My Cruel Husband

My Cruel Husband
Sisi lain dari Devan


__ADS_3

"Aku mau tidur di kamar Mommy dan Daddy ya?"


Devan yang memahami ketakutan Adrian pun mengangguk. "Andrean juga," imbuh Devan yang mendapat reaksi penolakan dari Andrean.


"Aku berani tidur sendiri, Dad."


"Jangan, Sayang. Daddy rindu kita tidur bersama-sama. Jadi kalian berdua tidur di kamar Daddy dan Mommy,"


Karena sepertinya mereka tidak cerita apapun ke Lovi mengenai boneka berdarah yang ditemukan Andrean tadi, jadi Devan tak ingin membahasnya di depan Lovi. Lagi-lagi Ia takut Lovi terlalu cemas.


"Besok Daddy bekerja?"


"Iya, Daddy sudah sembuh."


"Mom, ambil nilaku kapan?"


"Besok, ya."


"Yeaaay, jam berapa, Mom?"


"Setelah mengurus Auris,"


"Auris diajak ke sekolahku?"


"Jangan, Auris di rumah saja, Lov." Ujar Devan. Lovi hanya sebentar pergi ke sekolah Andrean dan adiknya. Daripada Auristella di bawa lebih baik dia istirahat dan bermain di mansion dan lebih aman juga.


Usai makan malam, mereka semua pergi ke kamar untuk segera beristirahat karena besok harus kembali berkegiatan.


Seperti biasa, sebelum tidur Auristella akan minum susu terlebih dahulu dan kedua kakaknya juga begitu.


"Adrian tidak mau susu,"


"Harus minum! Tadi pagi tidak minum," lugas Lovi yang mulai geram dengan anaknya. Rasa susu sudah diganti sesuai keinginan dia, tapi masih saja enggan minum susu.


"Tidak mau yang cokelat,"


"Kamu sendiri yang minta cokelat. Sekarang berubah lagi?"


"Aku mau coba susu yang punya Auris," ujar Adrian seraya menunjuk kotak susu yang biasa Auristella minum kalau milik Lovi tidak ada atau sangat sedikit.


"Tidak bisa, Adrian. Itu untuk usianya Auris,"


"Air susumu sedikit lagi, Lov?"


"Sekarang tidak,"


Lovi berbaring dan segera meraih Auristella agar disusuinya. Karena Auristella sudah mengantuk.


"Makanya jangan stress,"


"Mom, Adrian mau susu punya Auris," rengek Adrian.


Lovi menggeram dan menoleh ke belakang dimana kedua anak dan suaminya berada. Posisi Lovi memunggungi ketiganya karena harus menyusui Auristella.


"Berikan saja, Lov. Rasanya pasti berbeda dan Ia belum tentu suka,"


"Daddy yang buatkan," katanya pada Devan. Devan mengangguk dan segera berjalan ke meja di sudut kamar yang menyimpan segala keperluan anaknya terutama untuk malam hari salah satunya susu, air panas, dan lain-lain.


"Kamu aneh, masa minum susu Auris. Dia 'kan masih bayi. Kamu sudah besar seharusnya---"


"Sssst berisik!"


Andrean yang sudah berbaring, sengaja menggunakan sebelah kakinya untuk menendang pelan kaki Adrian yang tengah duduk. Diperlakukan seperi itu, Adrian mengadu.


"Jangan berisik ya. Auris sudah mau tidur, mohon pengertiannya," Lovi membuat pengumuman agar mereka berdua tidak berdebat.


Devan terkekeh dalam hati seraya membuatkan mereka susu. Ada saatnya Andrean dulu yang memulai.


Setelah selesai membuat dua botol susu, Devan segera kembali ke ranjang untuk memberikan kedua anaknya masing-masing botol.


"Andrean tidak mau pakai botol lagi, Dad sekarang,"


"Oh iya, aku lupa memberi tahumu, Devan. Dia tidak pakai botol sekarang,"


Devan mengambil gelas anaknya di meja dan menuangkan susu ke dalam gelas.


Sementara Adrian sudah mencoba susu milik adiknya seraya berbaring di sebelah Auristella yang sudah kenyang dan tidak mau lagi menyesap air susu Mommy nya.


Auristella mulai mengganggu ketenangan kakak keduanya. Ia menarik-narik rambut Adrian yang awalnya pelan, lama-lama kencang. Tapi Adrian masih diam. Ia terlalu menikmati rasa susu yang baru dicobanya. Andrean meneguk sedikit susu dalam gelas lalu Ia berbaring mengikuti Devan.


