My Cruel Husband

My Cruel Husband
Kabar baik tak bisa ditolak


__ADS_3

Jhico nampak memasuki mansion keluarga Vanilla. Ia dihubungi oleh Raihan untuk datang ke mansion usai bekerja.


Vanilla tidak kuliah dan Jhico sudah memastikan gadis itu berada di apartemennya sehingga Ia tenang meninggalkan Vanilla sebentar untuk menemui Raihan.


Rupanya di sana juga ada Devan yang sudah menunggu kedatangannya. Kedua laki-laki yang memiliki hubungan sebagai ayah dan anak itu memiliki aura yang begitu tegas sampai Jhico benar-benar segan.


"Ada apa, Pa?" tanya Jhico langsung setelah menyapa.


"Papa sudah berhasil mendapatkan kornea untuk Vanilla,"


Devan ikut mendengarkan karena tidak ada kegiatan. Anak-anaknya tengah di mandikan oleh Lovi dan Senata. Sementara menunggu, Ia memutuskan untuk ikut menemui Jhico.


"Kapan Papa mendapatkan itu?"


"Tadi siang Papa mendengar kabarnya. Jadi kapan Vanilla bisa di operasi? semakin cepat, semakin baik bukan?"


Jhico diam sebentar. Lagi-lagi Ia kalah cepat. Ia seperti suami yang tidak berguna. Selama dua minggu menikah, Jhico sangat aktif mencari kornea untuk sang istri tapi usahanya itu belum juga membuahkan hasil. Seharusnya saat ini Ia senang karena sebentar lagi penglihatan Vanilla akan kembali. Tapi entah mengapa Ia sedih, mungkin karena Ia tidak bisa menepati janjinya pada Vanilla.


Dua Papanya sudah berhasil mendapatkan kornea. Tapi Ia menolak Thanatan karena papanya itu pamrih. Apakah kali ini Jhico harus menolak kebaikan Raihan? rasanya tidak mungkin. Selain karena Raihan tidak mungkin menerima penolakannya, kalau Vanilla tahu pun gadis itu akan marah besar pada Jhico karena memperlambat proses penyembuhannya.


"Aku akan menghubungi dokter spesialis terlebih dahulu untuk mencari waktu yang tepat, Pa."


Keputusannya sudah bulat. Raihan benar-benar ingin anaknya kembali seperti dulu. Jadi Jhico tidak boleh egois. Walaupun Vanilla sembuh bukan karena dirinya.


"Sampai saat ini kalian baik-baik saja bukan?"


Kali ini Jhico beralih pada Devan. Adakah yang aneh dari Ia dan Vanilla sampai Devan bertanya seperti itu?


"Kami baik-baik saja. Dan akan terus seperti itu,"


*****


Setelah menemani kedua anaknya tidur di kamar mereka, Devan memasuki kamarnya dan Lovi. Perempuan itu tengah menikmati secangkir teh hangat seraya menonton televisi.


Devan berjalan mendekati Lovi dan Lovi langsung menunjuk kopi milik sang suami.


"Kamu tahu saja aku sedang ingin itu,"

__ADS_1


"Karena sudah beberapa hari ini kamu tidak meminumnya,"


"Kamu melarangnya, Lov."


"Ya, demi kesehatanmu. Kalau terus-menerus meminum kopi, tidurmu jadi lebih malam dan kamu akan menunggu rasa kantuk itu dengan bekerja,"


Devan bisa bersenang-senang malam ini karena anaknya tidak meminta untuk tidur di kamar ini. Devan akan menggunakan waktu yang berharga bersama Lovi. Semoga Auristella juga tidak bangun.


"Lov, kornea untuk Vanilla sudah didapatkan Papa. Sepertinya tidak lama lagi dia akan dioperasi,"


Lovi menghentikan gerak mulutnya yang sedang mengunyah snack kentang. Ia menoleh pada Devan, meminta penjelasan lebih.


