My Cruel Husband

My Cruel Husband
Auris berkarya


__ADS_3

Vanilla menikmati menu masakan Mamanya tidak semangat karena bukan itu yang Ia inginkan sekarang tapi makanan yang sangat pedas membakar lidah.


Vanilla lebih sibuk menonton daripada makan. Padahal katanya lapar. Melihat Serry masuk ke ruang makan, pandangan Vanilla teralihkan.


"Dimana Jane? dan Auris kenapa tidak bersamamu?"


"Nona Jane sedang mengerjakan tugasnya, Nona,"


"Auris dimana?"


"Di kamar nona Jane,"


"Oh okay terima kasih,"


"Serry, coba masakan yang aku buat barusan. Enak tidak?"


Melihat Serry sungkan, akhirnya Rena cepat-cepat mengambilkan masakannya untuk dicoba oleh Serry.


"Coba dulu. Lalu beri penilaian,"


Saat Serry akan berlalu ke ruang makan di belakang, Rena melarang nya. "Di sini saja makan nya," ujar Rena seraya membawa Serry duduk di sampingnya. Matanya melirik mangkuk seraya berkata, "Sekarang silahkan dicoba."


Serry mencicipinya dan langsung menunjukkan ibu jari. "Enak sekali, Nyonya."


"Benar?"


"Iya, ini enak sekali. Apalagi masih hangat,"


Serry memuji stick kentang yang dibaluri dengan kuah kaldu kental. Rena bingung ingin buat apa untuk menaikkan nafsu makan anaknya. Jadi Ia memutuskan untuk membuat itu saja.


"Pedas tidak?"


"Menurutku pedas,"


"Tidak. Dimana letak pedas nya?" sahut Vanilla tidak setuju saat Serry menyampaikan pendapatnya.


"Pedas kata Serry,"


Rena memang memberikan sedikit rasa pedas agar Vanilla nafsu menikmati masakannya.


"Kata aku tidak pedas,"


"Ya sudah, nanti setelah anakmu lahir, Mama buatkan udon dengan sambal satu tabung besar biar kamu puas,"


Serry menahan tawanya. Rena menatap Vanilla dengan tajam karena dianggap ingin sekali menyakiti diri sendiri dan anaknya. Udon tadi benar-benar pedas menurut Rena. Dia mau makan itu sementara ada makhluk yang harus Ia jaga di dalam perutnya.


"Kamu sering ya makan yang pedas di apartemen? apalagi saat Jhico bekerja. Pasti kamu merasa bebas. Benar tidak?'


"Makanan aku saja sudah disiapkan oleh Jhico. Aku hanya tinggal makan,"


"Huh! kurang enak apalagi kamu menjadi istri? apapun di sediakan. Saat Mama hamil dulu, Papa tidak seperhatian Jhico,"


"Oh rupanya Mamaku ini kurang perhatian ya,"


"Tidak juga. Tapi perhatian Papa mu itu tidak sebesar Jhico. Sampai apapun disiapkan. Kerjaanmu di apartemen apa? beres-beres tidak, masak juga tidak. Tapi suka sekali membantah ucapan suami. Ayo mengaku!"


Rena mengetuk sendok di meja makan hingga terdengar bunyi denting. Ia seperti sedang menginterogasi anak kecil.


"Makan yang benar! tadi katanya lapar,"


"Memang lapar, tapi aku tidak---"


"Mama nya sendiri saja tidak dihargai. Bagaimana suaminya?" Rena bukan lagi menyindir tapi sudah bicara terang-terangan. Seharusnya Vanilla makan dengan semangat yang sama seperti dirinya saat memasak tadi.


Melihat Mamanya yang sepertinya benar-benar kesal, akhirnya Vanilla fokus makan dan menghabiskan porsinya.


Setelah itu, Ia minum dan beranjak dari ruang makan, meninggalkan Rena yang sedang berkutat dengan ponsel dan Serry yang masih belum selesai menghabiskan makanan yang tadi diberikan Rena.


