
"Kamu harus jauhi dia, My Lov." ucap Devan dengan tegas. Mata tajamnya mengisyaratkan agar Lovi benar-benar mematuhi apa yang dia katakan.
"Kenapa memangnya? dia baik, Sayang."
"Jauhi dia, Lov. Tidak usah bertanya kenapa, bagaimana, dan apa. Aku hanya ingin, kamu jangan lagi bertemu dengan dia,"
Lovi menyuruh suaminya agar duduk. Devan terlihat emosi tiba-tiba dan Lovi tidak mengerti karena apa. Ia disuruh menjauhi Arnold tapi tanpa sebab.
"Pertemuan tadi tidak sengaja. Kalau tidak sengaja bertemu, bagaimana caranya aku menghindar?"
"Dia berbahaya, Lov."
Satu kalimat yang keluar dari mulut suaminya membuat Lovi terkekeh pelan. Ia merangkum wajah Devan dan duduk di atas pangkuan suaminya itu.
"Berbahaya karena apa? dia bukan predator,"
"Aku sudah katakan, jangan banyak bertanya. Cukup dengarkan ucapanku, Lov. Ini untuk kebaikan kita,"
"Okay, aku akan lakukan apa yang kamu mau. Padahal baru kali pertama aku bertemu lagi dengan teman lelaki ku. Tapi kamu sudah bersikap seperti ini..."
"Kita sudah menjadi teman meskipun aku pernah menolak dia,"
Lovi bangkit dari paha suaminya lalu kembali ke meja nya lagi meninggalkan Devan yang diserang kecemasan setelah beberapa hari merasa tenang karena Arnold tidak berulah lagi.
Devan memilih tidak melakukan hal yang sama dengan Lovi yaitu, bicara jujur. Ia rasa Lovi tidak perlu tahu sejahat apa teman lelakinya terhadap dirinya.
Lovi sudah tahu bahwa Devan memiliki masa lalu yang menyedihkan disamping masa lalunya yang kotor. Tapi Lovi tidak tahu bahwa Arnold salah satu penyebab yang membuat Devan berubah.
"Kamu datang ke sini hanya untuk bertanya seperti itu?"
"Iya, aku khawatir padamu."
"Khawatir?" alis Lovi menukik kemudian menggeleng pelan.
"Apa yang perlu kamu khawatirkan? aku tidak apa-apa,"
"Berapa lama lagi kamu di sini?" tanya Devan mengalihkan. Biar saja Lovi tidak tahu sebesar apa rasa khawatir nya terhadap pertemuan Lovi dan Arnold tadi.
"Sampai sore seperti biasa. Kenapa?"
"Aku kembali ke kantor dulu kalau begitu. Nanti aku jemput,"
"Hmmm okay, hati-hati."
*****
Pantas saja Lovi tidak pernah masuk ke dalam list incaran Arnold selama ini. Selalu Devan dan kedua anak mereka. Rupanya karena Lovi adalah wanita yang pernah dikagumi oleh Arnold.
Sampai di kantor, Devan benar-benar tidak bisa tenang Bukan karena Ia tidak percaya pada Lovi, bukan Ia mencurigai Lovi akan bermain api di belakangnya. Devan khawatir dengan keselamatan istrinya. Tadi Lovi mengatakan bahwa Ia menolak Arnold pada saat Arnold menginginkan dirinya sebagai kekasih. Pasti Arnold merasa tidak terima dengan penolakan itu.
"Boss, sudah selesai diperiksa belum?"
"Belum, sabar!"
"Dari tadi saya tunggu, Boss. Sudah sabar sekali saya,"
"Nanti dulu. Kamu keluar sana!"
Devan mengusir sekretarisnya yang masuk untuk menanyakan dokumen yang saat ini sedang dicek oleh Devan. Bukannya memeriksa, Devan malah sibuk memikirkan konflik batinnya.
Di luar pintu Dashinta mencibir kesal. "Memang pekerjaanku itu saja apa? dari tadi bolak-balik ke sini belum selesai juga,"
"Permisi, Dashinta. Aku mau masuk ke ruangan Tuan,"
"Nanti dulu, Tuan Ferro yang terhormat. Biar Boss fokus dengan dokumen yang sedang dia periksa,"
"Aku ingin memyerahkan---"
"Iya, tunggu sebentar."
Ferro tidak mendengarkan ucapan Dashinta. Ia tetap masuk ke dalam ruangan Devan. Sementara Dashinta semakin kesal. Ia ikut masuk dan Devan yang kembali melihatnya langsung menggeram.
