
"Kalian tidur, biar Mommy yang jaga Daddy,"
"Tidak mau, aku harus di samping Daddy," lugas Adrian. Ia mencium wajah Devan sekilas membuat Devan tersenyum.
Adrian dan Andrean fokus menghilangkan rasa letih di kepala dan kaki Devan. Sementara Lovi masih mengompres perut kekar suaminya.
"Aku tidak lihat Auris. Dimana dia?"
Devan begitu merindukan anak perempuannya. Tadi dia menyambut tapi sekarang entah kemana.
"Mungkin sedang bermain dengan Grandpa. Lebih baik di luar, Dad. Nanti kalau di sini, Auris ganggu Daddy,"
Senata masuk ke kamar untuk melihat kondisi Devan. Dan Rena sudah menyiapkan baju tidur untuk anaknya.
"Bajunya yang sama dengan kedua anakku, Ma"
Rena terkekeh. Devan sakit tapi masih memikirkan kekompakan. Ia segera mencari baju Devan yang sama seperti Andrean dan Adrian.
"Aku ganti airnya dulu,"
Devan mengangguk saat Lovi izin menyingkirkan kompres dari perutnya.
"Dad, Andrean yang kompres ya,"
"Jangan, Sayang. Itu air panas, bahaya."
"Tapi Andrean mau mengompres Daddy. Biar Mommy bisa berganti baju dan istirahat,"
Lovi mendengar anak sulungnya itu bicara. Devan saja dibuat senang dengan niat baik anak itu, apalagi dirinya. Andrean tidak ingin Lovi kelelahan mengurus Daddy-nya.
Lovi duduk di dekat Devan lagi dengan air kompres yang baru, lalu dia kembali meletakkannya di perut Devan.
Rena meletakkan baju tidur Devan di sofa kamar lalu keluar untuk bersih-bersih dan melihat cucu perempuannya.
"Andrean dan Adrian tidur, sayang. Sudah malam,"
"Nanti, Grandma." Sahut Adrian atas suruhan Senata yang sedari tadi diam memperhatikan kehangatan cucu dan menantunya.
Auristella nyaman dalam pelukan kakeknya seraya menyaksikan serial kartun. Ia nampak berbeda hari ini. Biasanya kalau melihat Lovi sampai di mansion, Ia langsung tidak mau lepas dari Lovi.
Saat ini Ia seolah mengerti kalau Lovi harus fokus mengurus Daddy-nya yang sakit.
Sambil ia menonton, Ia menggigit mainan nya yang lentur untuk menghilangkan rasa gatal di area tertentu dalam mulutnya.
"Auris sudah mengantuk?"
Raihan menatap cucu bungsunya yang berbaring di atas dadanya. Auristella hanya menatap sang kakek tanpa menjawab.
"Mommy mu belum mencari. Artinya dia masih sibuk. Sabar ya,"
Di dalam kamar, Devan sudah tidak mau lagi di kompres. Katanya sudah tidak kram.
"Ganti baju dulu,"
Lovi membantu suaminya berjalan ke dalam walk in closet untuk mengganti pakaian kerjanya dengan baju pajamas yang diambil Rena tadi.
"Aku mau tidur di sini. Boleh tidak Grandma?" Saat kedua orangtuanya pergi, Adrian bicara pada Senata.
"Memang kenapa? Kemarin-kemarin sudah biasa tidur di kamar sendiri,"
"Mau menjaga Daddy. Jadi kalau tengah malam Daddy bangun butuh bantuan, aku bisa bantu,"
"Kamu bisa langsung bangun?" Tanya Senata dengan senyum jahilnya. Adrian mengangguk cepat. "Aku kan kalau dibangunkan langsung bangun. Tidak seperti Andrean yang kalau tidur seperti orang tidak sadarkan diri," sindirnya terang-terangan. Memang seperti itulah Andrean kalau tidur. Tidak sama dengan dirinya dan Auristella
"Lov, terima kasih ya,"
Setiap sakit, Devan selalu mengatakan kalimat itu pada istrinya. Lovi yang dulu disakitinya kini selalu berusaha untuk membantu menyembuhkannya.
