My Cruel Husband

My Cruel Husband
Senangnya bisa bermain lagi


__ADS_3

Di perjalanan pulang menuju mansion, Auristella tidak bisa dipangku oleh Lovi. Devan yang melakukannya sementara sang istri masih harus melewati proses pemulihan luka di dalam mulutnya.


Auristella menggeliat dalam pangkuan ayahnya, Ia terlihat senang ketika bisa keluar dari rumah sakit padahal anak itu belum mengerti apapun.


Begitu sampai di mansion, Andrean dan Adrian terlihat kaget melihat Devan sudah pulang. Mereka sontak melonjak senang dan ingin digendong pula seperti Auristella.


"Tidak bisa digendong dulu, ada Auris di sini," ujarnya yang membuat mereka sempat kecewa.


"Daddy kapan pulang? lalu Mommy dimana?"


"Mommy tidak ada, Dad?" Adrian mencuri-curi pandang ke dalam mobil, barangkali Mommy-nya masih ada di sana.


Bahkan Andrean tampak mendekati mobil yang sedang diatur posisinya oleh supir di dalam basement. "Mommy tidak ada," gumamnya bingung. Ia kembali lagi. Lalu mengikuti Devan, Rena, Senata, dan yang lainnya untuk masuk ke dalam.


"Daddy, Mommy kemana? kenapa tidak ada? belum pulang seperti Daddy?" Ia menuntut penjelasan. Karena tidak biasanya Lovi tidak di samping Devan.


"Biarkan Daddymu duduk dulu," tegur Raihan yang akhirnya dituruti anak sulung itu.


Pelayan mengambil baby chair milik Auristella. Ketika akan diletakkan di sana, Ia menggeleng tidak mau. Sepertinya Auristella masih ingin dimanja oleh Devan.


"Kamu sudah berat, Sayang." keluh Devan dengan candanya. Auristella tampak melipat wajahnya sebentar tetapi Ia tidak ingin sama sekali diturunkan dari dekapan Daddy-nya.


Semua barang-barang sudah dibawa masuk ke dalam mansion. Sampai saat itu belum ada tanda-tanda kehadiran Lovi. Andrean dan Adrian terdiam lama.


"Mommy sedang sakit," jawab Devan dengan pelan. Sontak membuat kedua anaknya yang tadi menunduk langsung mengangkat kepala.


"Ada di rumah sakit?"


Devan mengangguk, dan mereka tampak belum puas dengan jawaban Devan. "Sejak kapan, Dad? kenapa tidak ada yang memberi tahu aku?" Adrian terlihat kesal saat Ia tidak diberitahu sama sekali mengenai hal itu.


"Iya, sepertinya hanya aku dan Adrian yang tidak tahu. Benar?"


Semuanya mengangguk bersamaan. Adrian mendengus. Lalu berlari ke lantai atas, sepertinya akan ke kamar.


"Lalu kapan Mommy akan pulang? kenapa Mommy ditinggal sendiri?"


"Grandma butuh istirahat, sebentar lagi Daddy akan ke sana menjaga Mommy,"


"Aku ikut!"


"Tidak, siapa yang mengizinkanmu?" Devan bertanya dengan tegas.


"Dadd, aku ingin lihat--"


"Tidak perlu melihat,"


"Karena kamu akan meringis sendiri saat melihat Mommy nanti. Ada perasaan tidak tega, itu pasti,"


"Cukup doakan Mommy. Lagipula kalau kondisi Mommy semakin baik, besok sudah bisa pulang,"


"Daddy hanya menenangkan aku?"


"Memang seperti itu kenyataannya. Doakan Mommy agar segera pulih,"


********


Setelah Devan berangkat kembali ke rumah sakit, Adrian dan Andrean belum sepenuhnya mencair. Mereka sama-sama keras kepala ingin melihat kondisi Lovi.


Sementara Auristella sudah ingin bermain dengan kedua kakaknya. Benar-benar seperti Adrian yang gemar bermain tanpa kenal lelah.

