
"Aku akan duduk di sana,"
Tunjuk Lovi pada sebuah taman besar dengan pancuran air di tengahnya. Terlihat memanjakan mata siapapun yang melihatnya. Lovi semakin bersemangat untuk ke sana karena banyak anak-anak yang sedang bermain di temani dengan orang tua mereka. Melihat itu, membuat Lovi tersenyum. Ia semakin tidak sabar bertemu dengan malaikat kecilnya lalu menemaninya bermain seperti halnya para orang tua itu.
"Tidak perlu mengikutiku," Cegah Lovi pada salah satu lelaki yang sejak tadi menjaganya.
"Aku harus melakukannya, Nona. Ini perintah Tuan,"
Lovi menghela bahunya pasrah. Ia langsung bergegas ke tengah taman. Sementara tiga orang lelaki yang mengikutinya memutuskan untuk mengawasi Lovi dari jauh setelah perempuan itu duduk di sebuah kursi. Agar Nona mereka tidak terlalu kaku di jaga dalam radius yang terlalu dekat.
Lovi tersenyum saat melihat seorang anak yang berjalan mendekatinya dengan satu cup ice cream di tangannya. Wajah mungilnya terlihat menggemaskan saat ice cream itu memenuhi sekitar bibirnya.
"Hei,"
"Hello," Ucapnya yang mampu membuat Lovi tersenyum. Anak perempuan dengan pita di tengah rambutnya itu rupanya sudah pandai berbicara. Bahkan sudah mengetahui bagaimana caranya membalas sapa dari orang lain.
"Kemana Ibumu?"
Mata kecil itu berkedip seolah memikirkan jawabannya. Sampai datang seorang wanita muda yang tampak panik mendekati keduanya.
"Sudah mama bilang jangan lari terlalu cepat. Susah mengejarmu," Ucap wanita itu dengan napas tersengal. Sementara anaknya tertawa. Ia mungkin mengira Ibunya itu sedang bergurau dengannya.
Mata wanita dengan balutan Baju bermotif bunga itu menatap Lovi waspada seraya menarik anaknya untuk mendekat. Lovi yang mengerti akan hal tersebut, langsung memberi senyuman hangatnya.
"Tenang saja, aku bukan orang jahat,"
Walaupun Lovi mengatakannya seraya terkekeh namun wanita itu terlihat tidak nyaman. Anak perempuannya kembali disibukkan dengan makanan kesukaannya itu seraya bergumam tak jelas.
Melihat perut Lovi yang membuncit, wanita itu sadar kalau Lovi memang tidak berniat jahat pada anaknya.
"Lucu sekali putrimu," Ucap Lovi dan Ia langsung terkejut saat wanita yang sebelumnya terlihat tidak bersahabat dengannya, kini malah duduk di samping Lovi seraya memangku putrinya.
"Terimakasih,"
Bukan Ibunya yang menjawab. Lovi semakin dibuat gemas bahkan sampai menggigit bibirnya sendiri mendengar jawaban putri cantik itu.
__ADS_1
"Pintar sekali kamu, sayang,"
Lovi mengusap kepalanya lembut. Nalurinya sebagai Ibu mulai memenuhi jati dirinya saat ini.
"Berapa bulan usia kandunganmu?" Tanya wanita tersebut.
Lovi mengusap perutnya dengan lembut sebelum menjawab,
"Lima bulan,"
"Selamat, Beberapa bulan lagi kamu akan menjadi Ibu. Nikmati semua prosesnya ya,"
Lovi mengangguk. Ya, Ia akan menikmati semua proses yang telah dilaluinya selama mengandung buah hatinya. Bahagia dan kesedihan sudah menemani masa-masa kehamilannya. Ia tidak pernah menyesal atas apa yang sudah terjadi pada dirinya. Saat ini Lovi sudah menerima dengan lapang dada apapun yang ditakdirkan untuknya. Kehadiran buah hati merupakan kebahagiaan terbesar dalam hidup Lovi. Walaupun di awal kehamilan, Lovi merasa ragu mengenai bisa atau tidaknya Ia membesarkan anak tersebut.
Seiring berjalannya waktu, Lovi percaya pada dirinya sendiri kalau Ia adalah yang terbaik untuk malaikat kecilnya. Tuhan telah mempercayakan anugrah itu untuk Ia jaga baik-baik.
"Dimana suamimu?"
"Sedang bekerja,"
Anak perempuan itu tiba-tiba saja berlari ke arah Lelaki yang berdiri menjulang tak jauh dari posisi mereka. Lovi melihat anak itu tertawa riang ketika ayahnya membawa Ia dalam gendongan. Mereka pergi setelah jari gadis kecil itu menunjuk kembang gula.
Lovi menerima perkenalan dengan meraih tangan Reina.
"Aku Lovi,"
"Lain kali kita harus bertemu kembali. Jangan lupa bawa suamimu. Agar dia juga bisa mengenal suamiku,"
Lovi terkekeh saat Reina mengedipkan matanya. Reina ternyata bisa dijadikan teman untuknya.
"Keluarga kalian akan bahagia selalu,"
Kalimat Reina mampu membuat raut wajah Lovi berubah. Matanya menatap kosong hamparan rumput hijau yang memenuhi lahan taman. Hati Lovi berdenyut sakit karena kenyataannya kebahagiaan itu tidak akan pernah abadi. Semuanya hanya angan untuk Lovi. Ia menginginkan kebahagiaan yang kekal bersama keluarga kecilnya. Tapi nyatanya Devan tidak mempunyai keinginan yang sama. Lovi sadar dirinya tidak pantas menjadi pendamping hidup Devan sampai kapanpun. Devan terlalu sempurna untuknya.
"Kalau kamu merasa sedih, jangan pernah berhenti berharap pada Tuhan, Lovi. Kamu adalah orang baik, dan Tuhan akan memberikan yang terbaik juga untukmu,"
__ADS_1
Tanpa sadar Lovi meneteskan air matanya. Reina yang menyadari hal itu langsung mengusap air mata teman barunya seraya tersenyum menenangkan.
"Aku mempunyai teman sekarang. Terimakasih sudah ingin berbagi banyak hal denganku, Reina,"
"Sayang,"
Reina dan Lovi menoleh saat Suami Reina memanggil dan berjalan mendekati keduanya.
"Siapa namanya?" Tanya Lovi dengan menatap gadis kecil yang menggemaskan itu.
"Lifia,"
"Lovi, Ini suamiku George,"
Ketika Suaminya datang, Reina langsung bangkit begitupun Lovi.
George tersenyum ramah. Ia mengulurkan tangannya yang langsung disambut baik oleh Lovi.
"George,"
"Lovi,"
"Tidak ingin berkenalan denganku Aunty?"
Mereka semua tertawa saat Lifia ikut dalam pembicaraan orang tuanya dengan Lovi. Lifia juga melakukan hal yang sama dengan Ayahnya. Lovi mengusap wajah kecil itu dan menerima uluran tangan Lifia kemudian menciumnya hingga anak itu tertawa.
"Namaku Lifia,"
"Lovi,"
"Kenapa kita mempunyai nama yang hampir sama?"
"Tidak, Sayang. Nama kalian berbeda jauh," Reina menjawab dan membuat Lifia langsung melipat wajahnya.
"Mirip, Mama. Wajah kita pun mirip ya, Aunty? Sama-sama cantik,"
__ADS_1
******************
Double up niyyy :) jgn pelit vote sm comment yakk. Terimakasih teman-temanqoe