My Cruel Husband

My Cruel Husband
Supporter Andrean dan Adrian


__ADS_3

"Dad, besok ada turnamen. Jangan sampai lupa,"


"Ya, kamu sudah mengatakan itu sejak satu Minggu yang lalu,"


"Jangan bangun siang ya,"


"Iya, Sayang."


Sebelum tidur, Adrian kembali berpesan pada Daddy nya itu. Karena Ia khawatir Devan tidak bisa menepati janjinya untuk menemani dia turnamen sepak bola besok pagi.


Andrean tidak terlalu menuntut. Ia hanya mengatakan ingin ikut turnamen tapi tidak memaksa Devan untuk datang karena Ia tahu Devan sibuk dengan kegiatannya.


"Aduh, Auris." Suara Lovi yang meringis membuat ketiga lelaki yang sedang duduk di ataa permadani seraya menonton itu, menoleh pada Lovi.


"Kenapa, Lov?"


"Perutku ditendang oleh Auris,"


Devan yang mendengarnya panik. Ia segera bangkit dari duduk ternyaman nya lalu mendekati Lovi. Lelaki itu menjauhkan kaki Auristella dari perut Lovi. Auristella terkadang tidak bisa diam kalau tidur.


Devan mengusap kaki anaknya. Dan Auristella langsung melenguh. Mungkin Ia merasa terganggu ketika Devan menyentuh kakinya.


"Auris nakal!" geram Adrian.


Devan berdesis memperingati Adrian. "Auris tidur, jadi dia tidak sadar." Percuma juga Adrian marah-marah karena Auristella sedang terlelap. Apa yang dia lakukan tadi tidak dengan kesadarannya.


"Perutmu sakit, Mom?" tanya Andrean. Lovi mengangguk dan bangkit untuk duduk. Ia mengusap sebentar perut nya. Ia sudah hampir terlelap tapi tiba-tiba saja perutnya diserang oleh Auristella.


"Lagipula Auris kan sudah besar, seharusnya dia tidur di dalam boks nya saja,"


"Kamu juga sudah besar kenapa masih suka tidur di sini?" pertanyaan itu keluar dari bibir Devan membuat Adrian terdiam telak.


Devan menyuruh istrinya untuk kembali berbaring. "Apa aku letakkan Auris di boks nya, Lov?" Ucapan Adrian tadi ada benar nya juga bagi Devan. Ia jadi bimbang sekarang.


"Jangan, biasanya dia terbangun tengah malam dan menangis kalau tidak melihat aku,"


"Biar dia terbiasa juga, Lov."


"Aku belum mau tidur berjauhan dengan dia,"


Akhirnya Devan mengangguk. Auristella memang jarang sekali tidur di boks nya karena pasti Ia akan terbangun tengah malam. Ia akan menangis kalau tidak melihat Lovi.


"Ayo, Dad. Kita menonton lagi,"


Setelah menyelimuti Lovi dan Auristella, Devan kembali bergabung bersama kedua putranya.


****


Pagi buta Adrian dan Andrean sudah mandi dan mengenakan seragam turnamen mereka. Mereka berdua sarapan ditemani oleh Lovi dan Auristella.


Auristella hanya memperhatikan kedua kakaknya makan. Ketika ditawari oleh Lovi untuk makan juga, dia menggeleng. Sepagi ini mungkin Ia belum nafsu untuk mengisi perut.


"Setelah ini siapa yang mau membangunkan Daddy?"


"Adrian, Mom."


"Memang itu jawaban yang Mommy tunggu," ujar Lovi seraya tersenyum pada Adrian. Kalau Adrian yang membangunkan pasti Devan cepat bangun. Karena Adrian punya seribu satu cara untuk membuat Daddy nya membuka mata.


Adrian menikmati macaroni and cheese dengan begitu lahap. Ia sampai mengeluarkan suara gumaman untuk menjelaskan betapa lezat makanan itu.


