My Cruel Husband

My Cruel Husband
Modal dusta yang dibalas telak


__ADS_3

"Aku saja yang mengantar Vanilla pulang,"


Raihan menarik kerah Deni yang sudah memapah Vanilla. Seenaknya membawa Vanilla padahal ada Raihan dan Devan di sana. Dia benar-benar tidak punya sopan santun.


"Kamu pulang sekarang juga! kasihan istrimu di rumah, Deni. Kamu punya tanggung jawab,"


Devan mengangguk menyetujui perkataan ayahnya. Devan juga tidak habis pikir dengan sahabatnya itu. Ia bertingkah seolah masih hidup sendiri. Seharusnya Keynie yang mendapat perhatian Deni. Bukannya Vanilla, yang bukan adik sesungguhnya.


"Setelah mengantar Vanilla, aku akan pulang." tukasnya yang tidak ingin dibantah. Namun Raihan tidak bisa membiarkan itu terjadi. Vanilla akan menjadi buruk di mata Keynie dan seluruh keluarganya. Walaupun bukan Vanilla yang menginginkan itu semua dari Deni, tetap saja nama baiknya yang menjadi korban.


Dan Raihan sebisa mungkin memposisikan Vanilla sebagai Keynie. Rasanya pasti sangat menyakitkan bila mengetahui kelakuan buruk suaminya di luar sana yang lebih mementingkan perempuan lain daripada istrinya sendiri.


"Jangan jadikan anakku sebagai korban, Deni. Ini semua mudah, hanya kamu yang mempersulitnya. Kamu hanya tinggal menjalani kehidupan bahagia dengan Istrimu dan jangan ganggu Vanilla lagi,"


Melihat mulut Deni yang terbuka ingin mengajukan protes, Rena segera menengahi perdebatan itu. Karena biar bagaimana pun rumah sakit bukankah tempat yang tepat untuk memperdebatkan sesuatu yang sebenarnya sangatlah kecil.


"Biasakan hidup sebagai teman. Vanilla memang kamu anggap sebagai adik. Tapi bukan seperti ini cara memperlakukan Vanilla. Kamu terlalu berlebihan. Pikirkan juga perasaan istrimu,"


Vanilla hanya bisa menunduk. Karena semua kekhawatiran yang dirasakannya sudah disampaikan kedua orangtuanya. Ingin menolak secara langsung terlalu sulit Vanilla lakukan.


****


Devan memasuki kamarnya dengan langkah mengendap. Lovi dan kedua anaknya tidak mengetahui kepulangan Devan. Vanilla memang diizinkan pulang oleh dokter lebih cepat dari perkiraan. Luka-luka di tubuh Vanilla sudah tidak lagi memerlukan perawatan khusus namun untuk beberapa hari sekali Ia harus melakukan pemeriksaan secara berkala.


"Hallo, Sayang."


Lovi melenguh dalam tidurnya. Ia berbalik memunggungi Devan yang duduk di tepi ranjang. Devan tersenyum tipis melihat Istrinya yang tetap saja menggemaskan sekalipun tertidur.


"Lov, aku pulang. Tidak ingin memelukku?"


Lovi segera berbalik padahal matanya masih terpejam. Suara Devan begitu nyata sehingga memaksa matanya untuk segera terbuka lebar.


"Devan? Kamu sudah pulang?" Tanya Lovi Dnegan tidak santai sampai-sampai Ia membolak-balik wajah suaminya. Tidak percaya kalau Devan akan pulang.


"Iya, aku sudah pulang. Kamu kenapa seperti ini? kaget ya?"

__ADS_1


Plak


"Astaga, Lov. Ini wajah, bukan nyamuk. Kenapa kamu malah--"


Kalau sudah protes sepeti ini, Lovi yakin lelaki ini benar Devan. Perempuan itu segera memeluk suaminya yang masih meringis seraya mengusap wajah yang baru saja menjadi korban istrinya.


"Maaf, aku tadi tidak percaya. Takutnya kamu itu, hmm... hantu," Lovi mengatakannya dengan nada yang sangat pelan ketika di ujung kalimatnya. Takut Devan kesal dengan pemikiran bodohnya itu.


"Kalau wajahku sudah bisa disentuh artinya nyata, Lov. Tidak perlu sampai ditampar juga,"


Lovi mengusir tangan Devan dari wajah yang memerah itu lalu Ia memberi kecupan di sana. Devan menahan senyum senangnya. Baru pulang dan langsung diberi kecupan. Ini benar-benar hal yang menyenangkan.


"Maaf, Suamiku yang tampan bak hantu. Aku masih tidur tadi. Jadi belum sadar sepenuhnya,"


*****


"Aku juga pulang hari ini,"


Vanilla tidak langsung kembali ke mansion. Karena rencananya kemarin yang ingin menjenguk Renald dan Joana batal, maka saat ini adalah waktu yang tepat untuk melakukannya. Sebelum keluar dari wilayah rumah sakit, Ia menyempatkan waktu untuk sekedar melihat kondisi kedua temannya.