__ADS_1


"Istirahat, Auris. Jangan dulu pegang mainan,"


"No, No, No." Ia menggeleng lucu. Ia yang sudah bisa duduk sedang membongkar boks mainannya sendiri.


"Apakah semua mainan ini sudah bersih?"


"Sudah, Nyonya. Kemarin Tuan sudah mengatakan pada kami untuk membersihkan semua perlengkapan Auris,"


"Baik, terima kasih,"


"Untuk alat-alat makan, bahan untuk memasak makanan Auris, kita yang harus menjaminnya, Rena."


"Ya, perlakuan kita yang aku rasa cukup higienis kemarin rupanya masih bisa membuat cucu kita diserang bakteri. Padahal semua piring dan gelasnya sampai kita cuci dengan air panas, begitupun dengan buah dan sayur untuknya makan. Tetap saja dia sakit karena bakteri itu. Huh!"


Kedua nenek Auristella masih memiliki rasa kesal terhadap penyebab penyakit cucunya walaupun memang sudah waktunya Auristella diberi penyakit.


"Apa, Auris? "


Auristella baru saja meraih mainan yang kemarin diberikan oleh Daddy-nya. Kemudian Ia menunjukkan itu pada kedua kakaknya. Ia memberi tahu pada kakaknya bahwa Ia memiliki mainan baru.


"Bagus dan cantik seperti Auris,"


Auristella memandang kakak keduanya aneh. Seolah bicara 'Tidak biasanya kamu memuji aku.'


"Kenapa menatapku begitu? kamu tidak ingin dikatakan cantik? mau jelek saja?"


Auristella menggeleng polos. Ia segera berhambur dalam pelukan Adrian. Mencium wajah kakak keduanya itu.


"Aku menyayangimu, tidak pernah membuat kamu kesal, tidak dapat cium juga?" Andrean menunjuk pipi kanannya. Adik perempuannya itu segera berpindah posisi. Bergantian mencium kedua kakaknya yang berbeda sifat itu.


"Senang bisa main lagi di rumah?" Raihan yang sedari tadi ikut Rena dan Senata menjadi penonton, kali ini mendekati ketiga cucunya.


Auristella terkekeh menggemaskan, mereka anggap bahwa itu adalah bentuk rasa bahagia Auristella karena tidak lagi berpisah dengan kedua kakaknya.


Pertama kali menyadari bahwa Ia tidak di mansion, Auristella sempat terlihat bingung. Bahkan menangis padahal ada kedua neneknya di samping anak itu. Ia terlihat tidak nyaman berada di dalam tempat asing. Mungkin tangisnya juga disebabkan oleh rasa sakit yang mendera.


Vanilla dan Jane yang baru saja membuat minuman dingin menghampiri ruang keluarga dimana sedang terjadi kehangatan antara Andrean, Adrian, dan Auristella.


"Auris, kamu sudah dua kali masuk rumah sakit. Jangan lagi ya, Sayang?" ujar Vanilla.


"Iya, Aunty Jane sampai tidak bisa tidur memikirkan kamu. Aunty membayangkan betapa tidak nyamannya kamu berada di sana lalu tidak ada Mommy-mu juga. Tapi kamu hebat bisa melewatinya, sekarang sudah bisa bermain lagi."


*******


Auristella tidak ingin lepas dari gendongan Vanilla saat tahu bahwa Aunty-nya itu harus pulang karena sudah dijemput oleh Jhico.


"Masih ingin bersama kamu,"


"Ya, tapi kita harus pulang," jawab Vanilla pada Jhico yang menatap dalam-dalam anak perempuan itu.


"Belum menyapa Uncle," Jhico mengulurkan tangannya ingin menggendong Auristella. Ia tidak menolak.


"Uncle dan Aunty pulang ya?"


Auristella mengeratkan jalinan tangannya di leher Jhico. Perkembangan Auristella cukup bagus untuk anak seusianya. Ia sudah bisa merespon apa yang orang lain lakukan padanya. Seperti saat ini, Ia tahu sedang digoda oleh Vanilla, walaupun tidak mengerti makna kalimatnya, tetapi Ia bisa melihat gerak tubuh Vanilla yang menyebalkan di matanya. Vanilla sengaja melambai dan menyampirkan Sling bag di bahunya.


