My Cruel Husband

My Cruel Husband
Tanpa diajak, Lovi mau datang


__ADS_3

Lovi berencana untuk kembali aktif lagi dalam menjalankan roda bisnisnya. Ia memiliki butik tetapi memang tidak diurus langsung olehnya. Lovi akan datang sesekali. Setelah memiliki Auristella, Lovi tidak begitu memperhatikan perkembangan butiknya lagi. Suatu kelompok hasil pembentukan Devan lah yang membantunya untuk memantau karena Devan juga tidak ingin usaha milik istrinya jadi terbengkalai.


Sekarang Auristella sudah mulai besar, Lovi ingin lagi menikmati perannya sebagai Ibu sekaligus wanita karir. Dulu, ia tidak keberatan dan tetap bisa membagi waktu.


Malam ini Lovi akan bicarakan niatnya itu bersama suaminya. Karena semua akan berjalan tergantung dari izin Devan.


Setelah kira-kira suaminya sudah bisa bernapas lega usai bekerja, mandi dan makan malam, Lovi akan menyampaikan keinginanya.


Keluar dari ruang makan, Devan menemani kedua anaknya bernyanyi di ruang karaoke. Devan dan Adrian beberapa kali berduet karena Andrean tidak mau. Dan Auristella berperan sebagai penarinya.


"Lov, ayo bernyanyi,"


"Tidak, suaraku bisa membuat telinga terganggu,"


Devan berdecak, "Aku tidak pernah mendengar kamu bernyanyi,"


"Memang jarang, aku tahu diri. Suaraku benar-benar hancur," Lovi terkekeh mengatakan fakta yang ada dalam dirinya.


Kini Adrian sibuk bernyanyi sendiri, sementara Devan memperhatikan putranya yang bernyanyi sembarangan itu. Ia belum bisa mengikuti nada dengan sempurna.


"Devan, aku mau fokus mengembangkan butik lagi, boleh tidak?"


Devan menoleh saat istrinya bertanya seperti itu. Ia mengangguk tanpa ragu. Devan sudah melihat sendiri sepintar apa Lovi memikul tanggung jawabnya. Lovi membuktikan bahwa Ia bisa membagi waktu. Jadi tidak ada yang salah bila Ia kembali menuruti keinginan istrinya itu.


"Boleh, aku tahu kamu pasti merasa bosan. Mengurus anak, suami, pekerjaan rumah, dan sebagainya. Kamu butuh hal lain yang bisa menghilangkan rasa bosan itu,"


"Aku tidak bosan, tapi aku merasa kalau pekerjaanku mulai berkurang,"


"Astaga, pekerjaanmu sudah banyak, Lov."


"Tidak, Devan. Auris sudah mulai besar jadi tidak perlu aku gendong terus, saat tidur tidak lagi terlalu sering merengek untuk ditemani. Jadi kegiatanku berkurang, dan aku mau mencari kegiatan lain,"


Devan tersenyum sekaligus merasa aneh dengan istrinya. Semua orang justru senang ketika ada sedikit kekosongan aktifitas karena dengan begitu Ia bisa istirahat. Kalau Lovi malah membuat waktunya menjadi padat dengan kegiatan.


"Mulai kapan?"


"Besok?"


"Ya, tapi kamu datang ke butik tidak setiap hari bukan?"


"Tidak. Seperti sebelum mengandung Auris. Beberapa hari sekali aku datang untuk melihat-lihat,"


Devan mengangguk, lelaki itu meraih kepala istrinya untuk direbahkan di bahunya. Mereka memperhatikan ketiga anaknya yang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Adrian masih menjadi penyanyi dadakan, Auristella merangkap sebagai penari sekaligus penyemangat Adrian, dan Andrean sibuk mengganti lagu hingga lama-lama Adrian kesal.


"Belum selesai lagu yang aku nyanyikan, sudah diganti lagi,"


"Tidak ada yang sesuai lagunya,"


"Tidak sesuai bagaimana maksudnya?!"


"Pilih lagu yang tentang sahabat, orangtua atau keluarga, jangan tentang cinta pada kekasih karena isinya rumit-rumit,"


Devan segera mendekati ketiga anaknya lalu mengusap kepala Andrean. "Benar, cari lagu yang sesuai dengan usia. Besok akan Daddy setting,"


"Jangan Daddy! begini saja sudah bagus, jadi lagunya bervariasi."


