My Cruel Husband

My Cruel Husband
Sebelum berakhir (3)


__ADS_3

Vanilla tahu kakaknya sedang hancur. Ia yakin ada sesuatu yang memicu Devan kembali melakukan itu.


Ia menyesal karena membiarkan Devan sendirian di dapur. Ia pikir Devan akan semakin membaik setelah Ia memberi kesempatan pada Devan dan Lovi untuk saling berinteraksi, baik mulut maupun tubuh mereka.


Tapi yang didapatinya saat ini benar-benar membuat Vanilla merasa hancur. Apa yang mereka lakukan sampai Devan terlihat sangat menyedihkan seperti ini?


Vanilla mendorong kasar tubuh kokoh Devan agar duduk di kursi ruang makan. Vanilla harap keponakannya tidak ada yang menyaksikan darah ini. Vanilla bersyukur karena mereka sedang berada di dalam kamar bersama Lovi. Oleh sebab itu Vanilla akan bergerak cepat mengobati kakaknya.


Vanilla menghancurkan apapun yang menghalangi kegiatannya mencari obat luka untuk Devan. Ia tidak mungkin membawa Devan ke rumah sakit dengan keadaan tangan terluka parah tanpa ada yang membaluti.


"Vanilla, biarkan aku seperti ini,"


Vanilla menggeleng dengan tangis. Ia masih sibuk mencari apapun yang bisa menghentikan darah Devan. Ia berusaha tidak mendengarkan Devan yang sejak tadi meracau.


"Devan, kamu memang bodoh! tidak seharusnya kamu melukai dirimu lagi,"


Kedua kakak beradik itu belum menyadari langkah kaki seorang perempuan yang tak lain adalah Lovi mulai memasuki ruang makan.


"Vanilla..." Suara Lovi terhenti.

__ADS_1


Lovi yang awalnya bingung melihat kesibukan Vanilla membongkar lemari kecil di dekat dispenser pun langsung membulatkan matanya.


"Devan..." tangan Lovi menutup mulutnya tidak menyangka. Ini gila! Apa yang dilihatnya sungguh membuat Ia hampir pingsan. Darah Devan mengalir namun wajah lelaki itu tetap datar.


"DIAM KAMU! PERGI KAMU DARI SINI! TINGGALKAN DEVAN!"


Lovi seperti orang bodoh sekarang. Ia mendekati Devan namun suara dingin lelaki itu menghentikannya. Ia ingin mengobati Devan, Ia ingin menampilkan sisi kemanusiaannya sekarang tapi kalimat yang keluar dari bibir Devan terdengar menusuk telinganya.


"Jangan lakukan apapun untukku. Aku akan memenuhi semua keinginanmu. Aku akan pergi dari hidupmu.... selamanya,"


"DEVAN! AKU--AKU TIDAK--"


Lovi hanya ingin mengatakan kalau Ia tak menginginkan Devan pergi dari hidupnya untuk selamanya. Itu terdengar menyakitkan. Biar bagaimanapun hati Lovi yang saat ini mengeras, masih menyimpan perasaan cinta yang luar biasa untuk sang suami.


Vanilla membalut luka itu dengan tangis yang tak kunjung mereda. Berbeda dengan Devan yang tampaknya sudah mati rasa. Seharusnya Ia meringis, paling tidak protes pada Vanilla yang terkadang menekan lukanya terlalu dalam. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Lelaki dengan penyakit skizofrenianya itu benar-benar terlihat seperti orang kehilangan segala syaraf dalam tubuhnya.


"Mommy, Adrian..."


Adrian menatap bingung pada ketiga orang dewasa di hadapannya saat ini. Ia melihat Vanilla yang sibuk melakukan sesuatu pada tangan sang ayah.

__ADS_1


Lovi menarik tangan Adrian yang ingin berjalan mendekati Devan. Anak itu terlihat khawatir walaupun Ia tidak mengerti dengan sesuatu yang menyebabkan tangan ayahnya dibalut seperti itu.


Devan semakin terluka begitu melihat sikap Lovi yang begitu tegas melarang Adrian untuk menghampirinya. Apakah Devan terlalu berbahaya di mata lovi? Padahal, suara anak kecil itu membuat Devan sedikit tersenyum. Apalagi kalau Adrian memeluknya, pasti Devan kembali mendapat kekuatannya.


"Daddy, ada apa denganmu?"


Adrian masih berdiri di samping Lovi. Keningnya mengerinyit dalam. Ia tidak melihat darah di sana karena beruntungnya Vanilla telah berhasil menghentikan alirannya.


"Kami akan pulang, Adrian."


"Hm? Kenapa, Aunty? Cepat sekali pulangnya,"


"Untuk apa Daddymu tetap berada di sini? Tidak ada yang menginginkannya. Sudah seharusnya dia pergi, kalau perlu tak usah kembali lagi,"


"Vanilla, kamu menyakitinya."


Vanilla selesai dengan kegiatannya. Ia menatap Devan dengan datar.


"Aku tidak peduli, Devan. Aku akan menyakiti semua orang yang membuatmu terluka,"

__ADS_1


Lovi menunduk, merasa kalau Vanilla telah menyinggungnya.


__ADS_2