
"Nona Auris sudah makan?"
Tangan kanan Mommy nya yaitu Irene bertanya. Auristella mengangguk seraya tersenyum. Ia kembali fokus memainkan ponsel di atas sofa yang biasa digunakan untuk klien duduk.
Gadis itu keluar dari ruangan Lovi yang sedang berkutat dengan karya nya. Ia bermain game lalu suara nya mengganggu. Lovi menegur, dan Ia langsung keluar. Setelah bermain game, Ia menyibukkan diri dengan menjelajahi sosial media nya.
Drrttt
Drrttt
Panggilan masuk ke ponsel nya. Rupanya Devan yang menelponnya. Ia segera mengangkat.
"Hallo, Dad."
"Hallo, Sayang. Kamu diminta Adrian untuk menemaninya datang ke pernikahan temannya,"
Alis Auristella terangkat. Kemudian Ia tersenyum geli. "Kenapa dia tidak bicara langsung padaku?"
"Dia menelponmu tapi tidak bisa,"
"Karena dia memblokir kontakku, Dad."
Terdengar sahutan Adrian yang membuat Auristella terhenyak. Ia segera membuka daftar kontak. Ia mencari nama Adrian. Benar, dia memblokir kontak kakak keduanya. Ia baru ingat kemarin malam Ia kesal dengan Adrian yang menolak ketika Ia minta dibelikan makanan sepulangnya Adrian dari bekerja. Ia kesal, akhirnya memblokir kontak Adrian.
"Segera pulang ya, Sayang."
"Okay, Dad."
******
Auristella pergi bersama kakak keduanya, Devan memutuskan untuk menghampiri istrinya di butik.
"Kamu sudah pulang? Cepat ya."
Lovi terkejut melihat kedatangan suaminya. Devan sudah pulang lebih cepat dari biasanya. Setelah pulang ke rumah, Ia mendatangi butik.
"Nanti kita makan di luar dulu ya."
Devan meminta Lovi untuk bangkit dari kursinya. Ia menggantikan Lovi duduk di kursi itu. Lalu Ia memangku Lovi.
Devan mengecup leher jenjang istrinya. Menghembuskan napas nya di sana hingga Lovi dibuat merinding.
Tangan Devan mengusap perut istrinya dengan seduktif. Lovi menepuk pelan tangan suaminya yang mulai jahil.
"Devan---arghh."
"Diam, Sayang."
"Kamu yang diam. Aku harus meyelesaikan ini sekarang,"
Desain baju yang sedang dibuat Lovi tinggal sedikit lagi selesai. Dan Devan membuatnya tidak fokus.
__ADS_1
*****
Auristella dan Adrian keluar dari mobil. Gadis itu memang kerap menjadi teman kakak-kakaknya untuk menghadiri undangan.
Berhubung mereka belum memiliki kekasih, dan kebetulan punya adik perempuan, jadi mereka mengajak adiknya.
Auristella menyampirkan tangan nya di lengan sang kakak. Dan mereka melewati red carpet menuju singgasana pengantin yang merupakan teman Adrian sesama selebriti.
"Yahh bawa Auris lagi. Kapan kekasihmu dibawa?"
Adrian terkekeh saat seorang temannya menyapa sekaligus meledeknya.
Ia meninju pelan bahu temannya itu. "Kalau sudah ada, aku perkenalkan. Tenang saja,"
Mereka berdua terkekeh bersama. Kemudian Adrian melanjutkan langkahnya. Mereka tiba di depan pengantin yang malam ini nampak menawan.
"Selamat, Bry. Berubah! jangan playboy lagi,"
"Hahahahah, sialan kau! Itu sudah masa lalu,"
"Happy wedding, Kak Bry, Kak Leela."
"Thank you, Auris."
"Segera menyusul, Ad." Ujar Leela pada Adrian yang mengundang decak Adrian. Kalimat yang paling Ia hindari kalau sedang menghadiri pernikahan.
Usianya masih sangat muda, Ia belum ingin memiliki teman hidup. Adrian masih belum membutuhkan peran istri. Ia bahagia dengan hidupnya yang sekarang. Meski begitu, ia tahu bahwa Ia harus menikah.
Setelah mengungkapkan rasa bahagia sekaligus doa terbaik mereka untuk pernikahan Bry dan Leela, Adrian mengajak adiknya pulang.
Setelah mulutnya tidak ditutup lagi, Ia mengirup oksigen dengan rakus. Ia menatap kakak keduanya itu dengan tajam.
"Ck! Ya sudah, ambil minum sana!" titah Adrian yang langsung membuat Auristella tersenyum senang.