"Tidak boleh, ini hasil setting Aunty Jane dan Aunty Vanilla. Dari dulu mereka suka sekali dengan lagu tentang cinta terhadap kekasih. Kalau sedih, pasti memutar lagu yang sedih-sedih juga."


Lovi terkekeh ketika mendengar cerita Devan. Rupanya Jane dan Vanilla sering seperti itu sejak dulu. Melankolis sekali kalau sudah berhubungan dengan cinta. Ketika sedih pelariannya adalah bernyanyi lagu yang sesuai dengan suasana hati.


"Daddy pernah setting ini setelah kalian mulai suka masuk ke ruangan karaoke dan memutar lagu. Tapi sekarang berubah lagi settingannya seperti yang dulu,"


"Kita sudah sempat pindah ke rumah sendiri. Mungkin Jane yang mengubahnya lagi karena tidak ada anak-anak di sini,"


********

__ADS_1


"Daddy, cepat mandinya."


BRAKK


BRAKK


BRAKK


Baru lima menit masuk kamar mandi, tubuhnya bahkan belum tersiram air semua, tetapi Adrian sudah mengganggu sampai pintu seperti ingin dirusak.


"Adrian, kenapa? jangan ganggu, Daddy lagi mandi,"


Lovi saja sampai kaget mendengar anaknya mengetuk pintu seperti itu. Ia masuk ke kamar, karena mengira telah terjadi perseteruan antara Adrian dengan Andrean. Ternyata Andrean tidak berada di kamar itu. Sepertinya Ia ada di kamarnya.


"Adrian mau buang air kecil,"


Lovi menggeram gemas, Ia mendekat dan Adrian mengira Lovi akan mencubit pipinya, jadi Ia berlari keluar ke rooftop kamar.


Devan membuka pintu dengan tubuh terbalut bathrobe. Ia menatap Lovi dengan tajam, "Kamu yang ketuk pintu seperti kesetanan?"


"Kamu mengira itu aku? kamu tidak dengar tadi ada suara siapa?"


"Siapa? hanya ada kamu di sini,"


"Adrian, dia kabur keluar."


"Astaga, kalau melempar anak ke luar angkasa tidak dosa sudah aku lakukan sejak dulu,"


Devan berjalan menghampiri anaknya yang berdiri di tengah-tengah rooftop seraya memandang ke arah kamar dengan perasaan was-was. Begitu melihat Daddy-nya keluar, Ia terkekeh geli.


"Kamu mau apa ganggu Daddy?"


"Buang air kecil,"


"Ada banyak kamar mandi di mansion ini, Adrian. Kamu tidak bisa melihat daddy hidup tenang sedikit ya? selalu saja mengganggu,"


"Sudah, Dad. Ah leganya," ujarnya lalu keluar dari kamar dengan langkah santai. Seolah yang Ia lakukan tadi tidak membuat jantung hampir lepas. Devan sangat kaget ketika pintu kamar mandi diketuk keras seperti itu.


"Auris, jangan dekat-dekat. Nanti kamu dijahili lalu menangis," Lovi menyarankan Auristella yang mendekati Adrian, bahkan memeluknya ketika Adrian menghampiri. Setelah mengganggu Devan, mungkin target selanjutnya adalah Auristella.


"Selalu curiga sama aku. Padahal mau ajak Auris bermain,"


Kekhawatiran Lovi tidak terjadi untuk saat ini. Adrian benar-benar tidak membuat adiknya menangis dan mengajaknya bermain sampai Auristella kelelahan dan terlelap.


Adrian ikut bermain boneka, masak-masakan, dan permainan lain yang membuat Auristella bahagia. Ia sedang tidak ingin bermain sendiri, tidak ada kegiatan lain jadi lebih baik bermain bersama Auristella.


"Tidak biasanya kamu dan Auris tidak bertengkar,"


"Iya, lagi kasihan sama Auris. Sekali-sekali mau baik hati,"


"Ke rumah Grandpa Lucas, mau tidak?"


"Mau mau mau!"