Auristella tiba-tiba memeluk Adrian tapi tak lama Ia juga menendang kaki Adrian.


Lovi yang menyadari kejahilan putrinya segera memukul pelan kaki Auristella.


"Tidak boleh begitu. Cepat tidur!" Titahnya. Auristella memejamkan mata tapi tiga detik kemudian membukanya lagi. Ia mengerjai Lovi dan Mommy nya itu hanya bisa menggeleng.


Auristella sekarang memegang botol susu Adrian, Ia ingin merampasnya.


"Astaga, Auris. Kamu ini cari masalah saja,"


"Kenapa, sih?" tanya Devan.


Devan yang tadinya sudah memejamkan mata kembali membukanya karena Lovi yang sibuk bicara dengan anaknya.


"Dia marah karena kamu minum susunya. Lagian sudah punya susu sendiri, malah minum yang punya Auristella,"


Auristella menatap Andrean yang baru saja menyampaikan pendapatnya tentang kenapa Auristella mengganggu Adrian.


Auristella tiba-tiba mengangguk pada Andrean. Ia seperti membenarkan apa yang dikatakan Andrean.


Sementara Adrian tetap nyaman dengan kegiatannya. Entah memang dia sudah mengantuk jadi diam saja saat diganggu Auristella, atau memang dia tidak mau melawan karena susu yang sedang ia minum adalah milik Auristella jadi dia tidak mau macam-macam.


"Benar kataku. Kamu sih cari masalah dengan Auris. Kamu 'kan suka pelit dengan Auris terutama masalah mainan, sekarang Auris yang mau pelit. Bukan begitu, Auris?" Dengan tenang Andrean bertanya pada adik perempuannya. Andrean sengaja mengangkat kepalanya untuk menatap Auristella karena dirinya dan Auristella dipisahkan oleh Lovi.


"Sudah-sudah, Daddy mau tidur. Besok bekerja. Jangan berisik," Lovi memberi tahu ketiga anaknya dan Ia segera mengambil langkah paling tepat. Memisahkan Auristella dari kakak keduanya. Ia meletakkan Auristella di dekat Andrean.


"HUWAAAAA!" Auristella tidak mau dipindahkan. Ia mengulurkan tangannya ke arah Adrian yang tak mengacuhkannya. Malah anak itu sengaja berbalik badan.


"Auris jangan begitu. Kasihan Daddy sudah mau tidur,"


Devan sudah memejamkan matanya tapi Lovi tahu Ia belum bisa tidur karena anak-anak mereka.


"AAAA MOM,"


"Iya, Sayang. Ini Mommy. Sudah, jangan teriak-teriak nanti ada penjahat datang,"


Lovi meletakkan telunjuknya di bibir menyuruh Auristella diam. Dan putrinya itu menggeleng tegas.


"Dia tidak takut penjahat, Mom. Ancam dengan yang lain. Kecoak misalnya, atau kita bawa saja robotnya Adrian ke sini tapi yang warna merah, jangan hulk karena ternyata dia menyukai hulk," Andrean memberikan saran yang membuat Lovi mau tertawa.

__ADS_1


Auristella masih merengek ingin dekat dengan Adrian. Lovi yang melihat itu menggeleng lelah. Akhirnya Ia menggendong Auristella lalu menimangnya agar Ia tertidur.


"Habiskan susunya, Sayang." Kata Lovi pada anaknya yang sulung. Andrean duduk untuk meraih gelas berisi susu yang tadi Ia letakkan di nakas sebelah Devan. Susunya memang belum habis.


Setelah Ia meneguk seluruh isinya, Andrean bangkit untuk meletakkan gelas. "Mommy saja yang letakkan. Kamu tidur sekarang,"


Lovi meraih gelas dari tangan Andrean lalu diletakkannya di meja tempat membuat susu tadi.


"Andrean mau cuci dulu gelasnya,"


"Besok Mommy yang cuci,"


Andrean mengangguk dan segera berbaring seraya memeluk leher Devan yang napasnya sudah teratur.


Auristella belum juga menutup matanya. Tapi Ia sudah tidak merengek lagi. Lovi membenarkan letak kepala Auristella agar kembali berbaring di bahunya. Lalu Ia berjalan mendekati Adrian. Anaknya itu sudah tidur dengan tangan yang masih memegang botol kosong. Lovi segera melepaskan botol tersebut dari tangan Adrian.


