
"Daddy, nanti buat Kidz*nia juga ya? kalau perlu di depan rumah,"
Mungkin ini bisa menjadi peluang untuk Devan dalam melebarkan sayap kerja kerasnya dalam bidang properti. Membangun wahana bermain memang belum pernah Devan coba selama ini. Saran anaknya boleh juga dipertimbangkan. Tapi untuk berada di depan hunian real estate milik mereka sepertinya itu terlalu ekstrim. Bisa-bisa Adrian tidak pulang karena setiap saat menghabiskan waktu di sana.
Devan dan Lovi membawa kedua anaknya keluar dari hotel. Seperti biasa, Adrian yang paling semangat. Setelah diberi peringatan oleh kakeknya, Ia sempat menangis dalam diam. Kemudian Devan langsung membujuknya. Mengatakan bahwa Raihan melakukan itu agar Adrian tidak mengganggu kenyamanan mereka selama liburan. Kalau mereka mudah diatur, maka Devan dan Lovi akan benar-benar menikmati perjalanan berlibur mereka kali ini.
"Mom, fotokan Adrian di depan patung kuda itu ya!"
Tiba-tiba saja Ia berlari mendekati patung kuda yang posisinya hendak melompat sebagai bentuk sambutan dari pihak hotel.
Bermacam pose Ia peragakan di depan kamera. Mulai dari bertolak pinggang, tersenyum lebar, memasang raut datar, hingga mengangkat jari telunjuk dan jempolnya untuk diletakkan di bawah dagu.
Dengan gayanya yang tengil Ia terus berpose dan Lovi melakukan tugas yang diberikan anaknya dengan senang hati. Potret mereka akan bertambah lagi di galerinya.
"Seharusnya menggunakan kamera saja, Lov."
"Aku tinggal di kamar. Aku pikir ke bioskop tidak perlu membawa kamera,"
Adrian mendekati sang Mommy untuk melihat hasilnya. Ia memekik lalu memuji dirinya sendiri. Ia menatap Andrean dengan pongah seraya menepuk dadanya. Entah apa yang melatar belakangi kelakuannya itu.
"Aku tampan, kamu jelek. Wleee." Lidahnya menjulur dengan wajah yang sangat menyebalkan menurut Andrean. Si sulung itu diam saja. Tidak perlu repot-repot membalas ejekannya. Karena menurutnya orang yang benar-benar tampan tidak akan memuji dirinya sendiri. Adrian yang sombong dan terlalu percaya diri!
"Aku lebih tampan," batinnya malah menimpali padahal tadi katanya tidak boleh memuji diri sendiri.
__ADS_1
Kakak dan Adik Sama saja. Yang berbeda hanya kadarnya. Kalau Adrian terlalu Overload sementara Andrean kebalikannya.
"Kita ke bioskop?"
Saat sudah di dalam mobil, anak bungsu itu kembali bertanya. Ia mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan ayahnya pada Fino.
"Iya,"
"Kenapa malah menuruti keinginan Andrean?! seharusnya kita main saja,"
Lovi memutar bola matanya. Mulai lagi. Baru beberapa jam diberi petuah oleh sang kakek, sekarang keras kepala lagi.
"Kamu sudah sering dituruti. Daddy sampai bosan," Devan menjawabnya dengan santai. Tak lama Ia merasa kalau lengannya dipiting dari belakang. Pelakunya tidak lain dan tidak bukan adalah anak bungsunya.
****
"Beli pop corn, Dad. Adrian mau makan itu di dalam nanti,"
"Tidak perlu kamu ajari, Daddy juga tahu." sahutnya yang mulai tidak bisa mengendalikan kekesalannya.
Bagaimana tidak kesal, kalau anak itu baru saja mempermalukannya. Setelah sampai di bioskop, Adrian dan Devan selalu berjalan berdampingan. Devan memang khusus menjaga singa kecil yang liar ini. Sementara Lovi menjaga anak sulungnya. Kalau Lovi yang memegang kendali atas Adrian, Devan yakin hanya beberapa menit setelah itu Lovi mati berdiri.
"Halah berlebihan!" sisi lain dalam dirinya meledek pikiran Devan yang terlalu paranoid. Padahal Lovi tidak selemah itu kelihatannya.
__ADS_1
Devan dipermalukan karena dibuat terjatuh ke lantai saat Adrian yang mengaku tidak sengaja menyela kakinya yang masih asik melangkah dengan mantapnya, khas Devan sekali. Rasa percaya diri, arogan, dan dingin selalu melekat dalam diri Devan dimanapun Ia berada. Namun kali ini Ia benar-benar malu! rasanya tidak punya harga diri lagi karena anak itu. Kalau mengarungi anak bukan tindakan yang berdosa, sudah dari dulu Ia lakukan.
"Daddy masih marah ya?" tanya berubah sedih. Anak ini pintar sekali dalam melakoni akting. Setelah membuat ayahnya malu, sekarang malah dia yang pura-pura tersakiti. Tidak tahukah dia kalau Devan benar-benar harus menebalkan mukanya ketika dipandang dengan sorot geli oleh banyak orang. Lelaki tampan dengan sejuta pesona itu terjatuh karena ulah sang anak. Terdengar menggelikan bukan?
Devan Tidak menjawab. Ia justru beralih pada stand makanan yang menyediakan camilan selama menyaksikan film nanti.
"Kamu tidak boleh seperti itu, Adrian. Harus berapa kali Mommy katakan kalau Daddy itu orangtuamu. Kamu tega melihatnya ditatap aneh seperti tadi oleh banyak orang?"
Beruntung tidak ada yang tertawa. Karena orang-orang disana bisa melihat dengan jelas kalau Devan bukanlah orang sembarangan yang bisa mereka ejek sesuka hati. Terlihat dari kharisma dan juga penampilannya yang sangat menunjukkan jati diri Devan sebagai lelaki dewasa yang membuat siapapun merasa segan.
"Iya, Adrian. Daddymu sangat baik, tapi kenapa kamu membuatnya malu?"
Fino membenarkan kalimat Lovi. Ia melihat satu persatu kejadian. Ini belum seberapa. Fino hanya melihat satu kejadian ini. Dia tidak tahu drama yang tadi siang dimainkan oleh anak tengil itu.
Adrian bersedekap dada. Ia membuang wajahnya acuh. Memilih diam dan membiarkan saja Lovi menatap serius wajahnya.
Kadang Lovi bingung dengan sikap dan sifat anak ini. Sebenarnya diturunkan dari siapa? Sepertinya baik Devan maupun Lovi tidak terlalu abstrak seperti ini kelakuan masa kecilnya. Atau Lovi yang kurang tahu mengenai suaminya? sepertinya Ia harus bertanya pada Rena. Bila benar Adrian ini mewarisi segala sesuatunya dari Devan, maka lelaki itu patut disalahkan! Karena dia, Lovi jadi harus ekstra sabar, terus-terusan mengelus dada.
------
MALEMM, GUT NAIT EPRIWAN. INI 800 WORD LEBIH. JGN PELIT VOMMENT PLISS :(
TERIMA KASIH UNTK SEMUA YG UDH DUKUNG AKU. KISS KISS DR ADRIAN😘💙
__ADS_1