My Cruel Husband

My Cruel Husband
Devan semakin overprotective


__ADS_3

Setelah menemani Lovi periksa di rumah sakit, Devan mengantar istrinya kembali ke mansion.


Mendengar dari dokter bahwa Lovi benar mengandung dan usia kehamilan nya memasuki Minggu kedua, Devan tidak henti tersenyum dan mengucap syukur dalam hati.


Selama ini Ia masih berharap memiliki buah hati. Tapi karena melihat istrinya selalu mengalihkan pembicaraan kalau Ia membahas keinginannya itu, maka Devan menyimpulkan Lovi sudah tidak ingin hamil lagi, mungkin baginya cukup tiga anak. Devan meminta pada Tuhan, tapi hanya Ia yang tahu.


Ternyata Tuhan memberikan anugrah yang tidak diduga sebelumnya. Ia tidak menyangka kalau Tuhan akan mendengarkan permintaan yang Ia panjatkan diam-diam itu.


"Jangan kelelahan, Lov. Ingat pesan-pesan dokter,"


"Ya, kamu sudah membicarakan hal yang sama sejak tadi, berulang kali. Aku bosan mendengarnya,"


"Aku melakukan ini karena aku menyayangi kalian. Jangan keras kepala kalau diberi tahu suami,"


"Memang siapa yang keras kepala? aku selalu menurut apa yang kamu---"


"Aku akan pergi ke kantor sekarang. Ingat pesanku tadi,"


Daripada mereka berdebat, lebih baik Devan cepat-cepat pergi ke kantor nya. Sejak pagi Ia belum menginjakkan kakinya di kantor karena ingin menemani Lovi ke dokter kandungan.


Saat memasuki mansion, Lovi melihat kehadiran Vanilla. Ia sedang berbincang dengan Rena dan Senata saat ini.


Vanilla belum tahu kalau Lovi kembali mengandung. Rena dan Senata sengaja belum memberi tahu, karena ingin menunggu hasil pemeriksaan Lovi.


Vanilla bertanya paa Lovi 'habis darimana?' begitu mendengar jawaban Lovi 'dokter kandungan,' Vanilla langsung terdiam beberapa saat.


"Jadi bagaimana hasil pemeriksaan nya?"


"Sebentar-sebentar, kalian membicarakan apa sih? Lovi, kenapa kamu ke dokter kandungan? dan hasil pemeriksaan apa yang dimaksud Mama?" Vanilla menuntut penjelasan lebih detail. Ia tidak ingin hanya kisi-kisi nya saja karena Ia malas berpikir keras seorang diri.


"Aku hamil lagi, Van."


"APA?! ASTAGA, KAMU SERIUS?!"


Reaksi nya tidak berbeda jauh dengan Devan semalam. Vanilla mengeluarkan suara yang menggelegar. Sampai Lovi menutup telinga nya rapat-rapat.


"Benar, aku hamil. Usia nya sudah dua minggu,"


"Oh God, aku tidak salah dengar ini? apa aku mimpi?"


Plak


Plak


"Aw, sakit."


"Untuk apa kamu melakukan itu, Vanilla?" Senata menegur Vanilla yang baru saja menampar pipi nya sendiri untuk memastikan bahwa yang di dengarnya tadi adalah nyata, bukan bunga tidurnya.


"Biar saja, Senata. Dia memang suka bar-bar," ujar Rena dengan kesal. Seharusnya kalau memang ingin tahu itu mimpi atau bukan cukup menepuk pipi pelan-pelan atau mencubit lengan. Kenapa harus menyakiti diri sendiri?


"Selamat, Lovi. Usia anak kita nanti tidak berbeda jauh. Dan omong-omong Auris gagal menjadi bungsu. Seperti Adrian dulu,"


Lovi terkekeh membenarkan. Selama ini Auristella sering disebut-sebut anak bungsu dan pewaris perempuan satu-satunya dari garis keturunan Devan, ternyata Tuhan berkehendak lain. Bisa jadi jenis kelamin janin yang sedang tumbuh di dalam rahim Lovi berjenis kelamin perempuan.


