Cari yang lain, jangan terlalu banyak makan cokelat,"


Selain mainan, yang diburu Adrian di sini adalah cokelat, kembang gula, dan makanan manis lainnya yang semua memiliki bentuk kuda.


Adrian kembali mencari makanan yang lainnya. Devan melihat Andrean tidak terlalu semangat seperti Adrian. Anak sulungnya itu lebih banyak diam.


"Andrean mau apa lagi, Sayang? hanya mainan?"


"Iya, makanan sudah Mommy yang pilih,"


"Kamu tidak mau pilih sendiri?"


"Tidak, aku makan yang dipilih Mommy saja,"


"Lihat foto kamu,"


Devan menunjukkan potret Andrean dan Adrian yang tadi diabadikan oleh Lovi. "Walaupun senyumnya tipis sekali tapi tetap cool," Devan memuji anak sulungnya yang memang benar-benar menawan. Senyum lebar, senyum tipis, atau apapun pose nya, pesona Andrean benar-benar membuat siapapun berdecak kagum.


"Mom, aku mau ini."


Adrian membawa dua botol selai cokelat pada Lovi. "Itu kan hanya botolnya saja yang unik. Isinya tidak,"


"Tapi aku mau,"


"Ya sudah, ambil saja."


"Yeaaay, ambil berapa?"


"Satu saja,"


"Satu? sedikit sekali,"


"Kamu kan cari makanan yang bentuknya kuda. Kalau itu, botolnya saja yang berbentuk kuda. Isinya hanya selai biasa,"


"Aku mau dua. Aku satu, Auris satu,"


Mendengar nama Auristella kembali dibawa-bawa sebagai alasan, Lovi menggeleng pelan.


"Auris akan marah kalau kamu menjadikan dia sebagai alasan terus. Katakan saja kamu mau dua,"


Adrian terkekeh menampilkan gigi putih kecilnya. Ia tak mengelak saat Lovi mengatakan seperti itu. Karena memang Auristella dijadikan sebagai penolongnya di hadapan Lovi dan Devan agar bisa membeli mainan dan makanan sesuai keinginannya.


"Sudah belum? kaki aku rasanya mau lepas menunggu kalian belanja,"


"Sudah, kamu tunggu di mobil saja bersama Andrean,"


Devan mengangguk dan mengajak anak sulungnya ke mobil, membiarkan Lovi ke kasir bersama Adrian untuk membayar belanjaan.


"Letakkan saja selainya di sini. Itu botolnya kaca, jangan kamu bawa-bawa begitu,"


"Aku mau--"


PRANG


PRANG


"Mommy sudah katakan tadi. Tidak mendengar sih,"


Adrian membawa dua botol selai yang terbuat dari kaca. Ia sedikit kesulitan saat membawanya karena memang ukuran botol tersebut lumayan besar. Akhirnya terjatuh ke lantai.


Pelayan langsung mengambil langkah cepat agar tidak mengganggu kenyamanan pelanggan yang lain karena selai nya jadi berantakan di lantai dan kaca nya juga bisa membahayakan orang lain.


"Maafkan anakku. Aku ganti yang pecah itu. Berapa harganya?"


Setelah disebutkan, Lovi segera memberikan kartu debit miliknya. Lalu Ia pergi sebentar ke rak dimana selai tadi berada.


Ibu tiga anak itu mengambil dua botol lagi sebagai gantinya. Kasihan Adrian, selai yang diinginkannya terjatuh.


Melihat Lovi kembali membawa selai, Adrian tersenyum berseri. Tadi dia tidak berani minta lagi karena dia sadar telah melakukan kesalahan.

__ADS_1


Sementara Lovi dan Adrian menunggu belanjaan mereka ditotal, Andrean dan Devan sudah berada di dalam mobil.


"Lebih baik aku di dalam mobil tadi. Bisa tidur,"


"Iya, benar. Menurut Daddy sangat membosankan di dalam sana ya,"


Andrean merebahkan tubuhnya di kursi tengah. Ia mulai memejamkan mata. Sementara Devan menikmati musik dengan kepala yang mengikuti alunan musik.


Lovi menghampiri mobil dimana suaminya berada. Devan membuka jendelanya. "Sudah 'kan? pulang sekarang?"


"Iya, kasihan Auris terlalu lama ditinggal,"


Lovi memberikan minuman Devan. Lalu setelahnya Ia kembali ke mobil Adrian untuk pulang.


Devan menoleh ke belakang. Andrean sudah terlelap sepertinya. Napas anak itu nampak teratur dengan mata yang ditutupi oleh liputan lengannya.