"Aku hampir melupakan makanan kesukaan ku ini. Karena Mommy sudah jarang sekali membuat Mac and cheese," ujar Adrian. Kemudian Ia beralih pada adik nya.


"Auris kenapa diam saja?" Auristella menatap kakak keduanya yang menegurnya. Lovi mengusap wajah anaknya yang terlihat masih mengantuk.


"Giliran dia tidak bisa diam, kamu protes." sahut Lovi yang tidak dibantah oleh Adrian.


"Tidak biasanya. Kamu mengantuk ya? kenapa tidak tidur lagi? kamu bangun terlalu pagi,"


Auristella tidak mengacuhkan ucapan kakak keduanya. Anak itu mengulurkan tangan ke arah Andrean, sepertinya minta dipangku.


"Andrean sedang makan!"


"Tidak usah bicara kencang-kencang begitu, Adrian." Lovi menatap Adrian penuh peringatan. Auristella tidak minta dipangku olehnya, kenapa dia yang marah?


"Kamu duduk di kursimu saja. Andrean tidak bisa memangku mu sambil makan, nanti jatuh. Tubuhnya saja masih kecil,"


Lovi mengambil kursi makan Auristella lalu meletakkan kursi itu tepat di samping Andrean. Setelahnya, Ia menempatkan Auristella di atas kursi itu.


"Pagi,"


"Pagi, Grandma Sena."


Senata baru bangun dan ingin mengambil air minum ternyata di meja makan sudah ada kedua cucunya yang sedang sarapan ditemani Lovi dan Auristella.


"Pagi sekali kalian sarapan, tidak biasanya."


"Hari ini aku ada turnamen. Grandma lupa?"


"Oh iya, Grandma baru ingat,"


"Padahal aku sudah mengatakan itu dari seminggu yang lalu,"


"Iya, kenapa Grandma bisa lupa ya? padahal kamu sudah membuat pengumuman sejak awal,"


Setiap ingin mengikuti perlombaan, Adrian selalu mengatakannya sejak awal. Ia butuh dukungan dan doa sehingga membuat pengumuman untuk semua penghuni mansion. Hampir setiap hari Ia mengatakannya lagi dan lagi agar tidak ada yang lupa. Satu persatu orang dia ingatkan.


Usai mengambil air minum, Senata duduk di meja makan bersama anak dan ketiga cucunya.


"Aku sudah selesai, Mom."


"Ya sudah, bangunkan Daddy ya,"


"Okay, aku ke kamar dulu."


Melihat Adrian bangkit dari kursi, Auristella merengek, tidak mengizinkan. "Adrian hanya membangunkan Daddy sebentar, tidak akan lama."


"Iya, aku hanya sebentar. Tidak usah menangis, kita tidak mau berpisah lama, Auris."


Adrian meninggalkan ruang makan dan tangis Auristella pecah. Andrean yang sedari tadi diam saja langsung sigap menenangkan adik kecilnya.


"Jangan menangis, Auris. Adrian tidak lama,"


"Sini, Mommy gendong. Kamu masih mengantuk sebenarnya,"


"HUWAAAA,"


"Ssstt sayang berhenti menangis." Senata membujuk Auristella seraya menepuk tangannya untuk menghibur Auristella.


"Kamu lagi manja dengan Andrean dan Adrian ya? Sepertinya tidak mau jauh-jauh. Tadi minta duduk dekat Andrean. Sekarang menangis karena ditinggal sebentar oleh Adrian,"


*****


Adrian melompat ke atas ranjang. Ia segera melancarkan aksi nya. Ia menyentuh lengan Devan dengan gerak tidak santai hingga Devan berdecak kesal tapi masih terpejam.


Adrian membuka selimut yang membalut tubuh kekar sang ayah. Lalu Ia menempatkan tubuhnya di atas perut Devan.


"Daddy, bangun. Daddy ingat kalau hari ini aku ada turnamen?"


"Engghh," Devan melenguh saja tapi tidak membuka matanya.


Devan kembali menarik selimut lalu ingin membalikkan posisi tubuhnya tapi merasa kesulitan karena ada Adrian yang duduk di atas perutnya.


