
Setelah membersihkan tubuhnya, Deni langsung bersiap untuk pergi ke Rumah sakit.
Deni sudah merasa lebih segar, oleh sebab itu setelah ke rumah sakit nanti, Ia akan mengajak Devan untuk bertarung menyelesaikan perdebatan yang sempat Ia hentikan tadi. Sahabatnya itu harus diberi pelajaran.
Sebelum memutar kemudi, panggilan Devan kembali masuk. Biarkan saja lelaki itu sakit kepala memikirkan anak dan Istrinya.
Deni yakin tujuan Devan menghubunginya saat ini pasti karena ingin memastikan kalau Ia sudah berangkat ke rumah sakit.
"Heran aku. Kemana sikap gentlenya selama ini? Waktu mendatangi orang tua Elea untuk melamar perempuan itu, Beraninya bukan main. Sekarang? Menemui Istrinya saja dia tidak mau. Dasar bajing*n!"
Tak henti memaki. Karena rasa dongkol masih menguasai hatinya. Jujur saja Deni lama-lama gerah dengan sikap Devan. Apa kurangnya Lovi? Lovi sudah menyerahkan hidup dan matinya pada Devan, namun Devan tetap menginginkan sesuatu yang lebih dari itu. Kalau pun Lovi sedikit egois, maka tidak ada salahnya untuk memaafkan. Di dalam sebuah pernikahan memang harus saling melengkapi dan memperbaiki. Itulah tujuannya mendirikan mahligai rumah tangga.
Deni hanya bisa menggeleng tak habis pikir dengan sahabatnya itu. Ia tidak bisa melakukan apa-apa. Statusnya di dalam pernikahan Devan dan Lovi hanyalah sebagai 'orang luar'.
"Di ruang Melati kamar 273,"
"Okay, thanks!"
Setelah mendapat informasi dari perawat yang bertugas di meja administrasi, Deni kembali berlenggang menelusuri lantai paling atas rumah sakit milik sahabatnya itu.
Kaki Deni melangkah di antara ruang-ruang khusus yang dipersiapkan pihak rumah sakit untuk keluarga besar yayasan pendiri rumah sakit tersebut.
Di lihat dari pintunya saja sudah bisa ditebak kalau ruangan-ruangan itu bukan seperti ruang perawatan lain di lantai berbeda. Fasilitas di dalamnya pasti tidak kalah mewah dengan pintunya.
Deni mencari nomor yang tadi disebutkan perawat. Setelah menemukannya, Ia tersenyum.
Masih menjaga etika ditengah rasa mabuk yang tersisa sedikit, Deni mengetuk pintu di depannya.
Tak lama, wajah Serry menyambut Deni.
"Tuan Deni?" Wajah Serry terlihat bingung. Kenapa yang datang malah Deni? Kemana Tuannya itu?
"Lovi dan anak-anaknya di dalam? Sebenarnya siapa yang sakit?"
Deni tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya. Karena Devan hanya memberinya perintah tanpa memberikan informasi yang lebih dalam. Yang Ia tau hanyalah masalah rumah tangga Devan dan Lovi. Itupun Ia mengetahuinya bukan dari Devan secara langsung. Deni hanya menebak karena gerak-gerik Devan yang tidak biasanya mengunjungi kelab malam setelah beberapa bulan meninggalkan kebiasaannya itu.
"Tuan kecil Andrean dan Adrian,"
tanpa mengatakan apapun lagi, Deni memasuki ruang perawatan Andrean dan adiknya. Di sana Ia melihat Lovi yang tengah tertidur dengan menenggelamkan kepala di tepi bangsal anak-anaknya. Tangan perempuan itu menggenggam tangan Adrian.
Andrean dan Adrian kebetulan sudah tidak tidur lagi. Namun mereka tetap tenang membiarkan Mommy mereka untuk beristirahat. Selagi Lovi berada di samping mereka, maka tidak ada kata rewel.
Mata keduanya menatap langit-langit. Bibir yang biasanya mengeluarkan tangis dan rengekan, kini bisa diam tanpa suara.
