My Cruel Husband

My Cruel Husband
Masih dalam suasana pesta


__ADS_3

"Ayah datang malam ini. Aku yang mengundangnya,"


Saat keluarga besarnya sudah berkumpul di lingkaran meja yang begitu luas, Devan membawa Lucas untuk mendekat. Ia memperkenalkan Lucas pada seluruh keluarga yang hadir. Sepupu Devan, Aunty, dan Uncle Devan.


Lucas menatap putrinya cukup lama, bahkan disetiap gerak Lovi Ia perhatikan. Sayangnya, Lovi memilih sibuk dengan Auristella ketika Ia tahu ada ayahnya di sini.


Lucas turut bergabung dengan Keluarga besar Devan. Mereka menikmati dinner seraya berbincang hangat. Bila berkumpul, tidak pernah kehabisan topik pembicaraan.


Lucas menyapa Auristella dan reaksinya tidak terduga. Anak yang statusnya menjadi bungsu itu langsung mengecup pipi Lucas setelah Lucas mengecup pipinya. Inilah yang diinginkan Devan. Tidak ada batasan antara Lucas dengan anak-anaknya. Ia sama saja seperti Raihan.


"Daddy, semalam sudah janji untuk minta maaf dengan Mommy,"


Devan menepuk keningnya. Untung saja Andrean mengingatkan. Rupanya anak itu tidak akan diam saja ketika Devan melupakan hal yang seharusnya Ia lakukan setelah berbuat kesalahan.


Devan menggenggam tangan Lovi lalu mengecupnya. "Maafkan sikap aku semalam ya. Itu juga termasuk rencana aku,"


"Apa?"


Devan tersenyum meringis. Lovi pasti tidak menyangka kalau Devan benar-benar niat untuk membuat kejutan ini.


"Jujur aku sedih saat kamu bersikap seolah lupa dengan hari ulang tahun pernikahan kita. Lalu semalam kamu marah-marah padahal penyebabnya hanya masalah kecil,"


Devan memeluk Lovi lalu mengusap punggungnya dengan lembut. "Maaf, membuat kamu menangis,"


Lovi melepas pelukan suaminya lalu menatap Devan dengan sorot penasaran.


"Kenapa kamu sampai membuat rencana seperti ini? kerja keras sekali kamu ya,"


"Biar berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, Lov. Walaupun sempat kesal, tapi kamu bahagia?"


"Jangan ditanya lagi! aku sudah mengatakan itu berulang kali malam ini,"


"Adrian, main di sana mau tidak?"


"Hey, Jemmy. Ini bukan tempat bermain," tegur Jhon yang merupakan salah satu sepupu Devan sekaligus ayah dari Jemmy. Adel, Mora, Dein juga anak-anak dari sepupu Devan yang lain. Mereka sudah bersiap untuk bangkit termasuk Adrian, padahal makanan mereka belum habis


"Adrian juga kebiasaan ya." Devan memperingati anaknya melalui tatapan. Adrian menciut dan langsung kembali duduk.


Devan tidak ingin anak dan keponakannya sibuk bermain, berlarian kesana kemari, lalu kelelahan, dan malah sakit karena makan juga tidak habis. Setelah berkumpul tidak boleh ada yang sakit.


Auristella membuka mulutnya saat Lovi menyuapinya dessert. Ia menyukai puding rasa cokelat itu. Lovi menyuapi anaknya sambil berbicara dengan Devan sehingga terkadang tidak fokus dengan apa yang sedang dilakukannya. Ketika Lovi mengulurkan sendok lagi dan matanya menatap sang suami, malah Adrian yang membuka mulut sehingga puding itu masuk ke dalam mulut Adrian, bukan Auristella.


"Huwaaaaa, Mom." seperti biasa, Auristella merajuk. Devan memberi isyarat agar Lovi melihat putrinya yang siap mengeluarkan tangis.

__ADS_1


"Huh? kamu kenapa?"


"Kamu menyuapi anak jangan sibuk yang lain dulu. Pudingnya salah masuk mulut itu,"


Lucas menasihati Lovi dengan lembut. Melihat cucu perempuannya menangis, dengan penuh kelembutan Ia mencoba untuk menenangkan Auristella.


Lucas berdiri seraya menimang cucunya. Walaupun di keramaian, bila sudah mendapat ketenangan dan rasa kantuk tak tertahan lagi, Auristella bisa tertidur juga.


"Setelah ulang tahun pernikahan ini, ada niat memberikan adik untuk Auris dan kedua kakaknya?" tanya Zio pada sepupunya yang kerap menjadi teman berdebat sejak Ia masih kecil, sama seperti Jhon.


Devan melirik Lovi. Keputusan ada di tangan istrinya. Tetapi bila dilihat dari respon Lovi setiap kali membahas rencana untuk menambah anak, Lovi selalu mengatakan ingin fokus pada ketiga anaknya. Dan lagi, usia Auristella masih terlalu kecil. Kasihan dia bila harus mengalah dengan adiknya nanti padahal dia sendiri masih butuh perhatian lebih.


"Tiga anak saja sudah membuat tekanan darah naik terus," Lovi menjawab seraya menggeleng tak bisa membayangkan akan seramai apa hari-harinya nanti.


"Fokus pada tiga anak yang sudah ada dulu. Tapi kalau memang ditakdirkan untuk punya anak lagi, kita akan menerima dengan senang hati,"


"Vanilla, Jhico!"


Devan melambai untuk memanggil Vanilla dan Jhico yang baru saja datang. Mereka saling memeluk satu sama lain. Vanilla merindukan keluarga besarnya.