"Daddy!"


"Apa?" jawab Devan dengan suara serak dan pelan. Adrian membuka kedua mata Devan. Lalu meniupkan udara dari mulutnya di sana.


"Dad, bangun."


"Ini hari kerja, tapi Daddy tidak boleh kerja karena harus datang ke turnamen aku,"


"Daddy!"


"Daddy, cepat bangun lalu mandi!"


Tidak ada reaksi apapun dari Devan membuat Adrian menggeram dalam hati.

__ADS_1


"Huh," Adrian membuang napas kesal. Ia bangkit dari perut Devan. Devan langsung menelungkup. Adrian tak kehabisan cara untuk membuat mata Devan benar-benar terbuka.


Adrian turun ke lantai lalu mendekati kaki Daddy nya. Ia menggelitiki telapak kaki Devan. Devan mengangkat kakinya karena merasa geli.


"Daddy bangun. Kalau tidak bangun, aku ganggu terus. Belum mandi, belum siap-siap, belum sarapan. Perlu berapa lama untuk Daddy melakukan itu semua? sementara waktu semakin siang,"


Adrian berdecak kesal. Percuma juga dia bicara panjang lebar karena Devan masih terlelap. Karena kesal, Ia menarik rambut di kaki Devan. Ditarik satu helai, Devan hanya meringis. Dua helai, barulah Ia berteriak kesakitan.


"ERRGHH ADRIAN!"


Adrian terkekeh geli saat Devan menatapnya tajam. Akhirnya manik hitam legam itu terbuka juga. Ia bertepuk tangan senang karena berhasil membangunkan Devan, seperti biasa tidak membutuhkan waktu lama.


"Ayo cepat mandi. Daddy sudah janji mau menemani aku dan Andrean turnamen,"


"Memang masih jam berapa?"


"Coba lihat sendiri," jawabnya seraya menunjuk benda persegi yang melekat di dinding.


Alis Devan terangkat saat melihat pukul berapa sekarang. "Masih pagi, tidak akan terlambat,"


"Tapi aku sudah siap sekarang,"


Adrian menunjuk tubuhnya sendiri. Penampilannya menggambarkan kalau dia memang sudah siap untuk berangkat bertanding.


Devan mengulurkan tangannya, minta dibantu untuk duduk. "Uhh Daddy manja," gumam sang anak.


Adrian menarik tangan Devan agar Daddy nya itu duduk. Devan sengaja mengerjai anaknya. Ia tidak mau mengangkat tubuhnya, sehingga Adrian semakin keberatan.


"Daddy ayo usaha bangun. Aku sudah bantu juga," gerutu nya yang membuat Devan menahan tawa.


"Kamu tidak benar membantu Daddy. Buktinya Daddy tidak bisa bangun ini,"


"Aku sudah benar membantu Daddy," sanggah Adrian. Ia sudah sekuat tenaga membuat Devan duduk, tapi badan Devan memang sengaja dibuat tidak bergerak oleh Devan.


Devan menghela napas, lalu segera bangkit dari posisi ternyaman nya. "YESS DADDY BANGUN," Adrian berseru senang. Devan berjalan ke kamar mandi.


"Mandi nya cepat ya, Dad."


"Iya, Daddy kalau mandi tidak pernah lama, tidak seperti kamu."


****


Lovi dan Auristella juga ikut ke tempat turnamen Adrian dan Andrean. Yang mengikuti turnamen ini adalah mereka yang memiliki minat didukung dengan kemampuan juga.


Lovi sengaja mempersiapkan baju untuknya, Devan, dan Auristella yang senada dengan baju bola yang dikenakan dua anak laki-laki nya yaitu merah. Devan dan Lovi juga kompak menggunakan sepatu sneaker berwarna putih. Penampilan sporty dari keluarga kecil mereka menjadi pusat perhatian.


Lovi membantu kedua anaknya untuk mempersiapkan diri. Sementara Auristella di ambil alih oleh suaminya.