"Jangan bicara seperti itu,"
"Tapi aku bersyukur. Kalau mengingat masa lalu, rasanya sangat tidak pantas aku mendapatkan istri sebaik kamu,"
Lovi menggeleng tegas. Ia meletakkan telunjuknya di bibir Devan. "Kamu bicara apa sih? Kita berjodoh, artinya kamu yang pantas buat aku,"
Lovi mengusap kening Devan yang berkeringat dingin. Ia segera menutup kancing baju suaminya dengan cepat. Sepertinya Devan sudah tidak nyaman berdiri.
Padahal baru saja berdiri. Tadi saat Lovi memakaikannya celana, Ia diminta Lovi untuk duduk.
Lovi dan Devan keluar dari ruangan yang berisi banyaknya pakaian mahal itu, mereka melihat kedua anaknya tengah berkutat dengan kegiatan masing-masing. Adrian menyusun bantal Devan, sementara Andrean meletakkan air minum untuk Devan di nakas.
"Terima kasih anak-anak Daddy. Berbeda sekali kalau Daddy sedang sakit ya," ujar Devan seraya terkekeh pelan. Ia berbaring dibantu oleh Lovi.
"Kalian lebih baik tidur,"
"Nanti, Mommy! Aduh, dari tadi ribut menyuruh tidur terus," geramnya yang membuat Lovi gemas.
"Katanya mereka mau tidur di sini lagi, Lovi." Senata menyampaikan keinginan kedua cucunya pada sang putri.
"Boleh, kita tidur bersama nanti,"
"Andrean pijat lagi sampai Daddy tidur. Punggungnya tidak mau dipijat, Dad?"
"Tidak, Sayang. Daddy sulit terlungkup."
"Oh iya, perutnya baru habis sakit ya,"
"Sakit lagi tidak?" Tanya Lovi memastikan. Devan langsung menggeleng. Lovi menatap jam yang melekat di dinding. Sudah pukul delapan malam.
"Aku bersih-bersih dulu. Lalu menidurkan Auris. Aku tinggal sebentar tidak apa ya?"
"Iya, kasihan juga Auris pasti dia sudah mengantuk,"
Lovi mengusap rambut lebat suaminya sesaat sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Dan Senata keluar dari kamar itu.
Selain memijat, Adrian juga bernyanyi agar Devan cepat tidur. Andrean sempat menatapnya aneh. Memangnya Devan itu anak kecil yang dinyanyikan supaya tertidur lelap?
Ferro dan Dashinta baru saja sampai. Mereka langsung disambut oleh Rena yang baru selesai membersihkan dirinya dan juga Senata.
Raihan pun turut bangun dari sofa bersama cucunya. Auristella nampak segar lagi matanya setelah ada tamu karena Ia diajak bercanda oleh Dashinta.
"Saya boleh lihat kondisi Tuan?"
"Silahkan, Devan sedang dirawat oleh dua perawat cilik yang tampan," jawab Senata yang mengundang tawa kecil Ferro.
Ferro dan Dashinta beranjak ke kamar Tuan muda pemilik mansion itu. Auristella mengulurkan tangan pada Dashinta sebelum gadis itu pergi ke kamar Daddy-nya.
"Aku baru habis dari luar. Upik abu takut ah menggendong putri raja,"
Rena menggeleng pelan mendengar kelakar sekretaris putranya itu. Akhirnya Rena yang menggendong Auristella lalu mereka juga turut melihat kondisi Devan.
Auristella memang sudah sangat dekat dengan Dashinta padahal baru sekali di bawa ke kantor oleh Devan. Mungkin karena Dashinta yang membantunya untuk bertemu dengan Devan saat Ia menangis waktu itu. Dashinta sangat mengayomi nya.
"Tuan, bagaimana kondisimu?"
Devan menoleh ke pintu begitupun kedua anaknya. Raut Adrian langsung berseri melihat Dashinta, sekretaris Devan yang sering memberikannya es krim dan cokelat bila Ia datang ke kantor Devan.
"DASHINTAAA,"
"Hallo, Tuan kecil yang tampan."
