
"Jadi bagaimana? sudah berbicara dengan Lovi?"
Devan dan Rena sedang terlibat pembicaraan sementara Andrean dan Adrian sibuk bermain di atas bangsal dengan miniatur pesawat masing-masing. Devan akhirnya menyerah saat Andrean yang jarang merengek, tadi pagi merengek ingin bermain.
"Daddy, ada orang jahat masuk!"
Devan segera menoleh ke pintu. Di sana berdiri kedua teman Lovi. Sebelum masuk ke ruangan ini, mereka kembali turun ke bawah untuk membeli mainan dan parsel buah.
"Hei, tidak boleh begitu. Bicara yang baik," tegur Rena karena si bungsu memanggil orang yang Ia yakini untuk menjenguk mereka dengan sebutan 'orang jahat'
Devan menatap sengit salah satu dari mereka. lalu Ia bangkit untuk menghampiri.
"Aku Desira, temannya Mommy kalian. Bukan orang jahat,"
Desira menunjuk Fifdy di belakangnya.
"Ini Fifdy, temannya Mommy juga,"
Devan mempersilakan mereka duduk. Namun keduanya menolak halus. Sungguh, dekat dengan Devan lama-lama membuat Desira mulas. Sementara Fifdy malah kesal entah karena apa. Tadi Ia sudah mengatakan pada Desira untuk tidak menjenguk si kembar ini. Namun Desira penasaran ingin melihat wajah Andrean dan Adrian katanya.
"Ini untuk kalian. Maaf ya, aku hanya bisa memberikan itu,"
Andrean dan Adrian yang sedari tadi diam memperhatikan kecanggungan mereka akhirnya tersenyum.
Devan tidak mengeluarkan suara apapun. Ia hanya memperhatikan.
"Ayo diterima hadiahnya. Katakan apa untuk mereka?" Rena meminta kedua cucunya berlaku sopan.
"Sabar, Grandma. Adrian sedang melihat isinya. 'Terima kasih'nya nanti dulu," Mata Adrian sedang menjelajahi isi paper bag yang diberikan Desira tadi.
Devan tersenyum mendengar kalimat anaknya. Adrian benar-benar keterlaluan mulutnya.
"Terima kasih, Aunty, Uncle."
Desira terkekeh gemas. Ia ingin sekali mencubit pipi Adrian yang gemuk itu. Kira-kira pawangnya marah tidak ya?
"Terima kasih," tambah Andrean dengan datar seperti biasanya. Dari situ Desira bisa menyimpulkan kalau anak-anak Lovi mempunyai dua karakter yang berbeda. Yang satu suka sekali berbicara, sementara yang satu lagi irit dalam mengeluarkan kalimat.
"Semoga cepat sembuh ya," Fifdy tak ingin berlama-lama di sana. Setelah mengatakan itu, Ia mengisyatkan Desira untuk pulang.
__ADS_1
"Daddy, Mommy punya teman laki-laki?"
"Nanti Adrian marahi Mommy. Seharusnya tidak perlu punya teman laki-laki. 'Kan sudah ada Daddy,"
Fifdy terhenyak saat diserang anak bernama Adrian itu. Ia Kesal bukan main. Ingin sekali memberi pelajaran untuk Adrian. Namun Ia harus berpikir ulang sebelum melakukan itu.
****
Andrean dan Adrian ingin pergi ke taman sore ini. Diam di atas bangsal bukan mereka sekali. Setelah menerima tamu beberapa kali hari ini, mereka sangat ingin keluar dari kamar.
Banyak rekan Devan dan Raihan yang berkunjung untuk menjenguk mereka. Sehingga bosan juga melihatnya.
"Dad, sebelum ke taman, boleh menjenguk Mommy dulu tidak?"
Devan yang sedang mengambil sandal untuk mereka di dekat pintu pun menoleh.
Ia mengerti betapa rindunya mereka pada Lovi. Seharusnya mereka bermanja pada Lovi, kini malah Devan saja yang mampu mengayomi. Selalu saja kurang lengkap. Ulang tahun kemarin keduanya tidak ada. Saat sakit seperti ini mereka tidak didampingi Lovi.