"Ikatan tali sepatu ku kurang kencang,"


Setelah memasang deker atau pelindung tulang kering di kaki Adrian, Lovi beralih pada anak sulung nya. Ia segera merendahkan tubuhnya di depan Andrean yang duduk untuk memperbaiki ikatan tali sepatu milik Andrean.


"Sudah 'kan?" tanya Lovi memastikan apakah ikatan nya sudah pas untuk Andrean. Anak nya itu mengangguk dan mengucapkan 'terima kasih'.


Auristella menatap suasana di sekitarnya. Ada banyak orangtua yang juga membantu anaknya bersiap sebelum bertanding. Sekolah kedua anak kembar itu akan bertanding dengan sekolah yang memang sudah biasa menjadi saingan di setiap perlombaan.


"Tidak usah memikirkan 'harus menang' yang terpenting kalian sudah berusaha secara maksimal. Percaya saja apapun hasilnya nanti, itulah yang terbaik. Paham tidak?"


Devan tahu betul kedua anaknya sangat berambisi untuk menang. Yang ada dipikiran mereka haruslah keluar menjadi pemenang. Dan Devan tidak ingin kedua anaknya kecewa bila harapan mereka itu tidak tercapai. Seperti halnya saat Adrian ikut perlombaan dulu. Ia tidak menang, dan akhirnya menangis karena sejak awal sudah sangat berambisi.


Ambisi Andrean juga besar sekali. Di perlombaan dulu, seharusnya Andrean juga ikut tapi karena Ia terlalu banyak berlatih akhirnya jatuh sakit pada hari perlombaan, sehingga hanya Adrian yang bisa berlomba tapi sayangnya Adrian tidak berhasil menjadi pemenang.


Bagi anak-anak yang akan bertanding di awal, diminta untuk ke lapangan sementara orangtua mereka duduk di bangku penonton.


"Padahal sudah biasa melihat mereka lomba, tapi tetap saja aku tidak tenang," ujar Lovi melihat kedua anaknya sudah berada di tengah lapangan.


Tak lama, pertandingan pun dimulai. Semua yang menonton langsung merasa tegang. Pandangan mereka fokus ke lapangan.


Auristella berteriak seraya bertepuk tangan seolah Ia mengerti kalau kedua kakaknya butuh semangat.


Devan yang paling tenang memperhatikan kedua anaknya yang mulai aktif di lapangan. Sementara Lovi dan Auristella sangat riuh.


Di menit ke tiga belas, tim lawan berhasil mencetak goal. Dari situ semangat tim Andrean semakin berkobar. Anak-anak kecil itu saling bersaing, menunjukkan kemampuan masing-masing tapi tidak meninggalkan sportifitas.


"Harus percaya diri, Lov. Kamu hanya penonton tapi sudah kecewa. Bagaimana dengan mereka yang bertanding?"


Devan mengingatkan Lovi akan perasaan Andrean, Adrian dan kawan-kawannya saat ini. Mereka pasti sedih tapi tetap semangat. Malah terlihat semakin berusaha giat agar bisa meraih score juga.


"Semangat Andrean!"


Seorang teman Andrean mengoper bola ke Andrean lalu Andrean menggiring nya ke gawang lawan. Lovi yang melihat itu langsung bangkit dan berseru menyemangati anak sulung nya.


Yang lain pun demikian. Semua orangtua berseru menyemangati anak-anak mereka. Auristella tidak ingin kalah juga dengan mereka semua.


Ia melompat-lompat di atas pangkuan Devan sampai terkadang terduduk kembali karena kaki nya belum kuat untuk dibawa melompat, Ia terlalu bersemangat.


"GOAL!"


Semua orangtua dari tim Adrian berteriak senang. Akhirnya anak-anak mereka berhasil menyusul kekalahan.


"YEAAYYY ANDREAN BERHASIL!"


Tanpa sadar Lovi melompat seperti yang lainnya. Hingga Devan yang melihat itu langsung menarik tangan Lovi agar duduk lagi.


