
Lovi mengusap keningnya yang berkeringat usai mencuci pakaian sekolah anaknya dengan tangan.
Ia sengaja mencuci setelah Devan pergi agar suaminya tidak marah-marah. Padahal Lovi melakukannya karena Ia akan merasa lebih puas melihat seragam anaknya benar-benar bersih. Kalau menggunakan alat untuk mencuci terkadang masih ada noda. Apalagi anak seusia mereka masih sembarangan ketika memakai baju.
Adrian sering sekali bermain futsal saat seragamnya berwarna broken white. Saat Ia terjatuh di lapangan pasti akan kotor. Percuma juga diberi tahu karena mereka memang belum paham sesulit apa mencuci baju. Lovi juga tidak pernah marah. Ia memaklumi anak-anaknya masih terlalu kecil.
"Nona, kalau di dalam novel-novel yang sering saya baca, perempuan yang kaya raya seperti Nona tidak pernah kenal dengan pekerjaan rumah,"
Lovi hanya tersenyum menaggapi dengan tangan yang masih sibuk menyikat kerah seragam Andrean.
"Yang kaya raya bukan aku. Tapi suamiku,"
"Tapi kan, Nona---"
"Semua perempuan akan melakukan ini pada akhirnya. Tidak selamanya kita bisa mengandalkan orang lain 'kan? Jadi harus belajar,"
"Lagipula hanya seragam Andrean dan Adrian saja yang aku cuci dengan tangan sementara yang lain menggunakan alat,"
"Tuan juga," tambah maid itu.
"Tuan sudah sering marah karena Nona seperti ini. Padahal ada banyak maid yang bisa melakukannya. Tapi Nona tetap saja mau melakukannya sendiri,"
"Aku juga bosan kalau tidak ada kegiatan,"
"Tidak ada kegiatan?"
"Iya,"
"Bangun tidur langsung turun ke dapur, lalu menyiapkan segala perlengkapan untuk Tuan-tuan kecil dan juga Tuan Devan. Belum lagi kalau Auris sudah bangun. Setelah mengurus Auris, Nona membersihkan kamar seorang diri padahal sudah ada yang ditugaskan untuk melakukan itu. Lalu setelah---"
"Sudah, jangan disebutkan satu persatu." Ujar Lovi seraya tertawa. Kalau disebutkan memang akan terdengar banyak tapi ketika dilakukan tidak terasa banyak dan melelahkan. Mungkin karena Ia sangat menikmati perannya.
"Lovi, Auris sudah bangun."
Senata tampak memasuki ruang mencuci seraya menggendong Auristella.
"Tunggu sebentar ya, Sayang. Mommy tinggal membilas,"
Auristella diam dan tidak merengek artinya Ia setuju. Dan Senata membawanya keluar dari dalam ruangan berisi alat-alat untuk mencuci itu.
"Saya saja yang membilasnya, Nona."
"Jangan, aku minta tolong jemurkan saja nanti,"
********
Devan memasuki ruang kerjanya. Belum ada lima menit Ia duduk, ada telepon masuk dari detektif yang dibayarnya.
"Bagaimana?"
"Dia sudah tidak bekerja lagi di toko mainan itu, Tuan."
"Siapa namanya?"
"Alvaro,"
"Cari sampai dapat dan berikan pelajaran!"
"Baik, Tuan,"
Devan menjauhkan ponselnya dari telinga. Lalu Ia tersenyum miring seraya membolak-balik ponselnya.
"Kau pikir semudah itu melarikan diri setelah membuat kekacauan di mansion-ku, Bedebah bodoh!"
Devan melihat ponselnya lagi. Untuk memeriksa pesan yang tadi Ia kirimkan untuk Lovi. Foto Adrian dan Adrina belum dibuka oleh istrinya.
"Sedang apa dia?"
Sebelum memulai pekerjaan ada baiknya mendengarkan sumber semangat untuknya berbicara. Dan semoga Auristela sudah bangun. Devan merindukannya karena saat Devan pergi, Auristella masih tidur.