"Sudah besar masih saja pakai botol," gumam Lovi yang heran dengan putra keduanya itu.


Beruntungnya kalau mau tidur saja Adrian minum susu pakai botol. Kalau pagi-pagi, Ia memakai gelas.


***


Setelah satu hari tidak datang ke kantor, Devan sudah merindukan suasana di sana.


Devan tidak langsung ke ruangannya. Karena Ia sudah ditunggu di sebuah ruangan yang menyimpan rekaman cctv dua hari yang lalu. Sebelum memulai pekerjaan, Devan akan menyelesaikan permasalahan yang telah terjadi.


Devan langsung menonton pada menit dimana Bandy terlihat memasukkan sesuatu ke dalam kopi untuknya.


Setelah melihat semuanya secara langsung, Ia segera beranjak ke ruangannya dan memanggil Bandy, orang yang telah meracuninya.


Sayangnya, hari ini Bandy tidak hadir dengan alasan harus menemani Ibunya yang sakit. Devan tidak serta merta percaya dengan alasan itu. Ia yakin Bandy tengah menghindarinya. Karena kemarin setelah melakukan tindak kejahatan terhadapnya, Devan mendapat kabar bahwa Bandy selalu hadir untuk bekerja seperti biasanya.


Seraya menunggu kabar dari orang suruhannya yang sedang mencari tahu mengenai alasan ketidak hadiran Bandy yang sesungguhnya, Devan memutuskan untuk mulai berkutat dengan pekerjaan yang tetap saja banyak padahal sudah dibantu oleh Dashinta dan Ferro.


Tok


Tok


Tok


"Boss..."


"Masuk!" Seru Devan dari dalam.


Setelah Dashinta masuk, Ia mencibir,


"Pakai ketuk segala. Biasanya juga langsung masuk."


"Lagi mau sopan, Boss. Tidak bar-bar dulu sebelum ada keputusan apakah saya dipecat atau tidak," gumam Dashinta. Gadis itu menyerahkan setumpuk dokumen.


"Saya sudah menyerahkan semua pekerjaan pada kamu kemarin. Sekarang kenapa masih banyak juga? Saya ini kan baru sembuh, dan langsung dijejali dengan banyaknya pekerjaan seperti ini?"


"Yang kemarin sudah selesai semua, Boss."


"Jadi ini semua pekerjaan untuk hari ini?"


"Iya, yang kemarin sudah selesai. Saya sudah katakan tadi,"


"Ini yang belum dipelajari, dan tanda tangan kalau setuju," lanjut Dashinta.


"Iya, Saya tahu."


Devan hanya mengangguk dan mulai fokus dengan lembar demi lembar dokumen yang ada di depannya.


***


Auristella sedang bermain di bawah ranjang bersama susternya, Nay. Sementara Lovi mematut dirinya di depan cermin sebelum berangkat ke sekolah kedua anaknya.


"Auris, nanti jangan nakal bersama Suster dan Grandma sena ya. Mommy tinggal sebentar,"


Lovi menolehkan kepala pada anaknya yang duduk di atas permadani halus.


"Auris, dengar Mommy tidak?"


Nay menjawil pipi Auristella. Anak itu serius sekali dengan mainan-mainan ala koki.


"Nona kecil ditanya Mommy," kata Nay memberi tahu Auristella.


Auristella mengangguk tapi tidak mengalihkan perhatian sama sekali. Ia sedang memperhatikan satu persatu alat masak tiruan miliknya yang ukurannya kecil-kecil itu.


Senata mencari-cari cucunya yang biasa bermain di playground tapi kali ini tidak ada. Ia baru saja selesai menyiapkan buah untuk Lovi bawa agar bisa Lovi nikmati selama di perjalanan.


Ketika ingin bertanya pada Lovi mengenai keberadaan cucunya, ternyata Auristella sedang berada di kamar bersama Lovi dan Nay.


"Grandma cari-cari. Grandma kira bermain di playground,"


Nenek tiga cucu itu menghampiri Auristella dan duduk bersama. "Dia mengikuti aku ke kamar, Ma."


