
Sejak dimana Lovi hampir mengetahui kebohongannya, Devan merasa tidak tenang. Ia dan Lovi memang baik-baik saja seperti biasa, namun entah mengapa ketika menatap mata Istrinya, ada perasaan bersalah yang begitu besar.
Sudah banyak sekali kekurangan Devan yang bisa diterima oleh Lovi. Apakah untuk perkara ini, Lovi pun akan menerimanya dengan lapang dada? ditinggalkan, itulah ketakutan Devan selama ini hingga akhirnya memilih untuk menyembunyikan semuanya.
"Kenapa melamun?"
Senata membuat menantunya tersentak bangun dari pandangan kosong. Terlihat sekali kalau pikiran Devan sedang melang-lang buana.
"Aku sedang bimbang, Ma."
"Bimbang kenapa?"
"Nanti adalah jadwalku untuk...periksa," nadanya sangat pelan ketika sampai di akhir kalimat. Mata Devan juga menelusuri penuh waspada. Takut sang Istri tiba-tiba muncul seperti tempo hari.
Senata mengangkat sebelah aslinya. Ia belum mengerti dengan arah pembicaraan Devan.
"Apa sudah waktunya aku jujur?"
Senata terdiam beberapa saat. Ia menatap wajah Devan dengan seksama. Banyak kebingungan dan khawatir di wajah datar itu. Dan Senata mengerti kenapa Devan seperti ini. Lelaki itu tidak ingin rumah tangganya hancur untuk yang kedua kalinya. Mengingat ini merupakan hal yang cukup penting untuk Lovi tahu, Devan sudah merasa khawatir akan ditinggalkan karena ketidak sempurnaannya itu.
"Lakukan yang terbaik, Devan."
*****
Devan melihat Lovi yang sedang berkutat dengan majalahnya. Devan meletakkan segelas cokelat panas di dekat Lovi.
Seperti biasa, minuman itu sudah menjadi kesukaan Lovi setiap harinya. Tanpa cokelat panas, hidupnya terasa ada yang kurang. Dan bila Devan sudah pulang dari bekerja, Lovi selalu meminta Devan untuk membuatkannya.
Devan duduk di sebelah Lovi lalu memanggil perempuan itu dengan ragu. Lovi langsung menoleh pada lelakinya.
__ADS_1
"Lov, mau menemaniku ke rumah sakit?"
"Kamu sakit?"
"Iya, Lov. Sakitku sedikit berbeda. Apa kamu akan menerima keadaanku setelah aku memberi tahu?"
Devan menggeleng dengan senyuman hangatnya. Ia mengusap kening Lovi yang tampak berkerut khawatir.
"Hanya untuk memastikan keadaanku saja,"
"Kamu merasa tidak sehat hari ini?"
"Aku baik-baik saja. Tapi aku ingin ke sana dan ditemani kamu,"
Devan sudah membicarakan ini dengan Senata. Mungkin dengan mendengar penjelasan langsung dari Riyon selaku dokter Devan, Lovi bisa mengerti. Karena sejujurnya Devan tidak bisa menjelaskan secara langsung pada perempuan itu. Ia terlalu pengecut untuk menampilkan kekurangannya sendiri.
****
Adrian berlari menghampiri sang nenek yang berbaring di atas sofa seraya menyaksikan siaran televisi.
"Pergi bersama Daddy. Hanya sebentar,"
Adrian duduk di atas permadani. Ia mengacak rambutnya dengan pelan. Lalu berdecak kesal.
"Kenapa terbangun? kamu baru saja tidur,"
"Aku tiba-tiba saja bangun karena mimpi buruk. Mau ditemani Mommy,"
"Mimpi apa? lalu Andrean belum bangun?"
__ADS_1
"Belum, Andrean kalau tidur seperti orang mati. Grandma seperti tidak tahu saja,"
Senata bangkit lalu menepuk pahanya agar anak itu naik ke atas pangkuannya. Sebenarnya setiap bangun tidur, baik Andrean maupun Adrian selalu mencari Lovi. Apa lagi kalau mimpi buruk. Karena Devan kurang bisa menenangkan kedua anaknya. Ia terlalu banyak melempar guyon ditengah kerisauan Andrean dan Adrian sehingga membuat mereka terkadang kesal.
*****
Alis Riyon menukik tajam saat melihat Devan bersama dengan seorang perempuan memasuki ruangannya. Lovi masih belum bisa menghilangkan kebingungannya.
"Devan..."
"Duduk, Sayang."
Bukan Riyon yang mempersilahkan, melainkan Devan. Hal itu membuat Riyon mendengus. Ia duduk di depan sepasang manusia itu.
"Jadi kali ini kau mau menuruti ucapanku ya?"
Riyon menyindir kelakuan Devan selama ini yang keras kepala. Riyon meminta kehadiran Lovi agar tidak ada lagi beban yang ditutupi Devan. Menyembunyikan perihal penting ini tidaklah mudah, dan Devan harus melakukannya ditengah penyakit itu menggerogoti tubuhnya.
"Suamiku memiliki penyakit apa, Dok?" tanpa awalan, Lovi langsung melempar pertanyaan itu. Hati Lovi sejak tadi benar-benar tidak tenang. Ketika masuk ke dalam rumah sakit, bayangan buruk lah yang ada di kepalanya. Dan itu wajar, karena Devan tidak mengatakan apapun. Bahkan selama diperjalanan pun pertanyaan Lovi selalu ditanggapi dengan senyum manis yang terlihat sangat menyebalkan di mata Lovi.
"Suamimu memiliki penyakit skizofrenia,"
Dan hal serupa juga dilakukan oleh Riyon. Ia ingin Lovi segera tahu. Ini sangat terlambat. Namun bukan kehendaknya juga. Si pasien tidak ingin terbuka pada Istrinya sendiri. Padahal Ia membutuhkan dukungan dari Lovi, sebagai orang terdekatnya. Otak Devan sudah diisi dengan ketakutannya sendiri. Padahal menurut Riyon, belum tentu Lovi akan meninggalkannya.
Devan hanya bisa menunduk. Tidak siap melihat reaksi Istrinya setelah ini. Apakah Ia akan marah lalu memilih untuk berpisah dari Devan untuk yang kedua kalinya? ataukah memutuskan untuk menerima itu semua dan selalu menjadi pendamping Devan?
Apapun yang akan terjadi nanti, Devan sudah siap. Lovi pantas marah padanya. Ia sudah dibohongi sedemikian dalam. Biarpun alasan Devan menyembunyikan ini semua agar Lovi kembali padanya pada saat perceraian mereka dulu, tetap saja caranya salah. Seharusnya sebelum memulai kembali, Devan sudah berbicara sejujurnya. Penyakit berbahaya ini bisa saja membuat Lovi bimbang untuk menerima Devan lagi, sehingga menyembunyikan kelemahan adalah satu-satunya cara yang dipilih Devan.
------
__ADS_1
Up telat bingit wkwk. 'NILLAKU' UDH UP YAAA. MAMPIR JG DONG KE SANA ;)