*****


"Sudah cukup bermain nya. Kalian boleh ganti baju ya,"


Setelah guru olahraga nya bicara seperti itu, Adrian langsung berlari ke ruangan dimana Adrina berada. Thalia mengikutinya karena gadis kecil itu tahu tujuan Adrian. Ia juga ingin melihat kondisi Adrina.


Adrina baru selesai diobati. Ia menoleh saat melihat kehadiran Adrian dan Thalia.


"Kenapa ke sini?"


"Kenapa kamu bisa terluka?" Adrian bertanya balik. Adrina hanya memutar bola matanya. "Tidak usah penasaran, nanti kamu mengejek aku."


"Tidak akan, aku hanya ingin tahu saja kenapa kamu bisa sampai jatuh? karena kamu jarang olahraga, jadi kurang---"


"Pada akhirnya aku akan dikomentari. Lebih baik, kamu kembali ke kelas," sahut Adrina malas. Adrian memang tidak mengejeknya tapi tetap saja ucapan Adrian terdengar menyalahkan dirinya.


"Memang ada hubungannya dengan jarang olahraga?"


"Olahraga juga melatih keseimbangan. Mungkin kamu jarang olahraga, jadi mudah terjatuh."


"Adrina, masih sakit tidak?" tanya Thalia menengahi perdebatan antara Adrian dan Adrina.


"Masih lah, tadi lumayan banyak darah yang keluar,"


"Makanya Adrina, seharusnya kamu jadi penjaga gawang saja seperti aku. Kamu malah memilih untuk menjadi bagian dari pertahanan. Aku bisa bersantai karena semua tim ku menyerang kamu yang sibuk menjaga bola agar tidak masuk ke gawangnya,"


"Kenapa tidak sekalian kamu siapkan lapak untuk camping supaya terasa lebih menyenangkan?" ujar Adrina setelah mendengar ucapan Thalia yang mengatakan bahwa Ia bisa santai saat bermain sepak bola tadi, karena semua anggota tim nya sibuk menyerang lawan yaitu tim Adrina.


"Kamu sudah bisa jalan?" tanya Adrian pada sahabat perempuannya itu. Adrina bangkit dari bangsal yang ditempatinya itu dan tak luput dari perhatian Adrian.


"Sudah, kenapa? memang kamu mau gendong aku?"


"Tidak, jangan manja. Jalan sendiri, lagipula aku mana kuat menggendong kamu?"


"Dia saja masih suka digendong oleh Mommy Daddy nya, Adrina."


Adrian melirik Thalia dengan tajam. "Sok tahu," cibir Adrian tidak terima walaupun kenyataan nya begitu.


Thalia membantu memapah Adrina. Ia menoleh kesal pada Adrian yang malah bersedekap dada bukannya membantu Adrina berjalan.


"Kamu laki-laki 'kan? bantu!"


"Kamu saja yang bantu. 'Kan sama-sama perempuan,"


"Memang kalau mau bantu orang harus berdasarkan jenis kelamin?!"


"Tidak,"


Adrina menunjukkan kepalan tangannya pada Adrian dengan geram. "Kaki aku sakit, kamu malah berisik,"


Thalia meminta bantuan pada Adrian untuk membuka pintu lebih lebar agar Adrina bisa keluar lebih mudah.


"Tidak say thanks padaku?"


"Thanks, Adrian."


"Aku mau Adrina juga mengatakannya,"


Adrian memang gemar sekali membuat orang kesal bahkan disaat Adrina sakit pun, sifat nya tidak hilang. Tetap saja menyebalkan hingga Adrina yang sedang kesakitan merasa hatinya panas.


"Adrian, Thanks ya. Lain kali tidak usah bantu aku kalau mau pamrih,"


"Aku 'kan tidak minta balasan apapun. Hanya ingin mendengar kamu say thanks saja," jawab nya acuh. Lalu tanpa di sangka, Adrian segera merangkul Adrina untuk membantunya berjalan juga, seperti Thalia.


"Tidak usah membantu aku. Kamu masuk kelas saja sana,"


"Dibantu malah menolak. Huh, manusia macam apa kamu ini? tidak pandai bersyukur,"


Walaupun menggerutu, lelaki kecil keturunan Devan itu tetap menunjukkan kepeduliannya terhadap sahabat yang memiliki nama hampir serupa dengannya itu. Ia tidak melepaskan rangkulan tangannya dari bahu Adrina.


