
Memangnya siapa yang mengajak Lovi bertengkar?
"Aku hanya bertanya,"
"Aku lelah, bisa kamu pergi sekarang?"
"Lelah? Memangnya kalian melakukan apa tadi? Hm? Aku harus tahu!"
Lovi berjalan untuk ke kamar mandi. Ia tidak akan membersihkan tubuh selagi ada manusia setengah setan itu di kamar ini. Berbahaya kalau sampai Devan melihat tubuhnya yang segar nanti. Bisa-bisa Ia kalap. Karena Lovi ingat betul waktu favorit lelaki itu ketika ingin bercinta. Setelah Lovi tampil dengan cantik dan segar. Katanya lebih terasa nikmat.
"Sialan! Kenapa aku harus mengingat hal itu?!"
"Kamu belum bertemu dengan Andrean dan Adrian. Padahal seharian ini kamu tidak bersama mereka,"
"Aku bekerja. Aku tidak melakukan apapun dengan Fifdy di luar sana. Pertanyaanmu sudah kujawab. Jadi lebih baik kamu biarkan aku untuk beristirahat,"
Devan tersenyum puas. Sangat puas karena Lovi berhasil mengusir kerisauan hatinya.
Namun Lovi menyesal. Kenapa Ia harus menjelaskan sedetail itu pada Devan? Bukankah itu tidak penting lagi mengingat Devan bukanlah suami untuknya .
Devan bangkit lalu mendekati Lovi. Perempuan itu langsung bergerak mundur pertanda Ia begitu waspada dengan Devan.
Devan berhasil meraih pinggang ramping mantan istrinya. Ia mendekatkan bibirnya pada Lovi namun lagi-lagi mendapat penolakan.
Devan menghela napas pelan. Ia harus membuat Lovi kembali terbiasa dengan sentuhannya. Untuk kali ini Ia memakluminya. Karena sebelum perceraian mereka, Devan sempat memperk*sa Lovi hingga perempuan itu sangat kesakitan.
"Jaga dirimu baik-baik. Karena kamu hanya milikku!" Bisinya dengan tegas tak ingin dibantah mengenai kepemilikan atas diri Lovi.
__ADS_1
****
Devan berencana untuk menginap di rumah itu. Karena waktu sudah terlalu malam. Ia juga menghubungi Rena agar Mamanya itu tidak khawatir dengan keadaannya.
"Ya, aku baik-baik saja,"
"Hati-hati ya,"
Kalimat terakhir yang diucapkan Rena sebelum sambungan telepon terputus.
Devan tampak memasuki dapur untuk membuat kopi. Seluruh pelayannya sudah beristirahat. Kali ini Ia tidak ingin menjadi sosok yang egois. Devan akan turun ke dapur seorang diri.
Suasana hening menemani Devan yang sedang mengaduk kopinya. Dan seharusnya kesepian itu tidak perlu dialami oleh pengidap skizofrenia. Di saat seperti itu mereka akan dengan bebas berfantasi.
Seperti Devan yang saat ini terasa melihat kedua anaknya. Padahal mereka sudah tertidur di kamarnya. Suara-suara Andrean dan Adrian mulai memenuhi telinga.
Devan menjawab suara itu. Suara yang hanya bisa didengar olehnya.
"Lain waktu Daddy akan membuat kue itu dengan rasa lain ya?"
"Andrean suka Strawberry, Dadd."
"Tapi Adrian tidak suka. Adrian mau yang coklat,"
Adrian mengambil coklat di dalam lemari pendingin. Kemudian Ia berusaha sendiri untuk mencari pisau.
Ketika ditemukannya benda tersebut, Devan menggeleng dengan wajah yang panik. Ia berjalan cepat menghampiri Adrian yang mulai memotong coklat.
__ADS_1
Anak itu akan memperkecil ukuran coklat agar bisa dijadikan topping pengganti kue yang dibuat oleh ayahnya.
"Adrian, Jangan menyentuh pisau!" Devan mulai mengeluarkan suaranya. Berbicara pada udara.
Adrian menatap ayahnya bingung. Ia menyembunyikan benda tajam tersebut di belakang tubuhnya ketika Devan akan meraihnya.
"Adrian, Dengarkan ucapan Daddy! Berikan pisaunya!" Teriak Devan di dapur seorang diri. Tidak ada yang tahu mengenai dirinya saat ini yang tengah kambuh.
"Memangnya kenapa? Strawberrynya bisa Adrian ganti dengan coklat,"
"Tidak sayang, tidak bisa. Daddy akan membuatkan yang coklat sekarang,"
Lirih, Suaranya begitu lirih pertanda Ia hampir putus asa berusaha membedakan halusinasi dan realita.
"Bisa, Daddy! Adrian hanya perlu menaburkannya saja---"
"Adrian, Daddy mohon kembalikan pisaunya. Itu berbahaya untukmu,"
"Kalau berbahaya untukku, berarti untuk Daddy juga bahaya,"
Devan menggeleng. Keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuhnya.
"Apa yang kamu bicarakan? Pisau itu tidak akan menyakiti Daddy,"
"Ya sudah, pisau ini juga tidak akan menyakitiku. Jadi Daddy tenang saja,"
Adrian kembali meneruskan kegiatannya. Devan menatap itu semua dengan pandangan kosong. Ia mati-matian meyakinkan bahwa apa yang dilihatnya saat ini hanyalah bentuk bayangan. Namun lagi-lagi akal sehatnya kesulitan untuk menemukan titik terang.
__ADS_1