My Cruel Husband

My Cruel Husband
Opa-nya Adrian


__ADS_3

"Ada apa, Boss?"


Tiara masuk ke ruangan Devan setelah lelaki itu memanggilnya melalui interkom. Ia masuk dengan tergesa takut Devan marah kalau Ia lama sampai di dalam ruangannya.


"Pekerjaanku sudah selesai semua? Aku akan pulang,"


"Tinggal pemeriksaan berkas dari Athena corp, Boss "


"Akan aku lakukan di rumah,"


Devan mulai mengumpulkan kertas-kertas yang sekiranya bisa Ia baca di rumah. Memeriksa berkas bukanlah hal yang berat untuknya. Setelah menghabiskan waktu dengan anak dan Istri, Devan bisa melakukannya di ruang kerja.


"Lembur hari ini?"


Tangan Tiara menunjuk dirinya sendiri, Devan tak menatapnya sama sekali. Ia sibuk dengan kegiatannya.


"Berbicara dengan saya, Boss?"


"Kamu, memang saya berbicara dengan siapa lagi di ruangan ini?" nada bicaranya memang selalu tidak santai lelaki yang satu itu.


"Sebentar lagi pekerjaan saya juga sudah selesai,"


"Kalau begitu, kamu bisa keluar sekarang."


***


Sore ini Devan tidak pulang sendirian.Ia bersama Ferro sedang melajukan mobil masing-masing menuju kediaman Devan.


Ferro mengatakan ingin bertemu dengan Lovi, gadis yang dikasihaninya dulu. Ferro selalu berusaha meyakinkan Lovi bahwa Devan akan berubah. Sekarang, itu semua terjadi. Lovi bukan lagi sosok wanita yang menyedihkan. Hidupnya kini sudah dilingkupi oleh cinta dan kasih sayang tidak seperti dulu yang selalu dihina bahkan disakiti fisiknya oleh suaminya sendiri.

__ADS_1


"Tadi anakmu membicarakan aku yang keriput ya?"


Ferro memang masih berada di depan ruangan Devan saat Adrian dan Devan membicarakan tekstur kulit yang biasanya dimiliki oleh orang-orang lanjut usia itu. Ferro langsung mendengus karena yakin kalau Ia yang tengah dibicarakan.


Sementara Devan yang kini berjalan di sampingnya memasuki rumah langsung menelan ludah seraya bergumam dalam hatinya "Sial*n, kalau dia tahu anak itu membicarakan aku yang keriput, pasti dia akan mengolok-olok,"


"YEAAYY DADDY DATANG,"


Adrian melompat-lompat kesenangan saat melihat ayahnya sudah menginjakkan kakinya rumah. Ia mengerinyit sesaat ketika melihat sosok lelaki paruh baya di sebelah Devan.


"Dia siapa, Dad?"


"Ferro, yang tadi kita bicarakan."


Ferro mendengus, "Benar aku yang bicarakan mereka. Anak dan Ayah sama-sama kurang ajar,"


"Dimana Mommy?"


"Adrian tidak mau minum obat Dengan Mommy. Daddy saja yang suapi obatnya,"


Ia menunjuk Lovi yang menyusulnya dengan tergesa. Anaknya berlari menghindar saat Lovi memaksanya untuk meminum obat. Sudah dikatakan ingin minum obat Dengan Devan, namun Lovi tetap bersikeras hingga akhirnya Adrian kesal.


"Ferro, bagaimana kabarmu?" Lovi menyapa lelaki yang dulu hingga sekarang dianggapnya sebagai orang tua. Ferro sangat menghargainya sebagai Istri dari Devan.


"Jangan seperti itu, Boy. Kamu tidak kasihan dengan Mommymu yang sudah mulai buncit itu?" Ia berbicara pada Adrian seraya mengusap kepalanya. Kemudian menatap Lovi dengan tersenyum, "Aku baik-baik saja. Berapa usia kandunganmu, Lovi?"


"Lima belas Minggu," Lovi selalu tersenyum ketika mengatakan itu. Karena bayangannya selalu mengarah pada saat anak itu lahir nanti.


Setelah mempersilahkan Ferro duduk di ruang tamu bersama dengan Adrian, Lovi pergi ke dapur untuk membuat minum. Sementara Devan akan mandi sebentar katanya.

__ADS_1


"Adrian panggil Opa saja ya? karena Adrian sudah punya Grandpa,"


"Suatu kehormatan bisa dipanggil Opa olehmu, Anak tampan."


Ferro memang sangat hangat dengan anak kecil. Ia tak segan mengajak Adrian bergurau hingga anak itu lupa akan sakitnya. Ia kerap menjawil dagu Adrian yang banyak omong. Berbeda sekali dengan Devan.


"Kamu mempunyai kembaran, lantas dimana dia?"


"hmm... biasa, Opa. Andrean selalu menonton televisi. Tidak pusing juga kepalanya. Adrian suka menonton juga, tapi tidak separah Andrean yang hidup dan matinya hanya diisi dengan menonton," Ia mencurahkan hatinya yang kerap sekali di acuhkan sang kakak bila sudah disibukkan dengan televisi. Ia jungkir balik sekalipun, Andrean pasti tetap fokus. Karena selain Ia suka menonton, Andrean paling malas harus berurusan dengan adiknya itu. Di kala bermain saja Ia selalu menjadi korban bullyan pada akhirnya.


Lovi bergabung dengan mereka usai menghidangkan minum dan makanan ringan.


"Aku dengar kalian akan berlibur?" Ferro beralih pada perempuan hamil di depannya. Lovi tetap sama rupanya. Sifatnya yang ramah pada siapapun tak berubah hingga kini.


"Iya, Ferro. Tapi ditunda dulu karena Adrian sakit,"


"Oh kamu bisa sakit juga,"


Ferro memasang raut terkejut menatap Adrian yang kini menatapnya sebal. Ia bertolak pinggang masih dengan posisi duduknya.


"Aku manusia, Opa. Mesin saja ada waktu rusaknya. Apa lagi aku?"


"Nah itu karena tubuh terlalu diforsir. Kamu banyak bermain pasti!" Ferro menjawil hidung Bangir anak bungsu Devan itu dengan gemas. Tak bisa dipungkiri kalau anak ini mengingatkan cucu yang tinggal jauh darinya. Mereka hampir mirip. Mulutnya tak henti berceloteh dan terkadang menyebalkan.


--------


SELAMAT PAGIY NAK-ANAKK. AYOO DUKUNGANNYA JGN LUPA YAA. BWT YG SYUKA NGUMPET, SINI KENALAN MA AKYU ;)BTW, WHY JG UDH UP YA GENGSS.


TERIMAKASIH UNTK KM YG BAIK HATI😘💙

__ADS_1


__ADS_2