Usai memoles lipstik yang tipis di bibirnya, Lovi bangkit dari kursi dan berdiri sejenak di depan cermin untuk memastikan penampilannya. Datang ke sekolah anak harus dengan penampilan yang layak, jangan seperti di mansion yang hanya memakai long dress untuk bersantai, tidak ada polesan make up sedikitpun sehingga wajah benar-benar polos, kantung mata terlihat dan bibir juga pucat.


"Aku berangkat, Ma."


Lovi mengecup pipi kanan dan kiri Senata juga anaknya. Ia menoleh ke belakang saat berhasil keluar dari kamar, Auristella tidak menyadari kepergiannya dan Ia bersyukur.


***


"Mungkin ada sesuatu yang sedang mereka pikirkan, Nona."


"Tapi di rumah, semuanya berjalan seperti biasa,"


Acha mengatakan kemungkinan yang menyebabkan nilai Andrean dan Adrian menurun cukup signifikan. Andrean yang biasanya pantang mengalami penurunan nilai, kini malah mengikuti jejak adiknya yang memang beberapa kali mengalami naik dan turun dalam hal nilai.


"Prestasi selalu ada turun naiknya, Ms. Tidak apa, saya tetap bangga dengan mereka,"


"Iya, itu harus. Bila nilai anak turun, sebagai orangtua memang tidak boleh kecewa yang berlebihan apalagi bila sampai marah. Semangat belajar mereka akan semakin turun,"


Lovi mengangguk setuju. Apa yang dikatakan Acha sangat serasi dengan apa yang Ia lakukan selama ini. Hidup saja berputar terkadang di atas tak jarang pula di bawah. Itu semua harus disyukuri dan jangan pantang menyerah. Apalagi anak-anaknya jarang sekali mengalami hal seperti ini terutama Andrean. Jadi tidak seharusnya Lovi bersedih. Sudah sepatutnya Ia mencari penyebab nilai mereka turun, lalu Ia perbaiki. Mungkin karena semangat yang kurang, maka Ia harus lebih mendorong kedua anaknya. Atau materi terlalu sulit untuk mereka, maka Ia harus lebih fokus lagi membantu mereka belajar sekalipun ada tutor yang sudah mengajarkan mereka dengan baik di sela waktu luang saat di mansion.


"Terima kasih, Ms atas bimbingannya,"


"Iya, semangat terus Nona. Selalu dukung anak-anak dan yakin bahwa mereka bisa membuat Mommy dan Daddy nya bangga,"


***


Devan tampak diam merenung setelah orang suruhannya memberi kabar bahwa Bandy memang benar-benar sedang menemani Ibunya di rumah sakit karena penyakitnya semakin parah.


Sekejam apapun Devan dulu hingga sekarang, bila berkaitan dengan kesulitan hidup, pada akhirnya Devan akan terenyuh. Bandy salah, tapi entah mengapa ada sisi lain dalam dirinya yang tak menginginkan Ia menghentikan Bandy dari pekerjaannya.


Karena Ia pernah merasakan hal yang sama dimana segala cara akan ia lakukan demi membahagiakan Vanilla dan Rena saat Raihan menelantarkan mereka. Menjadi pencuci piring pun Ia lakoni dengan sungguh-sungguh agar adik dan Mamanya bisa bahagia dan tidak perlu terlalu lelah untuk mencari uang.

__ADS_1


Devan berdiri dari kursinya lalu keluar dengan terburu-buru. Ia mendatangi meja Dashinta yang sedang fokus dengan laptop di depannya.


"Rapat dimulai berapa lama lagi, Dashinta?"


"Astaga, Boss buat saya kaget saja,"


"Jawab pertanyaanku!"


"Masih empat puluh menit lagi, Boss. Ada apa memangnya?"


"Aku pergi sebentar,"


"Boss, ada keperluan apa? nanti kalau Boss datang terlambat bagaimana?"


"Tidak akan, aku bisa pastikan itu."


Tanpa menjelaskan lebih detail mengenai tujuannya, Devan beranjak ke rumah sakit dimana Ibunya Bandy dirawat. Ia menyempatkan waktu yang ada sebelum rapat dimulai untuk menjenguk Ibu dari orang yang telah membuatnya sakit kemarin.


***


"Fokus belajarnya. Jangan lirik-lirik hulk dulu ya,"


Adrian tersenyum menampilkan gigi putih kecilnya saat ditegur oleh tutor yang datang ke mansion siang ini untuk mengajarkan Andrean dan Adrian. Sebenarnya ini sudah rutin dilakukan, dan setelah mengalami penurunan nilai, Lovi langsung meminta hari tambahan agar tutor tidak hanya datang tiga kali saja dalam seminggu.