"Jangan salah ambil ya. Di sini banyak alkohol,"
"Mau salah ambil ah,"
Auristella melenggang santai setelah mengatakan itu. Tadinya Adrian ingin menunggu di salah satu kursi, tapi karena Auristella bicara seperti itu, Ia segera menyusul adiknya. Ia tidak ingin adiknya benar-benar mengambil minuman mengandung alkohol.
Auristella tahu kalau Ia sedang diikuti oleh kakaknya. Ia akan melancarkan aksinya untuk mengerjai Adrian.
Ia mendatangi stan minuman alkohol. Ia akan mengambil satu gelas, dan ada tangan kokoh yang menahan keinginannya untuk mengambil gelas berisi minuman memabukkan itu. Auristella menoleh dan Ia menemukan Adrian yang tengah menatapnya tajam.
"Berani sekali kamu ya," desis Adrian dengan tajam. Ia menarik tangan Auristella untuk mendatangi stan minuman sari buah.
"Ambil itu!" Titah Adrian seraya melirik ke meja dimana minuman sari buah berada.
Auristella menggeleng. Ia bersedekap dada. "Aku mau minuman yang tadi,"
"Jangan gila. Minuman itu bukan untukmu,"
__ADS_1
"Kata siapa? 'Kan buat tamu. Dan aku termasuk salah satu tamu,"
"Cepat ambil itu, Auris. Aku tidak mau kamu main-main,"
Auristella terkekeh. Ia mencubit pipi kakaknya yang sudah kesal. Ia tidak akan melanjutkan kejahilannya. Adrian akan benar-benar marah kalau Ia masih keras kepala ingin mengambil minuman alkohol.
"Iya, Baby boy. Aku tidak akan minum alkohol. Tenang saja," ujar Auristella seraya mengerling kan matanya pada Adrian.
Ia segera mengambil satu gelas sari buah lalu menyesapnya. Ia mengangsurkan itu ke mulut Adrian.
"Mau minum? Barangkali habis marah, kamu haus,"
Adrian membuka bibirnya lau menyesap isi dalam gelas. Setelah kerongkongannya basah, Ia segera menjauhkan bibir gelas dari mulutnya.
Sembari minum, Auristella memperhatikan suasana di sekitarnya. Ramai dipenuhi tamu yang cukup berkelas terlihat dari busana yang mereka kenakan.
Biasanya Adrian akan lebih lama berada di pesta. Tapi ini sudah menjelang malam. Ia tidak ingin membawa adiknya terlalu lama. Daddy nya juga sudah berpesan begitu tadi. Mereka terlalu menghabiskan banyak waktu di jalan karena macet. Jadi di tempat acara benar-benar hanya sebentar.
Auristella senang bila diajak menghadiri acara-acara seperti ini oleh kedua kakaknya. Ia bisa mengenal dunia luar lebih luas lagi.
"Sudah?" Tanya Adrian pada adiknya. Auristella mengangguk kemudian meletakkan gelas di meja.
"Ayo, kita pulang."
****
Devan dan Lovi makan di sebuah restoran outdoor sehingga mereka bisa menikmati angin sore seraya menyantap makanan.
Devan mengakhiri makan nya dengan meneguk air minum. Sementara Lovi belum selesai menikmati makanan nya.
Devan meraih ponsel untuk mengirim pesan pada Adrian guna menanyakan keberadaan Adrian dan Auristella.
Rupanya Adrian sudah mengirimkan pesan yang mengatakan bahwa Ia dan Auristella sudah tiba di rumah.
Di pesta tadi, Auris mencoba alkohol, Dad.
Pesan selanjutnya yang dikirim oleh Adrian membuat matanya membulat seketika.
Dengan cepat Ia menelpon Adrian dan beberapa kali tidak ada jawaban. Devan merasa khawatir.
"Kenapa sih?" Tanya Lovi saat melihat gelagat aneh suaminya. Ia tidak henti berdecak saat teleponnya tak kunjung dijawab oleh seseorang di seberang sana.
"Kamu sudah selesai makan nya?" tanya Devan.
"Sebentar," ujar Lovi seraya meraih gelas di dekat piringnya. Devan langsung berdiri, padahal Lovi ingin makanan dalam perutnya turun dulu.
"Buru-buru sekali. Kenapa sih?"
Devan hanya menggeleng dan menyuruh istrinya untuk mengikuti langkahnya.
Pikirannya berkecamuk. Apakah benar Auristella mencoba alkohol? Kenapa dia bisa selancang itu? Dan kenapa juga Adrian bisa lengah menjaga adiknya?
__ADS_1
Ada yg curiga ga sih sama Adrian? dia serius atau enggak ya? menurut klean gmn? bisa jadi Adrian sm Auris baleek lg ke acara itu.