Vanilla datang ke kamar Jane untuk memanggil sepupunya yang sombong itu sampai tidak mau menemuinya dengan alasan sibuk mengerjakan tugas. Ia ingin tahu sesibuk apa sepupunya itu.


Begitu sampai di kamar Jane, Vanilla melihat Auristella dan Jane sedang berada di tengah ranjang. Mereka menoleh bersamaan pada Vanilla yang baru saja datang dengan tidak santai.


Vanilla membuka pintu kamar Jane sampai terdengar bunyi gaduh.


BRAKK


Jane dan Auristella tentu saja terkejut. Bahkan Auristella terlihat mengusap dadanya dengan raut kaget yang menggemaskan.


"Sok sibuk sekali kamu tidak mau turun menemui aku!"


Jane melempari Vanilla dengan binder tapi Vanilla berhasil menghindar. Vanilla memasang raut angkuh seraya menunjukkan lengannya.


Auristella terkekeh geli melihat pertengkaran Vanilla dan Jane bahkan Ia bertepuk tangan senang.


"Aku memang hamil. Tapi aku masih kuat,"


"Datang-datang buat kerusuhan,"


"Belagu kamu ya. Aku datang bukannya disambut malah sok sibuk mengerjakan tugas,"


"Hey bodoh! bukannya sok sibuk. Aku memang sibuk. Waktuku tidak banyak untuk meladeni orang seperti kamu. Cepat keluar!"


Jane mengusir Vanilla tapi Vanilla malah masuk ke dalam lalu duduk santai di sofa kamar Jane.


"Aku tidak yakin ini kamar manusia. Sepertinya aku salah masuk. Ini kandang sapi mungkin ya?"


Vanilla menjelajahi kamar Jane dengan mata nya. Sangat berantakan hingga Vanilla tak habis pikir. Sebenarnya apa yang dilakukan Jane di kamar sampai membuat semuanya tidak tertata seperti ini.


"Kamu habis didemo ya?"


"Berisik! keluar, sekarang! kamu ganggu saja di sini. Tugasku belum selesai, Van!"


Vanilla menghela napas seraya berdiri. "Okay, aku keluar sekarang. Setelah mengerjakan tugas, turun ke bawah! aku mau dengar cerita mu,"


"Cerita tentang apa?"


"Apapun itu yang berkaitan dengan pernikahanmu,"


Jane hanya bergumam. Vanilla benar-benar keluar dari kamar lalu membanting pintu dengan kencang.


"Astaga, tenaga nya seperti banteng si Vanilla ya,"


Jane mengalihkan pandangan ke arah Auristella yang menatapnya dengan sisa tawa. Jane menggeram lalu menggigit gemas lengan berisi milik Auristella yang hari ini memakai long dress tidak berlengan.


Auristella mencubit pipi Jane yang tengah menggigit lengannya hingga Jane meringis. "Nakal kamu ya,"


"Ndak!"

__ADS_1


"Nakal, kenapa mencubit Aunty?"


Auristella menunjuk lengannya yang menjadi korban Jane. Ia mengingatkan Jane bahwa Jane yang lebih dulu memulai sehingga Ia membalas.


Jane kembali membaringkan tubuhnya di ranjang dan mulai sibuk lagi dengan yang Ia kerjakan sejak tadi.


Auristella merangkak ingin turun dari ranjang. Beruntungnya Jane yang kembali bergelut dengan tugas, cepat-cepat menyadarinya.


"Kalau jatuh nanti menangis. Huh! kamu ini tidak bisa diam sekali sih?"


Daripada dia terjatuh, lebih baik Jane letakkan saja dia di bawah. "Jangan di lantai. Di sini, biar tidak dingin." ujar Jane seraya membawa Auristella untuk duduk di atas permadani tebal dan lembut yang ada di dekat sofa.


