My Cruel Husband

My Cruel Husband
Sulit dipahami


__ADS_3

Pagi menjemput, suara kicauan burung menyambut kedua pangeran kecil yang sudah membuka matanya itu. Devan bangun lebih dulu daripada Istrinya. Usai mencuci muka dan memastikan dirinya sudah lebih baik setelah semalaman tertidur, Ia menghampiri kedua putranya.


Devan mengecup keduanya dengan gemas. Senyuman indah milik Adrian dan Andrean berhasil membuat suasana hati Devan pagi ini lebih baik setelah semalam Ia kembali berdebat dengan Lovi.


Devan menatap mata terang mereka.


"Ingin berjalan-jalan?" tanya Devan pada Adrian dan Andrean. Mereka menendang-nendang udara seolah sangat bahagia mendengar tawaran Devan.


Lovi membuka matanya perlahan. Ia bisa melihat punggung Devan yang sedang membelakanginya. Terdengar dari suaranya, Lelaki itu sedang berinteraksi dengan Adrian dan Andrean.


Ketika melihat Devan meletakkan keduanya di dalam stroller, Lovi menginterupsi kegiatan suaminya.


"Devan, kamu ingin membawa mereka kemana?"


Devan menoleh dengan wajah datarnya. Ia terlihat menghindari mata Lovi yang menatapnya sendu.


"Mengajak mereka keluar sebentar untuk menikmati pagi,"


Bahkan dari nada bicaranya pun Lovi bisa menilai seberapa besar rasa kesal Devan terhadapnya.


"Dengan keadaan kalian yang belum mandi?" tanya Lovi dengan sorot geli. Bagaimana mungkin lelaki tampan itu keluar tanpa penampilannya yang sempurna seperti biasa?


Devan menghela bahunya acuh dan mulai mendorong pelan storeller kedua anaknya.


"Tidak masalah. Masih banyak yang terpesona denganku walaupun penampilanku layaknya orang hutan seperti ini,"


Lovi mencibir pelan lalu turun dari ranjang untuk mendekati suaminya.


"Aku ingin ikut, bolehkah?" tanya Lovi langsung. Ia juga ingin menikmati pagi yang sejuk bersama orang-orang yang dicintainya.

__ADS_1


Devan menatap Lovi dari kepala hingga ujung kaki. Ia membuang mukanya lalu memutuskan untuk keluar dari kamar tanpa menjawab pertanyaan Lovi.


Lovi tidak terima dengan sikap Devan yang menyebalkan. Ia berseru dengan marah,


"Devan, aku ikut!"


Secepat kilat, perempuan itu berlari menyusul suaminya yang sudah berjalan di koridor resort.


Devan yang mendengar langkah kaki kencang di belakangnya pun menoleh. Wajahnya berubah keras.


"Ganti bajumu!!" titah Devan ketika Lovi sudah ada di dekatnya. Bibir Lovi sedikit mengerucut.


"Kenapa? aku hanya ikut berjalan-jalan jadi tidak masalah memakai piyama seperti ini," sela Lovi yang tidak ingin melaksanakan perintah Suaminya.


Devan mengangkat dagu Lovi untuk menatap tajam mata bersinar itu.


"Dasar bodoh!! piyama tidak ada yang seterbuka ini," komentarnya seraya menarik pelan renda yang ada pundak Lovi.


"Tapi ini..."


"Lovi, ganti sekarang!! lenganmu berkeliaran asal kamu tahu?!"


Lovi menggeram seraya memukul dada Devan cukup keras.


"Tidak masalah," ucapnya santai. Devan merasa emosinya pagi ini benar-benar dipancing.


"Kamu sudah bersuami bahkan memiliki anak dua. Tapi masih saja pakaiannya seperti gadis. Sadar diri, Lovi!"


Ucapan itu sedikit kasar. Dan Lovi makin kesal dibuatnya.

__ADS_1


"Sialan kamu!!" makinya dan tanpa diduga, Devan langsung melahap bibir Istrinya.


Mata kedua anak mereka berkedip melihat apa yang dilakukan orang tuanya. Menyadari itu, Lovi langsung mendorong bahu suaminya agar lelaki itu tidak lagi berbuat gila di depan anak mereka.


"Apa?!" tanya Devan.


"Kenapa harus kamu balikkan posisi mereka hingga menghadap kita?!"


Lovi ingat, ketika mereka berdebat tadi, Devan sengaja membalikkan stroller Adrian dan Andrean hingga menatap mereka. Devan hanya ingin melakukannya tanpa tujuan yang jelas.


"Aku tidak ada maksud lain," jawab Devan.


"Mereka melihat kita, Devan,"


"Tidak ada masalah bukan? aku mencium Ibu mereka bukan wanita lain,"


Lovi menangkap maksud yang berbeda dari ucapan Devan. Anak mereka terlihat sibuk dengan mainan yang digenggam.


"Lakukan saja! bukan aku yang melakukan sesuatu. Tapi mereka yang akan membunuhmu,"


Namun ketika mendengar suara bergetar pelan milik Lovi, Adrian dan Andrean langsung beralih fokus. Berbeda dengan Devan yang tidak menyadarinya, mereka justru penasaran dengan alasan yang membuat Ibu mereka tampak bersedih.


Lovi mengambil alih stroller mereka dan meninggalkan Devan yang kebingungan. Devan tidak mengerti kenapa perempuan itu langsung terlihat bad mood. Padahal Ia hanya bergurau.


Devan menghela napas pelan seraya mengacak rambutnya. Perempuan itu memang benar-benar sulit di pahami. Devan tidak tahu harus memperlakukan Lovi seperti apa. Hal ini makin diperparah dengan gurauannya yang membuat Lovi naik darah.


"Lalu sekarang aku harus berjalan sendiri? sialan!"


*************

__ADS_1


YUHUUU HAPPY WEEKEND SEMUANYAAAA.


__ADS_2