Ia menghubungi Lovi sekali, dua kali belum ada jawaban. Lalu saat Ia akan mengulangi panggilan, Lovi sudah menghubunginya lebih dulu.
"Hai, Lov."
"Hai, sayang."
"Kenapa lama sekali menjawab panggilanku? Kamu sedang apa? Auris sudah bangun kah?"
"Bisa bertanya satu-satu?"
Devan terkekeh dan mengangguk walaupun Lovi tak melihatnya. Ia mengulanginya, "Kenapa baru sekarang menjawab pangillanku?"
"Auris baru bangun, dan seperti biasa bila baru bangun ia akan sangat manja. Jadi, aku harus meladeni manja-nya dulu,"
Jawaban itu sudah menjawab semua pertanyaan Devan. Padahal Lovi baru saja selesai mencuci dan Auristella masih bersama neneknya. Tapi Lovi malas mendengar gerutuan Devan bila Ia tahu Lovi sedang mencuci.
Terkadang Lovi heran dengan Devan. Sebal sekali kalau melihat Lovi melakukan pekerjaan rumah. Padahal dia sendiri juga tahu kalau tugas istri memang seperti itu.
"Sekarang Auris sedang apa?"
Lovi berjalan keluar dari ruang mencuci untuk menghampiri putrinya bersama Senata.
"Bermain di playground,"
"Andrean dan Adrian langsung tidur?"
Saat Devan mengantar mereka ke mansion usai camping, mereka mengatakan ingin tidur lagi karena semalam tidur mereka diganggu oleh serangga penghisap darah yaitu nyamuk.
"Iya, setelah mandi langsung tidur,"
"Sekali-sekali lihat mereka, Lov."
"Iya, aku mengerti,"
Berhubung letak kamar Adrian dan Andrean sudah pernah menjadi incaran penjahat maka saat mereka berada di kamar, Lovi dan Devan harus sering mengawasi mereka.
"Lagipula kenapa tidak kamu suruh tidur di kamar kita?"
"Tidak mau, karena tadi Auris menguasai ranjang. Mereka bingung mau tidur dimana. Takut juga Auris merasa sempit,"
"Ya sudah, kalian hati-hati ya. Kamu jangan keluar kalau tidak ada hal penting,"
"Tapi menjelang sore nanti, aku mau ke butik boleh tidak?"
"Untuk apa ke sana? Situasinya belum aman, Lov."
"Elea akan fitting,"
"Ck! kenapa harus berurusan lagi dengan dia sih? Rupanya kamu masih menerima tawaran kerja sama dengan dia?"
Devan kira Lovi akan menolak setelah Devan marah. Rupanya Lovi masih mau menjadi designer untuk gaun pernikahan Elea.
"Tentu saja. Kesempatan tidak boleh dibuang sia-sia,"
"Memang berapa yang dia bayarkan atas jasa-mu itu?"
Lovi diam mendengarkan Devan mengeluarkan keresahan hatinya. Ia mengangguk saat Senata mengatakan dengan gerak bibirnya bahwa Ia ingin sarapan dulu.
Dan Lovi segera menggantikan peran Senata. Ia memperhatikan Auristella bermain seorang diri.
"Aku bayar sekarang dan kamu tidak perlu lagi berurusan dengan dia,"
"Tidak bisa begitu. Aku dan dia sudah terlibat perjanjian,"
"Astaga, Lovi...Lovi... kenapa bebal sekali otakmu? Diberi tahu suami agar kamu tetap baik-baik saja, malah dilanggar. Tahu-tahu sudah punya perjanjian. Ya sudahlah, terserah padamu saja,"
Klik
"Huh? dia marah?" Tanya Lovi terperangah saat panggilan diputuskan secara sepihak oleh sang suami.
Lovi melihat pesan yang dikirimkan Devan sebelum Ia menelpon. Ketika dibuka, ternyata sebuah foto yang menampilkan Adrian sedang menyuapi Adrina.