Lelaki dewasa yang telah menjadi sahabat baik dari Daddy mereka hanya bisa memandang sedih. Tidak seharusnya mereka berada dalam situasi yang sulit seperti ini. Sakit ditengah perseteruan rumah tangga orangtuanya adalah hal terburuk yang harus diterima oleh seorang anak. Dimana dalam kondisi tersebut, seharusnya mereka mendapat perhatian lebih dari kedua orangtuanya.
"Hai ponakan Uncle," Deni menyapa mereka.
Sinar kebahagiaan langsung terpancar hingga Deni yang melihatnya pun merasakan hangat dihatinya. Lagi-lagi Ia sangat menyayangkan sikap sahabatnya. Seharusnya Devan bisa melihat senyum cerah anak-anak itu.
"Dimana mainan untukku, Uncle?" tanya si bungsu.
__ADS_1
Suaranya yang keras berhasil membuat Lovi terusik. Perempuan itu mengerjapkan matanya dan melihat sumber yang menciptakan kegembiraan anak-anaknya.
Kedatangan Deni benar-benar diluar dugaan Lovi.
"Kalian harus sembuh terlebih dulu, nanti Uncle bawa mainan yang banyak," Untuk menggambarkan apa yang diucapkannya, Deni sampai melebarkan kedua tangannya.
"Hai, Lovi. Maaf kedatanganku membuatmu terganggu,"
Lovi tersenyum tipis seraya menggeleng.
"Terimakasih sudah datang, Deni. Silakan duduk dulu. Kau ingin minuman apa? biar Serry membelinya di kantin,"
Lovi mendekati Deni hanya untuk sekedar menyambut. Ia duduk di sofa yang letaknya bersebrangan dengan sofa yang ditempati Deni.
"Oh tidak perlu. Aku sudah banyak minum tadi,"
"Minum alkohol," Deni melanjutkan dalam hati. Lovi yang sudah hafal betul bagaimana ciri-ciri orang yang belum selesai dengan mabuknya, pun mengerti. Ia bisa melihat mata Deni yang sangat merah dan layu. Ketika di suruh duduk oleh Lovi, Deni langsung melakukannya karena Kepalanya masih sedikit berputar. Dan itu tidak luput juga dari pengamatan Lovi.
"Kenapa kau datang kalau masih mabuk?" terdengar tajam namun Deni hanya mampu terkekeh. Ternyata Lovi bukan lagi perempuan lugu yang tidak paham dengan keadaan seperti itu.
Mungkin karena dulu, Devan sering berinteraksi dengan Lovi dalam keadaan mabuk. Lovi seolah sangat pandai dalam hal ini padahal Ia sendiri belum pernah mencicipi minuman tersebut.
Kalau dulu dia mengikuti titah Devan, mungkin Lovi sudah merasakan apa itu alkohol.
FLASHBACK ON
"Cepat minum, Sialan! Aku ingin bercinta denganmu dalam keadaan sama-sama mabuk! itu akan terasa lebih nikmat,"
Dipaksa mabuk untuk alasan kenikmatan dalam bercinta adalah hal terburuk yang tidak pernah Lovi bayangkan.
"Cepat, Jal*ng!!"
"TUAN! AKU TIDAK MAU!" Lovi sampai berteriak karena rasa panik sudah menjalar ke seluruh tubuhnya. Sampai kapanpun Ia tidak akan membiarkan tenggorokannya mencicipi minuman itu.
Kepala Lovi mendongak karena ulah Devan. Lelaki itu ingin sekali melepas semua helai rambut Lovi. Ia membuat kulit kepala Lovi terasa sangat perih. Lovi tidak bisa lagi menahan isak tangisnya.
"Lovi! apa yang membuatmu terdiam?"
"Huh? tidak-tidak,"
Lovi terlihat gugup. Ia menggeleng dengan wajah pucat. Salah satu peristiwa yang pernah terjadi dalam kehidupannya di masa lalu kembali menghantuinya.
"Tujuanmu datang kesini apa, Deni?"