"Sepertinya hulk yang membuat nilaimu terjun ya?"


"Tidak, Uncle. Memang pada dasarnya otak aku sedang beku, makanya nilai banyak yang turun,"


Lelaki yang menjadi tutor kakak beradik itu terkekeh. Adrian memang paling pintar berkilah.


Saat ini yang sedang mendapat bimbingan adalah Adrian sementara Andrean sudah lebih dulu selesai. Mereka belajar di sebuah ruangan besar yang ada di mansion yang biasanya mereka sebut aula.


Auristella digendong oleh Nay, perawatnya menuju ruang bermain, dan mereka melewati ruang aula. Auristella menunjuk ruangan aula saat melihat kakaknya memunggungi pintu dan serius belajar.


Nay diam di depan pintu aula mengikuti kemauan Auristella. Auristella memunculkan kepalanya di sela pintu yang terbuka. Sengaja Nay tidak membawanya masuk takut mengganggu kakak kedua Auristella. Anak perempuan Devan itu berteriak asal dengan tujuan memanggil kakaknya. Saat Adrian menoleh, Ia segera menyembunyikan kepalanya dibalik pintu.


"Apa sih, Auris? tidak jelas!" cibir Adrian. Adrian diganggu sedikit pasti fokusnya langsung teralihkan.


"Sudah, kerjakan soal yang Uncle berikan. Jangan pedulikan yang lain dulu. Itu adikmu mengajak bermain tapi kamu selesaikan dulu soalnya, baru setelah itu boleh bermain,"


Nay akhirnya menutup pintu aula agar Auristella tak mengganggu kakaknya lagi. Mereka melanjutkan langkah menuju playground. Auristella masih tertawa terpingakl-pingkal usai membuat kakaknya kesal.


"Nona kecil jahil ya,"


Nay pun tak pelak terkekeh. Ia panik saat Auristella berteriak tadi. Beruntungnya Adrian tidak marah karena merasa terganggu. Ia menyesal menuruti keinginan Auristella untuk mencuri pandang ke dalam ruang aula tadi.


"Auris, Mommy datang."


Belum masuk ke dalam ruang bermain atau playground, ada suara Lovi yang memanggil Auristella. Nay dan anak dalam gendongannya menoleh.


Lovi merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Auristella. Tapi reaksi Auristella membuatnya terkejut. Auristella mengalihkan wajahnya ke samping dan menghindar tak ingin dipeluk.


"Kenapa tidak mau Mommy peluk?"


Auristella tidak menjawab dan malah menunjuk ruang bermain. Lovi mengerinyit tidak mengerti dengan sikap anaknya.


"Oh sepertinya kamu marah karena Mommy tinggal ya? Maaf, Sayang. Tadi setelah dari sekolah kedua kakakmu, Mommy singgah sebentar di butik,"


"Sekarang peluk Mommy. 'Kan Mommy sudah minta maaf,"


Auristella masih menolak. "Nona belum bersih-bersih setelah pergi. Mungkin itu yang membuat Nona kecil--"


"Oh iya, kamu benar. Astaga, aku lupa."


"Ya sudah, Mommy bersih-bersih dulu kalau begitu. Biar dapat ciuman dari anaknya yang cantik,"


***


Bandy sedang menunduk di depan ruang perawatan intensif dimana Ibunya mendapat perawatan khusus.


Ia menunduk dalam, dengan perasaan menyesal yang belum hilang. Ia telah mengecewakan Ibunya. Wanita yang melahirkannya itu tahu bahwa uang yang Ia peroleh untuk perawatannya berasal dari pekerjaan yang merugikan orang lain.


Ibunya sangat kecewa namun tak bisa marah karena setelah Bandy menyelesaikan semua biaya administrasi, kondisinya malah semakin melemah. Bandy kira Ia bisa membantu Ibunya untuk sembuh dengan uang yang didapatnya dari kerja sama antara dirinya dan Arnold. Nyatanya sang Ibu malah berakhir tidak sadarkan diri di rumah sakit entah sampai kapan.


Devan baru saja mendaratkan kuda besinya di rumah sakit. Ia berjalan menyusuri koridor dengan langkah cepat.


Setelah bertanya pada perawat mengenai keberadaan ruangan yang tadi disebutnya, Devan segera berjalan menuju ruangan itu.


