
Devan berusaha tetap tenang saat Rena menghubunginya ketika rapat direksi berlangsung. Mamanya mengatakan kalau Lovi akan segera melahirkan. Bahkan mereka sudah di Rumah Sakit karena Lovi yang sudah tidak sadarkan diri.
Devan tidak perlu ragu untuk menjadikan Rena sebagai kamera CCTV nya dalam mengawasi Lovi selama di mansion.
Bukan ketenangan yang di perolehnya. Apalagi ketika suasana jalan raya tidak mendukung. Berulang kali Devan memaki para pengendara yang bergerak lambat.
"Cepat, Ferro!!"
Ferro sampai sibuat sakit kepala. Karena Lelaki itu juga terus membentaknya agar mempercepat laju mobil yang dikendarainya. Padahal Devan tahu kalau lelaki paru baya itu sudah membawa mobilnya dengan kecepatan gila.
"Aku khawatir dengannya Ferro,"
Tidak perlu dijelaskan sebenarnya. Karena Ferro sudah bisa menilai sendiri bagaimana paniknya Lelaki itu.
"Nona akan baik-baik saja, Tuan. Kedua jagoanmu adalah anak yang baik,"
*********
Koridor Rumah sakit yang sunyi memudahkan Devan untuk terus berlari menemukan kamar Istrinya.
Napasnya berangsur lega ketika melihat Raihan menunggu di luar dan berbincang dengan dokter.
"Terimakasih, Dokter,"
Devan sampai di sana bersamaan dengan berakhirnya pembicaraan yang berlangsung di antara Raihan dan Dokter lelaki itu.
Raihan mengerinyit menatap Devan dari bawah hingga atas. Napasnya masih memburu dengan keringat yang memenuhi keningnya.
Devan ingin langsung bertemu dengan Lovi namun Raihan menahannya dengan tatapan tajam.
"Dia baru selesai di oprasi,"
Mata Devan membulat. Bagaimana mungkin Ia tidak berada di samping Lovi ketika bayi mereka akan lahir ke dunia?
"Kalian tidak menungguku?"
"Bodoh! untuk apa menunggu kehadiranmu? Air ketubannya sudah pecah. Kedua putramu tidak sabaran untuk dilahirkan rupanya," Jawab Raihan dengan datar. Ia duduk di salah satu kursi. Sementara Devan masih di landa kebingungan. Seluruh syaraf seolah berhenti untuk bekerja. Rasa khawatirnya sudah berhasil membuat Devan menjadi orang yang terlihat sangat bodoh.
"Lalu kenapa sekarang aku tidak diizinkan untuk masuk?" Devan melirik kaca yang ada di pintu. Namun Lovi tidak terlihat sama sekali. Hanya selimutnya saja yang bisa di lihat dari luar.
__ADS_1
"Mama sudah menunggunya di sana. Lebih baik bersihkan tubuhmu! Tidak ingin menggendong mereka?"
Devan bahkan hampir lupa bertanya mengenai keadaan bayinya. Padahal mereka yang sangat dinantikan oleh Devan.
"Tentu saja aku ingin,"
"Ya sudah lekas mandi sekarang! Masuk ke dalam ruangan itu dalam keadaan bersih, Devan! Kamu terlalu banyak membawa kuman!"
Mendengar ucapan Raihan, Devan sampai mengendus tubuhnya sendiri. Ia juga menatap setiap jengkal lengannya. Apakah benar Ia terlalu banyak membawa kuman?
"Aku tidak bau, Pa!" jawabnya tidak terima. Bahkan melalui matanya Ia melakukan protes pada Raihan.
"Lagipula siapa yang mengatakan kamu bau? Kamu tidak pernah bau! Hanya membawa kuman,"
Devan tersenyum puas mendengar itu. Rasa percaya dirinya kembali bangkit.
"Tapi aku tidak akan meninggalkan Istriku lagi," Devan mengeluarkan alasannya yang tidak ingin kembali ke mansion hanya untuk mengganti pakaiannya.
"Semuanya sudah disiapkan oleh pengawalmu," Raihan melirik paper bag di sebelahnya. Semua itu adalah hal-hal yang kemungkinan akan di perlukan oleh Devan selama menjaga Lovi di Rumah sakit.
"Aku akan mandi di dalam,"
"Jaga suaramu, Devan! Mereka bertiga perlu istirahat,"
Itu yang Devan dengar sebelum tubuhnya masuk dalam suasana sunyi di dalam kamar tersebut. Begitu kakinya memasuki ruangan lebih dalam, Akhirnya Ia bisa melihat wajah pucat Lovi dengan mata yang masih terpejam.
Rena yang sedang bergelut dengan ponselnya langsung menoleh terkejut ketika Devan datang lalu mengusap kening Lovi.
"Hei! Kapan kamu datang?" tanya Rena pada Putranya. Devan tidak langsung menjawab karena Ia mengecup kening Lovi sejenak.