Perempuan itu mengalihkan pembicaraan. Itu juga yang mengganggu pikirannya sejak tadi. Mengapa Deni bisa tau keberadaannya? apa yang membuat lelaki itu rela datang ke rumah sakit ditengah rasa mabuk yang masih tersisa?
"Aku hanya ingin tau keadaan kalian,"
"Siapa yang memintamu untuk melakukan itu?"
"Oh ****! mulutku benar-benar sial*n. Kenapa harus berbicara begitu dengan Lovi, Bodoh?!"
__ADS_1
Deni hanya bisa menyesali kecerobohannya tadi. Seharusnya Ia tidak perlu jujur. Katakan saja pada Lovi kalau Ia tidak sengaja bertemu dengan Serry di bawah tadi. Itu akan lebih aman. Sekarang apa yang harus Ia katakan?
Mengelak pun rasanya tidak bisa.
"Kau rutin memeriksa kesehatan di rumah sakit ini?"
"Jawab Iya, Bodoh!" batinnya mendorong Deni untuk berbohong.
"Kalau pun iya, kenapa bisa tau kamar Andrean dan Adrian?"
"Lovi, kau ternyata pintar dalam mencecar orang lain ya? pantas saja suamimu akan selalu kalah dalam hal berdebat,"
Mendengar jawaban yang sangat jauh dari topik pembicaraan, Lovi mengangkat sudut bibirnya.
"Devan yang memintaku untuk datang,"
Entah kenapa setelah mengatakan itu, Deni mendesah napas lega. Mungkin sisi lain dalam dirinya memang tidak pandai dalam hal berdusta.
"Kenapa? dia masih peduli pada kami?"
"Lovi, jangan berbicara seperti itu. Dia sangat mencintai kalian,"
"Kau pikir, cinta bisa menemaniku dalam kepanikan beberapa hari lalu saat mereka kejang sampai tak sadarkan diri?"
Deni menelan ludahnya pahit. Ia tidak bisa menjawab. Mata lelaki itu tertuju pada kedua anak kembar yang sedang bermain bersama Serry dengan tangan yang masih di infus.
Ternyata mereka sempat kejang. Hati Deni meringis tidak tega. Ia tidak bisa membayangkan betapa bingungnya Lovi saat itu. Harus menghadapi situasi gawat seorang diri tanpa kehadiran suami disampingnya.
"Kalau dia memang cinta seperti apa yang tadi kau katakan, seharusnya dia datang ke sini. Aku tidak meminta dia untuk menemuiku. Aku bisa pergi dari hadapannya. Itu tidak masalah asalkan kedua putraku bahagia bisa menatap wajah Daddy mereka. Hanya menyapa anak-anaknya, apakah tidak bisa?"
Lovi menunduk dengan mata berkaca. Ia masih ingat betul harapan kedua anaknya yang selalu mereka katakan sebelum tertidur.
"Semoga saat kita bangun nanti, Daddy sudah datang ya, Mommy?"
"Adrian pengin di peluk Daddy saat tidur,"
"Andrean juga. Mommy memangnya tidak bisa menghubungi Daddy? Ponsel Mommy tidak rusak, kan?"
Kalau sudah begitu, Lovi hanya bisa terdiam dan setelahnya mengalihkan pembicaraan, menyuruh mereka untuk segera tidur.
Kalimat mereka yang berlatar belakang 'rindu' selalu membuat hati Lovi terasa perih. Itu hanya permintaan kecil mereka, namun baik Devan maupun Lovi tidak ada yang bisa memenuhi.
Apakah keduanya memang sama-sama keras kepala sehingga tidak ada yang mempunyai keinginan untuk meminta maaf terlebih dahulu?
"Dilihat dari perilakunya yang semakin hari semakin brengs*k, sepertinya besok adalah waktu yang tepat untuk aku mengajukan gugatan perceraian,"
*************
**Mampir di novelku yg judulnya 'WHY' yaaaww
SEKIAN DAN TERIMAKASIH🙏**
__ADS_1