"Aaihh anak siapa ini? Kenapa sweet sekali dia,"
Lovi menggeram gemas. Persahabatan mereka sudah sedekat itu rupanya. Semoga saja mereka tetap bersahabat sampai kapanpun.
Pantas saja terlihat sangat dekat. Mereka memiliki sikap yang tidak berbeda jauh. Sama-sama suka keributan, mengganggu orang, dan mencairkan suasana walaupun terkadang bisa menyebalkan untuk semua orang.
*****
"Bagaimana perkembangan semuanya?"
"Ah kau hanya bisa memerintah. Kita ini 'kan kerja sama,"
"Seperti itukah kau bicara dengan orang yang sudah membantu mu?"
__ADS_1
Arnold berdecak malas. Lagi-lagi itu yang diungkit. "Aku tahu kau yang membuat perusahaan ku bisa berdiri. Tapi kita sama-sama memiliki dendam untuk mereka. Jadi seharusnya jangan hanya aku yang bekerja,"
"Ah pengemis ini banyak bicara. Kau mau semua yang sudah aku berikan, aku tarik kembali?"
Arnold segera mematikan panggilannya. Sial! Kenapa ia seperti diperbudak di sini mentang-mentang Ia sedang membutuhkan bantuan untuk perusahaannya?
*****
"Perusahaan milikmu menang, Tuan."
"Oh benarkah? Aku sudah menduganya,"
"Dia pasti emosi sekali. Mengingat saham kali ini tidaklah kecil,"
Devan tersenyum puas saat mendapat kabar bahwa anak perusahaannya yang sempat berebut saham dengan beberapa perusahaan termasuk milik Arnold berhasil Ia menangkan.
Berbeda dengan Devan yang sangat bahagia, Arnold justru sebaliknya. Kekalahan ini pasti akan mengundang kekesalan seseorang yang selama ini menunjang pembangunan perusahaannya.
"Bodoh! Saham yang kecil kalah, yang besar pun seperti itu,"
"Wajar, perusahaan 'kan seperti kehidupan. Tidak selamanya berjalan mulus,"
"Perusahaan milik siapa yang berhasil mendapatkannya?"
"Entah, aku tidak mau tahu."
"Kau bisa melakukan pendekatan dengan mereka. Bisa saja suatu saat nanti menjalin kerja sama,"
"Hanya perusahaan kecil,"
Ia seolah tidak tahu kalau semua perusahaan tidak langsung menjadi besar. Bisa jadi yang dianggap kecil, justru berbahaya dalam persaingan.
Devan membuktikan itu. Ia menggunakan salah satu anak perusahaan nya yang baru setahun ke belakang dirintis tapi berhasil memenangkan pelelangan saham yang dijual oleh sebuah perusahaan dengan menawarkan harga tertinggi diantara yang lainnya.
*******
"Gaunnya bagus sekali. Aku sangat menyukainya. Terima kasih, Lovi."
"Kembali kasih. Aku bersyukur kalau kamu suka. Tapi ini belum sempurna. Masih ada beberapa aksen yang belum terpasang,"
"Iya, aku tahu. Tapi begini saja sudah bagus. Apa lagi kalau sudah jadi sepenuhnya,"
"Dan untuk pakaian calon suamiku?"
"Kapan mau fitting?"
"Tadinya dia mau sekarang juga. Tapi karena ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda, jadi gagal,"
"Omong-omong, siapakah calon suami kamu?"
"Kamu dan Devan pernah bertemu dengannya,"
"Oh yang waktu itu bertemu di restoran kalau tidak salah ya?"
"Iya, benar. Dia orangnya,"
"Wow, kalian hebat bisa bertahan cukup lama,"
"Ya, semoga berakhir bahagia. Tidak seperti saat aku bersama Devan,"
Lovi tersenyum pahit mendengarnya. Ia kesal tapi berusaha keras untuk tetap memberikan seyum untuk klien-nya itu.