"Kamu tunggu di ruanganmu saja, Dashinta. Nanti aku panggil,"
"Boss, masalahnya bukan hanya itu saja yang harus Boss lihat. Masih ada beberapa. Kalau satu dokumen saja selesainya lama seperti ini, bagaimana---"
"Kenapa jadi kamu yang mengatur saya? tenang, saya profesional. Nanti saya selesaikan semuanya,"
__ADS_1
"Tuan ada masalah apa? tidak biasanya lamban," tanya Ferro penasaran.
"Masalah hati," sahut Devan dengan asal yang mengundang tawa kecil Ferro. Sementara Dashinta mencibir, "Pantas saja. Sejak tadi tidak selesai-selesai. Ternyata ada hubungannya dengan hati,"
****
Adrina merengut kesal saat Ia tidak dipedulikan oleh Andrean dan Adrian padahal bukan hanya Thalia yang butuh bantuan mereka untuk diajarkan membuat prakarya.
"Aku bantu kamu,"
"Terima kasih, Revin."
Kelas mereka sedang ada kegiatan membuat prakarya yaitu membuat boneka tangan dari baju-baju yang tidak digunakan lagi.
"Kamu menggunting pola nya terlalu besar,"
"Yang menggunting adalah Mommy ku. Dan aku yang minta ukurannya sebesar itu. Tanganku 'kan besar,"
"Kata siapa? tanganmu kecil, Adrina. Boneka ini akan kebesaran saat--"
"Tidak apa lah. Yang penting bisa dipakai dan dapat nilai,"
"Hih seharusnya tidak boleh begitu,"
Boneka tangan sudah digunting dan dijahit secara manual dari rumah. Sampai di sekolah, mereka tinggal menghiasnya.
"Aku sudah jadi. Adrina sudah?"
"Belum! bisa lihat 'kan?!"
Jarang sekali Andrean mengajak Adrina bicara lebih dulu. Biasanya Adrina akan merespon dengan baik. Sekarang malah sebaliknya.
"Aku bantu,"
"Tidak usah, Revin sudah membantuku."
"Lem habis, Adrina."
"Ini, pakai lem ku,"
Andrean mengangsurkan perekat miliknya pada Revin. Andrean dan Adrina memperhatikan kerja Revin.
Andrean mengarahkan Revin yang sedang memasang mata untuk boneka Adrina menggunakan perekat.
"Aku saja," kata Andrean sekali lagi untuk menawarkan bantuan.
Akhirnya Revin menyerahkan boneka milik Adrina. "Kamu juga belum selesai," ucap anak sulung Lovi itu pada Revin.
Revin menepuk pelan keningnya. Ia terlalu peduli pada sahabatnya sampai lupa kalau miliknya sendiri belum jadi.
Thalia berseru saat boneka nya sudah jadi. Ia menatap milik Adrian. "Hey kamu belum selesai tapi malah bantu aku."
"Santai, aku bisa---"
"Baik sekali Adrian ya. Sama seperti Revin. Belum selesai tapi sudah membantu orang," kata Adrina dengan senyumnya yang tipis. "Dan by the way, tadi aku yang lebih dulu meminta bantuan pada Adrian. Tapi dia malah membantu kamu. Revin yang membantu aku. Kerja sama yang baik,"
"Selesaikan milikmu, Adrian!" titah Andrean. Adiknya itu sama saja dengan Revin. "Kamu dan Revin itu bukan membantu lagi tapi hampir menyelesaikan. Apalagi kamu Adrian. Kamu tidak membiarkan Thalia mengerjakan sendiri sampai akhir,"
"Ini sudah, Adrina. Pasang mata yang satu lagi," ucap Andrean yang tidak ingin hanya dia yang bekerja. Adrina harus belajar karena ini untuk nilainya juga. Jangan sampai Ia seperti Thalia.
"Iya benar, Thalia curang. Seharusnya boneka itu milik Adrian. Karena Adrian yang menyelesaikannya. Aku katakan pada Ms Acha nanti!"
Adrina menjulurkan lidahnya, meledek Thalia. "Halah kamu juga begitu tadinya. Sayang saja ada Andrean yang mengingatkan Revin. Kalau tidak, pasti punyamu diselesaikan Revin."
Adrina melirik Thalia dengan kesal. Sampai tidak sadar kalau Ia menempelkan mata kiri boneka di tengah-tengah kening boneka.