"Bawa cokelat tidak?"
"Huh?"
"'Kan Daddy sakit,"
__ADS_1
"Daddy memang sakit tapi tidak minta apapun apa lagi cokelat," sahut Devan yang membuat anak itu salah tingkah. Ia yang mau tapi malah membawa-bawa nama Devan.
"Aku sudah lebih baik dari tadi siang, Ferro."
"Syukurlah,"
Ferro mengisyaratkan Dashinta untuk meletakkan dua parsel yang dibawanya di meja dekat jendela kamar.
"Boss, Demi Tuhan, bukan aku yang jahat pada Boss,"
Sedari tadi Dashinta berusaha memberanikan diri untuk mengatakan hal itu. Alis Devan langsung terangkat.
"Saya tidak menuduh kamu,"
"Ya, tapi saya benar-benar tidak enak pada Boss. Karena yang memberikan kopi itu adalah saya, tapi bukan saya yang buat,"
"Ya, saya tahu. Biasanya memang seperti itu. Office boy yang membuat,"
"Aku tahu pelakunya, Tuan. Sudah ada bukti juga. Hanya saja aku belum melakukan apapun. Karena Tuan yang berhak melakukannya,"
"Iya, simpan saja buktinya. Saat kondisiku sudah jauh lebih baik, aku akan melakukan hal yang seharusnya,"
*******
"Kau tidak perlu takut. Aku yang akan mempekerjakan kau bila Devan memecatmu,"
"Aku bisa memegang ucapanmu, Tuan?"
"Ya, kau bisa percaya padaku. Lagipula hanya perut yang dibuat sakit. Belum nyawanya yang aku habisi,"
"Baik, Tuan."
Begitulah perjanjian awal antara Arnold dengan office boy yang bekerja di kantor Devan.
Ia telah salah mengambil langkah. Bertahun-tahun bekerja bersama Devan, Ia malah mengkhianati Devan. Siapapun tahu kalau Devan sangat tidak mentolerir pengkhianatan. Sekali berkhianat maka selamanya akan seperti itu. Devan tidak akan lagi bisa percaya dengan orang-orang yang menusuknya dari belakang.
Office boy memilih cara instan untuk mendapatkan uang yang banyak sekalipun harus menyakiti orang yang begitu memikirkan semua pegawainya.
"Uang yang akan aku berikan tidaklah sedikit. Jauh lebih banyak dari gajimu setiap bulannya,"
Tawaran yang menggiurkan. Demi uang, kepercayaan pun dikhianati. Kebaikan Devan yang seharusnya masih dapat Ia rasakan, saat ini malah terancam hilang.
******
"Jadi, Saya tidak dipecat 'kan, Boss? Saya tidak bersalah,"
"Saya lihat dulu buktinya,"
Dashinta menghela napas kecewa. Jujur setelah mengetahui bahwa kopi yang diberikannya pada Devan membuat bossnya itu masuk rumah sakit, Dashinta langsung panik. Ia langsung memikirkan kemungkinan Ia juga turut disalahkan oleh Devan.
Nasibnya saat ini sedang digantung. Sebenarnya Devan sedang mengerjai sekretarisnya yang kalau bicara bar-bar itu. Ia percaya pada Dashinta, tapi melihat dia cemas membuat Devan ingin tertawa.
"Tapi Boss percaya pada saya 'kan?"
"Tidak sepenuhnya,"
"Astaga, Boss. Saya harus melakukan apa agar Boss percaya? Jodoh semakin jauh kalau Saya berbohong,"
Lovi keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang jauh lebih segar dalam balutan baju tidur yang sama dengan pakaian Auristella saat ini.
Ia terkejut melihat Ferro dan Dashinta di kamar mereka. Dashinta langsung menyapanya. "Hai, Nona."
"Hai, Dashinta. Sejak kapan kamu datang?"
"Belum lama,"
"Sekalian makan malam dulu ya. Ferro juga,"
"Kami sudah makan, Nona."
"Di kantor,"
"Oh begitu. Kalian bekerja sampai besok pagi?"
