My Cruel Husband

My Cruel Husband
Lovi terluka


__ADS_3

Jane mengeluarkan asap nikotin yang dihisapnya. Vanilla yang melihat itu hanya menggeleng heran.


"Bagaimana rasanya? memangnya nikmat?" tanya Vanilla penasaran. Melihat Jane yang terlihat sangat menikmati, Vanilla jadi bertanya-tanya.


Jane mengangguk sebelum menghembuskan asapnya tepat di depan Vanilla.


"Sangat nikmat,"


"Asapnya menggangguku sialan!!" maki Vanilla setelah Ia batuk karena sengatan asap yang dikeluarkan Jane tadi.


"Apa yang kamu kerjakan?" tanya Jane penasaran. Ia menatap sekilas laptop yang ada di pangkuan Vanilla.


"Tugasku,"


Jane tertawa tidak percaya. Ekspresinya membuat Vanilla naik pitam.


"Tumben sekali anak bodoh ini tanggung jawab dengan tugasnya,"


"Perempuan gila kurang ajar,"


Mata Vanilla menatap tajam. Jane seolah merendahkan jati diri dan kemampuannya.


"Kenapa kamu tidak melanjutkan pendidikan di luar?" tanya Jane serius.


"Sudah nyaman berada di sini,"

__ADS_1


"Tidak mungkin alasannya karena itu,"


Vanilla menghela bahunya acuh. Ia kembali sibuk dengan sesuatu yang dikerjakan di laptopnya.


"Kamu menghindari salah satu lelaki di sana, Vanilla?"


Vanilla melempar bindernya dan berhasil menyentuh bahu Jane yang sudah tertawa keras.


"Jaga ucapanmu sialan! aku tidak mungkin melakukan hal bodoh seperti itu," jawabnya dengan penuh keyakinan.


************


"AAKKHH,"


Terlihat Lovi yang sedang kesakitan seraya menyentuh tangannya yang hampir melepuh. Kepulan asap dari air panas bahkan mengembun di kaca pembatas area mandi.


Devan menutup keran dengan cepat. Mematikan pemanas air digital yang melekat di dinding. Devan membawa Lovi duduk di atas closet yang tertutup. Tangannya bergegas mengambil handuk bersih lalu membasahinya dengan air di wastafel.


Tanpa banyak bicara Devan membalut tangan Lovi yang memerah. Menekan dengan lembut dan penuh kesabaran.


Lovi merasa jantungnya berdetak semakin cepat disaat Devan menyentuh tangannya lebih intens. Ia ingin menarik, namun Devan menahannya. Lovi menatap keseriusan yang tergambar di wajah Devan dalam mengobati lukanya. Termasuk saat mengoleskan salep anti nyeri untuk luka bakar yang dialaminya.


Mungkin memang benar, kalau lelaki itu mencintainya. Ada sisi lain yang mampu dilihat Lovi mengenai Devan. Lelaki itu peduli dengannya. Lihat saja dari caranya mengecup kening Lovi dan kini mengobati lukanya. Seperti bukan seorang brengsek yang tega memperkosanya.


Pikiran Lovi buyar ketika Mata legam Devan terangkat ke atas. Sorotnya membingkai manik Lovi. Lovi melarikan pandangannya dengan cepat walaupun tangan Devan masih berusaha meringankan rasa sakitnya.

__ADS_1


"Kamu kesulitan menggunakan alat itu, Lov?" tanya Devan seraya menunjuk alat pemanas air digital menggunakan dagunya.


Lovi tidak menjawab. Ia lebih memilih untuk membuang wajahnya. Tak ingin menatap Devan yang memandangnya penuh kelembutan.


"Aku ajari ya?"


Lovi masih nyaman dalam keterdiamannya.


"Ada masalah dengan mulut cantikmu itu hingga tidak bisa menjawab pertanyaanku?" sindiran Devan membuat Lovi mendengus kesal.


"Akan aku ajarkan cara menggunakannya. Agar tidak melukai dirimu lagi,"


Ketika Devan membawa tangannya untuk bangkit, barulah Lovi bergerak.


"Tombol kanan untuk panas, warna indikatornya merah. Perhatikan tulisan Hot. Tombol kiri untuk air suhu ruang, warna indikatornya hijau. Untuk yang tengah, kamu bisa memilih suhu yang di inginkan,"


Lovi menunduk karena malu dan gugup. Matanya juga salah fokus terhadap cengkraman jari Devan di lengannya.


Devan mengangkat jalinan tangan mereka. Menyudutkan Lovi di dinding. Tubuh tegapnya membuat Lovi seakan terkungkung. Punggung Lovi sampai terbentur dibuatnya.


"Sekarang sudah paham?" bisik Devan dengan mata yang meneliti setiap inci wajah istrinya. Hadirnya rona di wajah cantik itu membuat Devan menahan senyum.


"Sudah mempunyai anak dua tapi masih bisa merona? kamu seperti remaja yang sedang dimabuk cinta saja,"


"DEVAN!!"

__ADS_1


__ADS_2