Rupanya di dalam kelas mereka sudah ada guru mata pelajaran selanjutnya setelah olahraga. Ia terkejut melihat Adrina berjalan dipapah.


"Kalau masih sakit seharusnya di ruangan saja, Adrina."

__ADS_1


"Aku sudah baik-baik saja, Mr." ujar Adrina pada guru laki-laki yang saat ini mengambil alih tugas Thalia dan Adrian untuk memastikan kondisi Adrina benar-benar sudah memungkinkan untuk mengikuti pelajaran.


Adrina rasa kaki nya yang sakit tidak mengganggu otaknya sehingga Ia masih bisa untuk belajar. Hanya saja rasa nyeri memang masih menyerangnya.


****


"Boss, kenapa senyum-senyum terus? mau ke rumah sakit untuk periksa kejiwaan, Boss?"


"Bisa diam tidak?"


Alis Dashinta bertautan saat Devan menyentaknya. Devan sedang fokus dengan berkas yang sedang Ia baca, Dashinta menunggu lelaki itu selesai, tapi selama matanya fokus, Devan tidak henti tersenyum dan itu tentu saja membuat Dashinta bingung. Karena biasanya Devan selalu datar dan jarang sekali terlihat 'gila senyum' seperti ini.


"Istriku hamil, jadi aku sedang membayangkan punya anak bayi lagi,"


"Nona hamil lagi? Wow, kau hebat, Boss. Aku kira tiga anak sudah cukup,"


"Memang sudah cukup tapi aku berharap punya satu anak lagi dan aku juga berharap dia perempuan agar aku punya dua anak laki-laki dan dua anak perempuan,"


"Nona Lovi akan merawat lima artinya ya?"


"Empat lah. Caramu berhitung bagaimana sih? kenapa bisa jadi sekretaris ku? jangan-jangan----"


"Lima dengan Boss,"


"Aku anak-anak? hih," Devan berdecih geli mendengar ucapan sekretarisnya yang menganggap dia anak-anak. Dia sudah bisa mempunya tiga anak artinya sudah dewasa.


"Kata Nona Lovi, Boss seperti bayi malah,"


"Kamu dibohongi oleh Lovi,"


Dashinta terkekeh tidak percaya. Ia jelas lebih percaya Lovi. Karena setiap Ia bertemu dengan Lovi dan Devan dalam waktu yang bersamaan, sikap Devan memang manja seperti anak-anak. Seperti saat gathering perusahaan beberapa bulan lalu. Semua keluarga kecil dari karyawan ikut serta termasuk Lovi dan anak-anaknya. Di saat itulah semua karyawan Devan tahu sifat asli Devan bila sedang bersama Lovi.


Apa-apa minta diambilkan Lovi, tidak mau kalah dari Andrean, Adrian, dan Auristella untuk diperhatikan oleh Lovi.


****


Di kehamilan Lovi yang sekarang ini, Lovi tidak mengalami kesulitan apa-apa. Tidak seperti di kehamilan pertama nya. Dimana saat itu kondisi Lovi sangat terpuruk karena perbuatan Devan yang selalu menyakitinya. Beruntung di kehamilan selanjutnya Ia sudah bisa menjalani masa-masa kehamilan dengan normal layaknya Ibu-ibu lain di luar sana, tanpa penyiksaan dari suami nya.


Lovi bersyukur karena dengan adanya anak, Devan bisa berubah menjadi lebih baik. Setelah Devan tahu bahwa istrinya hamil, kebiasaan menyakiti perlahan berkurang sampai akhirnya benar-benar menghilang seiring hadirnya rasa cinta di hati Devan untuk Lovi.


"Suamimu sudah menjemput, Vanilla."


Vanilla yang tengah menikmati french fries menoleh ke belakang. Ia tersenyum melihat Jhico datang untuk membawanya pulang.


"Ayo, kita pulang."


"Kalian langsung pulang? atau ada tujuan lain?"


"Mau ke supermarket rencananya. Kenapa, Lovi?"


"Tidak, aku hanya bertanya."