"Aku tidak,"
"Makan malam di kantor untuk pekerja yang lembur sampai besok pagi, Dashinta. Kau rakus," ujar Devan masih dengan suara lemahnya.
Dashinta melirik Devan dengan alis terangkat. "Sejak kapan ada peraturan begitu? di kantor bebas saja. Mau makan berapa kali juga. Sepuluh kali pun tidak dilarang,"
"Boss pemiliknya 'kan baik hati dan banyak uang. Jadi perkara makan tidak masalah," lanjutnya seraya membanggakan pemilik perusahaan yang jelas-jelas ada dihadapannya tengah berbaring tapi Ia terlau gengsi mengakui bahwa Devan baik.
"Siapa pemiliknya? Daddy aku 'kan, Dashinta?"
Dashinta mengendikkan bahunya atas pertanyaan Adrian. "Tidak tahu, Tuan kecil. Aku mendadak lupa,"
Devan menggeram dalam hati. Kalau Ia tidak sakit, sudah dipastikan Dashinta akan adu mulut dengannya. Benar-benar berani sekali sekretarisnya itu.
Lovi dan Rena yang melihat sikap tak sungkan milik Dashinta pun terkekeh. Ia humoris dan sangat pintar mencairkan suasana tapi kenapa belum ada juga yang mau menikahinya? Dashinta juga terlihat menyayangi anak kecil. Lovi saksinya. Pertama kalinya Ia membawa Auristella ke kantor Devan, Dashinta sangat membantu dirinya. Ia tak segan menggendong Auristella yang menangis ingin bertemu dengan Devan di ruang rapat sementara Lovi tidak berani membawanya ke sana karena Ia takut Devan marah dan menganggapnya tidak bisa menenangkan Auristella. Lovi tahu betul suaminya paling tidak suka diganggu bila sedang bekerja.
Tapi itu hanya ketakutannya saja. Nyatanya Devan langsung senang melihat anaknya hadir di ruang rapat dan kebetulan rapat juga telah selesai jadi Devan tidak merasa terganggu sama sekali.
"Aku kembali ke kantor. Semoga Tuan cepat pulih,"
"Aku juga harus segera pulang, Boss."
"Iya, kalian hati-hati. Kerja dengan baik walaupun tidak ada aku ya. Terutama kau, Dashinta. Nasibmu ada di ujung tanduk. Jangan macam-macam, karena---"
"Melakukan semacam saja tidak pernah. Boss jangan buat saya takut,"
"Kamu tidak salah kenapa takut? tidak salah 'kan?"
"Takut lah kalau sudah berhubungan dengan pecat memecat. Saya memang tidak salah tapi Boss belum percaya pada saya karena belum lihat bukti. Jadi sekarang saya lagi khawatir sekali,"
"Keputusan dipecat atau tidaknya 'kan nanti," sahut Lovi.
"Iya, Nona. Tapi kalau bisa besok sudah ada keputusannya. Rayu Boss ya, Nona."
Dashinta segera keluar dari ruangan besar itu saat Devan meliriknya tajam. Dia menggunakan Lovi untuk membujuknya.
Setelah kamar ditinggalkan oleh Ferro dan Dashinta, Rena segera memberikan Auristella yang sedari tadi sudah mengantuk pada Lovi. Tapi Ia tidak rewel sama sekali. Nyaman saja di gendongan neneknya.
"Selamat malam semuanya. Mama keluar ya," ujar Rena sebelum menutup pintu. Tinggal lah keluarga kecil Devan.
"Kalian tidak lelah memijat Daddy sejak tadi?"
"Tidak, Daddy saja tidak pernah lelah mencari uang untuk aku sekolah dan beli mainan,"
Devan tersenyum dengan hati yang terenyuh. Dibalik sikapnya yang selama ini menyebalkan, hiperaktif, dan egois, Adrian adalah anak laki-laki Devan yang mengerti seberapa besar pengorbanan Daddy-nya. Ia membuat Devan kesal bukan karena tidak sayang. Tapi pola pikirnya memang tidak sedewasa Andrean. Sering sekali Ia bertengkar dengan adik bungsunya sehingga membuat Devan geram.