Adrian tidak sabaran lagi menikmati cokelat. "Aku takut sampai mansion nanti cokelat nya dihabiskan Auris,"


"Auris belum boleh makan cokelat seperti itu. Kecuali diolah dulu menjadi sesuatu,"


"Iya, nanti Mommy pakai cokelatnya buat bikin camilannya Auris, pancake cokelat."


"Tidak lah. Cokelat untuk pancake Auris sudah khusus,"


Lovi dan Adrian terdiam sebentar. Hanya deru halus mobil yang mengisi keheningan mereka.


"Habis ini langsung istirahat sebentar, setelah itu apa?"


"Video call dengan Adrina,"


"Huh? itu tidak ada dalam list kegiatan kamu,"


"Aku mau cerita kalau aku baru saja punya kuda baru,"


"Sombong, tidak boleh."


"Aku tidak sombong, Mom. Hanya bercerita, dan mengajak dia untuk berkuda bersama lain kali,"


"Tempat kalian berkuda 'kan sama,"


"Iya, aku tahu. Aku juga tahu yang mana kuda Adrina. Kandangnya tidak jauh dari kandang kuda aku,"


"Tahu darimana?"


"Waktu itu aku ikut Daddy berkuda dan ternyata ada uncle Jino juga di sana. Sayangnya Adrina tidak ikut. Lalu aku bertanya pada Uncle Jino yang mana kuda Adrina,"


"Jadi kandang kuda kalian berdekatan?"


"Iya, kalau tidak salah hanya dipisahkan tiga kandang,"


"Berarti Mommy salah pilih kandang ini,"


"Tidak salah--"


"Kalau kuda kalian berdekatan, bisa sering bertengkar seperti pemiliknya,"


Adrian yang sedang menikmati cokelat langsung terbatuk saat Lovi berkata seperti itu. "Sudah ada kandang sendiri-sendiri jadi tidak akan bisa bertengkar. Pokoknya jangan dipindahkan kandang kuda nya Adrian,"


"Memang siapa yang mau memindahkan? Mommy tidak bilang begitu tadi,"


*****


"Andrean dimana? biasanya kalian datang bersamaan,"


"Aku dan Andrean pisah mobil,"


"Huh? memang kenapa?"


"Bukannya mau sombong, tapi aku dan Andrean punya mobil baru masing-masing,"


"Oh, sampai kapan pisah mobil?"


"Sampai aku bosan berangkat sendiri. Nanti kalau sudah bosan, aku akan satu mobil lagi dengan Andrean,"


Ketiga sahabatnya mengangguk setelah mendengar jawaban Adrian yang berhasil menumpas rasa penasaran mereka.


"Hey tahu tidak, kemarin aku dapat kado dari Mommy. Penasaran kadonya apa?"


"Tidak,"


"Aiish! harus penasaran!"


Adrian melepas ranselnya lalu dia bergabung bersama ketiga sahabatnya yaitu Revin, Thalia, dan Adrina yang sebelumnya sudah berbincang bersama.


"Aku diberikan kuda. Andrean juga."


"Oh kuda,"


"Besar tidak?"


"Warnanya apa?"


Mereka bertiga bicara secara bersamaan. Adrian meletakkan telunjuknya di bibir, menyuruh mereka tenang. "Sabar, aku jawab satu persatu ya. Kudanya cukup besar kalau menurutku. Warnanya itu cokelat tapi ada campuran warna putih juga. Kata Mommy dia kuda poni. Tapi kataku bukan,"


"Kalau Aunty Lovi sudah bicara begitu, maka kamu jangan sok tahu!"


"Aku tidak suka kuda poni,"


"Artinya kamu tidak suka dengan kado dari Mommy mu. Dosa sekali kamu,"


Mendengar ucapan Thalia, Adrian menggeleng. Bukan begitu maksudnya. Ia sangat menyukai kuda yang diberikan Lovi. Tapi dia tidak mau menerima fakta bahwa kudanya itu termasuk jenis kuda poni. Karena kuda poni itu kebanyakan menggemaskan dan imut sementara kudanya gagah.


"Aku suka!"


"Kuda ku juga poni,"


"Aku tidak tanya,"


Adrina menggeram gemas, ingin mencubit pipi Adrian, tapi Adrian mengarahkan kepalan tangan padanya. "Huh! dengan perempuan tidak boleh kasar,"


"Aku tidak benar-benar meninju kamu. Tidak usah drama begitu,"


"Errghhh mau aku lempar kamu ke kandang kudaku biar diserbu?!"


"Kuda milikmu baik. Kemarin aku beri makan. Dia tidak jahat, tidak suka merajuk juga sepertinya, dan pendiam tentu saja."


 ----------

__ADS_1



__ADS_2