"Kamu menginginkan sesuatu? katakan saja, karena itu permintaan keponakanku,"


Melihat tangan Vanilla mengusap perut Lovi, Jhico bingung. Vanilla juga mengatakan 'keponakanku' seraya memberikan usapan itu.


"Jhi, Lovi hamil lagi." Vanilla memberi tahu Jhico mengenai kehamilan Lovi.


"Hmm?" Jhico terperangah mendengar kabar itu. Ia kira selama ini Devan hanya berkelakar mengenai rencana tambah anak.


"Program hamil?"


"Tidak, aku juga tidak menyangka bisa hamil lagi,"


"Pasti suami mu senang sekali. Karena yang aku lihat, dia yang paling semangat ingin memiliki anak lagi,"


"Kami pergi dulu, Lovi."


Vanilla memeluk Lovi sebelum meninggalkan mansion. Ia berpesan pada Lovi agar selalu menjaga kondisi tubuhnya, begitu pun Lovi yang tidak henti memberikan perhatian lewat pesan-pesan nya untuk Vanilla agar Vanilla dan anak nya senantiasa baik-baik saja.


Lovi menemani mereka sampai masuk ke dalam mobil. Vanilla sibuk melambai sampai kepalanya terantuk di atap mobil.


"Hati-hati, Nillaku." ujar Vanilla seraya mengusap kepala sang istri.


"Bye, Lovi."


Lovi melambai pada Vanilla yang membuka jendela mobil setelah Jhico masuk ke dalam mobil.


Saat Lovi kembali ke dalam mansion, Auristella menghampirinya bersama Serry. Auristella sudah siap dengan baju renang nya. Sore ini Ia akan berenang tapi sedang menunggu kedua kakaknya yang dalam perjalanan pulang bersama Devan. Setelah pulang sekolah, mereka dijemput oleh Devan seperti biasa.


Lovi mengajak Auristella untuk ke kolam renang ditemani dengan Serry. Tanpa mengganti bajunya, Lovi tiba-tiba saja masuk ke dalam kumpulan air itu lalu berdiri di tepi nya seraya menggendong Auristella.


"Nona, hati-hati."


"Iya, Serry. Karena seperti nya Auris sudah tidak sabar untuk menunggu kedua kakaknya, jadi aku saja yang menemani nya berenang,"


"Nanti Tuan Devan bisa mengamuk, Nona."


"Lebih baik Nona naik, aku saja yang menemani Auris."


Serry ikut masuk ke dalam kolam renang dan akan meraih Auristella dari gendongan Mommy nya, namun anak itu enggan lepas dari Lovi. Ia mengeratkan tautan tangannya di leher sang Ibu.


Sudah hampir sepuluh menit mereka berenang bertiga. Lovi membaringkan anaknya di atas air lalu membawanya berjalan. Auristella seperti terapung. Serry bertugas suntuk menjaga Auristella.


Devan dan kedua putranya tiba di mansion. Mereka segera mengganti baju tanpa menghabiskan waktu lama. Saat masuk ke dalam kamar, Devan tak menemukan keberadaan Lovi.


Ia mencari-cari ternyata Lovi sedang di kolam renang bersama Auristella. Andrean dan Adrian serta Devan datang dengan baju renang yang sudah mereka kenakan.


"Seharusnya Auris berenang dengan aku saja. Ngapain kamu ikut berenang?" Devan kurang setuju bila Lovi harus ikut berenang di sore ini.


"Memang kenapa kalau aku ikut berenang?"


"Apa tidak membahayakan kamu? lagipula ini sudah sore juga. Kamu tidak merasa dingin nanti?"


"Kalian boleh berenang sore hari, masa aku tidak boleh?"


"Kondisi kita berbeda," sahut Devan dengan datar.


"Di kehamilan yang sekarang aku mau rutin berenang,"


"Konsultasi dulu dengan dokter apakah itu aman untukmu. Mengingat usia kandungan mu masih sangat muda. Sekarang kamu naik ke atas dan berganti baju," titah Devan dengan tegas. Ia tidak mengerti apapun tentang hal-hal yang diizinkan oleh dokter untuk dilakukan oleh wanita hamil. Apalagi di kehamilan sebelumnya Lovi tidak pernah berenang. Agar lebih aman, mereka harus bertanya langsung pada dokter kandungan Lovi.