Auristella tidak mendengar apa kata Jane. Ia lebih nyaman di lantai, biarpun dingin sekali karena pendingin udara dan musim saat ini.


"Ya sudah, kamu diam-diam di sana ya. Tugas Aunty tinggal sedikit lagi,"


"Ya," jawab Auristella dengan anggukan patuh yang terlihat menggemaskan.


Kamar Jane memang terbilang berantakan. Beberapa perlengkapan kuliahnya ada di lantai. Seperti tempat alat tulis, dua buah binder, dan lain-lain.


Auristella menyentuh itu semua. Ada beberapa kertas yang dia buat kusut tapi setelahnya ditata bersama barang yang lainnya.


Anak itu tidak benar-benar berhasil membereskan semuanya karena usianya belum genap sebelas bulan tentu saja belum bisa melakukan itu dengan sempurna. Tapi yang jelas, Ia sudah mengerti hal apa yang seharusnya dilakukan bila melihat situasi disekitarnya tidak rapi dan kurang layak dipandang mata.


Ia menyusun semaunya saja. Anak bungsu Devan dan Lovi merangkak kesana kemari untuk mengambil semua yang tergelatak mengenaskan di lantai.


Setelah selesai dengan kegiatannya, Ia langsung berseru, "Dah." seraya bertepuk tangan senang. Ia terlihat bangga sekali bisa sedikit menata barang-barang Jane yang berantakan di lantai.


Ia melihat ke arah Jane yang bergeming. Terlihat masih sibuk dan tidak terganggu sama sekali dengan suaranya tadi.


Auristella mengambil tempat alat tulis yang isinya baru saja ditata. Ia meraih satu marker di sana. Auristella memperhatikan lamat-lamat benda tersebut. Ia ingin membukanya tapi tidak mengerti caranya.


Lalu beralih ke bolpoin yang kebetulan tidak ada tutupnya. Anak itu mengambil kertas dengan sembarangan, entah kertas berisi apa itu.


Auristella mulai mencoret-coret kertas dengan bolpoin di tangannya. Setelah melihat kertas semakin ramai, Ia tersenyum puas. Ada tulisan Jane, ada juga hasil karya Auristella.


Ia mengikuti apa yang suka dilakukan Jane bila sedang mengerjakan tugas. Menulis sesuatu di kertas, jadi dia sedang mencobanya sekarang.


"Auris..." panggil Jane dengan mata tidak teralihkan dari layar laptop.


"Ya,"


"Pintar, sudah bisa menjawab."


"Auris..." panggil Jane lagi untuk menguji apakah benar Auristella sudah bisa merespon bila orang memanggilnya.


"Hmmm..." Auristella hanya bergumam kali ini.


"Jawab 'ya' lagi. Kalau begitu tidak sopan,"


"Hmmm...."


"Aishh! anak ini suka sekali meledek,"


Jane menggerutu kesal karena Auristella kembali meledeknya. Tidak diizinkan berucap 'hmmm' tapi Auristella malah melakukannya. Tangan Jane menekan 'save' lalu dokumen tugasnya tersimpan.


Jane menghembuskan napas lega karena tugasnya selesai. Ia duduk lalu meregangkan otot-ototnya yang terasa kebas.


Kemudian Ia berbalik untuk melihat Auristella. Betapa terkejutnya Ia ketika mendapati coretan marker di wajah Auristella.


Tangan Jane menunjuk wajah Auristella yang cantik tapi dikotori oleh marker. Entah kapan anak itu berkarya di wajahnya sendiri.


Jane segera menghampiri Auristella yang kembali sibuk mencoret-coret kertas setelah menatap bingung ke arah Jane yang tiba-tiba berseru seraya melihat wajahnya dengan pandangan terperangah. Auristella seperti tidak menyadari kalau wajahnya kotor.