"Sorry, bukan maksudku---"
"Tidak apa. Devan sudah bahagia dengan aku. Dan kamu pun harus seperti itu, tapi bukan dengan Devan tentu saja." Lovi menjawab dengan santai tapi berhasil membalas telak. Entah apa maksud Elea bicara begitu, tapi yang terpenting Ia sudah terang-terangan menyatakan kepemilikan atas Devan agar Elea tidak lagi macam-macam. Gila saja perempuan itu kalau masih berharap pada Devan. Sebentar lagi akan menikah, tidakkah Ia memikirkan perasaan suaminya?
"Ya sudah kalau begitu. Aku tidak bisa lama-lama berada di butik,"
Lovi memberikan gaun milik Elea pada salah satu pegawainya untuk disimpan dan ditambahi kekurangannya serta diperbaiki kesalahannya agar benar-benar sempurna.
"Memang kenapa?"
"Biasa, suamiku itu terlalu khawatir kalau aku lama-lama berada di luar,"
Elea mengangguk dengan senyumnya. Ia tahu betul bagaimana Devan kalau sudah posesif. Tetapi saat bersamanya dulu, Devan tidak pernah sampai seperti itu padanya. Ah tentu saja, Lovi istrinya.
Devan hanya menjemput setelah Elea selesai berkegiatan. Lalu menanyakan kabar Elea hanya melalui sambungan telepon. Tidak sampai menyuruh Elea cepat pulang karena khawatir.
***
"Terus kenapa?"
"Adrian juga mau,"
"Tidak dulu untuk sekarang. Nanti-nanti ya,"
"Kapan? aku juga rindu dengan kudaku, Dad."
"Kudamu tidak rindu dengan pemiliknya,"
"Hah, Daddy! Aku serius,"
"Daddy juga sedang serius, jangan mengganggu,"
Untuk meminta izin pada Devan, Adrian sampai rela mengikuti Daddy-nya ke ruang kerja. Padahal sebelumnya Ia tengah sibuk dengan hulk. Tapi karena baru ingat kalau hari minggu nanti Adrina mau berkuda, Ia hentikan dulu kegiatan bermainnya.
"Kalau sama Daddy tidak boleh, Adrian akan minta izin pada Mommy. Bye!"
Melihat anaknya bangkit dan berjalan menuju pintu, Devan menyahuti, "Mommy selalu mengikuti apa yang Daddy katakan. Kami selalu kompak dalam mendidik. Kamu sudah tahu itu 'kan?"
"Tidak, terkadang Mommy membela aku sementara Daddy menyalahkan aku,"
"Ck! Daddy menyalahkan kamu karena kamu memang salah. Mommy juga seperti itu. Tidak ada ceritanya Mommy membela anak yang salah,"
Adrian keluar dari ruang kerja Daddy-nya dengan membanting pintu. Devan sampai tersentak di balik mejanya.
"KALAU PINTU RUANG KERJA DADDY RUSAK, DADDY JUAL HULK MILIKMU UNTUK MEMPERBAIKI PINTU YANG RUSAK," Devan berteriak dari dalam ruang kerjanya agar sang anak mendengar.
Adrian menutup kedua telinga lalu berlari menapaki anak tangga. Ia sedang kesal, dan Auristella menambah kesalnya. Adiknya itu nampak memainkan hulk miliknya. Menekan-nekan remote dengan asal sampai hulk menabrak-nabrak dinding.
"AURISTELLA NANTI HULK AKU TERLUKA!"
Auristella segera membanting remote nya karena kaget. adrian berjalan cepat menuju Auristella lalu menatap tajam adiknya itu saat remote malah diraihnya lagi.
"Kenapa tidak melarang Auris memainkan ini?!" Semburnya langsung pada sang kakak dan perawat Auristella.
"Daripada dia menagis, lebih baik dipinjamkan," jawab Andrean dengan santai seraya menjalankan kereta thomas miliknya.
"Tapi dia sengaja membuat hulk menabrak dinding,"
"Dia tidak tahu cara memainkan itu, Adrian."