"Mommy nanti kedinginan. Sudah selesai renang nya,"


Auristella di gendong oleh ayahnya. Lalu Devan menyuruh Lovi untuk segera mengganti pakaiannya.


"Auris biar dengan aku. Kau boleh kembali ke dalam, Serry."


"Baik, Tuan."


Lovi dan Serry sama-sama meninggalkan kolam renang membiarkan Devan dan anak-anaknya berenang.


Seperti biasa, Setiap berenang bersama, Adrian dan Andrean pasti akan berlomba. Sementara Auristella diajak Devan untuk bercanda di atas air. Sesekali Auristella di bawa menyelam untuk beberapa detik, setelah diangkat oleh Devan, Ia tertawa lepas.


Ketika di baringkan di atas air, tangan dan kaki Auristella bergerak layaknya orang sedang berenang.


"MOMMY,"

__ADS_1


"MOMMY,"


"Sssstt! kenapa teriak-teriak sih? Mommy sedang ganti baju,"


Devan menegur anak keduanya yang seenak hati mengeluarkan suara nya yang menggelegar.


"Aku mau dibuatkan hamburger,"


"Ambil HT di sana, lalu panggil Mommy dengan HT," ujar Devan seraya menunjuk HT di meja dekat kolam.


Adrian mengambil alat komunikasi handy talky untuk memanggil Lovi. Ia menyampaikan keinginannya pada Lovi. Lovi sudah selesai berganti baju dan segera membuat hamburger yang diinginkan oleh Adrian.


"Lagi mau hamburger, Lovi?"


"Ini buat Adrian, Ma."


"Oh Mama kira cucu yang di dalam perut yang minta,"


Usai memanaskan beef dan meletakkan nya di atas roti Bun, Lovi menyajikannya di atas piring datar.


"Daddy sudah merasa dingin. Kita selesaikan saja renang nya,"


"Aku masih ingin renang. Daddy saja yang selesai, aku nanti."


Seperti biasa, Adrian yang keras kepala selalu sulit untuk di beri tahu. Devan dan Auristella duduk di tepi kolam.


Auristella melonjak-lonjak di atas pangkuan Devan saat melihat Lovi datang membawa makanan.


Setelah meletakkan hamburger di atas meja tak jauh dari kolam, Lovi menghampiri Auristella kemudian menggendong nya.


Lovi melihat tangan Auristella yang sudah keriput, Ia sudah kedinginan. Cepat-cepat Lovi membalut tubuh kecil itu dengan bathrobe.


"Kenapa baru selesai sekarang? Auris sudah kedinginan ini," Lovi menegur suaminya.


"Aku sempat mengajak dia keluar dari kolam, tapi dia menolak."


Devan menikmati makanan buatan Lovi lalu berseru memanggil Adrian dan kakaknya. Auristella menunjuk hamburger seraya menggeleng.


"Memang ini bukan untuk Auris," Lovi mengatakannya seraya terkekeh kecil. Ia belum berani memberikan hamburger untuk Auristella.


"Sekarang Auris mandi, lalu Mommy buatkan Snack ya?"


Auristella bertepuk tangan, entah dia benar-benar paham atau tidak dengan kalimat Lovi.


Seperti biasa, Auristella selalu dimandikan dengan air hangat. Ia begitu menikmati aliran air hangat di tubuhnya.


Auristella menggenggam erat tangan Lovi karena terkejut saat air membasuh rambutnya.


Auristella memainkan buih-buih sabun dan shampo yang dipakai nya. Ia melempar buih ke udara.


Auristella sibuk bermain dengan buih, Lovi jadi lebih cepat memandikan Auristella. Lovi menyuruh Auristella untuk membuka mulut, anak itu menggeleng. Lovi membuka mulutnya sebagai contoh, barulah Ia mengikuti.


Lovi membersihkan mulut anaknya yang sudah hampir genap dua belas bulan itu. "Tidak boleh malas membersihkan gigi,"


Auristella terlihat geli saat bulu-bulur halus dari sikat gigi nya menyentuh gusi yang belum ditumbuhi gigi.