"Sudah jangan berdebat. Adrina perhatikan apa yang kamu kerjakan,"
"Ini sudah benar---"
Adrina membulatkan mata saat Ia melihat karyanya. "Sejak kapan mata nya pindah ke tengah? aku rasa letaknya sudah benar tadi,"
"Kamu julit sih mulutnya. Makanya jangan julit-julit kalau kata Aunty Jane. Kamu sibuk mengurusi orang lain sampai tidak sadar kalau hasil pekerjaanmu buruk," Adrian yang sedari tadi tidak angkat suara diantara Thalia dan Adrina yang tengah berdebat, akhirnya berbicara juga.
"Apa itu julit?"
"Aunty Jane sering bicara begitu padaku setelah berkunjung ke Indonesia waktu itu,"
__ADS_1
Adrina berusaha melepas mata boneka nya. Beruntung belum terlalu melekat karena perekat yang digunakan masih basah.
"Aku sudah selesai," ucap Revin setelah beberapa menit Ia berkutat dengan hasil karyanya.
Tinggal Adrian dan Adrina yang belum. Revin menyemangati keduanya. Saat Ia akan membantu Adrina lagi, Adrian langsung memperingati.
"Tidak boleh! harus kerja sendiri,"
"Oh kalau Thalia boleh ya?"
"Aku keterusan membantu Thalia tadi,"
"Halah alasan," Adrina dengan raut ketusnya mencibir Adrian. Ia juga melirik Thalia dengan sinis.
"Thalia buat ulang saja. Supaya adil, semuanya bekerja sendiri. Boneka yang sekarang kamu pegang lebih banyak dikerjakan oleh Adrian," usul Revin yang langsung ditolak tegas oleh Thalia.
"Tidak mau! tidak akan cukup waktunya."
"Huh dasar pemalas! aku tahu kamu tidak yakin dengan hasilmu sendiri. Iya 'kan?"
"Benar sekali,"
Thalia menjawil dagu Adrina dan Adrina langsung mendengus seraya mengusir tangan Thalia dari dagunya.
Tangannya yang masih terdapat perekat menyentuh tangan Thalia. Ia tersenyum geli saat Thalia berseru kesal.
"Tanganku kotor, Adrina!"
"Ya memang harus kotor. Semuanya juga kotor. Hanya kamu saja yang bersih,"
"Errrghhh,"
"Sudah-sudah, Astaga. Bertengkar terus kalian ini. Adrina sudah selesai belum?"
"Sudah,"
"Yakin? tidak mau dihias lagi?"
"Tidak mau nanti malah jadi norak. Seperti milik Thalia itu. Ramai sekali seperti di pameran,"
"HAHAHAHAHA,"
"Adrian kenapa kamu tertawa?! ini kamu yang buat. Aku hanya mengambil alat-alat yang kamu butuhkan saja,"
Thalia menggeram marah pada Adrian yang terbahak kencang usai mendengar kalimat Adrina.
"Revin juga tertawa. Kenapa aku tidak boleh?"
"Kamu tidak boleh, karena kamu yang buat boneka aku jadi ramai,"
"Kamu tidak bersyukur ya. Sudah aku bantu, sekarang malah---"
"Ayo ribut terus. Aku suka, Aku suka. Aku tidak suka perdamaian,"
Adrina menyemangati Adrian dan Thalia yang kali ini adu mulut. Seraya menepuk-nepuk kedua tangannya, Adrina menatap gemas ke arah mereka.
Saat pembimbing mereka masuk, suasana seketika senyap. Adrian dan Thalia yang sebelumnya saling melempar tatapan tajam langsung berpura-pura sibuk.
"Yah, kenapa berhenti? lanjut saja seharusnya. Padahal tadi sedang memanas. Ah kalian tidak as---"
"Apa yang dilanjut, Adrina? punyamu sudah selesai?"
"Ah hmmm sudah, Ms."
"Wow cepat ya. Coba Ms. lihat,"
Adrina berharap semoga hasilnya tidak begitu buruk dimata pembimbingnya yang saat ini sedang berjalan menghampirinya.
Setelah melihat hasil kerja Adrina, pengajar perempuan itu mengajukan pertanyaan,
"Ini kening nya kenapa putih? dia pakai foundation tapi belum di tap-tap?"
"Astaga, bukan Ms. Ini bekas perekat. Tadi aku menempel mata nya di kening. Setelah aku pindahkan mata nya, bekas perekat itu tidak bisa hilang lagi,"
Adrina membuktikannya dengan cara menggosok-gosok bagian kening boneka itu. Sekarang sudah kering dan sulit untuk dihilangkan. Tadi saat masih basah, Ia terlalu sibuk berargumen sampai lupa kalau ada noda di boneka nya.
---------
__ADS_1
Adrina si pecinta keributan kena tegur๐๐ ada yg prnh kyk Adrina? Bawaannya pengen ketawa kl ngeliat kejadian kek gt wkwk