Deni menjadi orang asing di sana. Raihan, Rena, dan Vanilla beberapa kali terlibat pembicaraan dengan Renald. Sementara Ia hanya berdiri dengan wajah datar tepat di belakang Vanilla.


Renald sempat mengerinyit bingung saat melihat Deni bersama Vanilla dan kedua orangtua gadis itu. Renald masih ingat di saat-saat sebelum kecelakaan terjadi, mereka pernah bertemu.


Renald ingin menyapa namun rasanya sangat sungkan. Karena raut Deni benar-benar tidak tersentuh. Seperti ada permusuhan di antara mereka namun Renald tidak tahu sumbernya darimana.


"Kamu harus istirahat, Vanilla. Jangan banyak berbicara. Apa lagi membicarakan hal-hal yang tidak penting,"


Semuanya menoleh saat Deni mengeluarkan kalimat sarkas itu. Terlihat sangat menyindir kegiatan mereka saat ini. Memang apa yang salah? Mereka hanya berbagi cerita.


"Jadi bisa kami tinggal, Nald? orangtuamu sebentar lagi kembali bukan?"


"Oh iya, Terima kasih, Tuan Raihan atas segala bantuannya,"


Raihan menepuk singkat bahu anak muda yang menjadi pekerja keras itu. Ia tersenyum mengangguk lalu mengisyaratkan Rena untuk segera keluar. Saat akan menarik Deni untuk keluar juga, lelaki itu menolak tegas. Bahkan mengusir tangan Raihan dari kerahnya. Sial! sejak tadi Ia diperlakukan seperti kambing.

__ADS_1


"Biarkan Vanilla bicara sebentar dengan Renald," tukasnya namun Deni hanya menghela bahunya ke atas dengan wajah tidak peduli.


"Kalau mau bicara silahkan. Aku tidak akan mengganggu,"


"Deni, kamu--"


"Aku akan menjaga Vanilla di sini," Renald langsung menatap Deni dengan aneh. Menjaga Vanilla? terdengar sangat posesif. Untuk apa dijaga karena Renald tidak akan menyakiti Vanilla lebih dari ini. Membuatnya terluka karena kelalaiannya saja sudah menghadirkan banyak perasaan bersalah. Walaupun berulang kali Raihan mengatakan kalau ini adalah sebuah ujian. Tidak ada yang benar ataupun sebaliknya dalam kejadian tempo hari.


"Aku pulang dulu kalau begitu. Kamu hati-hati," ujar Vanilla setelah kedua orangtuanya keluar. Sementara Deni masih tetap dalam posisinya persis seperti seorang bodyguard yang siap siaga berada di belakang tubuh Vanilla.


Deni memasang mimik jijik saat Vanilla berpesan begitu. Gadis itu sangat manis ketika bersama Renald. Berbanding terbalik jika bersamanya. Vanilla benar-benar garang.


"Iya, sekali lagi maafkan aku, Vanilla."


Vanilla tersenyum dan mengangkat tangannya untuk mencari-cari wajah Renald agar bisa Ia rangkum dengan lembut. Seperti yang biasa Ia lakukan.


Namun hal selanjutnya yang terjadi membuat Renald dan Vanilla benar-venar geram karena Deni meraih tangan Vanilla lalu diusapkan diwajahnya yang tampan itu.


"Ada nyamuk, Vanilla sayangku. Jadi aku minta tolong kamu untuk membunuhnya,"


Vanilla menahan napasnya kesal. Mulai bertingkah menyebalkan lagi. Padahal belakang ini sudah terlihat normal.


Renald pun tampak tidak terima dengan perlakuan Deni. Seharusnya Ia yang merasakan lembutnya tangan gadis itu! huh! Ia merasa kalau Deni sedang mengibarkan bendera perang.


"Kamu punya tangan, kenapa harus menggunakan tanganku?!"


"Aku ingin menggunakan tanganmu memang tidak boleh? sesama manusia harus saling membantu. Dan yang tadi adalah saat dimana aku sangat membutuhkan uluran tanganmu,"


Vanilla mengangguk singkat kemudian tersenyum manis. Jemari Vanilla masih berada dalam jerat tangan Deni. Ia melepaskan dengan cepat lalu memberi tamparan kecil di wajah Deni.


"Kalau ada nyamuk seharusnya bukan diusap, tapi ditepuk. Supaya mati, benar bukan?"


-----


Dua cowok sedeng kena tamparan malem ini wkwkwk. Tamparannya candaan ya gengs! kn ga beneran ditampar kenceng. Cuma ditepuk doang supaya mereka sadar🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2