"Benar?"


"Ya, untuk apa aku berbohong?"


"Ya Tuhan, aku sangat bahagia mendengarnya,"


"Aku pun begitu. Jhico akan mencari dokter yang bisa menangani operasi Vanilla,"


"Kenapa tidak dia sendiri?"


Lovi menganggukan kepalanya. Kemudian perempuan itu merebahkan diri di samping sang suami, lalu kembali menyaksikan drama yang ada di depan matanya.


"Kapan kita pulang, Devan? aku sudah rindu dengan rumah,"


"Aku tidak tahu. Terserah padamu saja. Kalau sudah tidak nyaman di mansion ini, kita bisa pulang besok,"


"Bukan tidak nyaman! aku hanya merindukan rumah. Di sana aku bebas melakukan pekerjaan rumah karena pelayan hanya sedikit. Sementara di sini? belum juga aku menyentuh sapu, pelayan sudah mengatakan 'Jangan Nona. Nanti Nyonya Rena marah,' aku bosan hanya diam saja,"


Lovi begitu pintar menirukan suara pelayan ketika melarangnya sampai membuat Devan terbahak.


"Siapa bilang kamu diam saja?"


"hm?"


"Kamu selalu merawat aku dan anak-anak. Itu tidak diam saja,"

__ADS_1


"Yang aku maksud, aku tidak melakukan pekerjaan apapun di mansion ini. Seperti membersihkan kamar, halaman dan lain-lain. Kalau mengurus kalian, itu sudah kewajibanku,"


*****


"Aunty Vanilla tidak datang lagi?"


"Tidak mungkin datang terus ke sini, Adrian. Memang Aunty tidak punya kegiatan lain?"


"Grandpa, Aunty itu pemalas. Jadi tidak mungkin dia membersihkan rumah bukan?"


"Hei, yang kamu bicarakan itu anak Grandpa,"


Adrian bergumam malas. Tak bisa dipungkiri kalau Vanilla memang anak Grandpa dan Grandma-nya. Sama seperti Devan, Vanilla juga akan dibela bila dikatakan seperti itu. Sekalipun kalimatnya seratus persen benar. Apa lagi yang membicarakannya adalah anak sekecil Adrian yang belum bisa apa-apa. Huh!


"Aunty sudah punya suami. Jadi wajar saja kalau dia tidak memiliki banyak waktu lagi untuk kamu,"


"Kalau sudah punya anak, pasti Aunty tidak pernah ke sini lagi,"


"Siapa yang mengatakannya?"


Devan turun seraya memasang dasi di lehernya. Ia mengangkat sebelah alis menatap Adrian.


"Mommy saja selalu sibuk dengan anak-anaknya. Aunty juga begitu nanti,"


Raihan mengusap kepala cucu laki-lakinya yang gagal menjadi bungsu. Kalau diteruskan, anak itu akan berbicara lebih luas. Pikirannya sudah seperti orang dewasa yang seolah sudah mengerti dengan semua hal. Padahal apa yang ada di otaknya itu tidak mungkin terjadi. Bila Vanilla sudah memiliki anak, sudah pasti Ia akan menyayangi anaknya, namun tidak mungkin sampai lupa dengan keponakan yang sering menjadi temannya itu.


"Kamu sepertinya masih belum bisa menerima Aunty Vanilla angkat kaki dari mansion ini. Kenapa tidak menjadi anaknya saja sekalian agar bisa ikut dengan Aunty?"


Adrian memberi pelajaran untuk Devan. Ia sedang sedih dan juga kesal tapi Devan menggodanya.


Devan tertawa seraya menahan serangan tangan kecil anak itu. Tidak menyakitkan, justru terlihat lucu.


---------


Hey hey aku datang💃supaya aku semangat, kasih like, vote, dan komen dungs.


NILLAKU up gengsss. Cek yaaaa!

__ADS_1




__ADS_2