My Cruel Husband

My Cruel Husband
Menghadapi Adrian


__ADS_3

"Mama sudah telepon Devan belum?"


Vanilla pulang tidak terlambat sore ini. Ia memasuki mansion dengan percaya diri, tidak takut dimarahi ayahnya.


Usai membersihkan diri di kamar, Ia bergabung dengan Rena dan Jane di ruang tengah. Keduanya tengah sibuk menyaksikan serial drama Korea.


"Belum, takutnya mereka sedang istirahat."


"Mereka benar-benar berlibur ke Indonesia, Tante?"


Rena menautkan alisnya, mengalihkan fokus pada Jane sebentar. Ia bisa melihat raut Jane yang sangat penasaran.


"Ya benar. Kedua anaknya menginginkan negara itu, jadi Lovi dan Devan menyetujui,"


"Oh Tuhan, Itu negara yang aku impikan sejak dulu. Kapan ya aku bisa ke sana?" Jane menangkap wajahnya dengan mata memandang televisi namun otaknya berkelana untuk membayangkan betapa menyenangkannya berlibur di negeri penuh adat istiadat itu.


"Kenapa mereka tidak mengajakku?"


Rena dan Vanilla kompak tertawa kencang. Seolah mengejek 'Memangnya kamu siapa?' sayang, kalimat itu hanya sampai di lidah.


"Babymoon untuk Lovi. Yang Istrinya kan Lovi. Bukan kamu,"


Rena semakin membuat keponakannya kepanasan. Ia menekan kalimat akhirnya seraya tersenyum miring. Jane yang melihat itu mendengus kasar. Lagi-lagi Ia ditampar kenyataan.


"Cari suami supaya bisa babymoon juga, Jane."

__ADS_1


"Heh diam kamu!" Bola mata Jane yang berlapis lensa berwarna itu melotot tajam pada Vanilla yang baru saja mengeluarkan celetukannya.


"Aku kasihan padamu. Terlalu banyak berkhayal. Hati-hati, bisa-bisa tidak lama lagi kamu menjadi gila,"


Raihan turun dari mobil dan membiarkan supirnya untuk memasukkan si hitam mengkilap ke dalam basement mansion.


Ia tersenyum saat menyadari kalau ada tiga punggung perempuan yang tengah membelakanginya. Vanilla sudah pulang, dan Ia senang.


"Hallo, Tuan tampan datang!" Salahnya dengan hangat. Ia langsung mendekati sang Istri yang juga sudah menantikan kepulangannya sejak tadi. Rena langsung melakukan tugasnya sebagai Istri dengan baik. Meraih tas kerja Raihan, juga menyiapkan minuman untuk suaminya itu.


"Begini lebih baik, Vanilla. Papa senang melihatnya," kalimat pertama yang Ia ucapkan setelah beberapa hari terlibat perang dingin untuk yang kesekian kalinya terjadi.


Vanilla tidak menjawab. Namun di dalam hatinya, Ia juga merasa bahagia ketika melihat senyum ayahnya, bukan lagi wajah amarah dan juga bentakan yang penuh dengan emosi.


"Papa merindukan kedua bocah itu. Sedang apa mereka ya," gumam Raihan lalu meraih ponsel yang ada di dalam sakunya. Bertepatan dengan itu, Rena datang untuk menyuguhkan air putih untuknya suaminya.


"Sedang tidur, Sayang?" Raihan bertanya dengan penasaran. Melihat wajah anak itu yang suntuk, sepertinya perkiraannya benar.


"Ya, kami sudah sampai di hotel, Grandpa."


"Syukurlah, Grandpa mengganggu kah?"


"Tidak, Andrean memang seharusnya tidak tidur dulu karena belum mandi,"


Rena dan Raihan tertawa. Mengundang Vanilla dan Jane yang tak bisa lagi pura-pura acuh padahal rasa rindu dengan kedua anak kembar itu sudah membuncah. Dengan semangat mereka ikut bergabung dengan Rena dan Raihan.

__ADS_1


"Kenapa belum mandi?"


"Nanti, bajunya belum disiapkan Mommy."


"Mommy kemana?" Kali ini Rena yang bertanya. Dilihat-lihat Devan, Lovi, dan juga Adrian memang tidak ada di sekitar Andrean.


"Adrian sedang marah-marah. Itu di sana," Andrean mengubah mode kamera menjadi kamera belakang. Di sana, keempat orang itu bisa melihat Adrian yang sedang berontak dalam pelukan ayahnya. Sementara Lovi sempat menatap Andrean sejenak seraya mengangkat sebelah alisnya seolah bertanya 'Siapa yang berbicara denganmu?'


"Ini Grandpa, Mom." Jawabnya.


Setelah itu, Andrean mengembalikan mode kamera seperti semula. Layar kembali dipenuhi wajah tampan dengan pahatan sempurna itu.


"Kenapa adikmu merajuk, heh?"


"Mau main golf. Daddy bilang besok saja. Sekarang harus istirahat, nanti sore jalan-jalan. Tapi dia tidak mau,"


"Astaga," gumam mereka dengan kompak. Tidak menyangka kalau ada drama setelah sampai di hotel. Takjub dengan Adrian yang tak pernah kehabisan akal untuk membuat kedua orangtuanya hampir gila.


Tangis Adrian tak bisa dibendung lagi. Anak itu malah menangis padahal yang dipukul Devan, yang dimarahi juga Devan. Dimarahi? Hmm... hebat benar dia bisa memarahi Devan Vidyatmaka.


"Kamu sebenarnya lelah, tapi terlalu memaksakan diri. Buktinya cengeng begini,"


Devan membawa putra bungsunya dalam gendongan. Lovi pun ikut bangkit ketika Devan berjalan mendekati anak sulungnya.


-------

__ADS_1


SIANG GENGSS🙋TERUS DUKUNG AKU YAAAA😘💙


__ADS_2