
"Karena mereka memiliki ayah yang tampan sial*n! Kalau Revin diantar ayahnya yang tampan juga sudah pasti aku tidak marah,"
Miss Acha tidak bisa menjawab. Bibirnya terbungkam dengan tubuh semakin kaku.
"Aku akan lebih disiplin lagi," ujar Devan yang terdengar seperti memperingati dirinya sendiri. Ia mengaku salah atas keterlambatan kedua anaknya.
Devan berbalik untuk meninggalkan wanita yang menjadi guru anak-anaknya itu. Entah mengapa Ia tidak terima saat anaknya diperlakukan baik karena dirinya yang terlihat menawan dengan tampang dan jabatan tinggi. Bukankah semua anak berhak untuk mendapat perlakuan yang baik di sekolah? Dan lagi sekolah itu bukan sekolah biasa. Seharusnya dengan uang banyak yang dikeluarkan para orangtua untuk membayar pendidikan anaknya selama di sana, mereka bisa memberi kenyamanan luar biasa. Bukan hanya fasilitas saja, juga kasih sayang dan perhatian yang seharusnya tidak dibeda-bedakan.
Devan menutup pintu mobilnya kencang. Ia menghela napas pelan.
"Semua wanita tergila-gila padaku. Tapi kenapa kamu tidak, Lov?"
Devan merasa Lovi semakin menjauh ketika Ia berusaha untuk memperbaiki. Apa Ia terlalu agresif? Karena Lovi yang selama ini dikenalnya sangat berbeda dengan yang sekarang. Devan tidak menyadari kalau tergila-gila dengan mantan suami akan menjadikan Lovi terlihat gila. Lovi ingin perpisahannya membuat Devan diam di tempat, tidak perlu berusaha memperbaiki. Karena Lovi yakin kaca yang pecah tidak akan pernah bisa diperbaiki lagi hingga kembali sempurna.
Lovi berusaha bersikap baik awalnya. Tapi semakin lama Ia merasa kalau Devan tidak bisa menempatkan dirinya sendiri. Mereka hanya bagian dari masa lalu. Tidak bisakah hanya fokus pada Andrean dan Adrian? Tanpa perlu mementingkan perasaan lagi.
__ADS_1
Sayangnya, Devan tidak semudah itu dalam mengorbankan hatinya. Devan pun tidak akan berusaha untuk melupakan Lovi. Untuk apa? Tidak akan bisa sampai kapanpun. Berbeda dengan Lovi yang tak gentar mengubur dalam-dalam rasa cintanya pada Devan walaupun sampai sekarang belum membuahkan hasil. Devan selalu berada di sekitarnya hingga membuat Lovi sulit menghilangkan ingatan tentang Devan.
Di sudut hatinya Lovi meyakini kalau Devan adalah cinta matinya. Tapi ini salah. Mencintai sesuatu yang bukan lagi menjadi miliknya adalah kesalahan bagi Lovi. Bisa atau tidaknya Ia menghilangkan nama Devan di hatinya itu urusan nanti. Yang terpenting Ia sudah mencoba.
Pagi ini Ia berhasil menghindari Devan. Hingga membuat lelaki itu kesal bukan main. Sebelumnya Devan sudah mengatakan pada Lovi kalau hari ini mereka akan berangkat kerja bersama setelah mengantar kedua anak mereka. Tapi nyatanya Lovi sudah berangkat lebih dulu.
***
Lovi mengawali pekerjaannya dengan membersihkan kaca-kaca ruangan yang ada di lantai dasar rumah sakit. Selanjutnya Ia akan membersihkan toilet rumah sakit.
Beruntung toilet hanya berisi dua orang wanita dan satu teman Lovi bernama Desira yang baru saja menambahkan butiran-butiran pewangi di setiap bilik toilet.
"Hamil ya?" Tanya salah satu pengunjung dengan raut penasaran. Desira menghampiri temannya yang kini terlihat lemas.
"Kenapa, Lovi?"
__ADS_1
Lovi menggeleng lemah. Lovi sudah selesai mencuci mulutnya lalu kembali meraih alat pel lantai yang tadi Ia letakkan di sebelah wastafel.
"Aku tidak suka aroma pewangi itu,"
Salah satu wanita paruh baya yang lainnya menyahuti langsung tanpa tedeng aling-aling.
"Iya, hamil itu. Sedang hamil kenapa bekerja? Memang suaminya kemana? kurang biaya hidup ya?"
Desira berdecak pelan. Ingin sekali dia meneriaki wanita itu. Mungkin dia yang kekurangan biaya hidup sampai-sampai untuk memiliki televisi saja tidak bisa. Ia tidak tahu kalau 'suami' yang dimaksudnya itu adalah Devan, seorang penguasa bisnis?
Desira mendorong pelan bahu teman barunya itu. Kesal karena Lovi bodoh. Bukannya menjawab malah menunduk segan.
------
3 Ep hr ini. Voment nya jgn irit yaaa hehehe. Makasih lhoo bwt yg pengertian kl nulis itu ga semudah baca :) Btw 'Why' jg udh up yaa. SELAMAT MEMBACA WHY DAN MCH GENGSS!!
__ADS_1