"Kalau tidak tahu kenapa malah dimainkan?!"
Adrian segera meraih remote dari tangan Auristella, "Dasar anak kecil sok tahu!" katanya dengan nada tidak santai. Auristella menatap tangannya yang kosong dengan hampa.
"Biasanya dia takut. Sekarang kenapa berani? yang robot merah saja dia takut, ini lebih menyeramkan tapi dia malah berani memainkannya,"
"Artinya bagus 'kan dia sudah berani,"
"Kalau dia berani, bisa-bisa hulk di aku-akui. Aku tidak mau! ini hulk milik aku, jadi hanya aku saja yang boleh menyentuhnya,"
********
"Mommy sedang melihat-lihat apa?"
"Ah kamu penasaran sekali,"
Lovi menjauhkan ponselnya dari jangkauan mata Adrian. Anaknya itu memicing tajam saat melihat Ia bermain ponsel sambil senyum-senyum.
"Mommy, sedang mengobrol dengan siapa?! kenapa senyum terus?"
"Seperti Devan sekali sifatnya. Beruntung semakin tua, Devan tidak terlalu posesif lagi,"
"DADDY, MOMMY SENYUM TERUS SEJAK TADI SAMBIL MENATAP PONSELNYA," Adrian Mulai melaporkan apa yang terjadi pada Daddy-nya.
"Kamu tunggu di ruang makan saja. Sebentar lagi telur nya matang,"
"Tidak mau!"
"DAD---"
"Apa, Adrian? kenapa teriak-teriak?"
"Mommy senyum menatap ponsel. Sejak tadi begitu terus, Dad."
__ADS_1
Kali ini mata Devan beralih pada sang istri. Ia segera meraih ponsel Lovi dari tangan pemiliknya lalu melihat sesuatu yang membuat istrinya tersenyum seperti kata Adrian.
Lovi mendengus. Ia menarik kembali kata-katanya tadi. Devan tetap saja posesif berlebihan.
"Aku melihat postingan Sheva yang merekam Adrina sedang merengek meminta izin agar besok bisa berkuda,"
"Ngapain merengek? kan besok memang jadwal dia berkuda katanya,"
"Aunty Sheva sedang sakit,"
"Yhaaa tidak jadi berkuda. Memangnya enak. Belum apa-apa sudah sombong padaku sih!"
Adrian mencibir seraya melirik ponsel Lovi yang ada di tangan Devan. Seolah ponsel itu adalah Adrina.
"Anakmu juga merengek mau berkuda. Tapi aku larang,"
"Iya aku tahu. Dia laporan padaku. Dan mohon-mohon supaya diizinkan,"
"Lalu kamu izinkan?"
"Tentu saja tidak. Apapun yang mereka lakukan harus dapat izin dari kamu,"
Devan menatap anaknya dengan wajah pongah. Benar ucapannya. Lovi akan selalu mendukung keputusannya.
"Dia sudah percaya diri sekali kalau kamu akan mengizinkan, tidak seperti aku."
******
Belum jadi berkuda, tetap tidak menyurutkan semangat Adrian untuk membujuk Devan agar mau membawa dirinya berjalan-jalan di akhir pekan ini. Dengan segala bujuk rayu, akhirnya Devan mengajak kedua anaknya bermain di playground dan nanti mereka berdua akan menginap di rumah Lucas.
Andrean yang begitu menginginkan untuk menginap disana. Bahkan saat Lovi menyiapkan baju mereka, Andrean mengatakan "Mom, baju yang dibawa harus banyak. Aku akan lama menginap di sana,"
"Tidak bisa, besok harus sekolah,"
"Oh iya, aku baru ingat. Sebentar sekali menginap nya, Mom."
"Lain kali menginap lagi,"
Usai bermain, mereka makan siang terlebih dahulu sebelum pergi ke rumah Lucas. "Adrian mau cuci tangan, Dad."
"Ayo, Daddy antar."