Apapun akan Ia ributkan. Sementara sang kakak lebih suka ketenangan. Hal-hal kecil tidak akan Andrean permasalahkan, berbeda dengan adik keduanya. Melihat Auristella memainkan remote mobil-mobilannya saja Ia akan sangat marah.
******
"Kamu benar-benar tidak tahu diri ya?! tega sekali meracuni Tuan Devan. Huh ternyata kau sama saja dengan mantan sekretaris Tuan Devan yang lain,"
Desas desus tentang penyebab Devan jatuh sakit kemarin sudah ramai menjadi perbincanan orang-orang di kantor pagi ini.
Dashinta yang baru saja datang langsung diserbu oleh karyawan yang begitu mengidolakan Devan. Mereka sangat menyayangkan kenapa ada orang yang begitu tega membuat Devan sampai lemah seperti kemarin. Boss mereka yang biasanya tampil prima setiap harinya di kantor, kemarin harus dibawa oleh ambulance karena tak lagi kuat menopang tubuhnya sendiri sekalipun hanya untuk berjalan.
Devan sangat lemah kemarin karena perutnya terasa benar-benar dikuras. Buang air tak henti juga padahal sudah diberikan obat oleh Ferro, begitupun dengan muntah-muntah yang dialaminya.
Dashinta hanya menanggapi mereka semua dengan santai. Bukan Ia yang melakukan kejahatan itu, dan Ia sudah tahu pelakunya.
"Darimana kalian dengar berita itu? termakan omong kosong siapa? adakah penghasut di sini? atau ini masih menjadi bagian dari rencana si pengkhianat itu?"
__ADS_1
"Siapa maksudmu?" tanya salah satu dari beberapa perempuan yang baru saja mendatangi ruangan Dashinta di samping ruangan Devan.
"Nanti juga kalian tahu," jawabnya santai. Usai meletakkan tas mahalnya, Ia mulai sibuk dengan komputer di depannya.
"Kamu kenapa bekerja di sini? jaga di depan ruangan Tuan Devan sana!"
Ucapan kawannya itu membuat Dashinta berdecak. Ia segera menyahuti.
"Boss hari ini tidak bekerja. Siapa tamu yang mau bertemu dengan kursi kosong?"
Biasanya Dashinta yang bertugas di depan ruangan Devan untuk menanyakan keperluan setiap tamu yang ingin bertemu dengan Devan. Hari ini Devan tidak ada, jadi untuk apa Ia berada di depan ruangan yang pemiliknya sedang sakit itu?
"Boss tidak bekerja? wah enak ya menjadi kamu. Hari ini banyak waktu luang,"
Dashinta memijat kepalanya dan mengibas kedua tangannya mengusir mereka semua yang sudah membuatnya sakit kepala pagi-pagi seperti ini.
"Kata siapa aku banyak waktu luang? justru pekerjaanku semakin banyak. Karena Tuan melimpahkan semuanya padaku dan Ferro,"
"Huh kenapa Tuan mau menyerahkan pekerjaannya padamu? pasti akan berantakan nanti. Bisa-bisanya Tuan percaya pada orang yang telah menyakitinya,"
Ketiga orang perempuan bermulut tajam itu segera keluar dari ruangan sekretaris Devan.
Dashinta menggeram kesal. Kedua tangannya saling meremas sekencang mungkin untuk melampiaskan emosi.
"Pasti dia yang telah menyebar kebohongan itu. Dia sengaja menjadikan aku sebagai pihak yang bersalah di mata para pegawai di sini,"
******
"Penyakit Ibuku semakin parah, Tuan. Aku butuh uang itu sekarang. Lagipula aku sudah menyelesaikan tugasku kemarin,"
Pagi ini Arnold kedatangan office boy yang telah bekerja sama dengannya untuk meracuni Devan.
Arnold mengangguk dan langsung menulis nominal di satu lembar cek. Kemudian Ia memberikannya.
Office boy tersenyum seraya menerimanya. Ia tidak sabar mempersembahkan ini untuk Ibunya yang sakit. Caranya sangat salah, tapi Ia ingin Ibunya cepat sembuh. Inilah cara yang instan untuk mendapatkan uang banyak meskipun harus menyakiti Devan.