Di depan pintu ruangan Ia melihat office boy nya duduk menyendiri dengan posisi kepala menunduk. Dari jauh saja Devan sudah bisa menilai apa yang dirasakan pegawainya saat ini. Bandy sangat terpukul.


Devan menghampirinya. Sepatu mahal yang mendarat di hadapannya, membuat Bandy mengangkat kepalanya. Ia tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya setelah melihat Devan ada di hadapannya saat ini dengan wajah datar dan sorot dingin.


"Tuan datang pasti karena ingin menghukum saya. Tidak apa, Tuan. Saya terima. Maafkan saya. Saya sangat bersalah pada Tuan," ujarnya dengan sangat pelan dan suara yang bergetar.


Devan duduk di sampingnya dengan tenang. Ia sedang berusaha mengendalikan dirinya. Jujur Ia emosi bertemu langsung dengan orang yang tega berbuat jahat padanya. Tapi Ia tak ingin egois. Bandy melakukan itu karena butuh uang dan ketika ada peluang yang besar, tanpa pikir panjang Ia mengambilnya. Niatnya mulia, ingin membantu biaya pengobatan Ibunya. Tapi caranya yang salah.


"Tuan, bisakah saya memohon? kalau boleh, jangan bawa saya ke kantor polisi terlebih dahulu sebelum kondisi Ibu saya membaik. Saya ingin selalu berada di sampingnya disaat-saat seperti ini,"


"Sejak kapan Ibumu sakit?"


Devan mengalihkan pembicaraan. Bandy menoleh sekilas. Ia bingung dengan reaksi Devan setelah Ia memohon. Bukannya menjawab, Devan malah membicarakan hal lain. Apakah ini tandanya Devan tidak ingin mengabulkan permohonannya?


"Sudah dari lama, Tuan. Tapi semakin parah beberapa bulan terakhir,"


Devan mengangguk pelan. Penyakitnya sudah lama bersemayam di dalam tubuh, dan tak bisa dibayangkan sesedih apa Bandy menerima kenyataan itu. Di kantor, pekerjaan Bandy tidak pernah mengecewakan. Bahkan Devan sudah percaya sekali padanya. Setiap Devan ingin minum ini dan itu, dialah yang akan menyiapkannya. Dan setiap Devan tak sempat keluar makan siang, Bandy juga yang bertugas membeli makan siang untuk Devan. Bandy adalah laki-laki yang disiplin selain tekun dan rajin. Devan tidak pernah mendapat laporan buruk mengenai Bandy. Sehingga Ia cukup terkejut saat tahu bahwa dialah yang meracuni dirinya. Tetapi ternyata ada faktor yang melatar belakangi kesalahannya itu.


Devan mengeluarkan sebuah cek dari sakunya yang dari kantor sudah Ia siapkan. Ia tidak bisa berlama-lama di sini karena waktu terus berjalan dan rapat akan segera dimulai sebentar lagi.


Lelaki beranak tiga itu bangkit dari posisi duduknya lalu menyerahkan selembar kertas bernilai itu kepada Bandy.


Bandy yang menerimanya dibuat bingung. Ia belum membaca isinya karena pasti kalimat yang tertulis di kertas tersebut menyatakan bahwa Ia bukan lagi bagian dari kantor Devan.


"Itu cek yang nilainya tidak seberapa. Semoga bisa membantu. Dan aku berharap Tuhan segera mengangkat penyakit Ibumu,"


Bandy terdiam beberapa saat dengan mata berkaca. Ia membaca isi kertas, dan benar di sana tertulis beberapa digit angka.


"Terima kasih, hanya Tuhan yang bisa membalas kebaikanmu,"


Devan menepuk bahu Bandy sekilas seraya mengangguk. Hatinya juga tersentuh melihat harunya Bandy mendapatkan sedikit uang darinya.


Bandy menunduk berusaha menahan tangisnya. Ia menyesal telah jahat pada orang yang begitu baik hatinya. Membantu tanpa menuntut Ia harus melakukan ini dan itu.


"Kalau kau butuh sesuatu, cukup katakan saja padaku. Selagi aku bisa membantu, pasti akan aku bantu. Jangan menjadi orang jahat hanya karena uang. Aku tahu kau orang baik,"


------


 


KUYY MAMPIR DI LAPAK VANILLA👇

__ADS_1



__ADS_2