
Devan membawa istrinya ke rumah sakit dengan alasan Ia sakit perut. Padahal bukan karena itu, melainkan Ia baru saja mendapat kabar bahwa Lucas akan menjalani pemeriksaan rutin di rumah sakit hari ini, dan menurut Devan inilah waktu yang tepat untuk Lovi dan Lucas bertemu sekaligus agar Lovi tahu bahwa ayahnya tengah mengalami kesulitan.
Hanya mereka berdua yang pergi ke rumah sakit. Ketiga anak mereka tinggal di mansion bersama nenek dan kakeknya.
"Kenapa kita menunggu di sini? langsung masuk saja, Devan. Agar kamu segera diperiksa,"
"Lov..." Devan menahan lengan istrinya seraya menggeleng. "Nanti, kita tunggu di sini."
Devan melihat jam tangannya. Sebentar lagi sepertinya Lucas akan selesai dengan pemeriksaan rutinnya itu. Mereka hanya duduk dan Lovi benar-benar tidak mengerti dengan suaminya. Tadi di mansion sudah meringis kesakitan, tapi begitu sampai di rumah sakit Ia malah menunda untuk diperiksa. Lovi semakin khawatir dengan Devan.
Mata Devan menangkap sosok Lucas baru saja keluar dari sebuah ruangan. Ia menghampiri lelaki paruh baya itu, Lovi menatap tidak mengerti kemana suaminya akan pergi.
Tak lama, mata Lovi membulat. Ia belum lupa dengan ayahnya. Itu Lucas, orang yang paling berpengaruh dalam membawa rasa sakit untuk Lovi di masa lalu.
Saat Lovi akan beranjak, secepat kilat tangan Devan menahan gerakannya. Ia menatap Lovi dengan tajam agar tidak berontak.
"Kamu harus bicara dengan ayahmu. Kita pergi ke cafetaria sekarang,"
"Aku tidak mau!"
__ADS_1
"Lov, kamu harus bisa menerima masa lalu,"
"Ikut aku," ujar Devan pada ayah Lovi. Devan harus memastikan sang istri tidak pergi kemanapun. Setelah Lovi masuk ke dalam mobil, Lucas pun demikian.
*****
Adrian lagi-lagi bertengkar dengan Auristella. Ia marah karena ketika sedang membuat video bermain alat musik untuk tugas, Auristella menekan-nekan tuts piano kecil yang dimainkannya.
"AURIS, DIAM!" Begitu melengking teriakannya sampai membuat Raihan yang sedang meneguk air minum di meja makan hampir tersedak.
Senata yang bertugas mengambil video, langsung turun tangan membantu Rena memisahkan kedua anak itu.
"Adrian, bicara yang baik. Kalau kamu berteriak, dia takut."
"Aku juga takut kalau tugasku belum dikerjakan,"
"Salahmu sendiri kenapa tidak mengerjakan bersama aku kemarin?" sambung Andrean yang membuat Adrian diam tidak berkutik. Kemarin Ia masih merajuk jadi sangat malas untuk mengerjakan tugas. Sebenarnya sekarang juga masih merajuk namun karena ingat esok adalah hari terakhir pengumpulan tugas, mau tidak mau Ia harus mengerjakannya.
"Apa bedanya?!"
__ADS_1
"Kemarin Auris mau dijaga Mommy, Ia hanya memperhatikanku tanpa mengganggu,"
"Sudah-sudah! Auris kemari!"
Raihan mengisyaratkan anak itu untuk merangkak ke arahnya. Namun Ia malah menggeleng. Justru meminta digendong. Ia melepas pelukan Rena dan mengangkat tangannya ke arah Raihan.
Raihan segera mendekati. Ia membawa anak itu lalu menimangnya agar tertidur, kemudian semuanya akan aman. Telinga orang-orang di mansion ini akan baik-baik saja, tanpa perlu lagi mendengar pertengkaran yang juga membuat sakit kepala.
Namun sepertinya Auristella tidak ingin tidur mungkin karena baru satu jam yang lalu Ia terbangun.
"Lanjutkan lagi buat tugasnya!" titah kakek tiga cucu itu. Adrian benar-benar kehilangan mood untuk memainkan ulang alat musik tersebut. Tapi Ia harus melakukannya agar tugasnya sempurna tanpa ada sosok pengganggu, Auristella.
"Kita bermain sepeda saja ya? sudah sore, tidak terlalu panas." ajak Raihan pada sang cucu perempuan.
"Nanti kalau semua tugas sudah selesai, kalian boleh bermain sepeda bersama Grandpa dan Auris,"
Raihan beranjak ke samping basement yang terdapat sebuah ruangan besar, dimana banyak sepeda tersimpan di sana. Mulai dari sepeda yang besar sampai yang kecil pun ada. Sepeda-sepeda orang dewasa yang ada di sini jarang terpakai kecuali milik ketiga cucunya.
Auristella melonjak-lonjak senang ketika melihat sepeda sudah berada di depannya. Raihan memilih sepeda yang biasa digunakan Devan ketika membawa ketiga anaknya. Di sepeda itu, Auristella sudah memiliki tempat sendiri di depan.
__ADS_1
--------