"Terima kasih, Tuan. Kalau butuh bantuanku lagi, segera kabari aku," ujar Bandy, office boy itu.
"Kau akan membantuku lagi? aku yakin kau akan dipecat oleh Devan. Jadi apa yang bisa kau lakukan untuk kembali mencelakai Devan?"
"Ah barangkali kasus yang kemarin tidak ketahuan seperti halnya saat aku membocorkan ban mobilnya,"
Arnold terkekeh seraya menggeleng. Tidak mungkin. Ia yakin Devan akan mengetahui pelakunya dan langsung memecat tanpa ampun. Apalagi bila Ia tahu yang membuat ban mobilnya bocor tempo hari adalah orang yang sama.
"Dia bodoh, buktinya dia tidak tahu kalau orang yang sudah memecahkan ban mobilnya adalah aku,"
Padahal Devan sengaja tidak ingin mencari tahu. Ia pikir itu hanya masalah kecil. Ban mobilnya pecah tapi Tuhan masih berbaik hati padanya. Ia tidak mengalami sesuatu yang membahayakan di jalan walaupun supirnya baru menyadari bahwa ban itu pecah setelah mereka sudah berada ditengah perjalanan menuju mansion.
Sementara kejadian kemarin itu sudah termasuk masalah yang besar dan tidak main-main karena Ia membuat Devan terbaring sakit. Bahkan sampai harus meninggalkan pekerjaannya. Tak hanya sampai di situ, Bandy sudah berhasil membuat anak dan istri Devan merasa cemas, Devan tidak suka itu.
*********
Saat Devan bangun, di sampingnya sudah ada Andrean dan Adrian yang sudah siap dengan seragam sekolah.
Mereka tersenyum menyambut mata Devan yang terbuka. Kondisi Devan sudah jauh lebih baik. Ia merasa ada perubahan. Devan jauh lebih segar dari kemarin.
"Maaf, Daddy tidak bisa mengantar kalian sekolah dulu,"
"Tidak apa, Dad. Kami bisa pergi dengan supir,"
"Hati-hati ya. Jadi anak yang baik,"
"Iya, semoga hari ini Daddy sembuh,"
"Doakan terus,"
"Sudah, bahkan sebelum tidur semalam aku mendoakan Daddy. Buktinya Daddy sudah lebih baik pagi ini. Iya 'kan? itu berkat doaku, Dad."
"Doaku juga," sahut Andrean yang diangguki oleh Devan.
"Terima kasih sudah mendoakan Daddy. Kalian anak yang baik,"
Saat Adrian dan kakaknya ingin memeluk Daddy mereka, dengan cepat Devan menolak. "Daddy belum mandi,"
"Biar, Daddy tetap harum. Daddy tidak pernah bau. Aku heran, semoga saat aku besar nanti, aku juga seperti Daddy. Selalu tampil harum jadi perempuan----"
"Hmm masih kecil sudah punya rencana untuk tebar pesona pada perempuan. Awas saja kalau berani macam-macam ya," ujar Lovi seraya melotot tajam saat Ia kembali dari walk in closet.
Lovi baru saja menyiapkan pakaian ganti untuk Devan selesai mandi nanti. Ia baru masuk ke dalam kamar usai memasak dan mengurus kedua anaknya yang mau sekolah.
Usai menyiapkan pakaian, Lovi beranjak ke kamar mandi untuk memastikan bathup terisi dengan air hangat.
"Daddy, 'kan sebentar lagi Adrian ulang tahun, masa Daddy sakit? Daddy belum siapkan kado untuk Adrian,"
Andrean melirik adiknya sinis. Daddy-nya sedang sakit, Ia malah memikirkan kado. Benar-benar anak mata kado, bukan mata duitan.