Jane melihat Auristella memegang marker. "Kenapa kamu bisa membuka marker itu?" tanya Jane tak habis pikir.


Awalnya Auristella memang tidak bisa dan tidak paham bagaimana caranya membuka penutup marker. Tapi setelah Ia coba, ternyata bisa.


"Benar-benar anak Devan ini. Kamu sudah membuat aku pusing ditengah banyaknya tugasku, Auris. Astaga, Tuhan."


Jane menatap semua barang nya yang tidak lagi berantakan di lantai. Semuanya disusun walaupun tidak begitu rapi. Ia yakin Auristella yang melakukannya. Ia cukup berterima kasih. Dan ingin memberikan apresiasi berupa kecupan di pipinya tapi setelah dibersihkan dulu dari tinta marker.


"Ayo, bersihkan wajahmu."


Saat Jane akan menggendongnya, Auristella merengek tidak mau. Ia masih ingin mencoret-coret.


Jane melihat kertas yang telah menjadi media Auristella berkarya.


"Auris, omong-omong kertas apa yang kamu--"


Jane membulatkan matanya. Kemudian Ia memastikan penglihatannya. Jane membolak balik kertas di tangannya itu.


"Di sini ada nilai ujian tulisku, Auris. Errghhh aku gigit kamu ya,"


Jane memasang wajah menyeramkan seolah Ia adalah predator. Auristella menghindar seraya tertawa keras. Ia merangkak cepat sampai akhirnya terjerembab di lantai. Beruntungnya kepala anak itu tidak kenapa-kenapa. Tapi dia menangis dan itu membuat Jane panik.


"Terantuk di lantai?"


Jane memangku nya dan memeriksa kening Auristella. "Kamu jangan mengerjai Aunty ya! tadi Aunty lihat tidak ada yang menyentuh lantai,"


"HUWAAAAA,"


"Kenapa kamu menangis? seharusnya Aunty yang menangis karena kamu merusak itu," ujar Jane seraya menunjuk kertas yang tadi.


"Kalau menangis, Aunty tinggal sendirian di sini ya? biar saja,"


Jane bangkit dan siap-siap keluar dari kamar. Sementara Auristella masih menangis. Saat Jane akan pura-pura menutup pintu kamarnya, tangis Auristella semakin kencang.


Jane akhirnya mendekati anak itu lagi. "Jelaskan kenapa kamu menangis. Tidak ada yang terluka. Nanti kalau Daddy mu mendengar kamu menangis di kamar Aunty, bisa-bisa Aunty digantungnya. Aduh jangan sampai. Aunty sebentar lagi mau menikah,"


"Sestttt diam, berhenti menangis."


Jane meletakkan telunjuknya di depan bibir. Ia menggeleng, sebagai peringatan tegas pada Auristella.


Auristella berusaha menghentikan tangisnya. Setelah itu, Jane segera membawanya ke kamar mandi. Wajah yang dihiasi marker itu semakin aneh dilihat setelah bercampur dengan air mata.


Auristella masih sesenggukan dan itu membuat Jane tidak tega. Ia mengusap kepala Auristella lalu mendudukkan anak itu di wastafel kamar mandinya seraya Ia peluk perutnya agar tidak terjatuh. Kalau Auristella sampai jatuh dari wastafel karena ulahnya, Ia bukan lagi digantung oleh Devan, tapi ditembaknya.


Menurut siapapun, Devan itu berlebihan kalau sudah menyangkut anaknya. Memang begitu kenyataan yang selama ini dilihat oleh orang di sekitar Devan. Anaknya tidak bisa menangis sedikit oleh orang, pasti orang itu akan dicecarnya. Kalau ternyata anaknya yang salah, maka orang itu aman. Tapi kalau sebaliknya, maka Devan akan bertindak tegas. Apalagi kalau anaknya terluka karena orang lain barang sedikit saja, sudah bisa dipastikan Devan akan melakukan hal yang sama.


