
"Ayo masuk! Aku sudah menunggu sedari tadi. Kenapa datangnya lama sekali?"
Adrian menyambut aunty dan uncle-nya dengan semangat. Melihat Vanilla membawa tiga paper bag, Adrian langsung menjulurkan tangannya pada Vanilla.
"Pasti untuk aku," benda itu sudah berada dalam genggamannya.
"Kalau bukan? sini kembalikan!"
Adrian menjauhkan paper bag dari Vanilla. Ia yakin sekali kalau itu buah tangan untuknya. Vanilla selalu seperti itu kalau datang menemuinya.
"Itu punya Andrean dan Auris,"
Adrian mengikuti Vanilla masuk ke dalam. Adrian berjalan bersamaan dengan Jhico.
"Tapi ini ada tiga,"
"Auris dua, Andrean satu,"
"NO! YANG SATU LAGI HARUS PUNYA AKU!"
Jhico gemas sekali dengan anak itu. Akhirnya Ia menggendong Adrian dengan posisi terlungkup layaknya pesawat.
"Itu punya kamu satu," bisik Jhico yang membuat Adrian bersorak. Jhico dan Adrian melewati Vanilla yang mendengus. Keponakan dan paman sama saja menyebalkannya.
"Aunty dan Uncle menginap ya?"
__ADS_1
Mereka sampai di ruang keluarga lalu duduk di sofa.
"Tidak, malas menginap di sini," sahut Vanilla yang membuat Adrian mencibir.
"Memang kenapa? dulu Aunty tinggal di sini,"
"Itu dulu. Sekarang sudah nyaman di rumah uncle," jawab Jhico dengan ringan.
"Ini sudah malam, Uncle. Lebih baik menginap, di jalan banyak penjahat,"
Vanilla meraup wajah lucu keponakannya. "Bisa saja merayunya,"
"Sudah makan belum?"
"Sudah, Uncle."
"Oh tentu saja..."
Vanilla membawa keponakannya yang sedang nyaman memeluk Jhico itu ke atas pangkuannya.
"Sudah berapa kali bertengkar?"
"Tidak terhitung, Aunty. Sampai Grandma Sena minum obat migrain,"
Mendengar cerita polos Andrean, tawa Vanilla dan Jhico meledak seketika. Vanilla mencium gemas pipi bulat Adrian.
__ADS_1
"Uncle sudah makan?" tanya Andrean seraya mendekati Jhico.
"Aunty tidak ditanya. Sedari tadi kalian hanya sibuk berbicara dengan Uncle," cibir Vanilla yang semakin kalah dalam mendapatkan perhatian keponakannya.
"Belum, temani Uncle makan. Mau? kita makan di luar saja,"
"Wah, benar?"
"Iya, kalau kalian mau."
"MAU!" seru Andrean dan adiknya bersamaan. Wajah Vanilla yang tadi gelap langsung terang. Sudah lama tidak makan di restoran sekitar mansion. Vanilla benar-benar merindukannya. Tapi kalimat yang didengar selanjutnya dari mulut Jhico malah membuatnya---Arghh.
"Aunty tidak perlu ikut. Andrean dan Adrian saja yang ikut dengan Uncle,"
*********
Auristella bangun lebih dulu seperti biasanya. Ia akan meminta dibuatkan susu oleh sang nenek. Yang dibangunkan oleh anak itu adalah Rena. Sudah hafal dengan kebiasaan cucu perempuannya itu, Rena langsung bangkit untuk membuatkan susu.
Apapun yang berhubungan dengan cucunya sebisa mungkin Ia lakukan sendiri. Hanya bila Ia dan Senata sedang sibuk saja, Auristella akan disuapi atau dibuatkan susu dan makanan oleh pelayan. Rena dan Senata sama-sama tidak ingin cucunya lebih merasakan kasih sayang dari orang lain daripada Neneknya sendiri.
Seraya menunggu Rena membuat susu, Auristella membalikkan tubuhnya kesana kemari sampai menubruk tubuh kakaknya. Andrean yang memang sulit untuk bangun tampak bergeming. Berbeda dengan Adrian yang langsung melenguh, merasa terganggu.
Auristella menepuk-nepuk wajah kedua kakaknya. Adrian berdecak kesal lalu menyingkirkan tangan adiknya sementara Andrean tetap lelap dalam tidur.
"Sstt, jangan ganggu kakakmu," Rena meletakkan telunjuknya di bibir, mengisyaratkan Auristella untuk diam. Apakah mereka harus bertengkar pagi buta seperti ini?
__ADS_1
Auristella kembali berbaring tenang. Rena datang dan menyerahkan botol susu kepada pemiliknya. Dengan lahap Auristella menikmati isinya. Auristella memang sangat menyukai susu. Dalam sehari Ia bisa menghabiskan lebih dari tiga botol susu. Makannya memang tidak terlalu banyak, tapi kalau susu Ia adalah juaranya.
----------