
Deni melihat Vanilla dan kedua temannya berjalan ke bagian pakaian lelaki. Vanilla terlihat sedang berbincang dengan Renald.
"Aku mau beli kemeja memang tidak boleh? aku menggunakan uangku juga,"
Keynie menghela napas kesal. Ia belum puas memilih lingerie. Tak heran sebenarnya. Selama mereka menjalin hubungan dulu, Deni memang seperti ini bila diajak belanja.
"Itu sudah banyak yang kamu beli. Cukup bukan?"
"Ya belum! lima tidak cukup,"
Ya Tuhan.
Deni ingin membenturkan kepalanya ke dinding sekarang. Lima sudah banyak. Dan dia masih belum puas membelinya?
"Sekalian saja beli sama manekinnya, Key."
Deni berjalan mendekati bagian kemeja. Karena Vanilla sedang berada di sana sekarang. Keynie mengikuti langkahnya dengan cepat. Heelsnya terasa ingin lepas karena langkah Deni terlalu cepat. Entah mengejar apa lelaki itu.
"Deni, tunggu aku!"
teriakan Keynie membuat beberapa orang di sana mengalihkan mata padanya. Termasuk Vanilla, Renald, dan Joana. Vanilla langsung bertemu tatap dengan Deni yang ada di depan Keynie.
Vanilla acuh dan Ia kembali memberi pilihan pada Renald yang tidak ingin dibelikan kemeja olehnya. Itu sebagai hadiah karena dua hari lagi Renald ulang tahun.
Deni sampai di tujuannya. Ia masih memberi jarak yang lumayan jauh untuk memperhatikan. Keynie pun akhirnya bisa berdiri di sampingnya.
__ADS_1
"Ayolah hargai aku,"
Renald terkekeh dan menghela anak rambut Vanilla yang melekat di dahinya. Deni memilih untuk menjadi penikmat adegan tersebut, Tidak ingin mengganggu.
Mendapat tatapan datar dari Vanilla saja sudah membuatnya hilang percaya diri. Saat ini Ia menjadi orang bodoh diantara mereka. Untuk apa penasaran kalau Tidak bisa bergabung? hubungannya dengan Vanilla sekarang berubah canggung. Dulu, Ia tidak pernah seragu ini untuk mendekati Vanilla.
*****
"Itu Tidak boleh diinjak, Dad?"
"Tidak, itu tempat raja untuk menunggu tamu-tamunya. Dengarkan kalau orang sedang menjelaskan. Tadi kamu terlalu sibuk menatap perempuan,
Adrian mendengus kesal. Apa salahnya melihat-lihat produk asli Indonesia? yang selama ini ditatapnya hanya gadis-gadis bersurai coklat keemasan dengan mata yang mayoritas biru.
Setelah berkeliling mengupas sejarah yang ada di tempat tersebut, Devan dan Lovi memutuskan untuk pergi ke Malioboro. Dan malamnya mereka akan mengunjungi alun-alun. Permintaan Lovi Tidak bisa ditolak oleh Devan. Turun langsung di dalam keramaian bukan Devan sekali. Namun Ia akui ini adalah pengalaman pertamanya yang sangat menarik dan Tidak akan Ia lupakan.
Di dalam mobil Lovi langsung menyandarkan kepalanya di bahu Devan. Baru satu destinasi dan Ia sudah kelelahan. Tangan Lovi terangkat untuk mengusap perutnya.
"Tetap mau ke sana? atau besok saja?" Devan mengecup pelipis sang Istri. Lalu ikut melakukan hal yang sama dengan Lovi. Saat tangannya berada di perut Lovi, menyapa anak mereka, Devan selalu merasakan euforia yang tiada habisnya. Seperti lelaki yang belum pernah memiliki anak saja.
"Aku mau sekarang," sekarang apapun yang diinginkannya Lovi cenderung lebih keras. Kalau Ia masih bisa melawan, maka akan Ia lakukan tidak peduli Devan akan kesal seperti apa. Lelaki itu juga sudah sering merasa khawatir.
"ADA GELATO, DAD! ADA GELATO! ADRIAN MAU!" teriakan Adrian memenuhi mobil. Fino langsung melambatkan laju mobil yang dikendarainya. Semuanya terkejut karena suara bocah itu begitu nyaring.
"Kenapa kamu makan terus? tiga gulung kembang gula belum bisa membuatmu kenyang?"
__ADS_1
"Gelato minuman bukan makanan. Beda dengan kembang gula, Dad."
Devan mengetatkan rahangnya. Berani sekali anak ini menimpali ucapannya. Tidak heran memang. Semakin hari, kemampuan Adrian dalam bidang itu kian meningkat.
"Sekarang panas ya? nikmat sekali kalau gelato itu masuk ke dalam tenggorokanku," dengan gaya tengilnya Ia mengusap tenggorokan secara dramatis. Sebelah tangannya mengipas-ngipas wajahnya sendiri. Padahal mobil ada pendinginnya.
"Supaya tenggorokannya dingin, hirup saja udara dari AC mobil. Lebih nikmat, Sayang. Tidak perlu keluar uang juga,"
Lovi menahan tawa saat Devan menjawab ucapan anak bungsunya yang tak pernah kehabisan akal itu.
"Daddy irit! pelit! matinya sulit! lihat saja nanti,"
Itu ucapan yang buruk bukan? dan bisa menjadi sebuah doa. Haish! Adrian...Adrian, kalau menyumpal mulut anak tidak dosa, sudah Devan lakukan sejak Ia lahir.
Kalau sudah begitu tidak ada lagi alasan Devan menolak. Ia tidak ingin matinya dipersulit oleh Tuhan hanya karena pelit, seperti apa yang dikatakan oleh anaknya. Dosa Devan sudah berlimpah. Mungkin dengan membahagiakan anaknya yang kurang ajar ini bisa menghapus dosanya sedikit.
Lovi memiting bibir anaknya dengan gemas. Ia juga menggigit pipi bulat Adrian hingga anak itu kesakitan.
"Kalau Daddy mati, kamu mau makan apa?"
"Harta Daddy sudah banyak. Mommy tidak perlu khawatir. Nanti Adrian juga bisa bekerja. Tenang... Adrian ini tanggung jawab sekali," dengan pongah Ia menepuk dadanya sendiri. Lovi dan Devan kompak mencibir. Pikirannya memang sudah sedikit dewasa, sudah bisa mengetahui apa itu tujuan bekerja. Namun cara penyampaiannya yang seperti itu membuat mereka kesal.
-------
Kl adekku bilangnya bkn 'matinya sulit'. Tp 'kuburannya sempit' Itu yg mainstream. Ini si Adrian udh kelewat songong emg 🤣🤣
__ADS_1