"Aduh, bagaimana menghilangkannya, Auris? ini sulit sekali dihapus,"


Jane menggerutu seraya tangannya bekerja menghapus noda di wajah keponakannya. Auristella menatap dirinya sendiri di cermin dan Ia nampak santai melihat wajahnya yang seperti itu. Tidak takut sama sekali padahal Jane sudah mengira Auristella akan takut melihat wajahnya sendiri.


"Jalan satu-satunya adalah kita datang ke Mommy mu. Lalu dia yang membersihkan. Semoga dia sudah pulang ya,"


Jane menuju kamar Lovi. Ia ketuk, tidak ada jawaban. Sepertinya tidak ada tanda-tanda Lovi sudah tiba di mansion.

__ADS_1


"VANILLA,"


"VANILLA,"


"VANILLA,"


"Sssstt!" Auristella menegur Jane yang teriak hingga telinga nya sakit. Ia teriak tidak kira-kira. Volume nya kencang dan di dekat telinga nya.


Jane membawa Auristella ke lantai dasar karena ada suara Vanilla yang bisa Ia dengar. "Van!"


Vanilla mendongakkan kepalanya ke atas karena Jane masih mengeluarkan suara kencangnya seraya menuruni anak tangga. "Apa sih? turun kalau mau bicara. Memang ini hutan?!"


"Astaga, wajahmu kenapa, Auris?"


"Habis dilukis," sahut Jane setengah menggerutu. Ia menyerahkan Auristella pada Rena dan nenek tiga cucu itu mengerinyit bingung.


"Kamu yang membuatnya seperti ini? lalu tidak mau tanggung jawab?"


"Kurang kerjaan Sekali aku mencoret-coret mukanya. Itu dia sendiri yang buat. Entah apa maksudnya,"


Rena menggeleng pelan dan menatap Auristella dengan senyum geli. Auristella memegang wajahnya karena gatal. Ia menggaruk sesuka hatinya.


"Jangan digaruk! kita bersihkan sekarang,"


Rena beralih ke kamar mandi bawah yang biasa Auristella pakai. Ia menuangkan sabun bayi milik Auristella ke tangannya lalu dibalurkan sabun itu ke wajah cucu perempuannya.


Sempat-sempatnya Auristella bergaya. Ia memiringkan kepala nya ke kanan dan kiri dengan pipi yang penuh dengan busa.


"Auris, kenapa tingkahmu seaneh ini, Sayang? Mommy mu tidak aneh-aneh saat mengandung kamu. Tapi kenapa---"


Rena tak bisa berkata-kata lagi. Rena menampung air hangat dari shower untuk membasuh wajah Auristella. Saat wajahnya dibasuh, Auristella mengerang karena tangan neneknya menghalangi pandangan dirinya terhadap cermin. Ia sedang bergaya tapi karena Rena, kegiatannya terganggu.


"Tunggu dulu sebentar. Kamu tidak malu wajahnya hitam-hitam begini? seperti dilempari oli kendaraan, tahu tidak?"


"Ndak,"


"Hihh pintar sekali kamu menjawab ya?"


"Ndak," anak itu mengulanginya. Tadi Jane yang diledek begitu. Sekarang Ia melakukannya pada Rena.


"Sudah bersih. Coba lihat tanganmu,"


"Ya ampun, ini kotor sekali."


"Ndak!"


"Kotor, ini banyak noda hitam."


Kali ini Rena membersihkan tangan cucunya. Ia juga memeriksa bagian tubuh yang lain seperti kaki, leher, dan sekitar telinga Auristella.


"Sudah bersih. Kalau Mommy mu melihat kamu seperti tadi, sudah bisa dipastikan dia sulit mengenali kamu, Auris. Wajahmu benar-benar berantakan tadi,"


Digendong untuk keluar dari kamar mandi, Auristella menolak. Tapi Rena tidak peduli. Ia tidak mau menuruti keinginan Auristella. Karena Ia harus menggantikan baju Auristella karena dibagian lengannya terdapat noda tinta marker.


