
Lovi mendengar pertengkaran antara kakak dan adik itu. Namun Ia memilih untuk bersembunyi di balik dinding yang membatasi ruang tamu dengan tangga.
Ia menggigit bibir bawahnya dengan perasaan sakit. Vanilla berhasil mengingatkannya akan masa lalu.
Kalau waktu bisa diputar, Lovi pun tidak ingin menjual dirinya di rumah bordil. Itu benar-benar menjadikannya tidak berharga sama sekali.
"Aku tidak jauh dengan Lovi. Kamu tenang saja. Walaupun aku terlihat murahan, aku bisa menjaga diriku sendiri,"
"Ucapanmu bisa dipercaya? Aku rasa tidak, karena kamu jauh lebih buruk dari apa yang kamu ucapkan tadi,"
"Devan, kalimatmu menyakiti perasaanku, Kamu tahu?"
Lovi semakin mendekatkan telinganya pada dinding saat suara Vanilla semakin rendah. Ia bisa merasakan sakitnya dikatakan seperti itu oleh seorang kakak. Devan salah, tidak seharusnya Ia meragukan Vanilla.
"Aku tidak ingin kamu--"
"Apa yang kamu khawatirkan tidak akan terjadi. Kamu bisa percaya padaku,"
Langkah kaki Vanilla membuat Lovi tersentak. Buru-buru Ia masuk ke dalam ruangan yang ada di bawah tangga, biasanya dijadikan tempat menyimpan mainan kedua anaknya.
Vanilla berlari menaiki undakan dengan perasaan sesak luar biasa. Mereka semua sibuk menyudutkan dirinya tanpa memberi waktu untuk Vanilla berpikir dan merubah diri. Ia rasa itu adalah hal wajar. Dan lagi usia yang masih muda menjadi alasan. Seharusnya mereka yakin kalau Vanilla bisa menjadi lebih baik, tanpa perlu ketegasan yang berlebih dalam mendidiknya. Vanilla tahu Ia salah, namun Ia belum tahu caranya keluar dari zona yang membuatnya nyaman itu.
Devan menghela napas gusar. Ia mengusap wajahnya dengan hati tidak tenang. Ia tidak bermaksud menyakiti hati Vanilla namun gadis itu perlu untuk diberi tahu dengan tegas. Mungkin caranya terlalu berlebihan, namun tak bisa dipungkiri kalau Devan khawatir akan masa depan adiknya.
__ADS_1
Setelah memastikan Vanilla tidak ada lagi di tangga, Lovi keluar bersamaan dengan Devan yang akan naik tangga. Mereka sama-sama terkejut.
"Lov, apa yang kamu lakukan di dalam?"
Lovi bergumam kemudian menggeleng. Ia tidak mungkin jujur kalau baru saja telinganya mencuri-curi dengar.
"Tadi aku--aku mau minum, haus."
Devan mendongakkan wajah Lovi yang tampak gugup. Matanya menatap Lovi dengan dalam.
"Kenapa masuk ke dalam sana?" Matanya melirik ruangan Lovi bersembunyi tadi.
"Tidak apa--aku--aku baru saja melihat keadaan di dalam. Sudah berantakan sekali, besok aku akan meminta pelayan untuk membereskannya,"
****
"Vanilla belum pulang lagi, Pa."
Rena menyambut kedatangan suaminya. Ia meraih tas kerja Raihan lalu membiarkan Raihan duduk.
"Dia menginap di rumah Devan,"
Langkah kakinya yang ingin mengambil teh hangat untuk Raihan langsung terhenti. Ia menatap Raihan dengan bingung, meminta penjelasan.
__ADS_1
"Vanilla tidak mau pulang,"
Rena menghela napas pelan. Ia menggeleng pelan. Lalu beranjak membawa teh hangat yang sudah disiapkannya tadi dari dapur ke hadapan sang suami.
"Anak itu benar-benar,"
"Aku merasa gagal menjaganya,"
Raihan yang selama ini dikenal dengan keangkuhan dan kekejamannya mampu juga untuk mengeluarkan sisi mellow yang selama ini bersembunyi hingga menjadi sosok yang disegani.
"Tidak terjadi sesuatu pada Vanilla, bukan?"
Raihan mengusap wajah Rena yang langsung mendekati dirinya dengan raut khawatir.
"Tidak, aku hanya merasa gagal,"
"Vanilla bukan bentuk dari kegagalan kita dalam mendidik, Pa. Anak itu mungkin perlu waktu, atau ada sesuatu yang menjadikannya seperti itu,"
"Vanilla tidak separah ini dulu,"
Raihan ingat betul anaknya seperti apa. Hanya Devan yang hobi berbuat sesukanya. Paling-paling Vanilla hanya gila berbelanja sementara pergi ke kelab sampai malam sangat jarang dilakukannya. Dan itupun selalu dengan izin Raihan dan pengawasan Raihan. Sekarang, tidak ada lagi meminta izin dan selalu memarahi pengawal yang menjaganya. Sampai-sampai pernah membuat pengawal Raihan dipukuli oleh warga karena gadis itu mengatakan kalau para lelaki penjaganya itu akan memperkosa dia.
-----
__ADS_1
TINGGALKAN JEJAK YA GENGSS👣 TERIMA KASIH SEMWAAA😚💙