"Sudah biasa sikat gigi, kenapa geli begitu?" tanya Lovi bingung. Auristella terkekeh lalu menyentuh wajah Lovi dengan tangannya yang penuh buih tadi. Jahil nya mulai keluar lagi.


Setelah tubuh anaknya bersih, Lovi segera membawanya ke kamar untuk dipakaikan baju.


"Cantik sekali anak Mommy," Lovi berdecak kagum setelah Auristella memakai baju. Ia mengambil sisir lalu menata rambut anak perempuannya yang seperti boneka itu.


Setelahnya, Lovi membawa Auristella ke rooftop. Ia melihat di kolam renang yang tepat berada di bawah rooftop, kedua anaknya masih berenang. Sementara Devan sedang menikmati hamburger seraya bermain ponsel.


Lovi membawa Auristella kembali ke kolam renang untuk memanggil kedua anaknya agar segera menyelesaikan olahraga sore mereka.


"Adrian, Andrean cepat mandi!"


"Mom, aku----"


"Cepat mandi!" titah Lovi lebih tegas saat Adrian ingin membantah.


Melihat Andrean yang sepertinya juga enggan untuk menyelesaikan renang nya, Lovi segera menegur anak sulungnya itu.


"Andrean biasanya mendengar ucapan orangtua. Sekarang, mandi!"


"Ya, Mom."


Adrian sudah berlari masuk ke dalam dan Andrean pun begitu. Lovi menatap Devan yang masih saja serius dengan ponsel.


"Kalau menunggu anak renang jangan sibuk dengan ponsel. Seandainya mereka ada apa-apa kamu tidak akan melihat,"


Usai memperingati suaminya dengan tegas, Lovi berjalan meninggalkan Devan. Lelaki itu mengangkat kepala nya dan menatap punggung Lovi dengan kernyitan di dahi.


"Yang aku ingat, aku baru pegang ponsel. Aku juga tahu tugasku. Ck!" Ia menggerutu seraya mengacak rambutnya yang masih basah karena renang.


*****


"ANDREAN SHAMPO AKU HABIS. MINTA, BOLEH TIDAK?"


Kamar mandi yang mereka gunakan bersebelahan. Sehingga saat Adrian berteriak, Andrean terkejut.


"Tidak boleh, saat aku pinjam selimut kemarin, kamu tidak membolehkan aku,"


"APA?! AKU TIDAK DENGAR, KALAU BICARA YANG KENCANG, JANGAN DIPENDAM SUARANYA,"


Anak itu menganggap tidak ada yang tahu perilaku nya saat ini. Berhubung mereka mandi di dalam kamar sendiri, jadi Adrian seenak hati. Di dalam kamar mereka memang ada dua kamar mandi, awal mansion ini dibangun hanya ada satu kamar mandi untuk kamar itu. Tapi karena Devan memiliki anak kembar, jadi Devan menyediakan dua.


Andrean hanya mendengus. Ia bukan tipe anak yang suka teriak-teriak seperti adiknya. Ia tidak ingin membalas teriakan sang adik.


"ANDREAN--"


Cklek


Lovi memasuki kamar kedua anaknya. Ia berdecak kesal seraya mengusap telinga nya yang terasa pengang. Kamar mereka bersebelahan, mungkin Adrian lupa.


"Ishh Adrian ini benar-benar. Dia kira Mommy nya tidak dengar kali ya,"


"Adrian!"


"YA, MOM?!"


Tok


Tok


Tok


"Buka pintunya!"


Adrian mematikan shower lalu membuka pintu. Ia memunculkan kepalanya di sela pintu yang terbuka sedikit.


"Bisa bicara pelan-pelan tidak? Mommy rasa suara air dari shower tidak akan membuat suara mu tidak terdengar. Jadi bicara lah yang pelan,"


Adrian mengangguk kemudian menjawab "Okay, Mom." tapi suaranya sangat pelan sehingga terdengar seperti bisikan. Ia meledek Lovi hingga Lovi menggeram kesal.


"Errghhh tidak begitu juga maksud Mommy,"

__ADS_1


 


__ADS_2