Serry membawakan baju dan celana Auristella lalu Rena mulai menggantikan baju Auristella. Seperti biasa, anak itu tidak akan bisa diam bila sedang diperbaiki penampilannya.


Lovi datang bersama dengan kedua anak lelakinya. Ia tersenyum melihat Auristella yang nampak segar. "Habis ganti baju? sudah makan berarti?"


"Belum makan. Tadi Ia melakukan sesuatu di kamar Jane jadi harus ganti baju,"


"Melakukan apa, Ma?"


"Wajah anakmu tadi tidak karuan. Hampir mirip seperti Tarzan," Jane menjawab apa adanya.


"HAHAHAHHAA TARZAN. AURIS SI TARZAN HUTAN," Adrian mendengar ucapan Jane dan jiwa usilnya mulai bangkit.


"Kenapa memangnya?"


"Dia bermain tinta,"


Mendengar jawaban Jane, Lovi langsung menggeleng pelan, Ia tak habis pikir.


"Auris... Auris... kamu sengaja membaluri tintanya?"


Auristella tidak menjawab karena Ia sedang menyisir rambutnya sendiri. "TERBALIK ITU SISIR NYA HEY!"


"Jangan teriak, Adrian! lebih baik kamu masuk ke kamar lalu ganti baju. Kakakmu langsung masuk ke kamar tadi,"


"Auris sok tahu. Pakai sisir terbalik. Yang dipakai itu geriginya," Adrian belum puas bicara pada adiknya.


"Itu baju nya juga terbalik. Astaga, untung kamu tidak terbalik juga ya. Kepala di bawah, kaki di atas,"


Usai mengatakan itu, Adrian langsung beranjak ke kamarnya. Rena langsung melihat baju yang dipakai Auristella.


Seketika Ia menepuk keningnya. "Ini kenapa bagian luar jadi bagian dalam ya?"


"Mama bertanya pada Auris? dia saja tidak mengerti," sahut Vanilla yang menahan tawanya saat melihat Auristella kebingungan karena tiba-tiba saja Rena melepas kembali baju yang dia pakai.


Lovi terkekeh geli melihat Rena. "Mommy ganti baju dulu ya," izinnya pada Auristella. Tanpa mendengar jawaban Auristella, Lovi sudah menjauh.


Auristella menatap Neneknya. Mungkin Ia kesal juga karena bajunya dilepas lagi. "Maaf ya, Sayang. Grandma kurang fokus,"


Setelah berhasil dipakaikan nya lagi, Rena bertepuk tangan. "Sudah cantik. Kali ini tidak terbalik lagi,"


Auristella ikut bertepuk tangan riang padahal dia tidak mengerti hal apa yang baru saja dibicarakan Rena. Melihat orang lain tepuk tangan, Ia mengikuti.


"Grandma payah ya, Auris. Masa bisa salah memakaikan kamu baju,"


"Jane si provokator," Rena menyindir keponakannya itu.


"YEEAAAYYY!"


Jane, Vanilla, dan Rena menutup telinga karena teriakan melengking yang keluar dari mulut Auristella.


"Huh? kenapa tiba-tiba teriak?"


"Kamu menggemaskan sekali sih,"


Vanilla menggertakan giginya. Ia membawa Auristella ke atas pangkuan. Wanita hamil itu mencium Auristella semaunya.


"ARRGHHH!" Auristella berteriak marah dan tidak terima pipinya yang cantik dan imut itu di sabotase.


"Semoga kalau anakku perempuan, cantiknya seperti kamu ya. Tapi sifatnya jangan,"


--------


Ada yg mau serumah sama anak yg kyk Auris? aku mau, kalian ada yg mau jg gk?😂

__ADS_1


__ADS_2