
Lovi berjalan cepat ke arah jendela yang berada di kamar anak-anaknya. Di sana Ia melihat mobil Devan yang baru keluar dari mansion. Gerbang pun ditutup oleh bagian keamanan, dan Lovi bisa menghela napas lega.
Ia kembali mendekati Andrean dan Adrian. Mereka tampak begitu cemas dalam tidurnya. Bibir mungil keduanya tampak meringis seolah menahan kesakitan.
Awalnya Lovi diam. Ia kira, Andrean dan adiknya hanya sedang bermimpi. Namun ketika melihat keringat mulai mengaliri dahi mereka, Lovi tidak bisa lagi menahan rasa khawatirnya.
Perempuan itu langsung berusaha untuk membangunkan anak-anaknya.
"Andrean, bangun sayang! apa yang kamu rasakan?"
si sulung itu terlihat lebih parah kondisinya dibandingkan dengan sang adik.
"SERRY! SERRY CEPAT KEMARI!" teriakan yang memekakkan telinga berhasil membuat beberapa pelayan menghampiri sumber suara.
"Dimana Serry?" tanya Lovi ketika tidak melihat keberadaan Serry diantara pelayan-pelayan tersebut.
"Saya di sini, Nona." suara Serry menghampiri mereka. Wanita itu tampak tersengal ketika memasuki kamar tersebut.
"Bantu aku untuk membawa mereka ke rumah sakit,"
Lovi sudah menangis. Dan membawa Andrean dalam gendongannya. Ia terlampau panik sampai membentak Serry.
"Cepat bawa Adrian!"
"Ba--baik, Nona."
Netta yang tahu akan tugasnya pun langsung bergegas ke lemari. Ia akan mempersiapkan beberapa pakaian kedua anak itu yang mungkin diperlukan.
"Tidak perlu melakukan itu, Netta. Aku tidak ingin mereka menginap di rumah sakit. Kami hanya sebentar,"
Ucapan tegas Lovi mampu membuat Netta mengangguk patuh. Ia kembali memasukkan dua helai pakaian milik Andrean dan juga adiknya ke dalam lemari.
"Aku akan menghubungi Tuan, Nona."
Lovi langsung menggeleng ditengah rasa paniknya yang tak kunjung berhasil memasang alat untuk menggendong Andrean.
"Tidak perlu. Biarkan dia tau sendiri,"
__ADS_1
Setelah berhasil menggendong putra sulungnya dengan baik, Lovi langsung menuruni lantai atas mansion diikuti Serry di belakangnya. Pelayan yang kini merangkap sebagai baby sitter itu pun sama khawatirnya. Bila Andrean dan Adrian sakit, mereka tidak sampai membuat seluruh isi mansion panik seperti ini.
Di dalam mobil Lovi terus berdoa pada Tuhan. Terdengar gemelutuk gigi yang beradu dari mulut keduanya. Keringat dingin pun selalu membanjiri dahi mereka.
*********
"Apa aku baru saja bermimpi?" seru Deni dengan riuhnya saat melihat kehadiran Devan. Wajahnya berseri begitu melihat Devan yang berjalan mendekatinya dengan raut datar.
Ketika sampai di sampingnya, Devan langsung duduk.
"Hei, itu tempatku!"
Devan tersenyum miring ketika salah satu temannya berlagak mengusir.
"Kau berani mengusir pemilik kelab ini?" tanya Devan dengan pandangan menantang yang membuat siapa saja merinding.
Dirta tertawa ketika ucapannya dianggap serius oleh Devan. Ia hanya mencairkan suasana.
Dirta menepuk bahu Devan.
"Serius sekali kau ini. Aku hanya bergurau,"
"Berubah pikiran? katanya tidak mau hadir. Apakah sesi percintaan panas kau dengan Lovi sudah selesai?" tanya Deni yang terdengar menyindir Devan. Beberapa waktu yang lalu Devan menolak undangannya tanpa basa-basi. Dan sekarang, kenapa Ia melihat batang hidung Devan?
