
"Istirahat yang banyak ya. Jangan bermain dulu. Nanti kalau sudah sehat, jangan terlalu kelelahan lagi,"
Adrian mengangguk saat dokter yang memeriksanya memberi ultimatum.
Seperti kata Devan, Lovi membawa anak bungsunya ke rumah sakit untuk diperiksa. Padahal tiga hari lalu mereka baru saja melakukan pemeriksaan rutin pasca kecelakaan yang menyebabkan mereka gegar otak. Yang membuat Devan semakin yakin untuk membawa anaknya berlibur adalah, kondisi mereka sudah dipastikan baik-baik saja oleh dokter yang biasa menangani Andrean dan Adrian selama dirawat di rumah sakit. Bahkan mereka sudah diizinkan untuk beraktifitas seperti biasa seperti sekolah dan bermain. Tidak ada lagi pembatasan aktifitas yang harus mereka patuhi.
Rupanya hal tersebut dianggap sebuah kebebasan oleh kedua anak kembar itu. Mereka bermain tanpa kenal waktu. Terkadang mengacuhkan perintah Lovi untuk tidur siang. Dan akhirnya Adrian yang tumbang. Semoga Andrean tidak mengikuti jejak adiknya.
Sekarang Adrian kembali dengan alasan yang berbeda. Demamnya turun dan naik tak beraturan, batuk pun semakin parah, ditambah lagi dengan banyaknya lendir di hidung yang membuat Ia tidak nyaman.
"Kalau mau liburan ya harus sehat dulu," imbuh dokter perempuan berwajah manis itu. Memberi pengertian untuk pasien seusia Adrian memang butuh cara yang halus agar mereka menurut dengan suka hati.
"Jadi kalau besok Adrian tidak sembuh, liburannya batal?"
"Iya, tidak ada liburan." Keputusan Lovi yang final diangguki oleh dokter bername tag 'Stilla' itu.
***
Lovi berada di perjalanan pulang. Ia dan Adrian diantar oleh supir. Sementara Senata di rumah bersama dengan Andrean.
Anak sulungnya itu sempat mau ikut ke rumah sakit. Dan Lovi melarangnya. Untuk apa juga menemani adiknya ke rumah sakit? Lebih baik beristirahat di rumah tanpa membuat Lovi khawatir.
Lovi mengeluarkan ponselnya yang terasa bergetar dari dalam sling bag yang dibawanya. Ia menyerahkan benda tipis itu pada Adrian.
"Daddy telepon ini,"
__ADS_1
Adrian yang sedari tadi merasa bosan karena kemacetan langsung berubah menjadi antusias saat melihat nama Devan di layar.
Sebelum Adrian mengangkatnya, tiba-tiba panggilan terputus. Ia mendesah kecewa dan mengembalikan ponsel Mommynya pada sang pemilik.
Sedetik kemudian Devan kembali menghubungi dan kali ini menggunakan sambungan video juga. Adrian kembali menarik ponsel itu.
Tangan kecilnya dengan lincah menggulir layar. Tidak jadi murung lagi. Dengar suara Devan, Ia kembali semangat.
"Hallo, Sayang. Apa yang dikatakan dokter padamu? Kamu baik-baik saja bukan?" Devan melempar pertanyaan sekaligus. Adrian bisa melihat kalau saat ini Devan sedang berada di ruangannya. Ia duduk di kursi kebesarannya. Suasana yang persis saat Adrian datang ke sana.
"Kata Dokter, Adrian tidak boleh liburan kalau belum sembuh. Memang begitu ya, Dad? Kita gagal liburan?"
"Iya, Daddy tidak mau mengajak anak yang sakit,"
Bibir mungilnya maju beberapa senti. Mata bulat itu berkaca menatap Devan yang kini merasa terenyuh.
Adrian mengangguk sebelum menjawab, "Iya, Dad. Tapi liburannya belum besok?"
"Belum, Sayang. Kita tunda liburannya,"
Lovi tersenyum puas. Ini yang ingin Ia dengar. Rupanya tanpa perlu Ia mengatakan pada Devan, lelaki itu sudah mengerti apa yang dikhawatirkan Lovi.
"Letak di sana!" Devan menunjuk meja yang tak jauh darinya saat berbicara pada seseorang. Ferro baru saja masuk dan menyerahkan berkas yang harus Devan pelajari sebelum dibahas dalam pertemuan besok.
"Itu siapa, Dad?"
__ADS_1
Ferro terlihat tertarik saat mendengar suara Adrian yang jelas menanyakan dirinya. Namun Devan yang arogan malah mengusirnya dari ruangan itu. Ferro menghela napas, sabar. Ini bukan pertama kalinya Devan menyebalkan. Segala perilaku buruk lelaki itu sudah menjadi makanan sehari-hari Ferro.
"Ferro,"
"Teman baru?"
"Siapa teman baru Daddy?" Lovi ikut masuk dalam perbincangan anak dan suaminya. Wajahnya mendekat pada layar dan tepat di sebelah kepala Adrian.
"Ferro, Lov. Bukan teman baru. Kamu ingat bukan?"
"Oh ya ampun Ferro sudah kembali? bagaimana kabarnya?"
"Baik, walaupun wajahnya semakin keriput tapi dia sehat,"
"Ahahaha keriput!" Lovi dan Devan sama-sama mengangkat alisnya menatap Adrian yang baru saja terbahak. Lovi memiting pipi anaknya dengan gemas.
"Keriputnya seperti Daddy?"
"Jaga mulutmu, Sayang! Daddy belum keriput. Grandpa yang keriput,"
Supir diam-diam tertawa pelan di belakang kemudinya. Ia bisa mendengar suara Devan yang terdengar mengerang kesal. Siapa yang tidak kesal dikatakan keriput? padahal jelas-jelas wajahnya masih sangat tampan. Usianya juga masih muda, kalau hadir keriput patut dipertanyakan.
"Mungkin Daddy terlalu sering marah-marah jadi banyak keriputnya di wajah,"
Lovi sudah tak bisa lagi menahan ledak tawanya. Adrian berhasil membuat Devan terdiam dengan wajah datar. Tak ada yang bisa ia lakukan selain mendengus dan membuang wajah. Membentak Adrian karena hal sepele seperti ini bukan Devan Sama sekali. Kecuali kalau anak itu melakukan kesalahan fatal. Itupun sebisa mungkin Ia tahan. Saat ini Adrian tengah menghibur dirinya sendiri dan orang di dekatnya. Jadi biarkanlah anak itu ingin bicara apa. Devan anggap Ia tidak mendengar ledekan anaknya.
__ADS_1
---------
HELAWWW GAESSS. Maaf br up Krn seharian aku blm mood nulis hehe. FOLLOW, LIKE, KOMEN, BINTANG 5, VOTE YAKK. TENGKYUU UNTUK KALIAN YG BAIK HATI😘💙