"Bahagia boleh, tapi jangan mencelakai anak di dalam perutmu," ujar Devan seraya menatap Lovi dengan tajam.


Lovi menepuk pelan kening nya. Ia meringis merasa bersalah. Tangannya tergerak untuk mengusap perut nya.


"Aku lupa,"


"Yan..."


Auristella menggumam seraya menunjuk ke lapangan saat kedua orangtuanya saling menatap.


Lovi dan Devan segera menoleh ke lapangan. Rupanya ada seorang anak yang baru saja terjatuh dan tengah dibantu untuk berdiri oleh teman-temannya. Dia adalah Adrian.


Setelah menyadari kalau anak nya yang terjatuh, Devan dan Lovi langsung berdiri. Mereka berdua melihat Adrian sedang diajak bicara sebentar oleh wasit dan dia mengangguk.


"Bagaimana kondisi Adrian ya?" tanya Lovi pada Devan, raut nya cemas sekali.


Devan mengangkat bahunya tidak tahu. Ia juga tidak bisa mendengar wasit bicara apa. Lokasi mereka berjauhan.


"Adrian masih bisa melanjutkan pertandingan, artinya dia baik-baik saja," ucap Devan menenangkan sang istri setelah Ia melihat Adrian mulai bermain kembali.


Sepertinya wasit tadi bertanya 'apakah kamu baik-baik saja?' dan Adrian menjawabnya dengan anggukan.


"Yan.." Auristella memanggil nama kakak keduanya lagi. Lovi menoleh pada Auristella.


"Yan terjatuh, Auris."


Auristella mengangguk dengan bibir nya yang melengkung ke bawah, tersirat kesedihan. Devan mengusap pipi bulat anaknya. "Tidak apa, kakakmu kuat. Buktinya dia masih bisa bermain,"


*****


Rena dan Senata tidak henti memantau ponsel mereka, barangkali ada kabar terbaru dari Lovi atau Devan mengenai pertandingan yang sedang dijalani oleh kedua cucunya.


"Aku tidak sabaran mendengar---"


drrrtt


drrrtt


Ponsel Senata yang bergetar menghentikan ucapan Senata. Ia segera menjawab panggilan video yang masuk.


Ia bisa melihat Auristella yang tengah berebut ponsel dengan Adrian. "Hallo, Grandma."


Senata dan Rena bisa melihat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Hallo, Sayang."


"Ishh Auris! aku dulu yang bicara,"


"Ndak!"


Auris mengambil alih benda canggih milik Daddy nya itu dari tangan Adrian. Ia membolak balik ponsel Devan hingga Senata dan Rena kesulitan melihat wajah cucu-cucu nya.

__ADS_1


"Jangan begitu pegang nya. Yang benar, Auris." ujar Devan yang duduk seraya memangku nya. Saat dibantu oleh Devan untuk memegang ponsel tersebut, Auristella merengek.


"Ya sudah, pegang sendiri. Tapi yang benar, Grandma mau lihat Adrian dan Andrean juga,"


Devan mengarahkan ponsel yang ada di tangan Auristella ke arah kedua putranya dan Auristella berteriak, "AAAAAA!"


Lovi berdecak pelan lalu merebut ponsel itu. "Biar adil, Mommy saja yang pegang," Lovi duduk di samping Devan dan kedua putranya berada di kursi belakang.


Kedua neneknya sedari tadi hanya menjadi penonton mereka bertengkar karena ponsel. Setelah Lovi yang memegang ponsel itu, barulah Rena dan Senata bisa melihat dengan jelas wajah ketiga cucunya.


"Mom..." Auristella merengek dan akan mengambil ponsel itu dari Lovi, tapi Lovi menggeleng tegas.


"Mommy saja yang pegang, Auris kalau mau bicara pada Grandma, silahkan bicara."


"Huh!" Anak perempuan itu membuang napasnya kesal seraya mengalihkan pandangan. Ia merajuk dan itu mampu membuat Devan tersenyum.