Pada kesempatan kali ini Jhico kembali dipertemukan dengan keluarga Vanilla. Jhico pernah bertemu dengan mereka saat hari pernikahannya.


"Aunty terlambat! makananku sudah hampir habis, padahal tadinya ingin disuapi Aunty,"


"Maaf, Sayang. Uncle Jhico baru saja selesai bekerja,"


Setelah cucunya benar-benar lelap dalam gendongan, Lucas kembali bergabung. Devan menyuruh perawat Auristella yang memang ikut serta untuk memindahkan Auristella ke dalam stroller agar tidak menyulitkan Lucas.


"Ayah, perkenalkan, Ini Vanilla adikku dan Jhico suaminya," Vanilla menerima uluran tangan Lucas begitupun dengan Jhico. Lucas bahagia mendapat sambutan yang begitu hangat. Pertemuan ini baru pertama kalinya dan tidak ada sikap yang dingin sama sekali dari keluarga Devan, hanya Lovi yang masih belum mencair.


Vanilla bertanya-tanya dalam hati atas fakta yang baru didengarnya. Setelah sekian lama menikah dengan Devan, kenapa Lovi tidak pernah mengikut sertakan ayahnya di setiap pertemuan keluarga?


"Devan, menurutmu Lovi berbakat dalam dunia bisnis?" Athar, salah satu Uncle Devan bertanya sekaligus menyelipkan nada menggoda yang mengundang tawa geli Devan. Mengingat raut wajah istrinya tadi ketika dikepung oleh orang-orang yang ahli dalam bidangnya, membuat perut Devan tergelitik.


"Aku pikir yang kamu bisa hanya masak, dan mengurus anak, Lov. Ternyata tahu juga konsep bangunan. Rupanya istriku ini diam-diam banyak belajar ya?" Devan menjawil hidung bangir sang istri yang mengalihkan wajah tak ingin disentuh karena Devan kembali mengolok kejadian tadi.


"Lain kali aku harus melibatkan kamu lagi. Kalau--"


"Apa-apaan?! sampai sekarang saja aku masih keringat dingin,"


"Karena belum biasa, Lov."


"Tidak, berurusan dengan teflon dan alat-alat masak lainnya lebih baik daripada harus berada di tengah-tengah rapat seperti tadi,"

__ADS_1


Kepolosan Lovi membuat suasana lebih berwarna karena diisi dengan tawa. Saat seperti inilah yang hampir setiap hari dirindukan oleh Devan. Dimana semuanya berbaur, membicarakan apapun yang menarik, lalu berpendapat ketika dibutuhkan.


********


Adrian sudah mengantuk. Ia berjalan malas menuju mobil tapi tetap menyempatkan diri untuk saling memeluk bersama sepupunya.


"Aku tidak sabar menunggu akhir bulan,"


"Aku juga. Nanti saat liburan jangan lupa bawa mainan yang banyak,"


Para orangtua sudah memiliki rencana untuk liburan bersama sekeluarga. Bila tidak ada kendala apapun, liburan akan dilaksankan akhir bulan nanti.


"Pasti, kalau begitu aku pulang ya. Bye,"


"Aku juga pulang. Hati-hati!"


Setelah semua anak kecil masuk ke dalam mobil masing-masing. Devan masih berbicara dengan Lucas seraya berjalan. Adrian yang melihat itu, berseru dari dalam mobil.


"Grandpa, pulang bersama Adrian. Mobilnya masih lega,"


Devan menoleh pada anaknya lalu menatap Lucas, Ia juga membujuk agar Lucas menuruti ucapan Adrian.


"Sudah ada supir-mu yang akan mengantar ayah,"


"Tapi kami bisa mengantar ayah dulu, setelah itu pulang."


"Jangan, Devan. Anak-anakmu harus segera istirahat. Kasihan mereka,"


"Grandpa Lucas, ayo. Masuk ke dalam mobilku sekarang. Nanti Daddy antar ke rumah,"


"Iya, Ayah. Kita masih bisa berbincang di dalam mobil nanti,"


"Grandpa, ini permintaan." sahut Andrean. Lovi sibuk memberikan susu dalam botol untuk Auristella yang bangun beberapa menit lalu.


Lovi mendengar semua interaksi yang terjadi diantara kedua anaknya bersama Lucas, sang ayah, dan jujur Ia merasa haru. Ternyata kasih sayang Andrean dan Adrian begitu besar untuk Lucas.


Devan membawa Lucas masuk ke dalam mobilnya. Saat Lucas menggeleng, Devan tetap memaksa dengan cara santunnya.


"Yeaay pulang dengan Grandpa," Adrian memeluk leher kakeknya dari kursi tengah karena Lucas duduk di samping kemudi Devan.


Mobil itu hanya berisi keluarga kecil Devan. Rena, Senata, dan Raihan menggunakan mobil lain. Begitupun dengan Jhico dan Vanilla yang mobilnya menjadi pemimpin karena berada di posisi depan, keluar terlebih dahulu dari basement hotel.


Selama di perjalanan hanya diisi dengan suara Devan dan sesekali Lucas akan menanggapi. Sedikit hening karena Adrian sudah terlelap, begitupun dengan kakaknya.

__ADS_1


Setelah Lucas hadir di hidupnya, Devan merasa punya sosok ayah yang tak berbeda jauh dengan Raihan. Bisa dijadikan teman sekaligus pemberi nasihat. Hidupnya semakin lengkap.


Dari awal bertemu, lelaki itu sudah memiliki rasa sayang terhadap ayah dari istrinya. Oleh sebab itu Ia tidak suka bila sang istri terlalu dalam menyakiti Lucas.


__ADS_2