Menjelang ulang tahun, Adrian memang lagi gencar-gencarnya membuat pengumuman bahwa sebentar lagi Ia akan ulang tahun. Bahkan ke teman-temannya pun seperti itu. Sampai Andrean menggeleng malu melihat tingkah adiknya. Hanya memberi tahu sekali seharusnya sudah cukup. Tapi kalau bagi Adrian masih kurang. Ia mengundang semua teman dan gurunya agar datang ke pesta ulang tahunnya. Tapi yang membuat Andrean bersyukur, Adiknya tidak terang-terangan meminta kado. Ia hanya menginginkan pestanya dihadiri oleh semua orang.
Setiap temannya bertanya 'mau kado apa?' dia selau menjawab 'tidak usah, aku akan dapat kado dari Daddy dan Mommy. Kalian cukup datang saja, supaya aku senang,' kalimat yang sama saat mengundang Lucas.
Devan hanya tersenyum. Ia sudah mempersiapkan kado untuk mereka berdua. Hanya saja belum ada yang tahu selain Lovi. Setiap mereka ulang tahun, Devan berusaha semaksimal mungkin merayakannya. Ulang tahun hanya terjadi satu kali dan setahun. Mereka harus dibuat sangat bahagia di hari penambahan usia itu.
"Semoga sudah sembuh. Pesta ulang tahun masih beberapa hari lagi,"
"Tapi ada pesta 'kan, Dad?" tanya Adrian memastikan. Ia sudah mengundang lewat ucapan langsung dari mulut, jangan sampai tidak ada pesta. Astaga, dia harus menyembunyikan wajahnya dimana? itu memalukan sekali.
"Hmm sepertinya tidak. Tapi tidak tahu juga. Daddy masih bingung mau mengadakan pesta atau tidak," Devan sengaja terlihat bimbang padahal semua persiapan sudah hampir selesai. Tempat, konsumsi, souvenir untuk mereka yang datang, dan juga hadiah untuk pemenang game yang akan diadakan dalam pesta nanti sudah siap. Tema ulang tahun mereka kali ini adalah robot. Mencari baju bertema robot untuk perempuan ternyata sulit juga menurut Lovi. Selain untuk dirinya dan Auristella, Lovi juga harus menyiapkannya untuk keluarga terdekat seperti Senata, Rena, Vanilla, dan Jane.
"Aku sudah mengajak teman-temanku untuk datang, Dad."
"Siapa yang suruh?"
Bibir Adrian langsung mencebik kesal. Ia segera memeluk Devan untuk membujuk Daddy-nya itu.
"Aku malu kalau tidak ada pesta,"
Andrean menahan tawa. Tak bisa dibayangkan akan seperti apa riuhnya teman-teman Adrian nanti saat tahu kalau tidak ada perayaan ulang tahun. Mereka akan ramai-ramai meledek Adrian.
"Tanggung malunya sendiri. Daddy belum memastikan ada pesta atau tidak, tapi kamu sudah mengundang mereka,
"Daddy, aku mohon--"
"Devan, ayo mandi," Lovi keluar dari kamar mandi. Dan bujuk rayu Adrian langsung terhenti.
"Kenapa mohon-mohon begitu?"
"Nanti ada pesta ulang tahun untukku 'kan, Mom?"
Lovi melirik Devan yang mengedipkan sebelah matanya. Ia baru mengerti, ternyata Adrian dan Andrean sedang dikerjai oleh Devan.
Lovi mengendikkan bahunya seraya menjawab, "Mommy tidak tahu." Lovi mengikuti kejahilan suaminya.
"Dia sudah mengundang semua temannya,"
Lovi langsung menggeleng pelan seraya menatap Adrian yang menunduk. "Kalau ternyata tidak dirayakan bagaimana? ada-ada saja anak ini,"
"Pokoknya harus dirayakan!"
"Pemaksaan," Devan mencibir. Adrian menggeleng tak peduli. Ia menutup telinga saat Devan akan bicara lagi. Secepat kilat Ia keluar dari kamar orangtuanya dengan berlari.
Devan dan Lovi tergelak melihatnya. Sementara Andrean hanya diam dengan wajah datarnya.
"Ayo, mandi." kata Lovi yang langsung mengalihkan tatapan Andrean.
"Mommy mau mandi bersama Daddy?"
__ADS_1
"Huh?"