"Tidak usah. Adrian bisa sendiri,"
"Jangan, bahaya. Kalau tidak mau dengan Daddy--" Devan mengalihkan matanya ke arah sekumpulan bodyguard yang menjaga mereka di meja lain, sedang menunggu makanan yang dipesankan Devan untuk mereka.
"Mike!" panggil Devan pada salah satu dari mereka.
Lelaki bernama Mike mendekat. Dan Devan menunjuk Adrian. "Tolong antara Adrian mencuci tangannya,"
"Baik, Tuan."
"Jaga dia dengan baik!"
"Siap, Tuan."
Mike terlalu takut Adrian kenapa-kenapa sampai Ia genggam erat tangan Adrian agar anak itu tak bisa bertingkah, berlarian kesana kemari.
"Aduh, Mike. Tanganku sakit,"
"Saya tidak menyakiti tangan Tuan kecil," bantah Mike yang sudah tahu betul bagaimana perangai anak Tuannya itu. Pasti tujuannya bukan hanya ke wastafel tapi singgah-singgah dulu. Apa lagi di restoran itu ada tempat memajang robot. Pasti itu yang menarik perhatian Adrian sejak tadi sampai ia berjalan pun, ditatapnya robot itu.
Setelah sampai di wastafel dan mencuci tangannya, Adrian segera berlari. Tak mau di jaga oleh Mike. Karena Ia berlari sambil menatap ke belakang dimana Mike mengikuti dengan langkah cepat, Adrian tidak sengaja menabrak seorang laki-laki. Ia meringis seraya mengusap kepalanya.
"Di tempat seperti ini jangan lari-lari. Memang kau pikir ini tempat olahraga?" Adrian langsung disembur dengan amarah.
Mike segera mendekat dan memohon maaf atas kesalahan Tuan kecilnya itu. "Dasar anak nakal!" sarkasnya yang membuat Adrian kian menunduk dalam.
"Dad, sepertinya Adrian buat ulah lagi," ucapan anak sulungnya membuat Devan mencari-cari Adrian dengan mata tajamnya. Ia melihat ada seorang laki-laki berada didepan Adrian dengan wajah garangnya.
Tanpa menunggu waktu lama, Devan segera mendekati. "Ada apa, Mike?" tanya Devan pada pengawalnya.
"Anak ini menabrak aku sampai minumanku tumpah. Tumpahnya ke bajuku lagi, seharusnya ke badannya saja."
Rahang Devan mengeras. Ia segera menarik kepala Adrian untuk ditenggelamkannya di perutnya. Ia megusap kepala Adrian.
"Maaf, akan aku ganti minuman---"
"Sayang!"
Lelaki yang sedang marah itu menoleh saat suara kekasih hatinya memanggil. Begitu pun Devan.
"Kenap--- Devan?"
Devan memutar bola matanya malas.
"Elea lagi," gumam batinnya.
"Kenapa lama sekali?"
"Minum milikku tumpah karena anak ini,"
Tangan kekasih Elea menunjuk Adrian dan Devan tidak suka itu. Ia segera menghempas telunjuk lelaki yag dipanggil Elea dengan sebutan 'sayang'. Devan lupa kalau itu kekasih Elea padahal sebelumnya mereka pernah bertemu.
"Berani sekali kau menunjuk anakku seperti itu. Aku sudah meminta maaf, dan mau mengganti minuman milikmu bahkan dua kali lipat lebih banyak, aku siap membayarnya. Tidak usah memperbesar masalah yang kecil!"
Elea segera mengusap lengan kekasihnya hingga lelaki itu menoleh. Elea menggeleng, memberi isyarat agar tak berdebat di sini. Elea tahu betul akan jadi seperti apa restoran ini kalau Devan sudah emosi.
Devan segera membawa anaknya kembali ke meja menghampiri Andrean yang memperhatikan sejak tadi bersama pengawalnya yang lain.
"Urus masalah ini, Mike."
