My Cruel Husband

My Cruel Husband
Selamat ulang tahun 3


__ADS_3

Untuk malam ini Adrian ingin mengurangi tingkah menyebalkannya.


"Silahkan dinikmati pestanya, Adrina. Ingin makan bersama di sini?"


Andrean menatap neneknya tajam. Meja itu untuk keluarganya. Kenapa harus ada Adrina?


"Tidak, aku mau main dengan mereka saja,"


Adrina menunjuk anak-anak lain yang sudah sibuk bermain dan ada juga yang sedang disuapi hidangan oleh orangtuanya.


Adrina tidak hadir bersama kedua orangtuanya karena mereka sedang mengunjungi rumah duka kerabat Daddynya.


"Kami permisi. Sekali lagi selamat ulang tahun untuk kalian,"


Syarief meninggalkan usapan lembut di kepala Andrean dan adiknya sebelum menjauhi keluarga bahagia itu.


"Sudah, Aunty. Andrean mau kue sekarang,"


Jane mengangguk saat Andrean menolak suapannya. Ia mengambil potongan kue tart untuk anak itu.


"Mau yang besar. Jangan yang kecil kuenya. Aunty pelit sekali. Kuenya masih banyak. Aunty tidak perlu khawatir akan habis,"


Jane mengerang kesal. Siapa yang khawatir kehabisan? Ia juga bisa melihat betapa banyaknya kue di meja. Tapi yang Ia takutkan anak itu tidak menghabiskan kuenya kalau Ia mengambil terlalu banyak.

__ADS_1


"Andrean dan Adrian bahagia?" Tanya salah satu sepupu Devan yang pernah menghadiri perayaan rumah baru Devan waktu itu, Zio.


"Bahagia, Uncle," sedetik kemudian raut senang Adrian berubah ketika melanjutkan kalimatnya, "Walaupun tidak ada Mommy dan Daddy,"


Semuanya bisa ikut merasakan kecewa yang singgah di hati Andrean dan Adrian. Mata jernih yang seharusnya menampilkan kebahagiaan itu tidak seharusnya berkaca, menunjukkan seberapa besar harapan mereka akan kehadiran Lovi dan Devan.


Raihan mengisyaratkan keponakannya untuk tak melanjutkan pembahasan itu. Ia mengusap puncak kepala cucu-cucunya. Seolah mengusir apapun yang sedang mengganggu pikiran mereka.


***


Devan membanting pintu mobilnya begitu tiba di carport rumahnya. Ia melihat Lovi yang sedang berjalan tak tentu arah di depan rumah.


"Lov..."


Lovi langsung menghambur ke pelukan Devan seolah melupakan dinding pembatas yang telah Ia bangun dengan kokoh.


Devan menggeleng lemah. Mereka belum bisa menemukan jejak anaknya. Jelas, Raihan tak main-main dalam menjalani rencana. Segala akses ditutup untuk beberapa saat oleh kakek dua cucu itu. Agar Devan dan Lovi sadar akan kesalahan mereka. Tak penting memikirkan status. Seharusnya tanpa itu semua, mereka tetap bisa memenuhi kewajiban sebagai orangtua. Mereka pernah berada diposisi Andrean dan Adrian. Tapi kenapa pengalaman itu tidak bisa membuat mereka belajar? Devan dan Lovi sama-sama pernah menjadi anak broken home. Mereka tahu persis betapa sakitnya diduakan oleh pekerjaan orangtua. Sekarang mereka melakukan itu pada anak-anaknya.


Dan lagi, belakangan ini Devan juga sibuk mencari perhatian Lovi, sementara Lovi sibuk menghindar. Lalu siapa yang memberi perhatian untuk kedua anak kembar itu?


"Mama dan Papa juga tidak ada yang mengangkat panggilanku,"


Lovi melepas pelukan mereka lalu memasuki rumah. Berseru memanggil Serry.

__ADS_1


"Aku ke kantor polisi, Serry."


"Lov, bagaimana kalau kita tunggu---"


Lovi berbalik dan menatap tajam mantan suaminya. Ia mendorong kasar tubuh kekar Devan karena Ia bisa melihat kalau lelaki itu tidak setuju dengan keputusannya ini.


"Tunggu sampai kapan? Sampai mereka celaka? Iya?! Kalau kamu tidak mau, biar aku yang ke kantor polisi sekarang,"


Devan menarik tangan Lovi yang sudah menggila. Ia tampak kacau sekarang.


"Sudah, aku sudah melakukannya. Kamu pikir aku sebodoh itu tidak melaporkan masalah ini ke pihak berwajib? Maksudku tadi, kita tunggu dulu kabar dari orang-orangku dan Polisi,"


Lovi menghempas tangan Devan lalu berjongkok dan histeris. Ia menarik rambutnya sendiri untuk menghilangkan rasa sakit di kepalanya. Membayangkan anaknya yang kini sedang berada di tangan orang lain, Lovi benar-benar merasa tidak berguna.


"AKU KHAWATIR, DEVAN!" Seluruh syaraf yang berada di dalam tubuhnya terasa berhenti beroperasi.


"Aku---Aku--,"


Mata Lovi perlahan tertutup, napasnya yang tadi bersaing dengan dentuman di dada, kini mulai menghembus pelan, dan tubuhnya melemas hingga rasanya tak mampu lagi menahan untuk tidak terjatuh. Devan memeluk perempuan itu. Lalu merangkum wajah Lovi seolah tetap menjaga kesadaran Lovi.


"Lovi, hey, lihat aku! Kamu tidak boleh seperti ini, Sayang. Percaya padaku, mereka baik-baik saja," Devan menangis. Sisi mellow dalam dirinya memaksa untuk menampakkan diri. Ia diserang dari dua arah. Kondisi mantan Istrinya yang seperti ini membuat Devan semakin tak karuan. Keberadaan malaikat kecilnya belum Ia ketahui dan sekarang Lovi menambah beban dalam diri Devan. Mereka sama-sama berarti untuk Devan.


Ia mengeraskan rahangnya, mata tajam itu terus mengunus Lovi yang sudah terpejam. Ia menepuk pelan wajah Lovi namun tidak menunjukkan reaksi apapun. Perempuan yang biasanya sibuk marah-marah, menghindar, dan egois, kini tenang dalam dunia gelap dibalik matanya yang terpejam.

__ADS_1


--------


Udh 3 ep nih. Masih irit Vomment? makasih untk yg udh meninggalkan jejak. Pengertian bgt siiii💙💙 makasi jg bwt yg udh baca tp msh ngumpet🙊😂😚


__ADS_2