Devan kembali mendekati anak-anaknya seraya membawa dua pasang sandal. Mereka tidak ingin menggunakan kursi roda. Sudah kuat katanya.
" Memang ruangan Mommy benar-benar jauh ya, Dad?"
"Andrean mau lihat Mommy dan adik bayi, Dad."
Adrian mengangguk membenarkan ucapan kakaknya. Melihat tatapan mereka yang begitu berharap, akhirnya Devan mengangguk. Mungkin dengan kehadiran mereka, kondisi Lovi segera membaik. Masalah dimarahi oleh Lovi atau tidak, Devan tidak peduli.
"Adiknya belum keluar. Masih sangat kecil,"
"Oh belum? Kapan, Dad?"
Adrian menuntut jawaban seraya melihat kegiatan Devan yang sedang menyiapkan tiang infus. Ia bingung sekarang. Bagaimana caranya membawa dua tiang infus seraya menggenggam tangan kedua anaknya?
"Masih lama, Sayang."
"Dad, infusnya di lepas saja dari tiang. Nanti Andrean bawa sendiri,"
Devan yang tengah bergelut dengan otak buntunya pun langsung menatap Andrean yang baru saja memberi saran.
"Kalian bisa membawanya?"
__ADS_1
"Bisa, Dad. Bawa infus saja masa tidak bisa? Anak laki-laki harus kuat," Adrian berseru seraya memperlihatkan ototnya yang kecil. Devan terkekeh geli mendengar itu.
Akhirnya Ia melepas infus dari penyanggahnya. Setelah itu menyerahkan mading-masing infus pada pemiliknya.
Devan sekali lagi memastikan
"Tidak perlu naik kursi roda? Kalian yakin?"
Ternyata seperti ini rasanya merawat anak sakit. Tak henti merasa khawatir. Dan Lovi sempat merasakan ini seorang diri dulu. Devan masih suka mengingat itu sampai sekarang. Dan rasa bersalahnya tak pernah menyurut.
"Yakin, Dad! Daddy sudah tanya itu berapa kali. Adrian bosan!"
***
Sebelum pergi ke taman, mereka memutuskan untuk datang ke ruangan Lovi. Tak sabar ingin bertemu perempuan tangguh yang kini tumbang itu.
Begitu membuka pintu, mereka melihat Lovi yang sedang berbicara dengan Senata di dekat jendela. Keduanya memunggungi pintu.
"Mommy!" Meski tak sekencang biasanya, namun tetap saja suara mereka mampu membuat Lovi dan Senata terkejut.
"Ya, Tuhan, kalian kenapa ke sini?" Lovi berjalan cepat mendekati anaknya yang tersenyum seraya melebarkan kedua tangan, meminta pelukan dari Lovi.
"Kamu kenapa turun dari bangsal?" Devan sedikit kesal melihat perempuan itu tidak menuruti perintah dokter. Apa saja yang sudah dilakukannya sejak tadi? Sudah lamakah Lovi turun dari bangsal?
"Tubuhku bosan selalu dibawa tidur," Lovi menjawabnya santai. Devan mendengus dan mengikuti Lovi yang sudah membawa kedua anaknya duduk di sofa.
"Mommy senang bisa bertemu kalian. Tapi tidak seperti ini harusnya. Mommy yang akan mengunjungi kalian di sana,"
"Lama, kami sudah rindu Mommy,"
Lovi tersenyum dengan mata berkaca. Lovi bahkan lebih merindukan mereka. Rasanya sangat tersiksa ketika mereka sama-sama sakit seperti ini.
"Kenapa tidak pakai kursi roda? Dan kenapa membawa infus sendiri?" Lovi duduk di atas permadani tebal sementara anaknya di sofa. Posisi seperti ini membuat Lovi sangat puas memandangi anaknya satu persatu. Mereka terlihat lebih baik dari kejadian itu. Sudah bisa tersenyum walaupun wajah pucat masih terpatri jelas.
"Daddy suruh naik kursi roda. Tapi kami tidak mau. Sudah kuat berjalan. Mommy tenang saja,"
------
Mayan buanyakkk kan ep ini? ayoo vote&komennya jgn irit yaaa
__ADS_1