My Cruel Husband

My Cruel Husband
Kesempatanku tidak ada lagi


__ADS_3

"Grandma menjaga Mommy, Sayang."


"Mommy dirawat dimana memang? Jauh?"


"Ya, jauh. Kalian harus sembuh dulu kalau ingin bertemu Mommy,"


Devan tersenyum mendengar itu. Berbeda dengan si kembar yang langsung murung. Mereka harus semangat untuk sembuh.


"Mommy tidak akan ke sini lagi?"


Senata mendekati Andrean seraya tersenyum. Ia mengusap tangan mungil si sulung itu.


"Kalau sudah sembuh lebih dulu daripada kalian, Mommy pasti ke sini."


"Daddy, Adrian mau muntah," secepat kilat Devan membantu anaknya untuk bangkit. Ia menggendong Adrian seraya memegang tiang infus. Dengan sabar, Devan mengayomi anaknya. Di pijat pelan leher anak itu. Tak bisa dipungkiri hatinya berdesir ngilu menyaksikan ini. Entah sampai kapan mereka terbebas dari kesengsaraan yang membelenggu.


"Sudah? Atau masih mual?" Devan menatap anaknya dengan lembut. Adrian menggeleng. Ia akan menyalakan kran air matang namun Devan menahan.


"Daddy saja yang mencuci mulutmu,"


Tangan Devan memutar kran lalu mulai mencuci sekitar mulut Adrian yang baru saja terkena muntahannya.


Devan kembali membawa anaknya keluar dari toilet bersih khusus untuk mencuci tangan dan mematut diri.


"Sudah berapa kali muntahnya, Devan?"

__ADS_1


"Pagi ini baru sekali, Ma. Semoga tidak lagi,"


Andrean merasa lebih baik hari ini. Mual belum menyerangnya. Hanya semalam saja yang benar-benar parah.


"Lovi baik-baik saja, Ma?"


Senata bisa menangkap gurat khawatir wajah tampan itu. Ia tersenyum menenangkan. Lovi sudah berpesan untuk tidak membiarkan Devan tahu kalau Lovi sudah mual empat kali sejak pagi buta tadi.


"Ya, dia baik-baik saja,"


"Aku ingin melihat keadaannya,"


"Mereka lebih membutuhkanmu,"


"Lovi, rasanya hamil itu bagaimana sih? Menyulitkan tidak?"


Jane duduk di sofa bersama dengan Vanilla. Siang ini mereka datang berkunjung. Dan tujuan utama adalah ruangan Lovi. Karena kalau sudah mengunjungi si kembar sudah dipastikan mereka tidak akan diperbolehkan kemana-mana. Vanilla dan Jane akan dijadikan teman berbincang oleh mereka.


"Tidak, justru sangat menyenangkan," Lovi tersenyum seraya mengusap perutnya yang masih datar.


"Sepertinya kesempatanku memang sudah tidak ada lagi,"


Tadi terlihat senang sekarang gadis itu malah murung. Ia menghela napas berat. Iya berat, karena Devan adalah sepupu yang begitu didambakannya.


Walaupun Ia sudah memiliki 'kekasih bayangan' kata Devan, tetapi Devan adalah bayangannya sejak dulu. Sulit sekali melepas sepupu tampannya itu.

__ADS_1


"Mulai sekarang aku akan bahagia kalau kamu dan Devan bersatu,"


Lovi terkejut ketika Jane membahas ini. Memang Ia dan Devan akan kembali bersatu? Membahasnya saja belum. Karena kondisi anak mereka lebih penting untuk saat ini.


Vanilla tak percaya sepenuhnya. Ia mendorong kepala Jane dengan kejam.


"Barang kali otakmu geser ke tempat yang lebih benar," ujarnya santai.


Jane memukul tangan sepupunya kesal. Kemudian mengusap-usap kepalanya.


Lovi terkekeh melihat pemandangan itu. Kehadiran mereka yang Lovi duga akan semakin menambah rasa sakitnya justru malah sebaliknya. Lovi terlalu takut karena selama ini mereka memang memperlakukan Lovi dengan jahat. Bahkan terakhir bertemu Vanilla, Lovi masih ingat betul apa yang dilakukan gadis itu. Merendahkan harga dirinya hingga Lovi seperti tak layak untuk hidup.


Sikap Vanilla masih dingin namun mulutnya tak lagi setajam dulu. Semoga saja ini akan bertahan lama. Ia berharap Jane dan Vanilla tak lagi menganggapnya musuh.


"Mama lama sekali," Vanilla mengeluh saat Rena yang sedang membeli makan siang untuk Devan tak juga kembali. Raihan pergi sebentar ke kantor Devan untuk mengambil alih pekerjaan putranya sementara waktu.


"Sabar, Vanilla! Kamu tidak kasihan pada kakakmu? Tante Rena mungkin sedang mencari makanan yang sekiranya membuat Devan berselera,"


Telinga Lovi mencuri dengar dari ucapan Jane. Ia tidak tahu bagaimana kondisi Devan sekarang. Rupanya Ia tidak berselera makan? Kenapa?


Lovi bertanya-tanya dalam hati. Ketika menyuapinya semalam Devan berjanji padanya untuk selalu menjaga kondisi tubuhnya sendiri. Lovi khawatir. Kalau Devan tumbang, siapa yang akan mendampingi anaknya? Lovi sebagai Ibu tidak bisa diandalkan untuk saat ini.


-----


Aku up emg singkat ya gengs. Tp aku usahain lebih dr 3 ep tiap hr. Jan protes! Dilarang nagih up bwt yg gk follow aku ini :p HOHOHO *Tawa jahadd

__ADS_1


__ADS_2