"Maafkan aku baru datang sekarang," bisiknya sangat pelan takut mengganggu istirahat kedua jagoannya yang belum Ia lihat bagaimana rupanya.
Devan berjalan ke arah box cukup besar yang tak jauh dari ranjang Lovi. Di sana Ia melihat dua malaikat kecil yang selama ini di nantinya. Devan sangat ingin mengecup wajah tampan mereka. Namun keadaannya belum steril untuk saat ini. Ia tidak menuruti perintah Raihan dengan segera karena terlalu senang melihat wajah Lovi. Ia tidak bisa menahan keinginannya untuk mengusap wajah yang baru saja berjuang untuk kedua putranya itu.
Tapi sekarang, Devan akan mandi dengan cepat. Ia tidak sabar ingin membawa kedua putranya dalam gendongan.
"Aku mandi, Ma," ucapnya pada Rena sebelum akhirnya menghilang dibalik pintu toilet.
Seolah tahu kalau mereka baru saja ditinggalkan dan diacuhkan oleh ayah mereka, kedua bayi Devan langsung menangis. Membuat Rena sontak bangkit dari posisi duduknya. Menepuk mereka dengan lembut. Membujuk mereka untuk kembali tertidur dengan lagu-lagu yang sering Ia nyanyikan dulu ketika Devan dan Vanilla ingin tidur.
__ADS_1
Namun tidak ada yang ingin berhenti menangis. Keduanya seolah berlomba untuk mencari perhatian Ayah mereka yang sibuk di dalam toilet.
"Grandma tahu kalau kalian ingin digendong Daddy. Dua cucuku yang tampan harus sabar," ucapnya yang berusaha menghibur mereka di sela tangisan nyaring itu.
Devan mendengar tangisan kedua Putranya ketika air dimatikan. Secepat kilat Ia menyelesaikan kegiatannya. Ia langsung memakai pakaian santainya di dalam toilet dengan cepat. Kedua jagoannya belum juga diam.
Ia meletakkan semua pakaian kotornya di dalam box yang sudah disediakan. Menghampiri Rena yang sedang menggendong salah satu cucunya.
Sementara yang satu lagi kian menangis merasa kalah dari kakaknya. Devan menggeleng pelan.
"Kecil-kecil kamu sudah bisa merasa Iri, Sayang," gumamnya seraya meraih putranya itu dalam gendongan. Devan tidak kaku sama sekali hingga membuat Rena sedikit terkejut. Ia tidak menyangka kalau Devan yang dingin, angkuh dan terkenal kejam juga bisa diandalkan dalam menggendong anak bahkan sekarang Ia berhasil membuat putranya berhenti menangis.
Devan menimang mereka penuh kasih sayang. Kedua bayinya saat ini berada dalam balutan hangat tangannya. Rena mengisyaratkannya untuk duduk.
"Syukurlah mereka tidak menangis kamu bawa duduk, Devan,"
Rena terlalu khawatir Devan hilang keseimbangan membawa mereka sekaligus.
"Mereka tahu kalau Daddy nya perlu istirahat. Dari kantor sampai Rumah sakit aku selalu berlari,"
Rena mendengus seraya memutar bola matanya. Devan mengecup wajah anaknya satu persatu. Mereka kembali nyaman dalam tidur.
"Lelah? apa yang membuatmu lelah? Lovi yang melahirkan kenapa kamu yang lelah?"
Devan terkekeh. Bila dipikir benar juga ucapan Rena. Ia tidak bisa menemani Lovi selama proses melahirkan.
"Lagipula siapa yang menyuruhmu ke kantor? Seharusnya menjelang kelahiran, kamu selau ada di samping Lovi. Kamu hanya bisa menikmati tanpa mau ikut berkorban,"
Devan menatap Rena dengan mulut terbuka. Ucapan Rena membuat hatinya tercubit.
"Aku bukannya tidak ingin mendampingi, Ma. Tapi ada masalah besar yang sejak kemarin terjadi dalam perusahaanku," jelas Devan agar Mamanya bisa mengerti dengan pilihan yang diambilnya tadi pagi. Lovi memang sudah terlihat lesu sejak pagi. Tapi Devan tidak bisa meninggalkan kewajibannya di perusahaan. Banyak orang yang menggantungkan hidup padanya.
"Ya, semoga saja Lovi tidak lupa dengan suaminya. Aku hanya takut Ia mengakui Dokter yang membantunya tadi sebagai suaminya. Karena dia yang selalu ada di samping Lovi,"
Rena mengatakannya dengan datar. Ia berusaha menahan tawa ketika raut Devan berubah muram.
"Ucapan Mama tidak akan terjadi. Dia mencintaiku. Begitupun aku yang sangat mencintainya dan anak kami,"
*************
__ADS_1
babyboy lahir jg akhirnya😅 hellaw aunty cemuaahh. Jgn lupa dukungannya untk cerita ini yaaaa. Tencuuu