Mike mengangguk patuh saat Tuan nya memberi titah sebelum melangkah ke meja nya.
"Silahkan dipesan lagi minumnya," kata Mike sesuai perintah Devan tadi bahwa Ia harus mengurus semuanya yaitu mengganti rugi apa yang sudah Adrian lakukan.
Lelaki itu berdecak dan menggeleng. "Tidak usah! aku masih mampu membelinya sendiri,"
Mike mengendikkan bahunya seraya membatin,"Kalau masih mampu kenapa tadi marah-marah. Tinggal beli lagi, apa susahnya?"
"Sudah, jangan memeluk Daddy seperti ini lagi." Devan berusaha melepas lingkaran tangan Adrian diperutnya dan Ia juga mencoba untuk menyingkirkan kepala anaknya yang masih bersandar di perutnya itu.
"Dia mantan kekasihmu bukan sih? sepertinya aku pernah bertemu,"
"Ya, jangan dibahas lagi. Ayo, kita makan sekarang,"
Usai memesan minuman kembali, Elea dan kekasih hatinya kembali ke tempat mereka. Kebetulan mereka makan di bagian luar restoran sementara Devan di dalam.
Adrian akhirnya berani juga mengangkat kepalanya. Devan meneliti wajah sang anak. Takut-takut dia menangis. Ternyata tidak.
"Laki-laki itu pernah juga memarahi Adrian saat bersama Mommy,"
"Benar begitu?"
"Iya, waktu Adrian menemani Mommy belanja. Adrian ditabrak mobilnya saat akan memasuki basement. Dia langsung marah-marah. Padahal dia juga salah karena kecepatannya cukup tinggi," ucap Adrian yang kembali mengingat kejadian itu.
"Oh dia yang membuat pinggang kamu sakit? lalu dia marahi kamu juga?"
"Pinggang aku tidak sakit,"
"Waktu itu--"
"Aihhh itu beda lagi, Dad. Yang aku ceritakan saat ini kejadiannya di mall. Kalau yang pinggang aku sakit itu, kejadiannya di butik Mommy,"
"Oh berbeda cerita. Habisnya kamu keseringan mengalami kecelakaan kecil. Jadi Daddy bingung,"
"Mommy juga marah-marah padanya. Karena kata Mommy, seharusnya kalau sudah masuk basement tidak perlu lagi mengemudi dengan kencang. Walaupun Adrian juga salah karena tidak lihat-lihat saat jalan dan malah sibuk menghitung mobil di basement,"
"Intinya kalian berdua salah," imbuh Andrean, kakaknya yang sedari tadi makan dengan tenang.
"Lagipula untuk apa menghitung mobil. Astaga..." Devan menggeleng heran. Tidak adakah kegiatan yang lebih bermanfaat daripada menghitung mobil di basement?
"Kamu dibayar berapa oleh pihak mall setelah menghitung mobil?"
pertanyaan Devan membuat Adrian merengut. Memang salah perbuatannya itu?
"Daripada menghitung jumlah mobil, lebih baik menghitung uang Daddy. Soalnya Daddy bingung menghitungnya, sudah terlalu banyak,"
Andrean melirik Daddy-nya dengan tajam seraya mendesis, "Tidak boleh sombong! Tuhan nanti marah. Itu bukan punya Daddy, tapi Tuhan,"
"BENAR!" Seru Adrian setuju dengan apa yang diucapkan sang kakak.
Devan terkekeh geli melihat anaknya yang semangat sekali memperingati dirinya. Ternyata mereka sudah mengerti kalau harta itu hanya titipan, bukan mutlak milik manusia.
Devan segera mengecup kepala mereka berdua dengan perasaan bangga. Padahal tadi, Ia tidak benar-benar sedang menyombongkan diri. Devan tidak menyangka kalau anaknya justru menanggapi ucapannya dengan serius. Mata dan hati Devan semakin dibuat terbuka untuk menyadari bahwa apapun yang dimiliki tidak boleh disombongkan.
__ADS_1