"Secepat itu berubah pikiran?"
Seolah belum puas menyudutkan lelaki dua anak itu, Deni kembali bertanya.
"Sial*n kau! bisa tidak mengungkit hal itu? aku muak mendengarnya,"
Ucapan Devan mau tak mau membuat semua teman-temannya tertawa. Sepertinya lelaki itu memang benar-benar tertutup dalam hal ini. Baiklah, mereka tidak akan memaksa Devan untuk mengungkapkan alasan kehadirannya yang tiba-tiba seperti saat ini.
"Aku rasa kedatanganmu dilatar belakangi oleh rasa tidak puas atas pelayanan Lovi,"
Deni kembali menggoda Lelaki yang wajahnya sedang kusut itu. Deni mengedipkan matanya setelah menggambarkan sesuatu yang diucapkannya.
Ketika menyebut nama Istri Devan, Deni sengaja membuat mimik wajahnya seabstrak mungkin. Tujuannya agar Devan marah.
__ADS_1
"Jangan menyebut istriku dengan pandangan menjijikan begitu, Bajing*n!"
Benar saja, Devan memang selalu emosi bila Istrinya dijadikan bahan imajinasi atau candaan.
Tawa kembali memenuhi hingar bingar pesta tersebut. Seluruh pasang mata beralih fokus pada sekumpulan lelaki tampan dan tajir itu. Selain Deni, Devan, dan Dirta, masih banyak lagi sosok lelaki yang berhasil mencuri perhatian para gadis-gadis liar yang sedang berdansa mengikuti sentakan musik.
"Lihatlah mata mereka, Devan. Tidak ingin mencoba salah satunya?"
Deni mencoba memberikan penawaran. Ia yakin tanpa persetujuan dari semua gadis itu pun, mereka pasti mau bila harus menghabiskan satu malam dengan Devan.
Sekarang, Deni akan mengetahui seberapa besar rasa cinta Devan pada Lovi.
"Kau bekerja sama dengan mereka?"
tebakan Devan membuat Deni tertawa. Tidak ada kerja sama sebenarnya. Kalaupun Devan menginginkan mereka, tidak ada sedikitpun nominal yang akan diambilnya.
Deni menginginkan bisnis halal, begitu katanya. Ketika mengatakan itu, mungkin dia melupakan segala perusahaan senjata api dan minuman anggur berkadar alkohol sangat tinggi yang telah dibangunnya.
"Kau berani menarik salah satu dari mereka?"
"WOW!! APA AKU TIDAK SALAH DENGAR?!"
"Ingatlah istrimu di rumah, Devan."
"Si kembar tidak menginginkan Daddynya seperti ini,"
Bujuk rayu yang dikeluarkan teman-temannya membuat Devan tersenyum. Kenapa mereka semua terlihat panik? memangnya kesalahan apa yang sebentar lagi akan Ia lakukan?
"Lovi tidak akan marah kalau aku hanya sedikit nakal," dengan senyum miring, matanya menatap ke depan seolah membayangkan apa yang baru saja Ia ucapkan. Lovi bukanlah perempuan yang terlalu mempermasalahkan hal kecil, bukan?
Hanya bersenang-senang sebentar malam ini tidak membuat Lovi menceraikannya. Devan yakin akan hal itu.
"Sedikit nakal dalam porsimu itu berbeda. Kau having sex dengan mereka adalah perbuatan yang benar-benar nakal, Devan!"
"Siapa yang mengatakan kalau aku akan Having sex dengan mereka, Bodoh?! Tenanglah, aku tidak akan bermain terlalu jauh!"
****************
__ADS_1
UWUWWW UP LAGEEEHH. Trmksh ats komentar kalian di ep sblmnya. Lumayan RAME akyuu syukaa. Hehehehe. Ep ini komen yg byk lg yaaa biar aku double up? eh? emg pd mau?