"Sudah semakin pintar merajuk anak Daddy ini ya. Bagaimana kalau merajuk?"


Devan meminta Auristella untuk mengulangi sikapnya saat merajuk yaitu membuang napas kasar seraya mengalihkan pandangan. Wajahnya yang menggemaskan juga nampak merengut.


"Bagaimana tadi? menang?"


"Skor nya dua sama, Grandma." nada bicara Adrian langsung pelan. Ia tidak berhasil menjadi pemenang.


"Tidak apa, kalaupun tadi jadi pemenang kalian tetap harus bertanding lagi dengan pemenang lain di pertandingan selanjutnya 'kan?"


"Iya, Grandma."


"Ya sudah, sama saja."


"Tapi tetap saja aku sedih karena di pertandingan kali ini tidak jadi pemenang,"


"Tidak boleh sedih. Nanti akan berjuang lagi jadi harus semangat,"


"Kapan tanding lagi?" tanya Rena ikut dalam pembicaraan.


"Hmm belum diberi tahu. Mungkin besok saat di sekolah, diberi tahu untuk mempersiapkan diri,"


"Sekarang kalian sudah di jalan menuju mansion?"


"Iya, Grandma."


"Okay, hati-hati ya,"


"Tidak boleh sedih, Adrian Andrean. Dengar Grandma tidak?"


"Iya, aku dengar, Grandma Rena,"


"Harus tetap bangga dengan pencapaian tadi. Walaupun kalian tidak jadi pemenang, setidaknya kalian tidak jadi pihak yang kalah juga,"


"Itu yang aku katakan tadi, Ma." terdengar suara Devan menyahuti. "Masih lebih baik tidak kalah. Kalau mereka kalah, aku yakin akan terjadi drama lebih banyak lagi setelahnya. Terutama dari Adrian,"


Rena dan Senata tertawa mendengar ucapan Devan. Tak bisa dibayangkan memang. Seandainya mereka kalah tadi, bisa-bisa Adrian tengah menangis histeris sekarang. Biarpun sudah diberi pengertian oleh Devan bahwa Ia tidak boleh bersedih ketika kalah, tetap saja Adrian kesulitan melakukan itu.


*****


Jane menemani Vanilla bekerja sejak pagi dan Richard tahu itu. Menjelang malam, Richard menghampiri studio pemotretan. Tapi Richard tidak menemukan kehadiran Jane di sana. Hanya ada Joana dan Vanilla yang belum selesai melakukan pemotretan.


"Dia sudah pulang sejak tadi,"


"Pulang kemana? setelah aku bekerja, aku ganti baju dulu di rumah lalu setelah itu barulah ke sini. Tapi dia tidak ada,"


"Aku kurang tahu dia kemana, Richard."


Vanilla tidak tahu menahu soal keberadaan Jane saat ini. Entah kemana sepupu nya yang bar-bar itu. Padahal tadi dia izin untuk pulang lebih dulu karena merasa kurang sehat. Tentu saja Vanilla memperbolehkan. Biasanya Jane selalu menemani Vanilla bekerja sampai selesai. Jarang sekali dia meminta izin untuk pulang lebih dulu.


"Kau kenapa masih bekerja? ini sudah mau malam. Apakah Jhico tidak marah?"


Sebelum pergi, Richard sempat bertanya seperti itu pada Vanilla.


"Dia tidak marah, karena tidak lama lagi aku akan berhenti sementara dari pekerjaan ini,"


"Karena kehamilanmu?"


"Ya, tentu saja."


"Ya sudah kalau begitu aku akan ke mansion dulu untuk mencari Vanilla. Barangkali dia di sana,"


"Kenapa tidak telepon Mama ku?"


"Akan aku coba,"


Vanilla mengangguk dan membiarkan Richard pergi untuk mencari istrinya. Vanilla juga mencoba untuk menghubungi Jane barangkali dijawab. Tapi ternyata tidak. Beberapa kali dia melakukannya, tidak ada respon apapun dari Jane.