"Sstt, adikmu tidur," Devan menunjuk Auristella yang tertidur di pangkuan Adrian seraya memeluk boneka.


"Ayo, Dad. Aku bosan,"


"Siap-siap sekarang, lalu pamit dengan Mommy,"


"Ajak Mommy,"


"Kalau Mommy tidak mau, jangan dipaksa,"


Devan khawatir anaknya tersinggung atau bagaimana ketika Lovi menolak ajakannya untuk mengunjungi rumah Lucas. Adrian tidak tahu seperti apa hubungan Lovi dan Lucas.

__ADS_1


Devan memindahkan putrinya untuk tidur di kamar. Adrian mendekati Lovi untuk berpamitan.


"Mom, Adrian mau datang ke rumah Grandpa Lucas,"


Lovi memelankan volume televisi yang sedang dinikmati siarannya. Ia menatap Adrian lamat-lamat.


"Untuk apa ke sana?"


"Main, karena kalau menunggu Grandpa yang datang ke sini lama sekali. Entah kapan Grandpa sempat,"


Devan selalu mengatakan kalau Lucas belum juga datang ke mansion karena Lucas belum sempat. Padahal Devan tahu kalau Lucas masih segan untuk datang, mengajak cucu-cucunya bermain bersama.


"Mommy ikut ya?"


Adrian mengangguk semangat. Devan terperangah beberapa saat. "Kamu ikut, Lov?"


"Iya, boleh tidak?"


"Boleh lah, Mommy. Rencananya Adrian mau ajak Mommy tadi,"


"Ya, sudah, ayo kita pergi."


"Auris bagaimana?" tanya Lovi, memikirkan anaknya yang sedang terlelap itu.


"Ada Mama. Sekali-sekali kamu jalan ke luar tanpa Auris," jawab Devan yang begitu senang ketika Lovi ingin ikut bersamanya ke rumah Lucas. Auristella banyak yang menjaga. Sementara saat-saat seperti ini belum pernah terjadi.


"Andrean dimana?"


"Coba aku lihat di kamar. Kita ajak juga ya?" tanya Adrian.


"Harus, Andrean juga cucu Grandpa."


"Auris tidak dibawa saja, Devan?" Lovi masih tidak yakin untuk meninggalkan anaknya sekalipun Ia aman bersama kedua nenek dan perawatnya.


"Kali ini kita pergi tanpa Auris,"


Rencana Devan nanti adalah membawa Lovi, kedua anaknya, dan Lucas ke taman bermain yang pernah dilewati Devan ketika mengunjungi rumah Lucas. Letaknya tidak begitu jauh.


Kalau Auristella ikut, Lovi kurang leluasa untuk menikmati waktunya bersama sang ayah. Dan Devan tidak mau itu terjadi.


********


Berhubung di akhir pekan ini keluarga kecil Devan mendatangi kediaman Lucas di jam makan siang, jadi sebelum sampai di rumah Lucas, Devan menghentikan mobilnya di sebuah restoran untuk membeli makan siang.


"Ayah suka makanan apa ya, Lov?"


"Ayah kurang suka ayam. Ikan saja,"


Sekesal apapun Lovi terhadap ayahnya, hal-hal yang disukai maupun tidak disukai oleh Lucas pasti masih Lovi ingat.


"Andrean mau makan apa?"


"Aku mau ini, ini, dan ini."


"Andrean yang lagi ditanya, bukan kamu."


Adrian mencebik lalu mengulurkan menu pada kakaknya. Setelah Andrean menyebutkan makanan yang sedang diinginkannya, barulah giliran Adrian.


"Sesuai urutan lahir. Jadi Andrean dulu," hibur Devan seraya mengecup pipi Adrian.


"Makanan yang kamu pesan sedikit. Aku banyak,"


"Perutku tidak sebesar kamu,"


Tangan Adrian terangkat untuk meninju lengan kakaknya. Devan yang melihat itu langsung menahan.

__ADS_1


"Masa pertumbuhan jadi wajar," Adrian membela dirinya sendiri. Andrean mendengkus, "Aku juga sedang masa pertumbuhan tapi tidak serakus itu. Akui saja kalau memang kamu anak yang gemar makan banyak, tidak usah malu untuk jujur,"


__ADS_2