My Cruel Husband

My Cruel Husband
Menganggapnya sebagai adik


__ADS_3

Deni membawa Vanilla untuk duduk di sofa ruang tamu mansion gadis itu. Kedatangan mereka langsung disambut oleh Raihan yang memang sudah sangat cemas menantikan kepulangan anak bungsunya.


Orang suruhan Raihan yang ditugaskan untuk menjaga Vanilla dari jauh mengatakan kalau Deni sudah membawa Vanilla pulang sehingga Raihan bisa sedikit bernapas lega.


"Terima kasih, Deni."


"Ya, maafkan aku sudah membawanya pulang terlalu lama,"


"Tidak masalah, kamu sudah melakukan seperti ini saja, aku bersyukur,"


"Devan saja tidak seperti kamu baiknya,"


Deni terkekeh saat Raihan melempar guyonan di tengah rasa cemas yang melanda. Ia bisa melihat dengan jelas kalau dahi Raihan sudah dipenuhi oleh keringat. Pertanda kalau Ia mulai kehilangan kendali atas dirinya sendiri.


Deni pulang dan Vanilla langsung ditangani oleh Rena. Gadis itu dipaksa mandi seperti biasa. Rena menunggunya di luar kamar mandi. Sengaja Ia menyuruh Vanilla berendam. Setiap Ia pulang dalam keadaan seperti ini, Rena memang akan melakukan hal itu.


"Aku tidak mengerti lagi bagaimana caranya mendidik anak itu,"


"Aku mulai menyerah,"


"Pa, jangan mengatakan itu. Dia anak kita. Aku yakin dia bisa berubah. Devan saja bisa, Vanilla pun harus seperti itu,"


Bahkan karena dia, kedua orangtuanya bertengkar. Vanilla mulai benci pada dirinya sendiri tapi Ia tidak bisa mengelak untuk menjadi jahat. Memang seperti inilah dia. Sulit untuk menjadi lebih baik.


"Kamu adalah harapan Papa setelah Devan. Vanilla, katakan pada Papa, apa yang membuatmu seperti ini? Siapa yang menjadikanmu hancur? kamu tidak seperti ini sebelumnya,"


Terlepas dari segala sikap sombong dan kejamnya, Vanilla adalah gadis yang baik-baik saja dulu. Memasuki masa kuliah, sering berpindah kampus, banyak lingkungan yang dijejalnya, banyak juga yang membuatnya berubah. Semua proses itu mau tidak mau menjadikan Vanilla seperti ini. Sebenarnya apa yang harus disalahkan?


"Biasanya, gadis seusiamu hampir gila karena laki-laki. Tapi Papa tidak melihat itu dalam diri kamu. Apa kamu berharap pada seseorang?"

__ADS_1


Raihan mulai angkat tangan. Ia yang terkenal selalu berhasil dalam menaklukan apapun mulai kewalahan dalam menangani anaknya sendiri.


"Tidak, aku melakukan ini karena aku mau,"


"Papa tahu kamu kekurangan teman. Mereka yang ingin berteman denganmu karena mereka butuh sesuatu bukan? apa karena itu?"


"Joana tidak," gumamnya dengan pelan. Mengingat segala kebaikan gadis itu, Vanilla yakin kalau kini Ia benar-benar mempunyai sahabat.


"Tidak bisakah kamu menikmati hidup dengan baik? apa yang harus papa lakukan? jawab papa! apa papa harus membuangmu pada laki-laki baj*ng*n agar kamu bisa berubah?!"


***


Begitu sampai di bandara Yogyakarta, Devan langsung mengaktifkan ponselnya berniat untuk mengabari sang Mama yang sejak kemarin marah-marah karena hanya Lovi yang sering menelponnya.


Sebelum menghubungi Rena, panggilan dari Deni tampak menghampiri layar ponsel Devan.


"Mobil jemputan kita akan datang sebentar lagi, Dev." ujar Fino yang selalu mengikuti mereka kemanapun.


"Ada yang terjadi lagi dengan Vanilla?"


"Tidak, aku hanya ingin mengatakan kalau Minggu yang akan datang, aku akan menikah. Kalian sudah kembali dari berlibur bukan?"


Devan menatap sebentar layarnya. Memastikan kalau orang yang baru saja berbicara itu adalah Deni dan Ia kembali melekatkan telinga pada ponsel.


"Kenapa aku baru tahu sekarang?"


Devan hanya terkejut saja. Baru semalam Ia berbicara mengenai perihal ini dengan Lovi. Dan sekarang keadaannya sudah berbeda. Rupanya Deni bukan lagi seorang single dan siap untuk menikah.


"Aku kira kamu serius dengan Vanilla,"

__ADS_1


Di seberang sana Deni tertawa. Seolah baru saja mendengar omong kosong. Selama ini bukankah Devan sangat melarang kedekatannya dengan Vanilla? kenapa sekarang malah seolah mendukung?


"Aku tidak pernah serius ingin menjalin hubungan dengannya, Devan. Seperti yang kau mau, Aku hanya menganggapnya sebagai adik,"


Lovi baru saja menyadari kalau suaminya tertinggal cukup jauh di belakangnya. Ia menoleh sebentar dan pandangannya dengan Devan bertemu. Devan seolah mengisyaratkan agar Lovi tetap fokus berjalan.


"Aku pernah hampir mati karena kau mengira aku menyukai Vanilla. Aku tahu aku lebih dari baj*ng*n. Sebisa mungkin aku tidak akan menggodanya lagi. Karena aku sadar, dia bukan lagi adik kecilku. Bisa saja adikmu itu terlalu berharap padaku,"


Tawanya terasa membuat Devan tersinggung. Menyakiti Devan yang sudah berbuat terlalu jauh atas perasaan Deni dan adiknya. Tidak seharusnya Ia membuat dinding pembatas seperti itu. Mungkin mereka hanya sulit untuk mengungkapkan.


Falshback ON


Devan berjalan memasuki kantor Deni dengan langkah pasti. Tanpa ada basa-basi Ia langsung memberi pukulan pada sahabatnya itu.


Devan ingat betul ucapan Vanilla semalam. Dia mengatakan kalau Deni sudah keterlaluan dalam menjahili juga menggodanya. Vanilla sudah mulai risih dengan sikap aneh sahabat kakaknya itu.


Deni mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. Dia diam saat Devan mencengkram kerah kemejanya. Melawan Devan yang sudah hilang kendali seperti ini akan menyebabkan masalah lain. Ia khawatir mereka sama-sama Tidak bisa mengendalikan diri.


"Apa maksud kedatanganmu ke sini, Devan?" Napas Devan tersengal begitu pun dengan Deni. Mereka saling melempar tatapan tajam.


"Berhenti mengganggu adikku!"


"Aku hanya suka melihat reaksinya. Menurutku itu menggemaskan,"


"Kamu menyukainya bukan? Aku tidak suka dengan sikapmu yang seperti itu, Deniele Leonard! dia bukan lagi anak kecil, jangan terlalu berlebihan dalam mendekatinya. Kau adalah lelaki brengs*k yang tidak pantas melakukan itu padanya. Sadar diri!"


Falshback OFF


---------

__ADS_1


SELAMAT PAGI ZHEYENG-ZHEYENG🙋 VOMMENT JGN LUPA YAAAKKK. TENCUU😘💙


__ADS_2