****


Richard tiba di mansion milik bibi dan paman dari istrinya. Tadi Ia sempat menghubungi Rena tapi tidak dijawab. Tidak ada pilihan lain, Ia harus melihat langsung ke mansion.


Rena terkejut melihat kedatangan lelaki muda berperawakan tinggi itu. Yang membuatnya bingung, Richard datang tanpa Jane.


"Jane dimana? kamu tidak membawa dia juga ke sini?" pertanyaan Rena itu sudah bisa disimpulkan oleh Richard bahwa istrinya tidak ada di mansion.


"Aku datang ke sini justru karena mencarinya,"


"Huh?" Rena terperangah beberapa saat.


"Dia tidak di sini, Richard." ujar Rena.


"Seharian ini dia tidak datang?"


"Tidak, aku tidak pergi kemanapun hari ini. Jadi kalau dia datang, pasti aku tahu."


"UNCLE RICHARD,"


"Hai, Adrian."


Richard dibuat tersentak ke belakang karena Adrian memeluknya tiba-tiba setelah berlari dari anak tangga.


"Jangan berlari, nanti kamu jatuh."


"Uncle mau menginap di sini?" Adrian tidak menanggapi ucapan bernada khawatir dari Richard, tapi malah menanyakan hal lain.


"Aku mencari Aunty mu di sini,"


"Aunty Jane?"


"Ya, tentu saja."


"Aunty tidak datang ke sini. Oh iya, Uncle tahu tidak, tadi aku ada pertandingan," semua orang harus tahu apa yang baru saja Ia lakukan tadi pagi, yaitu bertanding sepak bola.


Meskipun Richard sedang khawatir dengan istrinya, tapi Ia merasa harus menanggapi cerita keponakannya itu. Adrian sangat antusias saat mulai bercerita.


"Adrian, biarkan Uncle mencari Aunty Jane dulu. Ini sudah menjelang malam. Ceritanya lain kali saja ya?"


"Tidak apa---"


"Kamu bisa pergi sekarang untuk mencari Jane," sahut Rena tanpa menunggu Richard selesai bicara.


Rena tahu bagaimana perasaan Richard sekarang. Richard tidak akan pergi sebelum Adrian selesai bercerita. Maka harus Ia yang menghentikan.


"Ya sudah, Uncle boleh pergi. Hati-hati, Uncle. Lain kali aku lanjut ceritanya ya,"


Walupun Ia kesal karena ceritanya belum selesai tersampaikan, tapi Ia juga tidak ingin terjadi sesuatu pada Aunty nya. Jadi Richard harus secepatnya mencari keberadaan Jane yang sedari tadi dihubungi tidak pernah menjawab.


Richard mengusap singkat kepala keponakan Jane yang sudah seperti keponakan nya juga. Sebenarnya Ia ingin sekali mendengar Adrian cerita apalagi tentang pertandingan, Ia paling suka dengan kegiatan persaingan seperti itu.


"Baiklah, aku pergi sekarang."


"Bye, Uncle. Kalau nanti Aunty sudah ditemukan, Uncle jangan marahi Aunty ya. Beri tahu dia baik-baik kalau pergi tanpa izin Uncle itu tidak baik,"


Adrian tidak tahu bagaimana perangai sesungguhnya dari Richard kalau sudah kesal. Tapi dia punya insting kalau Aunty nya akan terkena semburan amarah Richard setelah berhasil ditemukan nanti. Adrian bisa melihat betapa khawatir nya Richard saat ini. Setelah Jane bertemu dengan Richard nanti, Ia menduga Richard akan marah karena Jane sudah membuatnya khawatir luar biasa.


-----------


Uwow Lop-lop nonton dua prince nya tanding bola. Jgn lupa kasih dukungan bwt si twins ya 😂 caranya gampang kok 😜 tinggal klik like, sedekah vote (kalo ada), dan ketik komen yakk. Tencuuu🤗❤️

__ADS_1


__ADS_2