
"Andrean, cokelat dari Mommy dan Daddy-ku enak tidak? aku suka sekali, kalau kamu?"
"Suka,"
Wajah Adrina cemberut seketika saat Andrean hanya menjawabnya dengan singkat. Berbeda sekali kalau Ia bertanya dengan Adrian.
"Aku suka, Adrina. Enak cokelatnya. Lain kali buah tangannya itu lagi ya?"
Respon Adrian membuat Adrina meliriknya. Seingatnya Ia hanya bertanya pada Andrean. Kenapa Adrian juga menjawab? minta lagi pula.
"Tidak, karena kamu menyebalkan. Pensilku sering hilang karena kamu sembunyikan jadi seharusnya cokelat itu tidak buat kamu yang jahil dengan orang,"
"Tapi Aunty Sheva dan Uncle Jino baik hati. Mereka memberikannya padaku,"
Lidah Adrian menjulur untuk membuat Adrina semakin kesal. Seolah lupa dengan acara merajuknya tadi pagi, Ia kembali membuat orang kesal.
"Tadi di mansion selalu tidak peduli ketika diajak bicara oleh Mommy. Di sekolah malah seperti ini,"
"Diam, Andrean!"
"Adrian, jangan marahi Andrean! dia tidak salah,"
"Semuanya menyalahkan aku,"
Revin sedari tadi hanya bisa terdiam bingung. memperhatikan ketiga temannya berinteraksi. Ketika melihat Adrian pergi, Revin segera berlari menyusulnya.
"Huh, merajuk lagi."
"Ada masalah apa dia?"
Andrean menghela bahu saat Adrina bertanya padanya. Adrina mendengus, lagi-lagi Ia tidak diacuhkan.
__ADS_1
Andrean duduk di tempatnya dan Adrina mengikuti. Ia melirik Andrean diam-diam. Andrean sibuk mewarnai lagi seraya menunggu waktu istirahat selesai.
******
"Adrian, kenapa pergi?"
"Jangan ganggu aku, Revin."
"Cerita saja kalau ada yang mengganggu pikiranmu,"
"Kamu yang mengganggu,"
"Aku tidak melakukan apapun,"
Adrian membuang arah pandangannya. Ia duduk di kursi taman sekolah. Dan Revin berdiri di dekatnya.
"Kamu memiliki saudara?"
Adrian berdecak. Dia itu benar-benar tidak mengerti atau hanya mengerjainya saja?
"Saudara kandung,"
"Tidak,"
"Jadi kamu tidak pernah disalahkan?"
"Maksudmu?"
"Aku selalu disalahkan oleh Mommy dan Daddy-ku kalau Auris, adikku menangis,"
"Mereka menyalahimu karena memang kamu salah, Adrian. Aku tahu bagaimana kamu. Di sekolah saja jahil sekali, apa lagi di rumah,"
__ADS_1
"Ya, tapi sifatku itu tidak bisa hilang,"
"Jangan dihilangkan. Kamu hanya perlu tahu kondisi. Kalau itu mendukung, mungkin boleh saja kamu jahil. Misal adikmu sedang sakit lalu kamu ganggu, tentu saja Mommy-mu akan marah. Misal lagi, Daddy-mu sedang makan lalu kamu buat Ia tersedak karena tingkahmu, siapapun pasti marah. Apa lagi itu Daddy-mu, tidak seharusnya kamu melalukan itu,"
Revin berusaha menjadi teman yang baik. Ia hanya memposisikan dirinya sebagai Adrian. Lalu menasihati dengan cara penyampaiannya sendiri, mungkin itu akan lebih mudah untuk diterima oleh sahabatnya.
*******
Rena mengajak Senata dan Lovi untuk melakukan perawatan di luar. Selesai Lovi membersihkan diri dan juga Auristella, Ia dan kedua mamanya langsung beranjak meninggalkan mansion.
Sudah beberapa bulan Lovi tidak memanjakan dirinya. Ia sulit untuk melakukan itu karena sudah ada Auristella yang masih membutuhkan perhatian lebih.
"Ma, aku ingin bertanya."
"Tanya apa?"
"Tidak biasanya Adrian marah denganku sampai satu hari lebih. Adrian kenapa ya, Ma?"
Lovi menatap Rena dan Senata bergantian. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan dan Lovi tengah memberikan anaknya itu susu di dalam botol karena Ia sudah terlihat haus padahal sebelum berangkat sudah diberikan oleh Lovi. Mungkin karena masih belum puas, Ia merengek lagi.
"Jangan terlalu berlebihan bila memarahinya,"
"Aku rasa tidak, Ma. Kemarin dia mengotori boneka Auris dan membuat Auris hampir menangis jadi aku hukum dia agar mencuci boneka yang dikotorinya itu,"
Senata mengajukan pendapatnya, "Menurut Mama Adrian sedang cemburu,"
"Aku berusaha memperlakukan ketiganya dengan adil,"
"Oh ya, benar. Devan pun seperti itu dulu, karena Mama dan Papa selalu membela Vanilla,"
-----------
__ADS_1