"Sudah ya, Aunty ingin pulang. Kamu bersama Uncle saja. Bye,"


Auristella merengek setelah sebelumnya menatap Vanilla dengan sorot marah.

__ADS_1


"Bermain dengan kakakmu dulu. Lihat, mereka sedang bersama kelincinya. Kamu tidak ingin ke sana?"


telunjuk Jhico mengarah pada Andrean dan Adrian yang tengah memberi makanan untuk hewan peliharaan mereka yang baru diberikan oleh Raihan dua hari yang lalu.


Vanilla memukul pelan lengan suaminya seraya menggeleng, "Dia baru sembuh, kamu menyuruhnya bermain dengan kelinci? yang benar saja,"


"Astaga aku lupa. Melihat Auris yang semangat bermain aku tidak ingat kalau dia baru saja keluar dari rumah sakit. Benar-benar hebat kamu ya,"


Wajah Auristella kembali jadi bahan untuk dikecup. "Biarkan Aunty pulang dulu, Auris. Ini sudah hampir malam," ujar Senata yang akan meraih Auristella dari gendongan Jhico.


"Aunty datang lagi besok ya? okay, princess?"


Akhirnya Ia melepaskan leher Jhico seraya mengangguk pelan. Ketika Jhico dan Vanilla sudah menjauh, Ia melambai masih dengan wajah sedihnya. Ia merasa kehilangan teman bermain. Hanya Jane saja. Karena kedua kakaknya selalu berbeda selera bila bermain bersamanya. Ia mengajak untuk main boneka, mereka malah main mobil.


"Sudah-sudah, dia sudah kenyang, Adrian."


Adrian tetap menjulurkan wortel ke mulut kelinci abu miliknya.


"ADRIAN, DIA SUDAH KENYANG!"


Adrian menoleh kesal. Anak itu berdecak seraya melempar wortelnya.


"Kenapa mengurus kelinciku? urus saja milikmu,"


"Dia bisa kekenyangan lalu muntah nanti,"


"Tapi wortel yang aku berikan masih dimakan," bantahnya yang akan kembali meraih makanan kesukaan kelincinya.


"Perutnya kebesaran, jangan dituruti. Kasihan kalau sampai dia terlalu kenyang,"


"Kalau dia masih ingin wortel tandanya belum kenyang, Andrean. Kamu begitu saja tidak mengerti,"


Auristella dan Senata masih memperhatikan keduanya dari dekat pintu penghubung taman dengan ruang tamu.


"Bertengkar lagi, berdebat lagi. Grandma sakit kepala melihatnya. Kamu juga?"


Senata terkekeh melihat cucu perempuannya mengangguk polos. Ia akan membawa Auristella masuk karena sebentar lagi hari akan gelap.


"Grandma hitung sampai tiga, kalau belum masuk juga, akan dikunci pintunya. Kalian tidur bersama kelinci," serunya sebelum benar-benar pergi. Mendengar kalimat itu, Andrean dan Adrian belum bergerak juga. Andrean masih sibuk mengejar kelincinya, sementara Adrian yang keras kepala kembali memberikan makanan untuk kelinci itu.


"Satu..."


Belum. Karena masih ada angka dua, sebelum mereka harus kembali masuk ke dalam.


"Dua..."


Andrean menggendong kelinci miliknya untuk dimasuki ke kandang, begitupun dengan Adrian. Kemudian Adrian membuang wortel yang belum dihabiskan oleh hewan peliharaannya.


Setelah selesai dengan tugas masing-masing yaitu merawat kelinci-kelinci itu, mereka berlari kencang menuju Senata dan Auristella.


"Tiga!"


Happ


Tubuh Senata sampai dibuat berguncang oleh kedua cucunya yang memeluk tiba-tiba. Auristella terkejut dengan hal itu sehingga Ia menangis.


"Ah kamu sering menangis hari ini. Manja sekali, karena baru sembuh ya?"


---------

__ADS_1


__ADS_2